Merebut Kembali Suamiku

Merebut Kembali Suamiku
Ingin Berjuang Kembali


__ADS_3

Bu Erma menatap Arya dengan tajam, ia menelisik wajah putranya itu seolah ingin menilai apakah yang Arya katakan benar atau tidak.


Arya sudah memberi tahu orang tuanya bahwa ia dan Chealse sudah tidak ada hubungan apapun lagi, dan Arya ingin kembali berjuang untuk rumah tangganya.


"Mama sih senang kalau kamu mau balik sama Lea," kata Bu Erma. "Tapi Mama nggak yakin Lea akan terima kamu lagu, Ar," tambahnya dengan sedih.


"Benar," sahut Pak Jaya. "Lea itu bukan wanita biasa, dia sudah dididik mandiri dan kuat oleh ibunya sejak kecil. Dan wanita seperti itu biasanya keras kepala, jadi pasti nggak gampang untuk mendapatkan maaf nya."


Arya hanya bisa menghela napas berat, apalagi saat mengingat bagaimana Lea memperlakukannya akhir-akhir ini.


"Aku akan tetap mencoba," ucap Arya yakin. "Aku nggak mau kehilangan keluarga kecilku, Ma."


"Makanya jadi laki-laki itu jangan bodoh!" seru Bu Erma. "Perempuan di luar sana memang selalu terlihat lebih baik dari istri kamu, ya karena mereka memang memperlihatkan itu, untuk menggoda kamu. Coba kalau udah jadi istri, nggak akan bedanya lah sama istri yang di rumah."


"Mama kamu benar, Arya." Sang Ayah menimpali. "Waktu muda, Papa juga sering tergoda sama perempuan lain. Tapi Papa nggak akan bisa mengkhianati Mama kamu karena dia yang selalu ada di sisi Papa, menjaga saat sakit, menghibur saat sedih, menyemangati saat terpuruk dan terkena masalah."


"Perempuan lain juga akan melakukan itu," tambah Bu Erma. "Tapi bukan karena peduli dan tulus sama kamu, melainkan karena mereka ingin merebut perhatianmu."


"Aku tahu," lirih Arya. "Aku memang melakukan kesalahan besar, Ma, tapi sekarang aku benar-benar sadar dengan salahku. Aku mau berubah, aku berjanji akan menjadi suami setia dan ayah yang baik untuk anak-anakku."


"Nggak usah janji!" ujar sang Ibu yang menatap Arya dengan kecewa. "Janji pernikahan aja kamu nggak tepati, apalagi janji biasa seperti ini."


Arya tersenyum kecut mendengar apa yang ibunya katakan, dan memang itu sangat benar.


"Aku minta do'anya, Ma, Pa," pinta Arya kemudian. "Aku benar-benar nggak mau kehilangan Lea, tapi ia ingin bercerai. Tolong doakan supaya rumah tangga kami tetap utuh!"


"Kami nggak pernah lupa mendoakan kamu, Arya!" Bu Erma menghela napas panjang, sorot matanya juga menyiratkan bahwa ia sangat cemas saat ini.


Sejujurnya, ia juga takut jika rumah tangga anaknya hancur


Namun, ia tak berani meminta untuk bertahan, ia malu karena putranya lah yang salah.


"Lea wanita yang baik, rugi kalau kamu kehilangan dia hanya demi perempuan yang menyenangkanmu sesaat."


Arya mengangguk mengerti, ia memang baru menyadari bahwa kesenangan yang ia rasakan bersama Chelsea hanya lah sesaat.


...🦋...


"Apa semuanya sudah selesai?" tanya Lea pada Carol yang saat ini berbicara dengannya via telepon.


"Iya, pengadilan sudah menyetujui gugatan ceraimu. Sekarang kita tinggal menunggu sidang."

__ADS_1


Raut wajah Lea langsung mendung mendengar berita itu, ia memang menunggu kabar ini tapi entah kenapa sekarang ia justru merasa sedih saat mendapatkannya.


"Lea, kamu mendengarku?" tanya Carol karena cukup lama Lea hanya diam saja.


"Iya," jawab Lea lirih.


"Oh ya, apa sampai saat ini kamu masih tinggal satu rumah sama Arya? Kamu nggak pindah ke rumah orang tuamu?"


Lea langsung menoleh saat mendengar pertanyaan Carol, ia menatap Arya yang saat ini sedang bermain dengan Jihan.


Putrinya itu tampak sangat bahagia, bahkan dia tertawa lepas, seolah Arya membuatnya sangat bahagia.


"Belum," jawab Lea dengan suara rendah. "Tapi aku akan segera pindah."


"Aku pikir seharusnya Arya yang keluar dari rumah itu, Lea, rumah kalian seharusnya menjadi hak kamu dan anak-anak."


Lea tersenyum tipis mendengar pertanyaan Carol.


"Asal kamu tahu, Carol, aku udah ngusir dia tapi nggak tahu kenapa dia nggak pergi. Bahkan, sudah berhati-hari aku nggak bicara sama sekali dengan dia. Aku menganggap dia nggak ada di rumah ini, dan dia justru berusaha merebut kembali perhatian dan anak-anak," papar Lea sembari masuk ke kamar anak-anaknya, tak ingin Arya mendengar apa yang ia bicarakan dengan Carol.


"Yah, semua orang begitu setelah ketahuan selingkuh, Lea," kata Carol. "Sudah sering aku mendapatkan klien seperti kasus kamu, dan pasangan yang selingkuh akan sangat manis jika ingin selamat dari perceraian. Bahkan, tidak jarang ada yang kembali luluh, kemudian menarik gugatan cerainya. Lalu bagaimana dengan kamu?"


"Aku nggak bisa mundur!" Lea menjawab dengan cepat, meskipun matanya kembali berkaca-kaca, tapi ia tak membiarkan dirinya kembali menangis. "Aku nggak bisa maafin dia dengan alasan apapun, Carol, apa yang dia lakukan terlalu menyakitkan."


"Memang itu yang aku harapkan, makanya aku memilih mundur. Karena jika aku bertahan, luka yang dia torehkan dalam hatiku akan selalu terbuka dan basah, aku takut semakin hancur."


"Aku mengerti, dan aku mendukung kamu, Lea."


Sementara itu, Arya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 5 sore.


"Sayang, susah waktunya mandi," ujar Arya.


"Sebentar, Papa, mau main sedikit," tolak Jihan.


"Lima menit lagi, ya?" pinta Arya. "Udah sore, Sayang."


"Iya, Papa, lima menit." Jihan melempar senyum lebarnya pada Arya, dan itu membuat hatinya terasa menghangat.


"Bodoh sekali Papa, Jihan." batin Arya sembari terus memperhatikan wajah Jihan dan Darrel. "Jika Papa berpisah dengan kalian, maka Papa akan menjadi orang paling tidak beruntung di dunia ini. Papa tidak akan bisa melihat senyum lebar kalian."


Arya langsung merasa sedih memikirkan ia akan berpisah dengan anak-anaknya, apalagi ia tahu Lea pasti akan memiliki hak asuh atas mereka berdua jika meraka bercerai nanti.

__ADS_1


" Nggak, aku mau nggak cerai!" Hati Arya menolak tegas untuk bercerai. "Aku masih ingin berjuang kembali."


Lea yang sudah selesai berbicara dengan Carol langsung menghampiri anak-anaknya.


"Waktunya mandi!" seru Lea sambil tersenyum, meskipun saat ini hatinya terasa perih.


"Biar aku yang mandikan mereka," kata Arya. "Kamu bisa menyiapkan makan malam, Lea."


Lea tak menyahut sama sekali, bahkan ia seolah tidak mendengar kata-kata Arya.


"Ayo, Sayang! Sudah sore," kata Lea pada Jihan.


Hati Arya terasa sangat pedih menerima perlakuan Lea yang seperti ini.


"Kenapa kamu nggak marah aja sama aku, Lea? Itu lebih baik dari pada kamu mendiamkan aku seperti ini, seolah aku nggak ada sama sekali di rumah ini," lirih Arya dengan suara bergetar.


Namun, Lea masih enggan menanggapi ucapan suaminya, walaupun ia merasa sedikit kasihan, tapi rasa kasihan itu lenyap saat Lea mengingat pengkhianatan sang suami.


"Mama, Jihan mau mandi sama Papa," kata Jihan yang langsung bergelanyut manja pada sang Ayah.


"Ya sudah kalau begitu," sahut Jihan.


Lea langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, dan Arya pun langsung menyusul sang istri.


"Lea, please berhenti menganggap aku nggak ada," pinta Arya memelas, ia mengekori Lea yang bergerak ke sana ke mari menyiapkan bahan-bahan.


"Lea, aku mohon!" Arya kembali mengiba.


"Waktu kamu bersama selingkuhanmu, pasti kamu menganggapku nggak ada, kan?" sinis Lea.


"Aku minta maaf," ucap Arya sepenuh hati. "Dan aku sadar aku salah, bodoh, dan jahat. Tapi aku sudah mengakhiri semuanya, Lea, aku ingin kembali ke kamu dan anak-anak."


Lea berhenti dari aktivitasnya, ia menarik napas panjang, dan ia tahu Arya sudah mengakhiri hubungannya dengan Chealse. Mertua Lea yang memberi tahu hal itu, tapi kabar tersebut tidak bisa membuat Lea mengurungkan niatnya untuk tetap bercerai.


"Please!" Sekali lagi Arya memohon, bahkan kini ia berlutut di depan Lea.


"Pasti gampang untuk mengakhiri hubungan kalian," kata Lea lirih. "Tapi aku nggak tahu apakah aku bisa mengakhiri rasa sakit atas pengkhianatan kalian, apakah aku tetap merasakan sakit ini sampai mati, atau aku akan sembuh suatu hari nanti. Aku nggak tahu!"


Arya langsung merasa lemas mendengar pernyataan Lea, apalagi saat ia melihat sang istri menyeka air mata dari sudut matanya.


"Beri aku satu kesempatan untuk berjuang, Lea!" pinta Arya.

__ADS_1


"Aku nggak pernah melarang kamu berjuang," sahut Lea. "Tapi masalahnya, keputusanku sudah bulat untuk bercerai."


__ADS_2