Merebut Kembali Suamiku

Merebut Kembali Suamiku
Ayo Menikah!


__ADS_3

Lea tidak bisa fokus pada pekerjaan nya karena ia terus terngiang-ngiang dengan apa yang Arya katakan, ia juga tak bisa melupakan bagaimana mantan suami nya menatap nya, dan meyakinkan hati nya bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


"Ayo menikah!"


"Aku mencintaimu, dan aku nggak akan mengulang kesalahan yang sama, Lea."


Lea menghela napas berat, bingung harus menjawab apa pertanyaan dan permintaan Arya.


"Satu minggu," gumam Lea. "Aku akan memberikan jawaban nya nanti, tapi aku nggak tahu harus menjawab apa."


Alih-alih berusaha menyelesaikan pekerjaan nya, Lea justru melamun sambil menggigit ujung pensil nya yang dia pegang.


Lea menyenderkan punggung nya di sandaran kursi, ia memejamkan mata yang mengingat kembali bagaimana perjuangan Arya setelah mereka resmi bercerai.


Sementara di sisi lain, Arya justru bekerja dengan hati yang riang, itu karena dia sangat yakin Lea akan menerimanya. Dan jika pun tidak di terima, maka Arya akan mengikuti saran yang pernah di berikan ibu nya, yaitu berhenti, dan fokus pada hidup nya sendiri.


"Tapi insting ku mengatakan dia akan terima," monolog Arya percaya diri. "Semoga Engkau mengizinkan ini terjadi, Tuhan!"


...🦋...


Setelah seharian bekerja, Arya dan Lea pulang bersama, dan tak lupa mereka menjemput Jihan yang masih ada di rumah orang tua Arya.


Kali ini tak banyak percakapan yang terjadi antara Lea dan Arya, pria itu ingin mencoba memberikan waktu pada Lea untuk berpikir dengan kepala yang dingin dan tenang, berharap setelah ini semua nya sesuai yang Arya harapkan.


"Terima kasih, Papa!" seru Darrel sambil melambaikan tangan pada sang Ayah.


"Jangan lupa hadiah kita, Papa!" seru Jihan yang kini tersenyum lebar


Mereka sudah sampai di rumah Lea, tapi sayang Arya tidak bisa mampir karena ia harus kembali ke kantor, menyelesaikan pekerjaan nya tepat waktu sebelum ia berangkat besok.


"Bye, Sayang!" balas Arya yang juga melambaikan tangan pada putra dan putri nya.


"Hati-hati, Mas!" ucap Lea yang membuat Arya tampak senang.


"Aku akan selalu hati-hati karena aku masih mau pulang," kekeh Arya, ia menekan kata pulang, seolah ingin menegaskan bahwa ia masih ingin kembali pada Lea.


"Kami selalu menunggu kamu pulang, Mas," sahut Lea sambil melempar senyum manis nya.


Arya pun membalas senyum manis Lea, sebelum akhirnya ia melajukan mobil, meninggalkan pekarangan rumah Lea.


...🦋...


Saat jam makan malam, Darrel dan Jihan berceloteh ria, bercerita tentang waktu yang mereka habiskan bersama sang ayah, dan juga kakek nenek nya. Kata nya, itu sangat seru, dan mereka suka.


Lea mendengarkan sambil tersenyum sesekali, ia tidak menginterupsi sedikit pun. Apalagi pikiran wanita itu saat ini masih tertuju pada Arya.

__ADS_1


"Andai saja menginap di rumah nenek juga tadi malam," celetuk Jihan penuh harap.


"Iya, Ma." Darrel menimpali. "Kapan kita akan pulang bersama ke rumah Papa, Ma? Kami kangen tinggal di sana sama Mama!"


"Nanti, Sayang," jawab Lea.


"Nanti nya kapan? Dari dulu Mama bilang nanti terus," kata Darrel merengut.


"Sabar dulu, Nak!" seru Lea. "Masih ada beberapa hal yang harus Mama selesaikan di sini."


"Apa Mama takut nanti Papa buat Mama nangis lagi?" celetuk Darrel yang membuat Lea tertegun.


"Papa sudah janji nggak akan buat Mama menangis kok," tambah nya. "Papa juga janji nggak akan ketemu sama Tante Chill lagi."


Lea tak bisa menanggapi apa yang Darrel katakan, tapi ia berharap apa yang putra nya itu katakan adalah benar, jangan sampai Arya kembali menemui Chelsea lagi.


"Habis kan makanan kalian!" seru Lea kemudian untuk mengalihkan topik percakapan. "Jangan ada yang tersisa, ya! Nanti makanan nya menangis, kasihan!"


"Baik, Ma," jawab Jihan.


Setelah makan malam selesai, Lea dan Bibi membersihkan meja makan dan juga dapur seperti biasa. Tapi kali ini sikap Lea terlihat sangat tidak biasa, wanita itu sering terlihat melamun, bahkan terkadang dia sampai tidak menyadari kejadian di sekitar nya.


"Ibu istirahat aja!" seru Bibi. "Sebaik nya Ibu tidur, istirahat di kamar, biar Bibi yang menyelesaikan ini."


"Nggak apa-apa kok, Bi," kata Lea, apalagi ia sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga itu.


"Ma, besok papa mau pergi kata nya," celetuk Jihan setelah ia selesai menggosok gigi nya. "Jihan pesan hadiah mainan lagi, Mama!"


"Terus apa kata Papa?" tanya Lea, padahal Arya sudah bercerita semuanya, tadi Jihan dan Darrel juga bercerita panjang lebar saat di meja makan.


"Iya, mau di belikan yang banyak kata nya," jawab Jihan. "Oh ya, Mama, kapan kita pulang ke rumah Papa? Jihan kangen di sana."


Pertanyaan itu lagi, pikir Lea.


"Nanti, Sayang, sabar dulu, ya!"


"Baik, Mama," sahut Jihan.


...🦋....


Lea memikirkan semua permintaan Darrel dan juga Jihan, kedua anak nya itu tampak sudah sangat merindukan rumah mereka yang sebenarnya. Lea pun juga merindukan rumah itu, bahkan ia sampai memimpikan nya.


Semalaman Lea tidak tidur, hanya untuk memikirkan langkah apa yang seharusnya ia ambil dalam hidup sekarang.


Keesokan hari nya, Lea pergi ke rumah Arya sendirian, ia ingin melihat apakah pria itu sudah siap pergi atau tidak. Kedatangan nya tentu saja membuat Arya sangat senang.

__ADS_1


"Jam berapa penerbangan kamu, Mas?" tanya Lea.


"Satu jam lagi," jawab Arya. "Oh ya, kamu ke sini untuk...." Arya sengaja tidak melanjutkan kata kata nya, ia penasaran kenapa Lea datang, tapi ia tidak mau bertanya karena Arya takut Lea akan tersinggung.


"Aku akan mengantar kamu ke Bandara, kalau kamu mau," sahut Lea.


"Oh ya?" Arya langsung memekik senang.


"Iya," jawab Lea sambil terkekeh.


"Aku mandi dulu, setelah itu kita berangkat!"


Lea hanya mengangguk.


Arya pun segera bergegas ke dalam kamar, dan ia sengaja tidak menutup pintu kamar karena bagi nya Lea bukan lah orang asing.


Jadi, meski pun wanita itu tiba-tiba masuk ke dalam kamar, itu justru akan memuat Arya merasa sangat senang.


Sementara Lea kini pergi ke dapur, ia memperhatikan dapur nya yang sangat bersih, tapi sayang di kulkas tidak ada sayuran segar. Hanya ada daging, telur, dan buah.


"Apa dia sudah makan?"


Lea bertanya-tanya sambil menatap ke sekeliling nya, tak ada piring kotor sama sekali, meja makan juga masih sangat bersih. Jadi, ia menyimpulkan mantan suami nya itu belum makan.


Karena tidak mungkin memaksa dalam waktu yang mepet, Lea akhirnya memilih memotongkan buah untuk Arya, menyimpan nya di kotak bekal milik Darrel yang masih ada di sana.


"Lea, aku sudah selesai!" seru Darrel.


Lea segera keluarga dengan membawa buah nya. "Ini, kamu bisa makan di pesawat!"


"Kamu bawakan ini? Makasih, ya!" Arya berucap senang.


"Nggak!" Tapi Lea justru membantah. "Aku motong buah itu di sini," tambah nya yang membuat Arya melongo, tapi kemudian tertawa.


"Mau dari mana aja, yang penting kamu yang siapin."


Lea terkekeh sambil mengangguk.


Mereka pun segera ke Bandara, Arya yang menyetir, dan lagi-lagi suasana menjadi hening karena tak ada yang memulai percakapan.


Walaupun begitu, itu bukan lah masalah untuk kedua nya, mereka menikamati kebersamaan dalam keheningan itu.


Sesampainya di Bandara, Lea mengantarkan Arya sampah pria itu check in.


"Perhatian kamu lebih loh," celetuk Arya yang langsung membuat Lea terkekeh. "Aku jadi mencium aroma manis."

__ADS_1


"Ayo menikah lagi!"


"Apa?"


__ADS_2