Merebut Kembali Suamiku

Merebut Kembali Suamiku
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Arya ke kantor seperti keinginan sang atasan, dan ia langsung disuruh ke ruang kerja Pak Steven.


Tanpa berpikir panjang, Arya langsung ke sana dan ia sangat berharap bisa bekerja lagi di kantor itu. Selain karena ia butuh pekerjaan, ia juga ingin satu kantor dengan Lea. Berharap mungkin dengan hal itu ia bisa mendekati sang istri kembali.


"Silakan, Pak!"


Asisten Pak Steven mempersilakan Arya masuk ke ruang kerja Pak Steven, dan Arya pun langsung masuk ke sana dengan perasaan yang berkecamuk. Sebenarnya ia bertanya-tanya, siapa yang menemukan bukti bahwa ia tidak bersalah, dan bagaimana mereka menemukan bukti itu?


"Selamat pa—"


Suara Arya menggantung di udara saat ia melihat Lea ternyata juga ada di sana, bahkan Farel dan Carol juga ada di sana.


"Selamat pagi, Pak Arya!" sapa Pak Steven dengan senyum ramah, tetapi tatapan Arya justru terpaku pada Lea yang duduk di sisi Carol dengan tenang. Wanita itu juga tidak terkejut dengan kedatangannya, seolah ia tahu Arya akan datang.


"Silakan duduk, Arya!" seru Farel.


Arya pun duduk di sisi Farel, berhadapan dengan Lea. Sementara Pak Steven duduk di sofa single.


"Kau mungkin bingung kenapa kami semua ada di sini," kekeh Pak Steven yang membuat Arya semakin bingung.


"Saya memang bingung, Pak," kata Arya sambil terus menatap Lea, tetapi istrinya hanya memasang wajah datar.


"Aku akan mengembalikan posisimu karena sebenarnya surat pengunduran dirimu tidak pernah diproses," ujar Pak Steven yang membuat pupil mata Arya membesar. "Dan itu tidak perlu karena bagi perusahaan sebenarnya kamu hanya cuti sementara waktu, kemudian posisimu di isi oleh Farel."


"Saya tidak mengerti maksud semua ini," kata Arya.


"Aku rasa, Lea yang bisa menjelaskan semuanya," ucap Pak Steven sambil menatap Lea. "Silakan, Lea!


Lea mengangguk, ia mengambil bukti penggelapan uang yang dilakukan Arya dari tasnya, kemudian meletakkan kertas-kertas itu di meja.


"Semua bukti penggelapan uang yang kamu lakukan di sini, palsu," kata Lea dengan santainya yang membuat Arya melotot tak percaya.


"Aku yang meminta Farel membuatkan bukti palsu ini, kemudian Pak Steven menggunakan bukti-bukti ini untuk memintamu keluar dari perusahaan."


Arya semakin melongo, ia menatap sang istri dengan mata yang melebar.

__ADS_1


"Apa ... kamu ingin balas dendam?" cicit Arya.


Lea langsung menggeleng sambil tersenyum tipis.


"Aku bukan ingin balas dendam, aku hanya ingin meminta sedikit waktu dari kamu agar berada di rumah, dan merasakan apa yang aku rasakan di rumah," papar Lea.


"Lea, jangan berbelit-belit!" seru Arya antara marah, kesal, bingung dan penasaran. "Jadi kamu yang menjebakku seolah aku melakukan penggelapan uang?"


"Iya," jawab Lea tanpa ragu.


Arya kembali dibuat terperangah.


"Kenapa?" tanya Arya mendesis tajam.


"Baru saja aku mengatakan alasannya," ujar Lea. "Aku ingin kamu di rumah, mengurus anak-anak dan rumah," tambahnya.


"Supaya kamu tahu posisi sebagai ibu rumah tangga itu seperti apa, waktu yang habis untuk mengurus anak-anak, perhatian yang tersita tanpa sisa untuk mereka. Aku ingin kamu sadar, aku nggak pernah berubah seperti yang kamu pikir, atau seperti yang kamu ceritakan pada Chealse, tapi kondisi dan situasi yang berubah."


Arya terhenyak, ia mencoba mencerna apa yang sebenarnya Lea katakan, apalagi lagi-lagi wanita itu membawa nama Chelsea, padahal Arya sudah tidak pernah menghubungi wanita itu sejak ia memutuskan mengakhiri hubungan mereka.


"Aku ingin kamu di rumah 24 jam, dengan semua waktu dan perhatian yang tertuju pada anak-anak."


"Jadi ... kamu membuatku keluar dari perusahaan, kemudian kamu yang bekerja, hanya untuk membuatku menggantikan posisi kamu sebagai ibu rumah tangga?" cicit Arya.


Lea menggeleng.


"Seorang suami nggak akan pernah ada yang mampu menggantikan posisi istrinya sebagai ibu rumah tangga," kata Lea. "Aku hanya membuat kamu sedikit merasakan bagaimana menjadi ibu rumah tangga, aku ingin membuat kamu mengerti kenapa waktu dan perhatian istri yang sudah punya anak bisa berkurang pada pasangannya."


Arya mengusap wajahnya dengan kasar, ia juga menatap Carol, Farel dan Pak Steven secara bergantian. Ketiga orang itu hanya menonton dan mendengarkan, tanpa menginterupsi sedikitpun.


Tak pernah terbersit sedikitpun dalam benak Arya, Lea bisa bekerja sama dengan mereka semua untuk melakukan hal yang bahkan tak pernah ia pikirkan.


"Tenang aja, nggak ada yang tahu alasan kamu keluar dari perusahaan," ucap Lea lagi. "Nama kamu masih tetap bersih di kantor ini, itu sebabnya Pak Steven nggak pecat kamu, melainkan meminta kamu mengundurkan diri." Lanjutnya.


"Lea?" lirih Arya dengan tatapan yang sayu. "Kamu melakukan semua ini sama aku?"

__ADS_1


"Iya." Lagi-lagi Lea menjawab jujur tanpa ragu. "Aku melakukan ini karena kamu berani selingkuh di belakangku, dengan sahabatku, sementara aku sibuk di rumah mengurus dua anak kita yang repotnya setengah mati."


Mata Lea berkaca-kaca, air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya tetapi ia berusaha agar air mata itu tidak tumpah.


"Apa yang aku mau sudah aku dapatkan, jadi kamu bisa bekerja seperti dulu lagi, kamu bisa duduk di kursi jabatan kamu lagi," tukas Lea sembari bekedip beberapa kali, mencoba menghalau air mata yang ingin tumpah.


"Dan aku nggak akan minta maaf atas apa yang aku lakukan," sinis Lea kemudian. "Mungkin kamu marah karena menganggap ini sebuah pengkhianatan, dan rasanya pasti sangat menyakitkan. Dan itu lah yang aku rasakan atas pengkhianatan kamu."


Arya termangu, ia menatap wanita itu dengan nanar. Arya bingung dengan apa yang ia rasakan sekarang.


Marah, kecewa, malu, semuanya bercampur menjadi satu.


Lea benar, ia merasa ini adalah sebuah pengkhianatan yang besar. Apalagi ia sampai stress memikirkan karirnya yang ia kira sudah selesai, ternyata semua itu akibat dari tindakan Lea.


Namun, Lea juga benar, pengkhianatan itu rasanya menyakitkan.


"Kamu ... meminta bantuan mereka semua?" desis Arya kemudian, kini ia juga merasa malu pada orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Iya, aku terpaksa meminta bantuan mereka karena aku nggak tahu lagi harus melakukan apa," kata Lea. "Tapi mereka bertiga mengerti."


"Bagaimana bisa—"


Arya kehilangan kata-kata.


"Kau bisa bekerja kembali seperti biasa, Pak Arya!" seru pak Steven. "Seperti yang Lea katakan, namamu masih bersih di perusahaan ini."


"Kenapa Pak Steven mau melakukan ini?" tanya Arya, ia tidak percaya seorang pengusaha sukses seperti Pak Steven terlibat dalam rencana gila Lea.


"Carol keponakanku, dia bilang Lea adalah sahabat terbaiknya dan Lea sedang butuh bantuan. Tadinya aku juga menolak, apalagi ini sangat tidak profesional. Urusan pekerjaan kenapa harus diangkut pautkan dengan urusan pribadi?" kekeh Pak Steven.


"Tapi setelah Carol bercerita tentang Lea, hatiku sebagai seorang Ayah langsung tergerak. Jika putriku ada di posisi Lea, mungkin aku akan melakukan hal yang lebih gila dari ini!"


Arya menganga, bahkan ia menahan napas. Ia pikir dirinya sudah membodohi Lea karena memiliku hubungan gelap dengan Chelsea, tapi ternyata Lea justru balik membodohinya dengan modal yang lebih besar.


Apa yang Lea lakukan berhasil membuat hidup dan hati Arya jungkir balik, wanita itu melakukan segalanya, dan mengambil semua kesempatan yang ada untuk mengatasi perselingkuhannya dengan Chealse.

__ADS_1


"Astaga!" gumam Arya sembari menyugar rambutnya. "Aku harap ini hanya mimpi buruk!"


"Sayangnya itu kenyataan," kekeh Lea. "Aku sudah mengakui semuanya, sekarang urusan kita sudah selesai tentang pekerjaanmu. Kamu bisa berkarir kembali dan aku nggak akan ikut campur lagi."


__ADS_2