
"Papa, adik bayinya perempuan, sama kayak Jihan. Nanti kita bisa main bersama," celoteh Jihan yang saat ini di gandeng oleh Arya, bocah itu tampak sangat senang karena akhirnya dia bisa melihat adik bayi yang selama ini masih ada dalam perut Tante Carol-nya.
"Nanti kami akan menjadi teman bermain yang baik," tambah Jihan sambil melompat kecil-kecil, pertanda ia sangat bahagia dan semangat sekarang.
Mereka sudah ada di rumah sakit untuk menjenguk putri Carol dan Farel, yang kata Jihan akan jadi teman bermainnya nanti.
"Nggak bisa jadi teman," seru Darrel tiba-tiba. "Jihan sudah besar, adik bayinya masih kecil."
"Tapi 'kan nanti juga besar, Kakak," sungut Jihan. "
"Tapi besar itu lama, Jihan, nggak akan bisa jadi teman bermain." Darrel bersikukuh dengan pendapatnya, membuat Arya meringis.
Sementara Jihan kini sudah menunjukkan wajah kesal nya, kadang ia bingung kenapa Darrel selalu merusak mood-nya.
"Sesekali iya-in aja adikmu, Darrel, biar dia senang," pinta Arya. "Kasihan dia sampai bad mood begitu, padahal tadi girang," pungkas Arya panjang penat.
Terkadang, Arya merasa Darrel terlalu keras kepala pada Jihan, dan sifat itu mirip sangat mirip dengan sifat Lea,
"Ya nggak bisa, Papa, adik bayi itu masih kecil banget, nggak bisa main." Darrel masih tak mau menyerah, membuat Arya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sementara Lea hanya bisa mengulum senyum.
Sejak dulu ia sudah bisa merasakan sifat Darrel memang sangat mirip dengan sifatnya, termasuk bagian keras kepalanya. Bahkan, itu yang paling menonjol sebagai keturunan Lea.
Tak hanya Arya, kakek-nenek nya juga merasa sifat Darrel memang lebih dominan ke ibunya.
"Benar-benar anakmu," kata Arya pada Lea. "Keras kepalanya nggak bisa di ajak kompromi."
"Tapi kadang dia juga sangat dewasa dan kuat," sahut Lea, ia teringat bagaimana sikap Darrel dulu saat ia sedang berada di titik yang sangat menyedihkan. Putranya itu menjadi tempat bersandar tanpa pernah ia duga.
"Sama seperti aku juga, kan? Di satu sisi kita memang keras kepala, tapi di sisi lain kita kuat," tambah Lea dengan raut wajah yang tampak sangat bangga.
Mereka masuk ke ruang VIP di mana Carol di rawat, dan mereka langsung disambut dengan hangat oleh Carol juga Farel.
"Jihan mau melihat adik bayinya, Tante!" seru Jihan saat baru masuk, ia terlihat sangat tidak sabar, mata bocah itu berbinar terang, dan bibirnya tersenyum lebar.
"Boleh, sini!" Carol melambaikan tangan pada Jihan.
__ADS_1
Jihan langsung berlari dengan semangat.
"Sepanjang jalan dia ngoceh tentang adik bayi," kekeh Lea. "Aku sampai bingung, yang melahirkan siapa dan yang bahagia siapa."
"Mungkin itu pertanda," kata Carol sambil melirik Arya.
Tentu Lea dan Arya mengerti maksud Carol, apalagi ini bukan pertama kalinya Carol menggoda mereka.
Bagaimana tidak?
Memangnya sepasang mantan suami istri mana yang sering jalan bersama anak-anaknya seperti mereka? Selalu menghabiskan waktu di akhir minggu bersama, dengan berbagai kegiatan yang berbeda.
Orang yang tidak mengenal mereka pasti akan mengira bahwa Lea dan Arya adalah sepasang suami istri yang sangat serasi, meraka adalah keluarga yang sangat harmonis, dan orang-orang pasti akan sangat iri.
"Kamu sehat banget, nggak seperti orang habis lahiran," celetuk Lea untuk mengalihkan topik percakapan.
"Mungkin karena aku sudah sangat siap untuk ini, jadi tenagaku benar-benar full," kekeh Carol.
"Dia cantik," puji Lea sembari menyentuh pipi bayi yang sangat lembut itu. "Tembem," imbuhnya.
"Dokter dan suster juga bilang begitu tadi," sambung Farel. "Katanya anakku gemoy."
Darrel yang awalnya tampak tidak peduli, kini justru juga terlihat tertarik pada bayi itu. Ia menatap bayi yang sedang terlelap itu tanpa berkedip, sangat lucu, pikir Darrel.
"Dia memang gemoy." Lea memainkan tangan mungil bayi itu yang masih terkepal rapat, tangan yang hangat dan lembut.
Melihat bayi itu membuat Lea kembali teringat saat ia berjuang melahirkan Darrel dan Jihan dulu.
Dua anaknya itu lahir secara normal, dan itu adalah perjuangan paling indah dan paling mendebarkan dalam hidup Lea. Kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan sampai maut datang, terutama kebahagiaan yang membanjiri di hari kelahiran Darrel dan Jihan.
"Siapa namanya?" tanya Lea yang terlihat tampak sangat gemas pada putri sahabatnya itu.
"Sherly Vaziana," jawab Carol sambil mengelus kepala putrinya itu.
"Sherly Vaziana." Lea mengulangi nama lucu itu sambil tersenyum. "Nama yang cantik, secantik orangnya."
"Dia mirip Jihan waktu bayi," kata Arya yang juga ikut memperhatikan Baby Sherly.
__ADS_1
"Bagaimana bisa anakku mirip anakmu?" celetuk Farel.
Pertanyaan yang sebenarnya hanya bercanda itu membuat Lea dan Carol langsung melongo, dan tentu otak kedua wanita itu sudah berkelana mendengar pertanyaan
Bagaimana bisa anakku mirip anakmu?
Kata-kata itu bisa jadi sebuah makna yang besar, bahkan bisa jadi menimbulkan kecurigaan tentang hubungan Arya dan Carol.
Lea juga merasa aneh mendengar kalimat itu, ia punya pengalaman yang sangat pahit, , tapi saat melihat Farel yang tertawa, mereka bernapas lega. Apalagi ketika mereka mendengar jawaban Arya.
"Karena mereka sama-sama bayi," jawab Arya. "Sama-sama memggemeskan, seperti boneka. Pipi mereka juga tembem."
"Delapan tahun aku menunggu malaikat kecil ini," kata Farel, ia menatap Baby Syerly dan sang istri bergantian. "Kita melewati banyak hal dan proses yang sangat panjang, hingga akhirnya Tuhan bersedia memberikan apa yang kami minta."
"Ini hadiah pernikahan kita yang ke 9," kata Syerly.
"Iya," sahut Farel. "Terima kasih banyak, Sayang, terima kasih karena kamu nggak pernah menyerah berjuang." Farel menggenggam tangan Carol, kemudian mengecupnya penuh cinta.
"Terima kasih juga karena kamu setia menemani aku berjuang," ucap Carol.
"Oh, so sweet," kata Lea yang langsung membuat wajah Carol merona. "Kalian seperti pasangan pengantin baru, aku jadi iri."
"Kenapa kamu nggak jadi pengantin baru benaran aja, Lea?" kekeh Carol. "Tuh, calon kamu masih menunggu."
Lea langsung salah tingkah mendengar apa yang Carol katakan, sementara Arya justru tersenyum senang.
Dulu, teman-teman Lea itu lah yang mendukung dan menghibur Lea saat bercerai dengan Arya. Dan sekarang, mereka mendukung Lea kembali pada Arya.
Tentu dukungan itu tidak asal datang begitu saja, apalagi Carol sangat tahu sebesar apa luka yang di torehkan oleh Arya pada Lea. Namun, selama ini Carol selalu melihat pria itu berjuang tanpa henti untuk meluluhkan hati Lea.
Farel juga tahu perjuangan dan kesetiaan Arya menunggu Lea, ia juga melihat tidak ada yang mencurigakan dari Arya saat di kantor. Tidak ada wanita yang sering keluar masuk ruang kerjanya kecuali Rubby.
Farel bahkan pernah mendengar gosip bahwa Arya mungkin tidak tertarik pada perempuan, sebab pria itu tidak pernah terlihat tertarik pada wanita-wanita muda yang mencoba mendekatinya.
Sebagai sesama laki-laki, Farel tahu, Arya sangat serius sekarang. Pria itu benar-benar ingin memperjuangkan Lea, dan dia juga terlihat sangat menyesali perbuatannya.
"Hehe, gaun pengantin sudah tutup," cetus Lea sambil tersenyum kaku.
__ADS_1
"Nggak perlu gaun," kata Arya. "Cukup kita di sah-kan secara agama dan negara, itu sudah lebih dari segalanya untuk aku."