
Setelah keluar dari rumah Lea, Chelsea merasa hidupnya terombang-ambing karena sejak saat itu Arya selalu mengabaikannya.
Hal itu membuat Chelsea merasa sedih, takut, dan juga kecewa. Apalagi saat ia mengingat dulu Arya berjanji tidak akan meninggalkannya.
Sementara Arya masih dianggap makhluk tak kasat mata oleh Lea, tetapi itu tidak membuat Arya ingin keluar dari rumah. Justru sebaliknya, Arya semakin takut kehilangan rumah, dan keluarganya yang dulu begitu hangat dan penuh warna.
Lea juga masih enggan tidur di kamarnya. Ia tidur dengan anak-anak, selain karena ia masih enggan satu ranjang dengan Arya, ia juga harus menjaga Jihan yang masih demam tinggi.
Arya tidak bisa tidur meskipun malam sudah larut, ia duduk di tepi ranjang sembari terus menatap pintu, berharap Lea masuk ke kamar. Namun, harapan Arya hanya sebuah harapan.
Lea tak kunjung datang hingga Arya jatuh tertidur.
Saat tengah malam, Arya mendengar suara tangis Jihan dari luar, membuat ia panik dan ia pun langsung keluar kamar.
"Ada apa, Lea?" tanya Arya cemas saat ia melihat Lea menggendong Jihan yang menangis.
Lea hanya menoleh sejenak, tapi kemudian ia kembali membuang muka dari Arya.
Arya langsung mendekati Lea, dan ia menyentuh kening Jihan untuk memeriksa suhu tubuh putri kecilnya itu.
"Lea, kita bawa Jihan ke rumah sakit saja sekarang," ujar Arya karena panas Jihan sangat tinggi.
"Aku tahu kamu marah sama aku," ucap Arya kemudian karena Lea masih diam, bahkan wanita itu menjauhi Arya. "Tapi kasihan Jihan, Lea, demamnya tinggi!"
Arya mulai kesal, tapi Lea benar-benar tak peduli. Apalagi ia tahu kapan harus membawa anaknya ke rumah sakit, dan ia tahu demam Jihan memang tinggi sekarang, tapi Jihan tidak harus dibawa ke rumah sakit.
"Lea?" lirih Arya memelas. "Kasihan Jihan, dia demam."
"Kamu pikir aku nggak tahu?" desis Lea kemudian. "Empat tahun aku merawat Jihan, aku tahu kapan dia perlu dibawa ke rumah sakit."
"Demamnya tinggi," ujar Arya kemudian.
__ADS_1
"Demamnya nggak lebih tinggi dari dua bulan yang lalu," kata Lea sambil tersenyum sinis. "Oh, tapi kamu nggak tahu dua bulan yang lalu demam Jihan lebih tinggi dari ini, dia terus menangis sampah aku ikut menangis. Waktu itu aku sudah telepon kamu karena aku sangat cemas, tapi kamu sibuk lembur!"
Lea menekan kata terakhir, seolah ia ingin kembali melampiaskan rasa sakit hatinya, sekaligus mengingatkan Arya akan apa saja yang pria itu lewatkan.
Sementara Arya terhenyak, dan ia teringat dengan hari itu. Hari di mana Lea menghubunginya, tapi saat itu Arya justru makan malam dengan Chelsea untuk merayakan ulang tahun wanita itu.
Arya langsung tertunduk, ia merasa malu pada dirinya sendiri karena ternyata ia tidak tahu apa-apa tentang putrinya.
"Maafin aku, Lea," lirih Arya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku bosan mendengar kata maaf kamu," desis Lea tajam sebelum akhirnya ia kembali membawa Jihan masuk ke kamarnya.
Hati Arya terasa pedih, seperti teriris ribuan pisau.
Arya duduk lemas di sofa, dan ia mengernyit saat menyadari jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi.
Sementara di kamar Jihan, Lea masih menggendong Jihan yang masih merengek, tetapi secara perlahan mata putrinya itu mulai tertutup, kemudian pada akhirnya Jihan tertidur.
Di dapur, Lea duduk di kursi sembari memijit kepalanya yang terasa berdentum. Ia hanya tidur setengah jam karena malam ini Jihan memang sangat rewel, itu membuat Lea sangat lelah, juga sampai sakit kepala.
Lea menatap gelas yang ia pegang, dan seketika air matanya kembali jatuh mengingat perjuangannya menjaga Darrel, Jihan, dan juga pengkhianatan suami serta sahabatnya.
Ia bahagia menjadi ibu kedua malaikat kecil itu, dan ia merasa sangat sedih karena menjadi wanita bodoh yang dikhianati oleh dua orang yang sangat dipercaya.
Saat ini, Lea benar-benar rapuh, dan ia tidak punya tempat bersandar untuk berkeluh kesah.
Lea menggigit bibir untuk menahan isak tangisnya, tapi ia gagal. Ia tetap terisak, bahkan punggung wanita itu sampai bergetar.
Lea meletakkan kepalanya di meja, dan ia menangis lepas.
Arya berdiri di pintu dapur, dan ia ikut menangis melihat istrinya menangis. Arya ingin memeluk Lea, tapi ia tahu saat ini Lea sedang murka padanya, dan mungkin kehadirannya akan membuat Lea semakin sakit.
__ADS_1
...🦋...
"Apa? Pak Farrel akan menjadi Direktur?" pekik Chelsea saat Rubby memberi tahu bahwa posisi Direktur akan di isi oleh Farel.
Saat ini kedua wanita itu ada dalam lift, dan Rubby menggunakan kesempatan itu untuk mengabarkan kabar yang pasti akan membuat Chelsea terkejut.
"Iya," jawab Rubby sambil tersenyum manis. "Aku akan menjadi sekretaris pak Farel mulai hari ini, tapi aku dengar dia juga tetap akan menjadikan Lea sekretaris pribadinya," papar Ruby.
Chelsea hanya bisa melongo, tadinya ia sudah senang karena dia tidak akan satu gedung dengan Lea. Tapi sekarang mungkin dia akan bertemu dengan Lea di kantor.
"Mungkin ini yang namanya rezeki kali, ya," kekeh Rubby. "Suaminya berhenti dari kantor, eh istrinya yang masuk kantor sekarang."
Chealse hanya mendelik mendengar apa yang Rubby katakan, sementara Rubby justru senang melihat ekspresi Chealse yang tampak kesal sekaligus cemas itu.
Saat lift terbuka, Chelsea langsung melangkah cepat menuju meja kerjanya, tapi ia justru berpapasan dengan Lea yang berjalan berdampingan dengan Farel.
Chelsea tercengang, tapi kemudian ia menyapa Farel dengan sopan seperti biasa.
"Selamat pagi, Pak Farel." Ia bahkan melempar senyum pada pria itu, meskipun senyumnya tampak sangat kaku karena Lea menatapnya dengan tajam.
"Selamat pagi, Chelsea," balas Farel sambil tersenyum ramah, setelah itu ia dan Lea melewati Chelsea begitu saja, bahkan Lea bersikap seolah ia tidak mengenal Chelsea.
"Bagaimana keadaan Jihan, Lea?" tanya Farel kemudian. "Kamu boleh cuti sampai Jihan benar-benar sembuh, serahkan saja semua pekerjaanmu pada Rubby."
"Aku menitipkan Jihan pada neneknya," sahut Lea. "Hari ini aku akan pulang lebih cepat, tapi aku nggak akan cuti kok karena Jihan hanya demam biasa."
Chelsea mendengar percakapan mereka, dan itu membuat Chelsea tersenyum sinis. Ia tidak tahu jika ternyata Lea dan Farel sangat akrab, bahkan mereka tidak menggunakan bahasa formal di kantor.
Ponsel Chelsea yang ada dalam genggamannya berdering, dan seketika wanita itu tersenyum sumringah karena yang menghubunginya adalah Arya.
"Halo, Mas?" sapa Chelsea dengan semangat.
__ADS_1
"Aku di bawah, Chel, bisa turun sebentar?"