
"Sudah suci kamu, ya?"
"Kamu selingkuh sama sahabat yang sudah aku anggap saudara sendiri."
"Aku nggak akan lakuin tindakan nggak bermoral yang bisa membuat keluargaku dan keluarga orang lain hancur."
Kata-kata Lea itu terus terngiang dalam benak Arya, dan itu menjadi lonceng yang menyadarkan Arya akan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Setelah dari kantor, ia langsung ke rumah orang tuanya karena anak-anak ada di sana.
"Apa aku belikan es krim buat mereka?" gumam Arya mengingat suka sekali dengan es krim.
Ide itu membuat Arya tersenyum sumringah, ia membayangkan senyum anak-anaknya yang pasti akan sangat lebar jika dia membelikan es krim kesukaan mereka.
Sementara itu, Chelsea menangis lepas di toilet kantor. Ia tidak peduli jika ada yang mendengar suara tangisnya, saat ini Chelsea hanya ingin melepaskan rasa sakit yang bergemuruh di hatinya.
Hingga tiba-tiba ia mendengar ada suara Lea dan Rubby, kedua wanita itu terdengar bercanda dan tertawa, membuat Chelsea merasa kesal.
Chelsea langsung menghentikan tangisnya, ia juga menyeka air matanya kemudian dari bilik toilet.
Lea dan Rubby yang sedang tertawa langsung diam melihat kemunculan Chelsea, apalagi penampilan wanita itu sangat kacau.
"Aku ingin bicara denganmu, Lea," kata Chelsea yang berusaha tetap tegar.
"Aku nggak tertarik," sahut Lea dingin.
Ia menghadap kaca kemudian memperbaiki penampilannya, bahkan Lea yang tadinya memakai lipstik warna pink, kini justru mengoleskan lipstik berwarna merah cerah ke bibirnya, membuat wanita itu tampak seksi.
Chelsea menatap Rubby, seolah meminta agar Rubby pergi dari sana. Namun, Lea justru memberi isyarat agar Rubby tetap tinggal.
"Kamu mau coba ini, Rubb?" tanya Lea sembari menyerahkan lipstik itu. "Aku baru beli, ini keluaran terbaru, warnanya cantik."
"Boleh," sahut Rubby.
Chelsea menghela napas berat melihat Lea dan Rubby yang mengabaikannya, ia pun segera keluar dari toilet itu, tetapi Chelsea tidak kembali ke meja kerjanya. Ia menunggu Lea di depan toilet.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa, Lea?" tanya Rubby yang mengkhawatirkan temannya itu.
"Aku nggak apa-apa," jawab Lea sambil tersenyum, padahal hatinya kembali bergemuruh setiap kali melihat wajah Chealse.
"Yang kuat ya, banyak yang dukung kamu kok." Rubby mengusap pundak Lea.
"Makasih, aku baik-baik aja, lagi pula aku udah nggak peduli mereka mau selingkuh, mau menikah, mau mati sekalian. Aku benar-benar nggak peduli," pungkas Lea yang membuat Rubby menganga, tidak menyangka Lea ternyata lebih kuat dari yang ia duga.
Tak hanya Rubby, Chealse mendengar ucapan Lea itu juga menganga.
Ia terkejut mendengar kata-kata Lea, dan ia juga terkejut karena ternyata Rubby mengetahui perselingkuhannya dengan Arya.
Chelsea berpikir pasti Lea yang memberi tahunya, dan itu membuat Chelsea malu sekaligus marah.
Tak berselang lama, Rubby dan Lea sama-sama keluar dari toilet, tapi Chelsea langsung menarik Lea kembali ke dalam toilet.
"Apa?" ketus Lea sembari menghemapaskan tangan Chelsea.
"Kamu memberi tahu Rubby tentang hubunganku dan mas Arya?" tanya Chelsea tanpa basa basi, membuat Lea langsung melemparkan tatapan mengejeknya.
"Hubungan kalian itu adalah hal yang busuk, dan bau busuknya pasti akan selalu tercium oleh orang-orang di sekitar kalian."
Chelsea semakin terkejut mendengar jawaban Lea.
"Kamu pikir selama ini nggak ada yang tahu apa yang kalian lakukan, huh?" Lea tertawa sumbang. "Orang-orang tahu betapa bejatnya kalian, tapi mereka hanya diam karena bagi mereka itu bukan urusan mereka."
Lea melangkah maju, sehingga wajahnya kini begitu dekat dengan wajah Chelsea.
"Kamu pasti berpikir kamu berhasil membodohi semua orang, padahal sebenarnya kamu yang bodoh!" desis Lea tajam.
Chelsea termangu, selama ini ia pikir tak ada yang tahu hubungannya dengan Arya. Namun, ternyata semua orang memang tahu tapi mereka bertindak bodoh, seolah tidak tahu apa-apa.
"Satu hal lagi!" Lea mengangkat jarinya tepat di depan wajah Chelsea. "Aku menyesal pernah membantu wanita seperti kamu, aku menyesal telah ada buat kamu saat mantan suami kamu menyiksa kamu. Aku benar-benar menyesal karena ternyata aku menjaga dan peduli pada hama yang menjadi penyebab keluargaku hancur!"
Hama?
__ADS_1
Kata-kata itu terlalu kejam untuk Chealse.
"Jangan salahkan aku!" ucap Chelsea kemudian. "Suami kamu sendiri yang datang padaku, Lea, karena kamu nggak bisa menjadi istri yang sempurna untuk dia. Dan suami kamu menemukan kesempurnaan itu ada padaku."
Emosi Lea terpancing mendengar apa yang Chelsea katakan, darahnya terasa mendidih, bahkan ia merasa ingin merobek mulut Chelsea. Namun, Lea berusaha tetap tenang.
"Oh ya?" Lea tersenyum sinis. "Kalau begitu, tunjukkan apa yang kamu miliki dan nggak aku miliki yang dicari oleh Arya!" tantang Lea.
"Kamu berubah, kamu nggak pernah perhatian padanya, dan kamu nggak ada waktu untuknya." Chelsea menjawab dengan percaya diri, berpikir itu mungkin akan membuat Lea sakit hati.
Namun, Lea justru mengulum senyum sambil menatap Chelsea dengan dalam.
"Apa kamu nggak merasa Arya berubah saat dia sibuk mengurus anak selama beberapa hari ini?" tanya Lea yang langsung membuat Chelsea terhenyak, dan ia teringat kembali dengan hubungannya yang memang semakin renggang setelah Arya mengurus anak-anak tanpa Lea.
"Nggak usah jawab," kekeh Lea. "Wajah dan mata kamu sudah menjawab dengan jujur."
Lea melangkah mundur, ia bersandekap tangan di dada, dan ia juga menatap Chelsea seolah merendahkan wanita itu.
"Aku kasihan sama kamu," ucap Lea.
"Gara-gara dulu kamu salah memilih laki-laki, akhirnya kamu menjadi janda tanpa anak. Jadi, kamu nggak akan tahu bagaimana rasanya mengurus anak. Dan sekarang, lagi-lagi kamu salah memilih laki-laki. Akan jadi apa kamu, Chelsea? Tapi aku harap, kamu dan Arya bahagia, di karunia anak juga. Dan mari kita lihat, apakah kamu masih bisa memberikan perhatian dan waktu pada Arya seperti sekarang?"
Chelsea mengepalkan tangannya mendengar ucapan pedas Lea, apalagi ia teringat bahwa hubungannya dan Arya sudah berakhir hari ini.
Pria itu tidak akan menikahinya, dan lagi-lagi kisah cinta Chelsea berakhir sedih karena ia memang salah memilih laki-laki.
"Kamu punya otak, tapi nggak ada bisa mikir," cibir Lea lagi. "Punya hati, tapi sepertinya sudah mati. Benar-benar menyedihkan!"
"Kamu adalah perempuan paling menyedihkan yang pernah aku temui di dunia ini, dan entah seperti apa perasaan ibu kamu melihat anaknya yang sudah disekolahkan tinggi-tinggi, tapi ternyata bodoh, dan jahat! Kalau aku jadi ibu kamu, aku akan menanggung malu seumur hidup!"
"Tutup mulutmu, Lea!" geram Chelsea diiringi air mata yang langsung tumpah.
Kata-kata Lea mengejeknya, membuatnya sedih, dan juga marah.
"Bukannya kamu ingin bicara sama aku?" kekeh Lea. "Lalu kenapa sekarang aku harus menutup mulut, huh?"
__ADS_1