
"Jadi kalian berkencan?"
Bu Erma menatap Arya yang sejak tadi senyum-senyun tidak jelas, padahal putra nya itu belum mencuci wajah nya sejak bangun tidur. Wajah nya masih wajah bantal, rambut nya juga acak-acakan, kemudian dia senyum-senyun tanpa henti.
Sangat mirip orang gila.
Arya menginap di rumah orang tua nya karena Darrel dan Jihan juga menginap di sana, tapi sekarang kedua anak nya itu masih tidur.
"Aku melamar Lea, Ma," ujar Arya sambil tersenyum lebar. Namun, Bu Erma tidak terkejut mendengar itu, bahkan respon nya biasa saja karena Arya sudah sering melamar Lea dan lamaran nya pasti di tolak.
"Kok Mama kayak nggak senang gitu?" tanya Arya.
"Sudah ke berapa kali nya kamu melamar, Lea? Pasti di tolak lagi, kan?" tebak Bu Erma sambil mencebikkan bibir.
Bu Erma menghela napas panjang.
Kadang ia kasihan melihat kisah asmara Arya, tapi kadang juga dia merasa gemas pada kelakuan putra tunggal nya itu. Harus Bu Erma akui, Arya yang sekarang benar-benar berbeda dengan yang dulu, dan ia bersyukur karena perbedaan itu mengarah pada hal yang lebih baik.
"Kali ini nggak akan di tolak, Ma, percaya deh!" pinta Arya dengan yakin.
Ia teringat kembali bagaimana ia dan Lea saling menatap tadi malam, dan mantan istri nya itu bersedia di genggam tangan nya sepanjang film berlangsung. Bagi Arya, itu adalah kemajuan yang besar.
Yang membuat nya yakin bahwa lamaran nya akan di terima, adalah reaksi Lea yang berbeda saat ia mengajak wanita itu menikah.
"Jangan terlalu berharap, Arya, Mama nggak mau nanti kamu berakhir sedih," tukas Bu Erma dengan suara rendah, dan pertanda ia pun sangat tidak ingin jika anak nya terluka.
"Dan jangan mengajak Lea menikah terus, nanti dia merasa seperti di tekan sama kamu, kasihan dia, Arya."
"Aku tahu Mama khawatir sama kami," kata Arya. "Tapi kali ini aja, percaya sama aku, dan doakan aja Lea memberikan jawaban secepatnya atas lamaran ku."
"Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, Nak," kata Bu Arya sambil menatap Arya penuh cinta.
Meskipun putra nya itu pernah sangat melukai nya, membuat nya murka, tapi Arya tetap lah putra tercinta nya, dan Bu Erma selalu berharap Arya memiliki kehidupan yang baik, dan juga bahagia. Dengan atau tanpa Lea.
Jika seandainya Arya benar-benar bahagia bersama Lea, maka itu juga kebahagiaan besar untuk nya.
"Terima kasih banyak, Ma," ucap Arya sambil memeluk sang ibu dengan erat.
__ADS_1
"Ck, mandi sana!" titah Bu Erma sambil mendorong Arya menjauh dari nya. "Terus sekalian bangun kan Darrel, dia harus ke sekolah, nanti terlambat!"
Arya hanya mengangguk, ia mengecup pipi ibu nya yang sudah mulai keriput itu dengan gemas, membuat sang Ibu menggerutu kesal, meski sebenarnya ia merasa bahagia.
Tak berselang lama, Pak Jaya datang ke dapur dan ia berpapasan dengan Arya yang kembali senyum-senyum sendiri.
"Anak itu naik jabatan, Ma?" tanya Pak Jaya sembari sembari mengambil kopi yang sudah di siapkan oleh sang istri.
"Nggak, Pa," jawab Bu Erma, ia mengernyit bingung karena tiba-tiba suami nya bertanya seperti itu. "Kenapa bertanya begitu, Pa? Apa Arya akan naik jabatan lagi?"
Mata Bu Erma berbinar saat memikirkan anak nya akan naik jabatan lagi di kantor, pasti sangat membahagiakan jika Arya berada di puncak kesuksesan nya, pikir Bu Erma.
"Loh, aku nanya kok kamu balik nanya, Ma?" sungut Pak Jaya. "Itu. Si Arya kenapa senyum senyun seperti orang gila? Aku pikir dia naik jabatan."
"Ooh, soal itu!" Bu Erma membuang napas kasar. "Dia melamar Lea lagi kata nya, terus tadi malam mereka berkencan."
"Wah, berita bagus dong itu, Ma," kata Pak Jaya yang justru tampak senang.
"Berita bagus dari mana?" sungut Bu Erma. "Arya selalu melamar Lea, tapi sampai sekarang nggak ada jawaban. Yang ini juga pasti nggak akan di jawab, atau mungkin akan tolak."
Bu Erma pesimis, meskipun jauh dalam lubuk hati nya yang paling dalam ia sangat berharap Lea menerima lamaran itu. Di sisa usia nya yang mungkin tidak lama lagi, ia ingin melihat anak dan cucu nya hidup bahagia.
"Aamiin!"
Bu Erma mengaminkan dengan cepat, dan juga sepenuh hati.
🦋
Sementara di sisi lain, Lea menatap diri nya sendiri di cermin sambil mengulum senyum. Wajah nya merona, dan pipi nya terasa panas saat ia mengingat kejadian di bioskop tadi malam.
Lea tidak mengerti apa yang terjadi dengan diri nya, bagaimana bisa dia lupa segala nya, dan hanya fokus pada Arya.
"Mau kah kamu menikah dengan ku, Lea?"
"Kapan kita akan menikah?"
"Kita nggak butuh gaun pengantin, yang penting sah secara hukum dan agama, itu sudah lebih dari segala nya untuk ku."
__ADS_1
"Aku mencintai mu, Lea!"
"Kamu berhasil merebut hati dan cinta ku sepenuh nya!"
"Aishhhh, kenapa malah ingat semua kata-kata nya mas Arya?" gumam Lea sambil menggeleng kan kepala nya sendiri, mengusir bayang - bayang Arya dalam benak nya.
Lea memegang dada nya yang berdebar, apa lagi saat mengingat bagaimana Arya melamar nya kembali seperti tadi malam.
"Tuhan, aku harus jawab apa?" gumam Lea bingung. "Tolong tunjukkan pada ku, aku harus mengambil langkah yang mana?"
Sorot mata Lea berubah sendu, sungguh ia bingung harus memutuskan apa sekarang untuk hidup nya.
Pikiran nya mengatakan jangan di terima, apalagi tidak ada jaminan pria itu tidak akan kembali mengkhianati nya. Namun, hati nya mengatakan terima saja, apalagi nama pria itu masih tersimpan rapi di sana. Meski sempat menjadi luka, tapi dia juga menjadi bahagia.
"Aku ingin menjaga hati dan hidup ku dari luka yang sama, tapi aku juga ingin menyempurnakan keluarga ku lagi seperti dulu. Bisa kah?"
Saat Lea tenggelam dalam lamunan nya, ponsel Lea berdering, membuat wanita itu tersentak.
Ia pun langsung menyambar ponsel nya, dan seketika seutas senyum tercetak di bibir wanita itu saat tahu yang menghubungi ny adalah Arya.
Lea berdeham sebelum menjawab panggilan pria itu, ia menetralkan perasaan nya.
"Kenap, Mas?" sapa Lea dengan suara datar seperti biasa, tak ingin Arya tahu bahwa diri nya saat ini sedang memikirkan pria itu.
"Sudah ke kantor?" tanya Arya dari seberang telepon.
"Belum, lagi siap-siap." Lea menjawab sambil memasukkan barang-barang nya ke dalam.
"Aku jemput, ya. Aku sudah di jalan."
"Nggak usah, Mas," tolak Lea dengan cepat.
"Aku mau sampai, aku tunggu di bawah."
"Tapi—"
Arya tak mendengarkan apa yang yang coba ingin Lea katakan, pria itu bahkan langsung memutuskan sambungan panggilan nya.
__ADS_1
Lea menatap layar ponsel nya dengan nanar, tapi kemudian ia tersenyum senang. Bahkan, jantung nya kembali berdebar saat memikirkan ia akan di jemput oleh mantan suami nya itu.
Lea merasa jatuh lagi.