
"Ayo menikah lagi!"
"Apa?"
Kedua bola mata Arya melotot sempurna mendengar apa yang Lea katakan, mulutnya juga menganga lebar, dan ia menahan napas.
Sementara Lea hanya bisa menahan senyum malu karena kini ia yang mengajak menikah, apalagi saat ia menoleh ke sisinya, orang-orang langsung menatap Lea karena mereka pasti mendengar apa yang ia wanita katakan.
Wajah Lea merah padam, bahkan kaki tangannya langsung gemetar karena gugup.
"Tadi ... kamu bilang apa?" tanya Arya, ingin memastikan apakah dirinya salah dengar atau tidak.
"Aku bilang, ayo kita menikah lagi," jawab Lea tanpa ragu, meskipun ia terlihat malu-malu.
"Serius?" Pupil mata Arya melebar, dan Lea hanya bisa mengangguk pelan.
"Kalau gitu, ayo kita pulang!"
Tiba-tiba Arya menarik tangan Lea, ia hendak membawa wanita itu pergi, membuat Lea terkejut dan bingung.
"Pergi ke mana?" tanya Lea. "Kamu harus check in loh!"
"Aku berangkat besok aja, sekarang kita pulang dan urus persiapan pernikahan!"
Lea langsung menganga mendengar pernyataan mantan suaminya itu, ia langsung balik menarik tangan Arya.
"Kita bisa mengurus ini setelah kamu pulang," kata Lea. "Sekarang kamu check in, lakukan apa yang harus kamu lakukan. Setelah kamu pulang nanti, baru kita bicara."
__ADS_1
Arya terdiam sambil menggigit bibirnya, pria itu tampak memikirkan sesuatu.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya ia mendapatkan apa yang dia mau. Namun, haruskah sekarang ia menunggu lagi?
"Lagi pula, kita nggak akan langsung nikah hari ini juga, kan?" kekeh Lea. "Kamu harus tetap pergi bekerja, aku sudah bilang kalau uang nafkah seharusnya naik."
Arya langsung tergelak mendengar apa yang Lea katakan, dan ia juga merasa sangat senang sampai tidak bisa memikirkan apapun selain persiapan pernikahan.
"Kamu yakin aku harus tetap pergi?" goda Arya. "Gimana kalau nanti kamu kangen?"
"Nggak akan," bantah Lea dengan yakin.
"Pasti kangen," balas Arya sembari menarik Lea, kemudian mendekap wanita itu dengan erat.
Tubuh Lea langsung mematung, bahkan ia juga menahan napas.
"Terima kasih banyak, Sayang," bisik Arya. "Aku benar-benar sangat bahagia."
Lea membalas pelukan Arya, membuat pria itu semakin berbunga-bunga. "Ini kesempatan terakhir kita," ucap Lea yang juga berbisik. "Kalau setelah ini kita pecah lagi dengan alasan apapun, aku nggak yakin kita masih mempertahankannya."
"Aku mengerti, Sayang," sahut Arya sembari melerai pelukannya. "Aku nggak akan jatuh di lubang yang sama, aku nggak mau."
Lea memgangguk sambil tersenyum, pertanda ia mulai percaya dengan janji Arya. "Aku akan berusaha secepatnya, aku nggak bisa nunggu lebih lama lagi untuk bersana kalian lagi."
"Anak-anak juga pasti akan senang setelah tahu ini," kata Lea. "Aku juga akan memberi tahu papa mama."
"Iya, beri tahu mau mereka hari ini juga," ujar Arya dengan semangat.
__ADS_1
Lea tak bisa berhenti tersenyum saat melihat wajah sumringah Arya, pria itu seperti remaja yang di ajak berkencan oleh gadis pujaannya.
Ia baru sadar, mereka berdua banyak berubah setelah berpisah.
"Sampai ketemu nanti," bisik Arya yang memberanikan diri mencium pipi Lea, membuat wanita itu kembali tersipu malu.
"Sampai ketemu nanti," balas Lea.
"Tunggu aku sebentar aja, Honey," bisik Ary mesra, membuat jantung Lea kembali berdebar kencang.
...🦋...
Orang tua Arya menatap Lea dengan dalam, mereka tertegun setelah mendengar pengakuan Lea bahwa ia bersedia menikah dengan Arya lagi. Bagi mereka, itu adalah sebuah keajaiban.
"Kamu yakin, Lea?" tanya Bu Erma.
"Iya, Ma," jawab Lea sambil terkekeh.
"Kenapa pertanyaanmu begitu amat sih, Ma?" dengus Pak Jaya. "Kayak nggak yakin gitu."
"Bukan nggak yakin," bantah Bu Erma. "Aku terlalu shock, tapi aku juga sangat senang."
"Doakan kami, Pa, Ma," pinta Lea. "Kali ini aku nggak mau gagal lagi."
"Pasti, Sayang," sahut Bu Erma sambil memeluk Lea. "Kami pasti selalu mendoakan kamu, Nak."
"Terima kasih juga kamu udah percaya lagi sama Arya, Nak," kata Pak Jaya. "Papa yakin, setelah apa yang terjadi, hubungan kalian pasti akan lebih erat. Kalian sudah sama-sama belajar bagaimana hubungan yang hancur dan dampaknya."
__ADS_1
"Benar," sahut Lea. "Perceraian kami dulu memberi kami waktu untuk hati kami masing-masing."