
"Aku akan mengundurkan diri dari kantor," ujar Chelsea memberi tahu sang Ibu.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Bu Erni heran, apalagi sudah lama sekali Chelsea bekerja di sana.
"Nggak," jawab Chelsea lirih. "Lea bekerja di sana, dan aku merasa nggak sanggup jika harus melihat dia setiap hari."
Kening Bu Erni berkerut mendengar apa yang Chelsea katakan.
"Kenapa nggak sanggup? Apa dia terus melabrak kamu seperti dulu, Cheal?"
Chelsea menggeleng.
Sejak kejadian di toilet itu, Chelsea enggan berbicara lagi dengan Lea, begitu juga sebaliknya. Namun, Lea selalu mengangkat wajah dan terus menatap Chelsea dengan dingin setiap kali mereka berpapasan.
Lea seolah mengatakan bahwa mereka adalah musuh besar, dan itu membuat Chelsea tidak nyaman.
Tak hanya itu, Chelsea juga malu pada orang-orang kantor yang ternyata sangat tahu tentang perselingkuhannya dan Arya. Bahkan, Chelsea juga mulai mendengar gosip tentangnya.
"Lalu kenapa kamu mau pindah? Cari kerja sekarang itu susah banget, Chelsea," kata Bu Erni mengingatkan, terlebih putrinya itu sudah punya posisi bagus di kantor.
"Aku pasti akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, Ma," ujar Chelsea meyakinkan sang Ibu. "Aku mau ke kamar dulu, aku capek banget hari ini."
Chelsea langsung bergegas ke kamarnya tanpa menunggu tanggapan dari sang ibu, ia mengunci pintu dan Chealse langsung menangis sesegukan.
Kata-kata Lea saat di toilet kantor sangat menyakitkan, di tambah kenyataan bahwa Arya benar-benar membuangnya. Pria itu tidak bisa Chelsea hubungi lagi sama sekali.
Chelsea merasa dipermainkan, dn itu membuat Chelsea merasa begitu hancur.
...🦋...
Keputusan untuk bercerai memang sangat berat, tetapi Lea merasa itu adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya.
Terkadang, hati Lea goyah saat Arya terus memohon dan memelas meminta maaf, tapi kemudian Lea kembali teringat pengkhianatan Arya yang begitu tega menduakannya dengan sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Terkadang juga, Lea ingin berbesar hati memaafkan Arya, kemudian memulai kembali memperjuangkan rumah tangganya. Namun, bayangan pengkhianatan itu terus menari dalam benak Lea. Membuat dadanya selalu sesak, dan juga panas.
Saat Bibi sudah kembali, Lea langsung memutuskan untuk pindah rumah, dan ia membawa Bibi untuk menjaga anak-anaknya.
Keputusan Lea membuat Arya sangat terpukul, ia tak henti-hentinya memohon agar Lea dan anak-anak tetap tinggal, biarkan dia yang pergi dari rumah itu. Namun, Lea memang wanita keras kepala dan ia tetap pindah.
"Padahal Mama masih berharap kamu nggak pisah sama Arya, Lea," ucap Bu Erma yang saat ini menemui Lea di rumah orang tuanya.
"Maafin aku, Ma," ucap Lea lirih. "Aku sudah coba untuk menyingkirkan semua sakit yang aku rasakan, aku udah mencoba untuk memaafkan. Tapi ternyata aku nggak bisa."
"Kamu baru mencobanya beberapa hari, Sayang," kata Bu Erma lembut. "Coba lah berikan waktu lebih lama untuk Arya, dan juga untuk diri kamu sendiri."
Lea tersenyum masam mendengar apa yang ibu mertuanya itu katakan.
"Jika saja wanita itu bukan Chelsea," lirih Lea dengan tatapan yang sendu. "Mungkin aku masih bisa membuka hati untuk memulai kembali semuanya, Ma, tapi dia memilih Chelsea, dan dia tahu itu sahabatku sendiri. Dia nggak punya hati nurani, dia terlalu kejam buat aku."
Air mata Lea kembali jatuh, tetapi ia segera menyekanya seperti biasa. Lea seolah melarang dirinya menangisi Arya, suami yang sebenarnya sudah berhasil ia rebut kembali.
Namun, justru Lea yang tidak lagi menginginkannya.
Bu Erma tak lagi bisa berkata-kata, apa yang Lea katakan memang sangat benar.
Tanpa Lea sadari, Arya mendengar apa yang wanita itu katakan karena saat ini Arya ada di depan pintu rumah Lea. Tadinya, Arya ingin bertemu dengan anak-anak karena ia sangat merindukan mereka setelah beberapa hari mereka berpisah.
Namun, sekarang Arya melangkah mundur, menjauh dari pintu.
Arya berbalik, dan ia meninggalkan rumah sang istri, dengan membawa rasa bersalah dan penyesalan.
"Benar," gumam Arya sedih. "Aku bermain api dengan sahabatnya, aku juga nggak akan bisa memaafkan diriku sendiri atas apa yang aku lakukan. Lalu, kenapa aku harus memaksa Lea memaafkan ku?"
...🦋...
Seperti orang bodoh, mungkin seperti itu lah Arya sekarang.
__ADS_1
Apalagi saat dia menerima surat gugatan cerai yang Lea layangkan untuknya.
Arya hanya bisa menatap benda itu dengan nanar, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang.
Permohonan maafnya di tolak mentah-mentah oleh Lea, bahkan meskipun dia berlutut dan bersumpah di depan wanita itu.
"Jadi ini benar-benar akan berakhir?" gumam Arya sambil tersenyum kecut. "Bodohnya aku, membuat keluargaku berantakan. Kehidupan kedua anakku nggak akan sama lagi sekarang."
Mata Arya berkaca-kaca, tetapi ia tak sampai menangis.
Pria itu masuk ke rumahnya yang sepi dan sunyi, tentu saja, sekarang ia benar-benar tinggal sendiri. Tak ada lagi suara tawa dan ribut anak-anaknya. Tak ada lagi Lea yang selalu menemaninya, dan tak ada lagi Bibi yang kadang juga ikutan ribut dengan anak-anak.
Arya menghempaskan dirinya ke sofa, ia menghela napas lesu. Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering.
Arya tak ingin berbicara dengan siapapun, jadi ia mengabaikan panggilan yang entah dari siapa itu. Namun, ponselnya terus berdering dan itu membuat Arya berdecak kesal.
"Pak Steven?" gumam Arya saat membaca nama mantan boss nya itu yang tertera di layar ponselnya.
"Halo, Pak?" sapa Arya dengan sopan.
"Pak Arya, apa kabar?"
"Oh, saya baik."
Arya menjawab dengan malas.
"Bisa ke kantor besok, pak Arya? Ada yang ingin saya katakan padamu."
"Apa masalah penggelapan uang itu?" sinis Arya. "Saya tidak bersalah, Pak, tapi sayang sekali saya belum bisa menemukan buktinya. Jadi—"
"Saya sudah menemukan buktinya, Pak Arya memang tidak bersalah. Jadi, jika mau dan pak Arya masih ingin bekerja lagi, besok pak Arya bisa ke kantor."
Arya tercengang, tapi kemudian ia tersenyum tipis dan mengangguk. "Baik, besok pagi saya akan ke kantor."
__ADS_1
Dulu, Arya sangat menunggu adanya bukti yang menyatakan dia tidak bersalah. Jadi, seharusnya dia senang karena sekarang apa yang dia inginkan sudah ia dapatkan.
Tapi nyatanya, Arya masih merasa kosong karena rumah tangganya akan berakhir.