
Arya sudah menduga keputusan Lea tidak akan bisa diganggu gugat, tapi itu tidak membuat keinginan Arya untuk tetap mendapatkan Lea kembali musnah begitu saja.
Ia masih ingin mendapatkan Lea, membina rumah tangga dengannya sampai maut memisahkan, seperti janji mereka dulu.
Sementara Lea berusaha tetap tegar dan tetap pada keputusan yang telah ia ambil. Meskipun di depan Arya ia memperlihatkan seolah dirinya kuat, tetapi Arya tidak bisa membohongi hatinya bahwa ia juga sakit dengan perpisahan ini.
Kenangan manis yang mereka ukir bersama kembali terbayang dalam benaknya.
Saat mereka bertemu, berkenalan, dekat dan akhirnya jatuh cinta. Bagi Lea, dulu Arya adalah pria terbaik. Yang selalu setia mendukungnya dalam setiap keadaan, yang menjadi pelipur lara di setiap ia merasa sedih.
Cinta untuk Arya juga masih ada, masih sama seperti dulu. Tentu saja, dia tidak akan sakit hati dan sedih atas perceraiannya jika dia tidak mencintai Arya lagi.
Namun, cinta itu rupanya kalah besar dari sakit hatinya.
Saat ini, Lea duduk merenung di sofa, tatapan wanita itu kosong. Pikirannya melayang entah ke mana, bahkan Lea sampai tidak sadar jika Darrel datang dan duduk di sisinya.
"Mama?"
Lea tersentak, lamunannya langsung buyar saat Darrel menyentuh tangannya.
"Ada apa, Nak?" tanya Lea dengan lembut. "Kenapa bangun?"
"Darrel nggak bisa tidur," jawab Darrel sambil bergelanyut manja di lengan sang Ibu.
"Kenapa? Kamu lapar, atau haus?" Lea mengusap kepala Darrel, dan putranya itu hanya bisa menggeleng pelan.
"Mama, apa kita nggak akan tinggal sama Papa lagi?" tanya Darrel sambil menatap sang Ibu dengan sedih.
Lea tidak bisa langsung menjawab pertanyaan itu, ia hanya bisa menatap Darrel dengan nanar.
"Mama, papa nggak ketemu Tante Chill lagi, apa kita tetap nggak akan bisa tinggal bersama papa lagi?" tanya Darrel lagi yang langsung membuat dada Lea bergemuruh.
Darrel memang sempat sangat marah pada sang Ayah, bahkan dia membencinya. Namun, akhir-akhir ini ayahnya sangat berubah, dan itu dengan mudah membuat hati Darrel luluh.
"Kalian masih bisa kok tinggal sama papa," kata Lea akhirnya sambil tersenyum.
"Terus kapan kita akan pindah ke rumah yang lama, Ma? Kasihan papa tinggal sendirian."
Lea menarik napas panjang mendengar apa yang Darrel katakan, dan ia bingung harus menjawab apa karena sampai kapan pun mereka tidak akan kembali ke sana sebagai keluarga utuh lagi.
__ADS_1
"Mama?" panggil Darrel karena sang Ibu hanya diam saja.
"Darrel mau menginap di rumah?" tanya Lea yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Darrel. "Besok malam Darrel sama Jihan boleh menginap di rumah papa, biar nenek yang temani, ya."
"Kok Nenek?" tanya Darrel merengut. "Sama mama, ya?"
"Mama nggak bisa, Sayang," jawab Lea yang langsung membuat Darrel tampak sedih.
"Mama masih marah ya sama papa?"
"Bukan begitu," jawab Lea. "Mama ada pekerjaan yang nggak bisa ditinggal, jadi Darrel sama Jihan menginap di rumah Papa tanpa Mama dulu, ya."
Darrel mengangguk pasrah, meskipun wajah bocah itu sudah ditekuk.
"Sekarang Darrel kembali ke kamar, ya. Besok 'kan Darrel sekolah, biar bangunnya nggak kesiangan."
Lagi-lagi Darrel hanya mengangguk, ia pun langsung berlari kecil masuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Lea.
Wanita itu langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang, dan tanpa terasa ia menitikkan air mata mengingat permintaan Darrel. Lea yakin, tidak lama lagi Jihan juga akan meminta hal yang sama.
"Berikan kami kekuatan, Tuhan," gumam Lea sembari memeluk dirinya sendiri. "Jika aku harus kembali, ku mohon sembuhkan luka ku. Tapi jika aku tidak bisa kembali, ku mohon berikan kami kekuatan untuk melewati fase yang baru ini."
Ia menatap sisi di sebelahnya, di mana biasanya Lea berbaring di sana. Sekarang, ia tidur sendirian di kamar itu, bahkan di rumah yang cukup besar itu ia juga tinggal sendirian, dan kesepian.
"Dulu susah banget kamu, Lea," gumam Arya sembari menatap foto pernikahan mereka. "Semua orang tertarik sama kamu, dan aku berjuang untuk menjadi pemenangnya."
Di sisi foto pernikahan, ada foto keluarga kecilnya. Lea yang tersenyum manis. Darrel yang tertawa lebar, dan Jihan yang cemberut. Hati Arya menghangat, tapi juga sakit melihat foto itu.
"Hanya dengan satu kesalahan, aku membuat semuanya hancur," lirih Arya.
Ia memijit pelipisnya, apalagi saat mengingat penolakan tegas Lea untuk kembali padanya. "Aku mencintaimu, Sayang, dan aku akan berjuang seperti dulu. Aku nggak akan berhenti sampai mendapatkan kalian bertiga."
...🦋...
Sesuai keinginan Darrel, Lea meminta Bu Erma untuk menemani Darrel dan Jihan menginap di rumah Arya.
Hal itu membuat Arya sangat senang, apalagi ia sempat berpikir Lea juga akan menginap di sana. Namun, harapannya selalu tinggal harapan.
"Kenapa kalian nggak ngajak mama nginep juga?" tanya Arya sembari membawa tas anak-anaknya ke kamar.
__ADS_1
"Katanya mama sibuk, Papa," jawab Darrel.
"Gitu, ya?" gumam Arya sedih, tapi ia langsung menyingkirkan raut wajah sedihnya saat melihat Jihan sibuk mengeluarkan mainan yang Lea simpan di dalam lemari.
Lea memang tidak membawa semua barang-barang Darrel dan Jihan, ia hanya membawa sebagian dan itu pun yang penting-penting saja.
"Papa, Jihan mau main!" seru Jihan yang tampak girang.
"Iya, Sayang," jawab Arya.
"Papa, sepeda Jihan di mana?" tanya Jihan yang baru sadar ia sudah lama tidak naik sepeda.
"Ada, tunggu sebentar!"
Arya langsung ke kamar tamu yang tak lagi terpakai, ia memang menyimpan sepeda Jihan dan Darrel di sana.
"Sepedanya datang!" seru Arya sembari menggotong sepeda roda tiga milik Jihan.
Jihan langsung cekikikan sembari naik ke atas sepedanya, sementara Darrel justru main mobil-mobilannya yang memakai remot.
Arya terus menatap anak-anaknya yang sama-sama sibuk itu, tanpa sadar ia tersenyum penuh hari. Dan ia juga baru sadar, sekarang Arya mulai terbiasa mengurus mereka.
Sementara itu, Bu Erma hendak memasak, tapi ia tak menemukan apapun di kulkas selain telur satu biji. Apel yang sudah kulitnya sudah keriput, dan sayuran yang sudah tidak lagi segar.
"Arya?" teriaknya.
"Iya, Ma," sahut Arya sembari menyusul sang Ibu ke dapur.
"Isi kulkas kamu kok begini sih?" tanya Bu Erma kesal. "Udah dari tahun berapa sayur kamu ini?"
"Lupa, Ma," jawab Arya sambil mengintip isi kulkasnya. "Aku coba masak tapi nggak bisa, jadi bahannya nggak ke pakai."
"Cari pembantu yang bekerja 24 jam, Arya!" pinta Bu Erma karena Arya hanya menyewa pembantu harian, yang datang dua hari sekali untuk membersihkan rumah, mencuci baju dan menyetrika baju Arya.
"Nggak usah, Ma," jawab Arya lesu. "Lagian nggak ada orang di rumah, sekarang aku tinggal sendirian."
Bu Erma langsung menatap Arya, wajah putranya itu tampak sangat sedih saat ia mengatakan ia sekarang tinggal sendirian.
"Anak-anak akan sering ke sini," kata Bu Erma menghibur Arya. "Dan Mama harap, kalian nggak jadi cerai. Mama harap semuanya kembali seperti semula."
__ADS_1