
Arya keluar dari kamar anak-anakny sebelum mereka bangun, ia langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun, tiba-tiba Lea justru datang dan istrinya itu langsung menyiapkan sarapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Arya.
"Aku ... mau bantu, Lea," cicit Arya, tapi Lea tak menanggapi sama sekali.
Arya tak menyerah, ia memperhatikan apa yang Lea lakukan, dan ia bisa menebak jika Lea akan membuat sandwich untuk kedua anak mereka.
"Biar aku yang potong tomatnya," kata Arya sembari mengambil tomat yang baru saja Lea keluarkan dari kulkas.
Lea masih tak menanggapi, dan Arya pun tak lagi berbicara.
Mereka bekerja sama menyiapkan sarapan tanpa ada percakapan, dan suasana menjadi canggung. Hingga tiba-tiba terdengar suara bocah yang selalu mampu membuat hati Arya dan Lea menghangat.
"Selamat pagi!" seru Darrel dengan semangat.
"Pagi, Sayang," balas Lea sambil tersenyum manis.
Arya hanya bisa melempar senyum pada putranya itu, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Lea kini menghampiri Jihan yang tampak pucat juga lemas. "Ada apa, Sayang?" Lea langsung menyentuh pipi dan kening Jihan. "Badan kamu sedikit panas," gumam Lea.
"Jihan sakit, Mama," celetuk Jihan dengan polosnya yang membuat Lea terkekeh. "Kepala Jihan seperti berputar ke kanan dan ke kiri."
"Jihan cuma nggak enak badan, nanti juga sembuh setelah makan dan istirahat," pungkas Lea sembari mengangkat Jihan dalam gendongannya, setelah itu Lea kembali melanjutkan pekerjaannya
"Apa dia demam?" tanya Arya yang bisa melihat mata Jihan memerah, bahkan bibir putrinya itu juga sedikit merah dari biasanya.
Namun, Lea tidak menjawab pertanyaan Arya, membuat pria itu merasa semakin sakit, bahkan ia hampir menangis apalagi ketika Lea tidak memakai tomat yang sudah ia potong. Seolah Lea ingin mengatakan bahwa dia tidak lagi memerlukan Arya sedikit pun.
"Mama, mau yang banyak sosisnya," rengek Jihan sembari menyandarkan kepalanya di pundak Lea.
"Mama, Darrel mau roti yang kemarin itu, yang rasa keju," ujar Darrel.
"Baiklah, tunggu sebentar," pinta Lea dengan tenang.
"Mama, Jihan mau pipis." Jihan menepuk pundak Lea.
"Okay, kita ke kamar mandi, tahan sebentar!"
Lea segera memberikan roti yang Darrel mau, sebelum akhirnya dia membawa Jihan ke kamar mandi sebelum putrinya itu mengompol di sana.
Tak berselang lama, Lea kembali dan ia masih menggendong Jihan yang tampak sangat lemas, membuat Arya cemas.
__ADS_1
"Apa kita bawa Jihan ke Dokter?" tanya Arya, ia bahkan hendak menyentuh kening Jihan, tapi tiba-tiba Lea menepis tangannya, membuat hati Arya langsung terasa pedih.
Apalagi ketika Lea langsung duduk di kursinya, kemudian ia hendak menyuapi Jihan, seolah Arya hanya pajangan tak berarti di sana.
"Mama, Jihan nggak mau makan," kata Jihan saat Lea hendak menyuapinya.
"Tapi Jihan harus makan, Sayang, biar kepala Jihan ngak berputar ke kanan dan ke kiri," bujuk Lea. "Jihan makan sedikit, ya?"
Jihan menutup mulutnya sambil menggeleng.
"Baiklah, nggak apa-apa kalau Jihan nggak mau makan," kata Lea. "Tapi sekarang Mama mau tanya, Jihan lebih suka roti saja atau sosis saja?" tanya Lea kemudian.
"Sosis saja," jawab Jihan kemudian.
"Sosis saja pasti lebih enak," kekeh Lea sembari menyuapi Jihan, dan putrinya itu mau saja makan sosis meskipun tadi dia bilang tidak mau makan.
Arya memperhatikan bagaimana Lea mengurus kedua anaknya sekaligus, dan ia tersenyum sedih karena baru menyadari Lea begitu sabar merawat kedua bocah itu yang masih tidak mengerti apa-apa, apalagi ketika Jihan sedang sakit seperti ini.
Lea bahkan tahu bagaimana membujuk Jihan agar tetap makan, tanpa memaksa putrinya itu.
"Mama, Darrel mau susu cokelat yang dingin," pinta Darrel.
"Iya, tapi habiskan dulu rotinya," kata Lea sembari mengambil susu cokelat dari kulkas.
Keributan dan kerepotan yang sama setiap hari karena ulah anak-anak mereka, tapi Arya merasa suasananya terasa lebih hangat dan cair ketika Lea yang mengurus mereka dibandingkan dirinya apalagi Chelsea.
"Kamu mau masak apa untuk makan siang, Lea?" tanya Arya yang masih berusaha membuat suasana antara dirinya dan Lea lebih cair. Akan tetapi, tampaknya Lea benar-benar sudah selesai dengan Arya.
"Lea?" lirih Arya memelas, tapi Lea benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan perasaan Arya.
...🦋...
"Mama rasa sebaiknya kamu putuskan hubungan kaliah!"
Chelsea langsung mendongak saat mendengar apa yang ibunya katakan.
"Maksud Mama?" tanya Chelsea dengan kening kening yang menyatu.
"Maksud Mama, akan lebih baik kalau kamu nggak menjadi penghancur rumah tangga sahabatmu sendiri, Chelsea," tegas Bu Erma.
"Semua sudah terlanjur, Ma," ucap Chelsea. "Lagi pula Lea sendiri yang memberikan kami restu."
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu seharusnya ada di rumah Lea dan melakukan pendekatan dengan anak-anaknya?"
Chelsea hanya bisa membuang napas kasar mendengar apa yang sang Ibu katakan, membuat Chelsea teringat bagaimana Arya mengabaikannya.
"Apa kamu nggak sanggup mendekati mereka?"
Bu Erma menelisik wajah putrinya.
"Aku hanya butuh sedikit waktu untuk terbiasa dengan mereka," sahut Chelsea.
Bu Erni hanya bisa geleng-geleng kepala, ia yakin ada yang tak beres dengan hubungan Chelsea dan Arya. Insting Bu Erni mengatakan hubungan mereka di ambang keretakan.
...🦋...
Semakin siang, suhu tubuh Jihan semakin panas. Itu membuat Lea khawatir, tapi ia berusaha tidak panik. Apalagi ia sudah mendapatkan arahan dari Dokternya bagaimana merawat Jihan dengan baik.
Lea membutuhkan tenaga ekstra untuk merawat Jihan karena putrinya itu menjadi sangat rewel saat sedang sakit, bocah itu bahkan tidak mau lepas dari gendongan Lea.
"Mama, Darrel ada tugas dari sekolah!" seru Darrel menghampiri Lea sembari membawa tas sekolahnya.
"Sshhtttt!"
Lea langsung memberi isyarat agar Darrel tidak bersuara lantang karena Jihan hampir tertidur.
"Tunggu sebentar, Sayang, sampai adikmu tidur," bisik Lea.
"Masih lama?" tanya Darrel merengut.
"Sebentar lagi," kata Lea sambil memegang pundaknya yang sakit karena berat badan Jihan sudah tidak ringan lagi. Namun, Lea menahan semua rasa sakit dan lelah itu demi anaknya.
"Kerjakan sama Papa, Darrel," kata Arya yang tiba-tiba datang. "Biar Mama jaga adik."
"Nggak mau," tolak Darrel tegas. "Darrel mau kerjakan sama Mama aja!"
Arya langsung menatap Lea dengan sayu, tapi Lea justru membuang wajah.
"Papa juga pinta lho," ucap Arya kemudian. "Papa yakin nanti nilai Darrel akan tinggi kalau Papa yang ngajarin."
"Benaran?" tanya Darrel.
Arya mengangguk sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Mulai sekarang, Papa akan jadi guru dan teman Darrel saat mengerjakan tugas." Arya berkata sambil melirik Lea. "Dan Papa akan berusaha menjadi teman bermain juga untuk kalian karena Mama nggak mau kehilangan kalian."