
"Bahwa gugatan perceraian dari saudari Lea Miranda, kepala saudara Arya Wiguna telah dikabulkan."
"Hak asuh ananda Darrel Agra dan juga Jihan Shafia sepenuhnya jatuh kepada saudari Lea Miranda."
"Semua tuntutan saudari Lea Miranda, kepada suadara Arya Wiguna telah di setujui."
Apa yang tak pernah Lea inginkan dalam hidup, kini terjadi. Dan apa yang sangat Arya takutkan, juga terjadi.
Sebuah perceraian!
Setelah melewati beberapa proses yang mendebarkan, bahkan di setiap proses itu Arya berharap Lea berubah pikiran. Namun, nyantanya kini mereka sampai pada titik di mana hakim memutuskan bahwa mereka telah resmi bercerai, yang diikuti dengan ketuk palu. Dan Lea mendapatkan semua yang dia inginkan.
Tak ada yang bahagia atas perceraian itu, bahkan tidak dengan Lea sendiri sebagai penggugat.
Wanita itu hanya duduk mematung di kursinya dengan genangan air mata yang coba ia tahan, tetapi ia gagal. Air matanya jatuh dan mengalir deras di pipinya.
Sementara Arya hanya bisa mengulum senyum sedih sembari menatap cincin pernikahan yang masih melingkar di jari manisnya.
Teringat kembali saat ia mengikat janji dengan Lea di hari pernikahan mereka, diiringi senyum sumringah, tawa bahagia, dan juga tangis haru.
Lalu sekarang, semua itu berakhir dengan rasa sakit yang begitu menyesakkan dada.
Orang tua Arya hadir menyaksikan perceraian itu, Bu Erma bahkan tak sanggup menahan air matanya melihat kehidupan putra dan menantunya hancur.
Bu Erma mencintai Lea sebesar ia mencintai Arya, apalagi Lea memperlakukan mereka layaknya orang tua kandung.
"Mereka butuh waktu," kata Pak Jaya yang menatap Lea dan Arya sama-sama terdiam. "Kita tunggu di mobil!"
Bu Erma mengangguk, ia pun keluar lebih dulu dari ruang sidang.
Lea menyeka air matanya, ia menarik napas sebelum akhirnya beranjak dari kursinya. Lea mendekati Arya yang masih duduk lemas seolah tidak bertenaga, pria itu menunduk dalam.
"Mau makan siang?" tanya Lea tiba-tiba yang membuat Arya langsung mendongak.
__ADS_1
"Mungkin kita bisa makan sesuatu yang dingin sekarang," lirih Lea. "Hatiku rasanya sangat panas." Suara Lea tercekat di tenggorokannya, air mata kembali jatuh tetapi ia segera menyekanya.
"Mau es krim?" tawar Arya dengan suara yang parau, menahan gemuruh di dadanya. "Saat Darrel dan Jihan ngambek, es krim selalu sogokan yang menjanjikan untuk memperbaiki mood mereka."
Lea menahan senyum dan mengangguk.
Kedua insan yang kini telah resmi menjadi mantan itu berjalan berdampingan keluar dari ruang sidang, mereka mencoba tetap kuat melangkah di atas kaki yang terasa sangat lemas.
"Pakai mobilku aja," kata Lea. "Biar mama dan pulang duluan, kasihan anak-anak di rumah cuma sama Bibi."
Arya mengangguk patuh.
Mereka pun pergi bersama, hanya berdua. Dan ini adalah pertama kalinya mereka pergi berdua setelah rumah tangga mereka retak.
Lea membawa Arya pergi ke salah satu cafe yang tak begitu jauh dari pengadilan, dan ia langsung memesan dua es krim rasa cokelat.
"Aku lupa kapan terakhir makan es krim," kekeh Arya saat es krim pesanan mereka datang.
Suasana sedikit canggung, tapi mereka mencoba bersikap biasa saja meskipun sebenarnya semuanya memang sangat tidak biasa.
Keduanya pun sama-sama diam, sambil mengaduk es krim yang sebenarnya sama sekali tidak menarik untuk Lea cicipi, apalagi untuk Arya.
"AKU MINTA MAAF."
Entah bagaimana, kedua orang itu tiba-tiba mengucapkan kata yang sama dan dalam waktu yang bersamaan pula.
"Aku minta maaf," ucap Lea kemudian.
"Aku yang minta maaf," balas Arya sambil menggeleng. "Semua salahku, aku gagal menjaga keluarga kita seperti yang aku janjikan dulu."
"Aku juga gagal menjaga keluarga kita," balas Lea. "Aku juga berjanji nggak pernah meninggalkan kamu dalam keadaan apapun, tapi nyatanya aku nggak sanggup menepati janji itu."
"Semua berawal dariku sendiri." Arya menatap Lea dengan seksama. "Andai aku bisa menepati janji, kamu pun pasti masih berpegang teguh pada janjimu. Aku adalah akar dari semua kerusakan dalam rumah tangga kita."
__ADS_1
Lea menunduk sembari mengucek matanya, air mata kembali menumpuk di pelupuk mata wanita itu.
"Maaf atas semua kata-kataku yang mungkin menyakitkan," ucap Lea dengan tulus. "Dan terima kasih banyak sudah ada buat aku selama 15 tahun." Suara Lea kembali tercekat di kalimat terakhir.
Lima belas tahun, mereka bersama sudah selama itu ternyata.
"Kamu teman dan pendamping yang baik," tambah Lea yang mencoba menguatkan hatinya sendiri. "Meskipun aku nggak punya siapa-siapa lagi setelah kematian orang tua ku, kamu selalu ada sampai aku lupa bahwa aku hanya sebatang kara."
"Aku mencintaimu."
Lea terhenyak mendengar pernyataan cinta Arya.
"Aku sangat mencintaimu, makanya aku nggak akan biarin kamu merasa sendirian," tambah Arya sambil tersenyum masam. "Tapi ternyata ada satu waktu di mana aku lupa diri, mengikuti nafsu dan menyingkirkan akal sehatku, sampai aku lupa bahwa aku mencintaimu."
Lea tak menanggapi apa yang mantan suaminya itu katakan, ia justru mulai menikmati es krimnya yang sudah mencair.
"Sering-sering main ke rumah ikut anak-anak," pinta Arya yang masih berusaha bersikap biasa saja, padahal dadanya sesak. "Sejak kamu pergi dari rumah, aku ingin belajar memasak sendiri, tapi sampai sekarang aku cuma bisa masak yang gampang."
"Masakan rumah jauh lebih sehat," sahut Lea lirih.
"Suatu hari nanti, aku harap kamu mau ngajarin aku masak. Anak-anak suka masakan kamu, Lea, katanya sangat enak."
Lea mengangguk sambil tersenyum tipis.
Suasana kembali hening, dan kedua insan itu kini menikamati es krim mereka sudah cair.
"Mau pulang?" tanya Lea setelah es krimnya habis.
"Apa menurut kamu ini berakhir?" Arya justru melontarkan pertanyaan yang berbeda, lagi-lagi membuat Lea mengernyit bingung.
"Apa?" tanya Lea.
"Apakah perceraian ini membuat semuanya berakhir?" Suara Arya bergetar, dan Lea hanya bisa terdiam.
__ADS_1
Apakah semuanya berakhir sekarang?
"Bagiku ini belum berakhir," ucap Arya kemudian yang membuat Lea semakin mengernyit bingung. "Kamu adalah cinta pertamaku, Lea, dan aku akan menjadikan kamu sebagai cinta terakhirku juga."