Merebut Kembali Suamiku

Merebut Kembali Suamiku
Dua Wanitaku


__ADS_3

Bertemu dengan Arya kembali setelah satu setengah tahun membuat Chelsea kembali merasakan sesak di dadanya, apalagi saat ia mengingat kematian sang ibu yang hanya berselang tiga bulan setelah hubungannya dan Arya berakhir.


Ibunya mengalami serangan jantung dan ia tidak bisa diselamatkan.


Dua hal yang paling Chelsea takutkan, yaitu kehilangan Arya dan kehilangan ibunya, terjadi dalam rentang waktu yang tidak jauh. Membuat Chelsea semakin tenggelam dalam rasa sakit dan kesedihan, tak ada lagi tempat bersandar, tak lagi tempat untuk bercerita.


Sahabat, Ibu, kekasih, semuanya pergi, meninggalkan Chelsea sendirian dan kesepian.


"Aku baik-baik aja," gumam Chelsea sembari menatap foto sang Ibu. "Mama nggak usah khawatir, sekarang aku punya kehidupan yang jauh lebih baik." Chelsea tersenyum, seolah ia sedang berbicara dengan ibunya secara langsung.


Saat ini, Chelsea memang berusaha menjalani kehidupan yang lebih baik. Ia menjual rumah lamanya, kemudian pindah ke rumah yang berbeda, ia ingin suasana yang baru.


Chelsea juga sudah bekerja di perusahaan swasta, ia memiliki gaji yang bagus karena ia memang pintar dalam pekerjaannya.


"Aku punya kehidupan yang baik, tapi... aku merasa kesepian, Ma," lirih Chelsea. "Aku kangen sama Mama, andai waktu bisa diputar, aku nggak akan melakukan hal yang membuatku kehilangan segalanya."


Air mata Chelsea jatuh.


Andai ia tidak mengkhianati Lea, pasti wanita itu sekarang akan selalu menjadi tempat curahan hati Chealse, dan pasti akan menjadi pendukung terbaik untuknya.


"Aku menyesal," ucap Chelsea dengan suara tercekat. "Seharusnya aku dengerin nasehat mama, seharusnya aku berhenti, tapi aku terus melangkah dengan harapan akhirnya akan tetap baik untukku. Tapi ternyata ini menjadi akhir yang sangat buruk."


...🦋...


Lea tak jauh berbeda dengan Chelsea, masih terjebak dalam bayangan masa lalunya, terbelenggu dengan rasa sakit, penyesalan dan rasa bersalah. Namun, Lea bukan lah pelaku kejahatan sehingga ia tidak terbelenggu dengan penyesalan, dan juga rasa bersalah, yang tersisa dalam dirinya hanya lah rasa sakit, yang perlahan pudar.


Entah karena anak-anak, orang di sekitarnya yang mendukung, atau karena Arya masih memperjuangkannya.


Ah, mengingat pria itu membuat perasan Lea berkecamuk.


Sejak awal, Arya sudah memperlihatkan bahwa ia ingin kembali pada Lea, tapi wanita itu masih tak menyambut niat sang mantan.


"Melamun?"


Lea tersentak saat tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya, ia mendongak dan senyum manis Arya langsung tersuguhkan di hadapannya, membuat Lea tersenyum kaku.


"Aku nggak dengar suara mobil yang datang," kata Lea, ia mengintip kresek yang di pegang oleh Arya. "Beli buah apa aja? Kok banyak?"


"Darrel minta semangka yang manis, katanya kamu beli tapi nggak manis."


"Astaga, anak ini!" gerutu Lea sembari mengambil kresek yang berisi buah dari tangan mantan suaminya.


"Harus di cicip dulu kalau mau beli, Mama," kata Darrel sambil melepas kaos kaki dan sepatu nya, kemudian ia meletakkan nya di lantai begitu saja.


"Darrel!" tegur Lea kesal. "Simpan sepatu ke tempatnya, masukkan kaos kaki dan baju kotor mu ke keranjang, setelah itu mandi!"

__ADS_1


"Nanti, Mama," bantah Darrel malas. "Aku masih capek!"


"Sekarang!" titah Lea dengan tatapan tajamnya. "Ayo cepat, belajar rapi!"


Darrel merengut kesal, tetapi ia tetap melakukan perintah sang Ibu dengan baik. Arya yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Mama, mau jus buah naga!" teriak Jihan yang berlari menghampirinya.


"Darrel juga mau, Ma!" Darrel ikutan berteriak.


"Iya, tapi mandi dulu!" seru Lea sembari bergegas ke dapur.


Sementara Arya justru kembali ke mobil, ia mengambil bunga yang tadi sempat ia beli karena bunga segar yang ada di sana ia lihat sudah layu.


Arya meletakkan bunga itu di ke dalam vas setelah dia membuang bunga yang sudah layu.


Setelah selesai, ia ke dapur, menyusul Lea yang kini membuat jus sesuai permintaan anak-anak. Ia juga membuatkannya untuk Arya.


"Kamu mau pulang jam berapa?" tanya Lea tanpa melihat Arya.


"Aku diusir?" Arya balik bertanya, membuat Lea mendelik.


"Aku mau ke rumah sakit, Carol melahirkan," kata Lea yang membuat Arya melotot terkejut.


"Wow!" seru Arya yang tampak ikut bahagia, apalagi ia tahu, teman Lea itu menunggu anak sudah bertahan-tahun. "Anaknya laki-laki atau perempuan?"


"Boleh, Darrel sama Jihan mau dibawa?"


Lea mengangguk, apalagi Jihan sudah dari jauh-jauh hari selalu mengatakan ingin melihat adik bayi Tante Carol-nya.


"Kita belum menyiapkan hadiah," kata Arya sembari mengambil tiga gelas untuk jusnya.


"Nanti aja," kekeh Lea. "Lagian aku malas bawa hadiah ke rumah sakit, kita belikan hadiah kalau mereka sudah pulang."


Lea menuangkan jus buah naga itu ke gelas yang sudah Arya susun rapi. "Kok cuma tiga gelasnya?" tanya Lea.


"Kan benar, aku, Darrel, dan Jihan," jawab Arya dengan entengnya.


"Terus aku minum dari blender-nya neh?" ketus Lea yang langsung membuat Arya tergelak.


Ia mengambil tiga gelas karena Lea tidak mengatakan ia juga mau minum jus.


"Kamu nggak bilang juga mau jusnya," kekeh Arya sembari mengambil gelas satu lagi.


"Ya masa hal kayak gini aja aku masih harus bilang, Mas Arya?" ketus Lea.

__ADS_1


"Ya iya lah," jawab Arya tidak kalah ketus. "Aku mana tahu kamu mau apa kalau nggak bilang, lagian aku heran kenapa perempuan itu sama aja semuanya. Mereka nggak bilang mau apa, tapi mau di mengerti mau nya apa."


"Ya laki-laki harus peka dong, Mas Arya, masa semuanya harus di katakan. Apa laki-laki nggak punya inisiatif sendiri, gitu?"


Arya tersenyum tipis dan menggeleng.


"Benar-benar!" geram Lea, ia meneguk jus yang masih sangat segar itu.


"Ayo nikah!"


"Uhuk-uhuk!"


Lea langsung tersedak saat lagi-lagi Arya mengucapkan kata itu tanpa ragu.


Arya hanya mengulum senyum melihat reaksi Lea, apalagi wajah wanita itu langsung memerah.


"Aku masih menunggu jawaban kamu, Lea!" Arya mengambil gelas Lea kemudian ia meneguk jus itu dari sisi Lea meneguknya.


Jantung Lea berdebar kencang melihat apa yang Arya lakukan, dia merasa seperti remaja yang sedang di dekat oleh pria yang menaksirnya.


"Seperti yang aku bilang, perceraian kita bukan akhir dari segalanya. Dan aku masih menunggu hasil dari perjuanganku selama satu setengah tahun ini," pungkas Arya.


"Sampai kapan kamu akan menunggu?" tanya Lea sembari menatap mata Arya.


"Sampai kamu menjawab iya," jawab Arya.


"Gimana kalau aku jawab nggak?"


"Kenapa harus jawab nggak? Apa kamu punya pria lain?"


Lea langsung tertawa kecil mendengar pertanyaan yang di lontarkan Arya.


"Kalau aku punya, menurut kamu dia siapa?" tanya Lea sambil mengulum senyum.


Arya tampak berpikir sejenak, ia mengingat kembali siapa saja pria yang dekat dengan Lea. Namun, setahu Arya, yang dekat dengan Lea hanya Farel.


Sebenarnya, bisa saja ada sesuatu antara Lea dan Farel. Apalagi seluruh dunia pasti mengerti, tidak mungkin seorang pria sangat dekat dengan wanita tanpa ada sesuatu yang istimewa.


Namun, Arya tahu tidak ada apa-apa antara Lea dan Farel. Karena Lea tidak akan membiarkan itu terjadi.


"Darrel!" jawab Arya akhirnya yang langsung membuat Lea tertawa.


"Lalu kamu sendiri bagaimana?" Lea balik bertanya, meskipun ia sudah tahu jawabannya.


"Aku sudah punya wanita, dua," jawab Arya sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Kamu, dan Jihan! Kalian adalah dua wanitaku, yang akan selalu aku cintai! Dan aku nggak ingin wanita lain, kecuali adik bayi Jihan jika nanti kita di karunia."


__ADS_2