
Arya melihat Jihan yang heboh memilih boneka, putri kecilnya itu tampak sangat senang, bahkan dia langsung membeli lima boneka sekaligus.
Sebelum memilih semua boneka itu, Jihan berkeliling toko boneka yang cukup besar itu, dia berlari ke sana ke mari, dan Arya harus mengikutinya dari belakang, takut putrinya itu merusak barang di sana.
Itu sangat melelahkan bagi Arya, toko itu memang ber-AC, tapi Arya tetap berkeringat.
"Buat apa sebanyak itu?" tanya Darrel, ia merasa heran dengan sang adik yang membeli boneka besar yang banyak seperti itu.
"Buat dibawa jalan-jalan, Kakak," jawab Jihan dengan polosnya. "Nanti satunya juga buat temani Jihan tidur, satunya lagi buat ... emm buat apa ya?" Bocah itu berpikir sejenak. "Ya buat buat main!" ujarnya yang langsung membuat Arya terkekeh.
"Boneka nggak bisa apa-apa kok buat main," gerutu Darrel sembari menatap mobil-mobilan besar.
Tanpa pikir panjang, ia mendekati mainan itu dengan mata yang berbinar.
"Papa, Darrel mau ini!" teriak bocah itu.
Arya hanya bisa mengangguk pasrah.
"Besar sekali, Jihan mau lihat!" seru Jihan sembari melompat.
"Tidak boleh, perempuan main boneka saja!" ketus Darrel yang langsung membuat Jihan merengut.
"Mobilnya jelek!" seru Jihan kesal sembari mendekati sang Ayah.
"Ini bagus, Jihan!" seru Darrel yang juga ikutan kesal. "Mahal lho harganya!"
"Apa itu harganya?" tanya Jihan yang langsung membuat Arya tertawa geli.
"Apa kalian nggak lapar?" tanya Arya kemudian. "Sudah belanjanya, ya. Kita kembali ke restaurant."
"Jihan mau makan di rumah sama Mama," kata Jihan. "Mau nugget."
"Papa sudah pesan makanan loh tadi, Sayang," kata Arya dengan raut wajah yang ditekuk.
__ADS_1
"Mau nugget saja, Papa, mau makan di rumah," rengek Jihan.
"Tapi Darrel mau makan yang tadi," kata Darrel.
"Jihan lapar!" Putri Arya itu kembali merengek.
"Siapa suruh tadi mau boneka, bukan mau makan."
Arya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal seperti tidak di keramas berhari-hari, padahal pagi ini dia sudah keramas sampai bersih.
"Ayo pulang, Papa!" Jihan menarik celana Arya. "Jihan mau makan."
"Oke," sahut Arya menghela napas berat. "Makanan yang di restoran tadi kita bungkus saja ya, Darrel," saran Arya kemudian sambil menatap Darrel.
"Terserah Papa saja," ketus Darrel.
Lagi-lagi Arya hanya bisa menghela napas berat, dan ia berpikir tidak akan lagi membawa anak-anaknya makan atau belanja tanpa ada yang menemani.
...🦋...
"Dari papanya, Bi?" tanya Lea pada Bibi yang sibuk membereskan mainan Jihan entah untuk yang ke berapa kalinya.
"Iya, Bu," jawab Bibi sambil tersenyum tipis. "Dibelikan makanan, boneka, sama mobil-mobilan," tambah Bibi.
Wanita paruh baya itu sebenarnya sedih dengan perpisahan Lea dan Arya, apalagi ia tahu Lea adalah wanita yang baik dan hebat, ia sedih karena pernikahan Nyonya besarnya itu tidak berakhir baik.
"Oh," sahut Lea cuek dengan raut wajah yang datar. "Oh ya, setelah ini tolong keluarkan dada ayam ya, Bi, aku mau masak dada ayam untuk anak-anak."
"Baik, Bu," jawab Bibi patuh.
Lea segera ke kamar untuk berganti pakaian, ia menghapus make up-nya, mengikat rambutnya meski sudah pendek, setelah itu ia langsung ke dapur untuk menyiapkan menu makan malam.
Sebenarnya, Lea mendapatkan banyak pesan dari Arya. Foto dan video saat mereka asyik memilih mainan, tapi Lea tak menanggapi hal itu sama sekali.
__ADS_1
Sementara di sisi lain, Arya yang masih sibuk di kantor sesekali melirik ponselnya, berharap ada pesan dari Lea, meskipun hanya satu pesan, atau hanya satu huruf.
Namun, istrinya itu sama sekali tidak mengirimkan pesan apapun.
"Andai aku nggak melakukan kebodohan seperti itu!" gerutu Arya antara kesal dan sedih. "Hubungan kami nggak akan seperti orang musuhan."
...🦋...
Hari terus bergulir, meskipun Lea dan Arya sibuk dengan dunia masing-masing, tapi dua orang itu tetap berusaha menjadi ibu dan ayah yang baik untuk anak-anaknya.
Arya yang dulu selalu beralasan lembur agar bisa menghabiskan waktu bersama Chealse, kini ia justru membawa pekerjaannya ke rumah hanya agar dia punya lebih banyak waktu untuk anak-anak.
Meskipun Arya tidak tinggal bersama mereka selama 24 jam, tapi Lea sama sekali tidak membatasi Arya jika ingin bertemu anak-anak kapan pun mereka mau, atau berapa lama mereka ingin menghabiskan waktu bersama.
Meskipun Lea masih menyimpan rasa sakit atas pengkhianatan Arya, bahkan hatinya memang memusuhi Arya dan ingin menjauh darinya, tapi ia tidak ingin membuat anak-anaknya jauh dari sosok sang Ayah.
Masalah itu hanya antara dirinya dan Arya.
Hari ini, adalah hari pertama sidang, dan Lea ingin semuanya berjalan cepat dan lancar. Ia tak ingin membuang waktu dan tenaga dalam sidang perpisahan dengan suaminya.
Namun, hakim justru meminta mereka melakukan mediasi lebih dulu, sebab perceraian bukan lah hal kecil. Dampak perceraian juga sangat besar, terutama untuk anak-anak.
"Aku ingin kesempatan, dan aku melakukan apapun untuk membuktikan bahwa aku akan memperbaiki semuanya," tegas Arya, ia menatap sang istri dengan tatapan memohon dan penuh harapan.
"Perbaiki hubunganmu dengan Darrel," kata Lea. "Dia masih kecewa karena dia melihatnya langsung," tambahnya.
"Ayo kita perbaiki sama-sama, Lea," pinta Arya. "Aku nggak mau semuanya berakhir begitu saja."
"Yang berakhir yang status suami istri kita, sisanya akan tetap sama," tukas Lea, seolah mengatakan keputusannya sudah sangat bulat untuk bercerai, dan ia menolak berdamai.
"Lea?" lirih Arya frustasi.
"Tolong jangan mengulur waktu, aku nggak mau apapun selain hak asuh anak-anak."
__ADS_1
...🦋...
Ingatkan othor jika ada typo, kosa kata yang salah atau sebagainya. 😘