Miscall Yang Terbalas

Miscall Yang Terbalas
korban cinta palsu


__ADS_3

Sebelum kebaktian benar usai dan akan segera usai aku sudah beranjak pergi meninggalkan bang Rocky dengan perasaan yang campur aduk dan pulang, aku begitu marah dengan keadaanku, dibalik rasa benci ku yang sudah di hianati, aku sangat menyayangi bang Rocky, karena dia lelaki pertama yang aku cintai, yang mengenalkan aku tentang indahnya cinta.


Kata maafnya tak mampu mengobati hatiku yang sangat terluka, entah aku begitu kecewa, aku pikir dia laki laki pertama dan terakhir ku, tapi belum lagi seumur jagung aku sudah dikecewakan seperti ini, hati kecilku masih tak bisa terima, aku kecewa benar-benar kecewa dengan apa yang dilakukan bang Rocky padaku.


Tiba dirumah, masih kudapati adikku Gomos bermain di teras, kuberikan uang logam seratusan dua keping padanya.


" Nih,, uang jajan,"


" Horeeeee,,, dapat uang jajan," Dengan senang Gomos menerima uang yang kuberikan.


" Jangan beli es ya, awas mak tau." Ucapku lagi.


" Iya ka,," Dia memasukkan uang logamnya ke saku bajunya.


Aku meninggalkan Gomos yang kembali bermain dengan sendal bekas yang akan dijadikannya mainan, dan aku langsung menuju kamar dan kembali menangis mengingat bang Rocky, aku terlalu rapuh, sampai segininya menangisi orang yang tak menghargai ketulusanku.


Dengan malas kembali kubaringkan tubuhku di ranjang yang ber kasur tilam, biasanya dulu aku tidur bersama kakaku Riska, tapi sejak ka Riska kuliah aku selalu tidur sendiri, karena tiba tiba aku mengingat ka Riska, kuambil handphone yang baru kubeli semalam dan mengutak atik mencoba mengirim SMS ke ka Riska.


" Ka Ris,, ini aku Ara, aku beli handphone kemaren, ini nomor aku ya ka" Dan segera ku kirim ke nomor ka Riska yang sudah kusimpan tadi malam.


Ku lihat nomor nomor telepon yang sudah kusimpan, ada sepuluh nomor telepon disana, ada guru kelasku waktu SMK, pamanku, uwak kaka dari mak dan nomor telepon keluarga lainnya.


Rasanya bosan sendiri, kulihat tombol menu di handphone ku ada Game, dan kucoba membukanya ternyata permainan ular, akupun mulai mencobanya membuatku mulai ketagihan bermain hingga tak sadar jam menunjukkan pukul dua empat puluh, sontak aku panik, biasanya ada mak yang mengingat kan, kelihatan nya mereka belum pulang dari gereja.


Gomos masih anteng bermain mobilan yang dirakit nya dari sendal yang tak terpakai, aku jadi bingung sendiri mau ngapain, sedikit menyesal sudah terlalu asik bermain tadi, tak ingat waktu, pantes banyak teman temannya yang sering kena marah orang tuanya karena lupa waktu bermain handphone sepanjang waktu.


" Dek udah makan belum?" Aku bertanya pada Gomos yang juga asik sendiri dengan mainannya.


" Udah,," Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari mobilan.


" Ohh,, udahlah, adek tunggu mak sama bapak ya, kaka mau berangkat kerja," Ucapku dan kembali ke kamar untuk mengganti bajuku dengan pakaian kerjaku.


Dengan terburu-buru aku mengganti pakaianku tanpa mandi, karena tak sempat, kuraih handphone ku dan ku masukkan ke saku celana jeans yang kupakai, tak lupa kubawa uang seadanya takut nanti aku kelaparan.

__ADS_1


" Kaka pergi ya dek, jangan main jauh nanti mak ke carian," Pesanku pada Gomos dan hanya dijawab dengan anggukan.


Setengah berlari aku berjalan menuju wartel, takut teman yang akan ku gantikan terlalu lama menunggu, aku melewati Gereja dan kulihat bapak sedang mengobrol dengan temannya, tapi mak tak kelihatan sama sekali, mungkin mak masih di dalam, dan lagi sebelum aku melewati gereja kembali kulihat bang Rocky duduk bermain handphone di bawah pohon palem di taman halaman Gereja, ku percepat langkahku saat pandangannya tak sengaja mengarah padaku.


" Huh,,," Aku mengeluh dengan diriku yang selalu saja bertemu dengannya.


Saat aku tiba di wartel tepat pukul tiga, dan sangat membuat aku lega, walau aku ngos-ngosan juga, ku hempaskan tubuhku dengan kasar di sofa tempat orang antri diruang tunggu, kuatur nafasku sementara aku duduk, kulihat Suryani mulai beberes akan meninggalkan wartel.


" Ra, besok kamu mulai jadwal pagi kan?" Yani mengingatkan ku dan ikut duduk di dekatku.


" Iya,, makanya waktuku mepet terus kalo udah masuk pagi, jadi gak bisa bantu mak," Ucapku sedih.


" Ya gak papa lah ra, kan kamu kerja bukannya main-main," Ucap Yani lagi dan tersenyum ke arahku.


Suryani adalah teman yang juga penjaga wartel pamanku, jadwal kami berganti setiap seminggu sekali, jika aku masuk malam, dia yang masuk pagi, dan begitu sebaliknya, aku tak terlalu dekat dengannya karena usia kami berpaut dua tahun, dan sekolah kami sejak SD hingga SMK tak pernah sama, kami berteman karena sama sama bergabung di organisasi pemuda Gereja dan pemuda kampung, dan sejak kami bekerja menjaga wartel kami mulai dekat namun tak terlalu kompak.


Kehidupan orangtua kami tak jauh berbeda, hanya saja dia saat ini cuma memiliki mama, papanya sudah lama meninggalkan mereka saat Yani dan kedua abangnya masih kecil, dengar dengar papanya menikah lagi dan tinggal jauh dari mereka.


" Aku cuma mikirin gimana mengatur waktu, sementara aku nyuci di tiga tempat." Ucapku lagi.


" Iya,, nanti klo ada yang cari ya, tapi beneran lo!" Takut jika nanti benar ada malah Yani yang menolak.


" Beneran,,, janji," Ucanya dan tersenyum padaku.


" Nanti aku kabari ya," Ujarku.


" Ra,, kamu pacaran ya sama bang Rocky?" Tiba-tiba Yani menanyakan orang yang tadi malam kutangisi membuatku kesulitan menelan salivaku.


" Ko, tiba tiba nanya kesitu?" Tanyaku balik dengan wajah serius ku.


" Gak apa-apa,," Ucapnya tapi menekuk wajahnya yang manis.


" Serius nih,, jangan buat aku penasaran,"

__ADS_1


" Aku dua bulan lalu pacaran sama dia, tapi cuma dua minggu," Kulihat dia sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh.


" Hah,,, dua bulan lalu?" Dengan mata yang melotot ku tatap wajah Yani yang masih menunduk.


" Iya ra, tapi kami dah putus saat kutau dia mulai mendekatimu," Dengan jujur Yani bercerita.


" Maaf yan,,, sumpah aku tak tau,," Ucapku menyesal, rasanya semakin benci saja dengan bang Rocky.


" Gak papa ra,, aku sudah gak papa ko,," Dan terlihat Yani menyunggingkan senyum manisnya.


" Kita samaan Yan,, aku patah hati saat ini, tadi malam aku memergoki dia jalan sama Hesty," Kali ini aku yang menekuk wajahku sedih.


" Hah,,, kurang ajar memang itu si Rocky, dia memanfaatkan ketulusan kita kita,, kayaknya dia itu belum kenak batunya," Ucap Yani kesal.


" Udahlah, biar aja, kayak gak ada lagi laki-laki tampan selain dia,," Kali ini aku tersenyum manis ke arah Yani dan disambut tawa renyah darinya, baru kali ini aku merasa dekat dengannya, mungkin karena kami sama sama korban cinta palsu bang Rocky.


" Ohh iya, kemaren ada cowok ganteng datang kesini ya kan, jangan bilang mereka cuma mau nelpon!" Membuatku bingung, seingatku cuma bang Amri yang datang dan disusul temannya.


" Yang mana?" Aku mencoba memastikan pada Yani.


" Datang pakai motor,," Yani menjelaskan.


" Ohhh,, itu teman bang Amri, kemaren cuma mau jemput bang Amri kesini, kamu suka? Jangan salah orang ya!" Takut juga jika yang disukai itu bang Amri.


" Yang bawa motor, yang dibonceng kayaknya teman dekat kamu ya ra?" Yani sepertinya masih ingin penjelasan dariku.


" Oh itu abang kelas waktu SMK dulu, terus temannya baru juga aku kenal, namanya Nando," Ucapku menjelaskan.


" Titip salam ya ra,,, syukur syukur masih jomblo,, hehehe," Ujar Yani dan beranjak dari duduknya.


" Bolehhh,,, nanti kubantu comblangin,"


" Aku pulang dulu ra, cucian ku banyak ini," Yani pun pamit pergi meninggalkan ku yang masih tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Rasanya lucu dengan nasib kami berdua, korban cinta palsunya bang Rocky, buat gemas aja itu anak, tapi aku mulai iklas dia pergi dari hidup aku, daripada sakit hati diduain, mending menjauh aja.


Akupun mulai bersih bersih, melupakan sejenak rasa cinta, marah dan benci ku pada bang Rocky, sudahlah, akupun tak ingin melanjutkan hubungan pacaran kami karena aku merasa tak pantas juga pacaran dengan dia.


__ADS_2