Miscall Yang Terbalas

Miscall Yang Terbalas
ditemani bang Amri


__ADS_3

Sore ini aku kembali dikunjungi oleh bang Amri, tapi dia sendiri dengan mengendarai motor supra xx yang saat ini lagi disenangi banyak anak muda, aku tau dia hanya untuk mengunjungi ku saja karena saat dia datang tadi membawakan ku mie goreng dan sebungkus wafer tanggo ukuran besar, dan mulai duduk manis di bangku tempatnya semalam lagi, menungguiku dan mengajakku bercerita.


" Itu temannya semalam kemana ya bang ko gak ikut?" Tanyaku pada bang Amri mencari tahu.


" Ohhh,,, tadi kutinggal tidur, semalaman mereka begadang," Jawabnya dan memandang curiga padaku.


" Gak usah curiga,,," Ucapku ketus, membuat bang Amri tertawa keras.


" Jangan bilang kamu jatuh hati padanya,"


Langsung aja ku lempar kemoceng ke wajahnya, namun dengan sigap mengelak hingga kemoceng jatuh ke lantai.


" Rasain.."


" Tak kena, tak kena,," Bang Amri malah mengejek ku.


" Huh,," Ku pungut lagi kemoceng yang ku lempar, membuat bang Amri makin terkekeh.


" Makanlah ra mie gorengnya, nanti dingin gak enak!"


" Jangan bilang ini nyicil jujuran lagi ya!" Ucapku mengingat semalam bang Amri yang bercanda.


" Makanan ko jadi jujuran,,, udah makan aja," Ucap bang Amri sambil mengambil handphone dari sakunya, dan secara bersamaan terdengar bunyi SMS masuk ke handphone ku, membuatku mendapat lirikan dari bang Amri.


Aku yang mulai membuka bungkusan mie goreng mengurungkannya dan mengambil handphone dari saku jeans ku dan membuka pesan masuk yang ternyata dari ka Riska.


" Kamu udah punya handphone Ra, ya udah kaka simpan nomormu, bilang sama mak kaka pulang minggu depan."


" Ko ga bilang bilang kalo kamu udah punya handphone?" Bang Amri protes padaku.


" Kalo kubilang baru semalam beli handphone percaya tidak?" Aku balik bertanya.


" Loh ko nanya balik, sini handphone nya biar ku simpan nomornya," Akupun menurut saja memberikan handphone ku karna sebenarnya aku belum terlalu paham menggunakan nya.


Aku mulai makan mie goreng yang dibawa bang Amri, kulihat dia mengutak-atik handphone ku dan juga handphone nya, terdengar handphone nya berdering namun segera berhenti setelah bang Amri menekan sesuatu di handphone nya.


" Baru yakin, kontak tersimpan baru hitungan jari, SMS nya baru dari ka Riska," Dengan detail bang Amri bercerita tentang handphone ku.


" Ko tau?" Ucapku memandang bingung.

__ADS_1


" Taulah,,, kamu itu poltak juga ya," Bang Amri tertawa renyah sekali.


" Hmmm,, poltak maksudnya?" Dengan bingung bertanya pada bang Amri.


" Polos polos tak berotak!" Ucapnya dan dengan refleks kembali ku lempar pakai kemoceng, kali ini mendarat sempurna di keningnya membuat bang Amri makin tertawa kencang malah akunya yang tambah kesal.


Sebenarnya kami selalu seperti ini setiap kali bertemu, bang Amri sebangsa manusia jahil dan suka bercanda, jadi jika orang mengira kami pacaran sebenarnya tidak, hanya saja anaknya perhatian dan baik, jadi semarah apapun aku akan segera baikan karena bang Amri akan berusaha keras agar aku kembali tersenyum.


" Nomerku udah kusimpan ya, lihat aja abang Tampan namanya." Bang Amri memberikan handphone ku dan benar saja kulihat Abang Tampan memanggil, hingga hampir saja aku tersedak, dan panggilan berakhir.


" Uhuk,, uhuk, uhuk,,," Rasanya seperti aku termakan cabe rawit juga, dan segera kuraih gelas yang masih berisi air minum.


" Kamu kenapa ra,, makanya hati hati makannya," Terasa bang Amri menepuk-nepuk punggung ku pelan, aku mendongak kan kepalaku sekilas kulihat bang Amri sedikit panik.


" Udah bang,, gak papa,," Ucapku menyudahi makan yang tadi adalah suapan terakhirku.


" Bikin panik tau!"


" Kegigit cabe rawit,, eh malah ketelan pula," Ucapku mengingat kejadian tak enak tadi.


" Itu namanya kualat ra,, kamunya ngelempar aku, di bayar tunai," Masih aja bang Amri merasa benar.


Kulihat panggilan tak terjawab abang tampan, dan ku buang nafas ku secara kasar,,


" Panggilan tak terjawab abang Tampan " Gumamku namun terdengar jelas sama bang Amri, membuatnya mengalihkan pandangan nya ke aku


" Itu namanya misscall ra!"


" Ohhh ya? "


" Kalo kita jauhan lagi nanti kita udah bisa telpon telponan dan SMS an," Dengan senyum mengembang bang Amri memandangku.


" Emang mau pergi lagi?" Tanyaku seolah tak rela jika bang Amri pergi.


" Takut rindu ya?" Tanyanya dengan percaya diri jelas membuatku salah tingkah.


Entah perasaan apa yang aku rasa ketika bersama bang Amri, rasa nya selalu bahagia, walau sering juga marah dengan sikap jahilnya, tapi itu yang kurindukan selama setahun lebih tak bertemu, iya jujur aku rindu, aku kira bang Amri melupakanku ternyata tidak sama sekali, bahkan dia benar tambah gagah, tambah ganteng, dan membuat ku.....ohhh tidak, itu tak boleh terjadi kami berteman baik, dia sudah seperti abangku sendiri, dan dia selalu menganggapku adik.


Aku tak begitu sibuk malam ini, karena pelanggan tak seramai semalam, hanya ada beberapa orang saja, masih pukul delapan kurang sepuluh menit saat kulihat jam didinding ruangan.

__ADS_1


Tiba-tiba saja lampu mati, membuatku kaget, dengan segera ku print pendapatan hari itu, sesuai dengan yang diajarkan paman padaku dan segera ku matikan komputer dan printer setelah semuanya ku print.


" Duduk di depan aja yuk bang," Aku beranjak dan mengajak bang Amri duduk di depan, kami berjalan beriringan dan keluar dari wartel yang gelap.


Kurapatkan jacket ku, mati lampu seperti ini membuat suasana jadi sangat sepi, hanya suara kendaraan yang lalu lalang di jalan raya yang kedengaran, entah aku merasa canggung duduk dibangku yang sama dengan bang Amri.


Kulihat paman turun membawakan lilin, dan mencariku keluar,,


" Ra,," Paman memanggilku, mendorong pintu kaca dan mendapati ku sedang termenung, sementara bang Amri sedang membalas SMS entah dari siapa, namun secara bersamaan menoleh ke arah paman yang memanggilku.


" Iya paman,, ada apa?"


" Kalo sejam lagi belum hidup lampu, pulang aja, panggil aja paman ya manatau ikut ketiduran!"


" Ohh iya paman,,"


Paman pun kembali ke lantai atas, meninggalkan ku bersama bang Amri.


" Pamanmu baik ya dek!"


" Iya,, sangat baik, abang tau kan kehidupan keluarga aku seperti apa dari dulu, yah paman lah yang memanggilku ku buat jaga wartel nya, kebetulan yang jaga mengundurkan diri kemaren, dan aku juga nyuci disini, niat dulu cuma mau bantu bantu bibi, eh malah bibi selalu kasih duit ke aku, jadi gak enak, dan aku mutusin jadi tukang cuci mereka," Ceritaku pada bang Amri, entahlah setiap aku bercerita aku merasa nyaman saja pada bang Amri.


Kulihat bapak datang dan mendekat ke arah kami,


" Bapak,, ko cepat kali datangnya?"


" Ehh bapak bukan jemput, bapak sama mak mu mau ke tempat pak Ardi besok kan pesta nikah anaknya, jadi mau bantu bantu dulu, bisa pulang sendiri ra, manatau lama pulangnya?"


" Bisa pak,," Jawabku yakin agar bapak gak kuatir.


Setelah memastikan aku bisa pulang sendiri, bapak pu pergi meninggalkan kan ku bersama bang Amri.


" Sayang banget ya bapak kamu ke kamunya ra?" Tiba-tiba bang Amri menyeletuk.


" Iya,, sama anak perempuan nya sayang banget bang, eh sama semua anaknya juga sayang ko, cuma sama kami anak perempuan nya lebih protektif," Ucapku tersenyum mengingat bapak yang kurasa selalu sangat berlebihan rasa sayangnya.


" Harus dapat laki-laki seperti itu ra nanti," Bang Amri berkomentar lagi membuat ku tersenyum ke arahnya.


" Emang abang gak seperti bapakku ya?"

__ADS_1


__ADS_2