
Tak lama kami di pajak, ketika tiba dirumah pun masih gelap dan kulihat jam baru menunjukkan jam lima lewat sepuluh, mak langsung ke dapur dan mulai menghidupkan tungku untuk memasak nasi, sementara bapak menimba air di sumur dan mengisi ember ember tempat air agar mempermudah aku mencuci piring atau kain, dan aku mulai mengumpulkan kain kain kotor yang sudah dua hari belum ku cuci.
Segera ku rendam pakai deterjen pakaian kotor yang sudah kukumpulkan tadi, nanti setelah terang aku akan mulai mencucinya, dan selama proses merendam aku manfaatkan mencuci piring kotor bekas makan tadi malam, agar lebih enak dilihat mata ketika semua terlihat bersih, semua mengambil tugas masing-masing.
Terdengar mak membangunkan Luhut dan Gomos,
" Luhut, Gomos, udah siang, sekolah tidak?" Suara mak jelas terdengar, ciri khas nya membangunkan anak anaknya diwaktu pagi.
Dan tak menunggu lama, benar Luhut dan Gomos sudah muncul di dapur dengan malas dan wajah yang masih mengantuk, Gomos menghampiri mak yang lagi mengulek sambal untuk ikan asin, kebiasaannya Gomos harus nempel dulu di kaki mak baru sah namanya bangun pagi, dan Luhut anak ke empat mak yang beranjak remaja paling malas diantara kami semua, yang jarang mau bantu bantu mak, tapi anaknya pintar dan berprestasi di sekolah, dan mendapat beasiswa selalu sejak masih SD.
" Mandi sana, nanti kaka mau nyuci lagi, bajunya satukan di ember rendaman kaka aja ya," Titah ku pada kedua adikku.
" Masih dingin" Ujar Luhut yang masih memeluk lututnya diatas kursi.
" Kaka, habis nyuci masih punya borongan dua tempat lagi loh dek, nanti kain mereka gak kering" Ucapku lagi sambil menyusun piring di rak piring mak yang terbuat dari bambu.
" Hutt,,, sana mandi, mos, sana mandi nanti terlambat!" Bapak yang sudah selesai menimba air muncul di pintu dapur.
" Iya Pak, " Dengan masih malas Luhut beranjak dari kursi di ikuti Gomos.
" Bapak mau kopi?" Mak yang sedang mengisi termos bertanya ke bapak.
" Boleh,, bapak mau melepas ayam dan kasih makan dulu" Bapak keluar lagi dengan membawa karung kecil berisi jagung.
Kuikuti bapak ke belakang sambil melihat ayam ayam peliharaan bapak yang banyak, aku sangat mengagumi kerajinan bapak, hanya saja nasipnya yang kurang baik.
" Ayamnya banyak tapi ko gak mau motong sih pak? Kan kali kali ganti lauk" Ucapku sebenarnya hanya bercanda, memang tak dipotong tapi sering dijual untuk menambah nambah penghasilan, bahkan telur ayamnyapun sering juga dijual ke warung warung kopi.
" Mau?" Tanya bapak balik tanpa mengalihkan pandangannya dari ayam ayam yang saling berebut biji jagung.
__ADS_1
" Maulah" Jawabku senang, karena kutau bapak pasti akan memberinya.
" Udah, besok aja atau nanti sore, tapi Ara nanti kerjanya sore, kalo besok lebih banyak waktunya pulanya hari minggu"
" Besok juga gak apa apa pak, kan mak tadi udah beli sarapan enak buat kita" Ujarku lagi, takut jadi mubajir terlalu banyak makanan tapi tak habis.
Hari mulai terang menggantikan gelap, matahari sudah terlihat muncul dengan sinarnya yang cerah, mak pun sudah berpidato dari tadi karena Luhut dan Gomos tak muncul muncul dari kamar mandi.
" Mau cepat dibangunin, mau tak dibanguni sama aja lama geraknya, udah dibilang bapakmu bukan orang kaya yang punya motor buat ngantar sekolah, jangankan motor sepeda pun tak ada" Isi pidato mak yang sering terdengar seperti pagi ini.
" Iya mak,, udah siap" Jawab Luhut yang sudah berada di dapur dengan handuk yang masih terlilit di pinggangnya, terlihat menggigil kedinginan membuat mak menghentikan omelan nya.
Gomos sudah berlari lari masuk ke kamar untuk memakai baju sekolahnya.
Di meja mak sudah menyiapkan nasi yang masih panas, dan lima bungkus mie yang tadi kami beli di pajak, dan tak lupa ikan asin beserta sambalnya semua terasa nikmat dan sudah terhidang semua di meja, mak sedang mengisi minuman di cangkir ketika kami semua datang dan duduk di kursi kayu yang mengingari meja kayu sederhana kami.
" Wahhh,, pagi pagi ada sarapan mi enak" Kata Gomos bersemangat.
" Mak baru gajian" Ucapku asal sambil mengedipkan mataku ke arah mak.
" Telurnya separoh separoh ya" Mak membagi telur tanpa mengurangi mie nya dan bapak mendapat telur yang utuh mengingat tadi mak belinya hanya tiga bungkus yang pakai telur.
Tak ada yang protes, semua menikmati sarapannya masing masing dengan lahap,
Jam setengah tujuh Luhut dan Gomos sudah siapan berangkat sekolah, dan akupun segera melanjutkan cucian ku, setelahnya aku harus kerumah wak pinem dan lanjut ke rumah tante Rahma buat nyuci lagi karena sudah jadwalnya nyuci di tempat mereka sekalian mengambil upah ku bulan ini.
Semua harus sudah selesai sebelum jam tiga karena jam tiga aku sudah harus di wartel lagi, aku mengerjakan semua dengan berjadwal agar bisa kukerjakan dengan teratur dan tak terburu buru.
Dan sebelum jam satu siang aku sudah kembali ke rumah dengan membawa upah menyuciku, kudapati mak yang lagi menampi beras dan bapak sedang memperbaiki kursi kayu yang sudah usang dan hampir reot.
__ADS_1
" Udah siap ra nyucinya?" Tanya mak hanya melihatku sekilas dan melanjutkan tampiannya.
" Iya mak, ini dapat seratus delapan lima ribu, wak pinem kasih delapan lima, tante Rahma delapan puluh" Ucapku sambil mengeluarkan uang yang disaku celanaku.
" Katanya mau beli HP, emang itu cukup?" Lagi mak bertanya.
" Dari paman belum, sama upah dari wartel juga, tapi kayaknya cukuplah mak" Kataku menduga duga.
Aku pergi kekamar dan mengambil sisa gajiku bulan lalu masih ada empat puluh tiga ribu, lumayanlah buat tambah tambah.
" Mak bangunin ya jam dua, mau tidur dulu" Pesanku dari kamar.
" Hmm..." Mak cuma ber hem hem aja tapi kutau dia pasti membangunkanku nanti.
Aku membaringkan tubuhku yang lelah, aku tertidur dengan sangat lelap sehingga ketika mak membangunkan ku aku merasa baru saja tertidur.
" Ra,, bangun nak, udah jam dua lewat," Mak mengguncang pundakku dengan lembut.
" Ya,,," Kukucek kucek mataku yang masih mengantuk dan kulihat mak masih berdiri di samping ranjang kayu ku.
" Mak panggil panggil dari tadi gak dengar, tidurnya udah kayak kerbau, katanya mau kerja" Mak mengomel, aku benar gak dengar kalo mak memanggilku, mungkin karena tidurku terlampau nyenyak makanya gak dengar apa apa.
Aku mulai berkemas, kulihat mak udah mengambil jemuran yang tadi ku cuci dan memilih milih yang sudah benar-benar kering, aku tersenyum melihat mak yang gak pernah mau diam, mungkin aku menurun dari merek jika tidak merasa capek ada aja yang dikerjai, dan tak pernah bosan dengan pekerjaan yang sama.
Setelah berpamitan akupun berangkat ke wartel, kulihat temanku yang jaga pagi sudah duduk manis menungguku datang walau masih ada waktu sepuluh menit lagi, tapi tak apalah mungkin dia kepingin cepat pulang.
Aku membersihkan ruangan wartel terlebih dahulu beserta kamar kamar teleponnya dan menyemprotkan pengharum ruangan di setiap kamarnya agar tecium segar sama pelanggan wartel, dan kudengar ada yang masuk saat aku sedang menyapu di bawah meja kerjaku dengan posisi membelakangi orang tersebut.
" Hei Ara,," Aku dibuat terkejut ketika dengan kuat menepuk pundakku, dan memandang ke sumber suara.
__ADS_1
" Bang Amri?" Aku membulatkan mataku, dan tak kuhiraukan lagi rasa nyeri pundakku karena tepukan nya yang kuat.
" Iya,, kenapa?"