
Bang Amri adalah kaka kelasku yang beda satu tahun denganku, dulu kami sangat dekat di sekolah, karena kami memilih jurusan yang sama Akutansi, awal kedekatan kami saat aku mencari buku paket bekas yang biasanya kaka kelas menjualnya dengan setengah harga, dengan ragu ku temui bang Amri di kantin saat jam istrahat yang membuat bisik bisik yang tak jelas, dan pandangan tak suka dari beberapa kaka kelas padaku, mengingat bang Amri adalah pujaan semua siswi di SMK ku karena ketampanannya, selain tampan juga pintar dan suka bergurau, padahal jika jurusan nya Akutansi terkenal dengan keseriusannya dimana saja, tapi bang Amri tidak sama sekali, membuatku sering meminta buku bekasnya dan selalu diberikan, sejak itu kami sering bersama apalagi ketika kami masuk dalam kepengurusan organisasi OSIS disekolah, kamipun jadi sering bertemu, atau sekedar bercanda saat jam istrahat.
Banyak yang iri padaku dengan kedekatan ku dengan bang Amri, padahal kami tak pacaran, ada aja siswi yang memandang sinis padaku, karena dianggap telah merebut bang Amri padahal bang Amri nya aja yang sering menjumpaiku, dan sikap sinis kaka kelasku akhirnya berhenti sejak mereka lulus dan bang Amri merantau ke Pekan Baru bekerja, tak pernah ada ungkapan perasaan apa apa selama kami bersama dan aku menganggap hubungan kami hanya sebatas pertemanan saja.
Iya,, kenapa? Tanya Bang Amri,
Aku yang sudah setahun tak bertemu dengannya terkejut, tak menduga akan kedatangannya saat ini di wartel tempatku bekerja, matakupun ikut membulat masih tak percaya.
" Kaget tau!" Ucapku tanpa mengalihkan tatapan ku.
" Kangen ya?" Tanpa basa basi membuatku kesulitan menelan salivaku.
" Gak kangen, cuma rindu" Jawabku menutupi rasa maluku membuatnya tertawa renyah seperti tak kekurangan apa apa.
" Sama aja peyang" Bang Amri menjitak rambutku pelan.
" Aku mau siapin sapuanku dulu, ntar kita ngobrol lagi" alasan ku demi menghindari tatapannya yang sedari dulu yang tak mau berubah saat kami masih sekolah.
" Banyak alasan, ya udah aku juga mau nelpon teman dulu, ngasih tau kalo udah nyampe " Bang Amri langsung masuk ke kamar telepon yang sebelumnya sudah ku bersihkan dan ku semprot pengharum.
Ternyata bang Amri baru pulang merantau setelah setahun lebih meninggalkan kampung halaman, dan anehnya kami bisa bertemu secara tak sengaja, benar aku rindu padanya, dulu dia pergi hanya menitip pesan sama temannya kalo dia sudah pergi ke Pekan baru mengadu nasib menemui keluarganya yang sudah lebih dulu tinggal disana, makanya aku tau dia tinggal di pekanbaru.
Saat semua sudah selesai ku bersihkan, bang Amri sudah duduk santai di bangku yang ada dekat mejaku, kulihat hasil print an ada tiga nomor telepon yang dihubungi bang Amri.
" Temannya banyak amat? Semuanya sebelas ribu dua ratus!" Kesebut nominal yang kudapat setelah menghitungnya di kalkulator.
" Ini,," Bang Amri memberikan lembaran uang limapuluh ribuan, dan kusambut dengan bibir yang panjang.
" Duitnya besar bang," Benar saja di laci tak punya uang kecil untuk kembaliannya.
" Udah, kembaliannya sama kamu aja" Membuat senyumku mengembang karena senang.
" Makasih bang,,,ihhh abang banyak duit akh!" Ucapku gemas mendekatkan tanganku untuk mencubit pipinya.
" Itu untuk cicilan Ra," Jawabnya lagi sambil tersenyum lebar.
" Cicilan apa?" Aku tak mengerti dan mengernyit kan jidat ku.
" Jujuranmu nanti, hahahaha" Lanjut bang Amri tertawa kuat.
Langsung aja cubitan ku mendarat di lengannya dengan kuat, yang membuatnya mengaduh dan berhenti tertawa.
" Rasain,," Ucapku kesal.
__ADS_1
" Iya tapi gak sesakit ini juga nyubitnya, yakin aku, pasti biru ini" Katanya lagi sambil mengusap usap lengannya.
Tiba-tiba bang Rocky masuk membuatku salah tingkah, dari raut wajahnya kulihat bang Rocky tidak menyukai keberadaan bang Amri.
" Ada wak Eben?" Tanya bang Rocky padaku menanyakan keberadaan pamanku.
" Ada bang diatas, naiklah" Jawabku dan menyuruhnya langsung naik ke lantai atas dimana pamanku tinggal.
Bang Rocky langsung menuju lantai atas tanpa menoleh ke arahku lagi, akupun jadi banyak diam setelah kedatangan bang Rocky, membuat bang Amri bingung dengan perubahan ku yang tiba-tiba.
" Kenapa Ra?"
" Ya, gak papa!"
" Payah,,," Ucap bang Amri sambil mengetuk ngetuk jarinya di mejaku.
Aku diam aja dan beruntung aku mulai disibukkan oleh pelanggan yang ingin menelepon, hingga tak kusadari bang Rocky sudah turun dan keluar tanpa menyapaku, kutelan salivaku dengan susah payah, mencoba menenangkan hatiku, tak mungkin ku usir bang Amri dari sini.
Paman muncul dari dalam setelah beberapa menit bang Rocky pergi, kulihat paman membawakan uang limapuluh ribuan sebanyak lima lembar dan memberikan uang tersebut padaku.
" Ra ini gajimu," Ucap paman dan meletakkan gaji jaga wartel bulan kemaren.
" Makasih paman" Ucapku tersenyum lebar.
" Wihhh yang gajian,, boleh nih pinjam buat malam mingguan" Dan kubalas hanya dengan memanjangkan bibir ku.
Terdengar handphone berbunyi, dan akupun mencari asal suaranya, dan mendapatinya dari bang Amri, kulihat dia mengambil handphone nya dari saku celananya dan menerima panggilan.
" Iya, udah di wartel aku!"
" Hampir sejam"
" Kesini aja, malas kesana, tas ku sudah kutitip tadi sama mama biar sekalian dibawa."
Tak lama sambungan telepon dimatikan.
" Teman sekampung Ra mau pulang sama pake motornya, tadi tas sama koper aku udah di bawa mama naik angkutan" Tanpa bertanya bang Amri menjelaskan.
" Ohhh,,," Akupun hanya ber oh oh ria aja.
" Ra,,, sini" Tiba-tiba kepala bibi nongol di pintu pembatas ruangan wartel dan ruangan belakang memanggilku.
" Iya bi,,?" Aku menghampirinya dan meninggalkan bang Amri yang mengikutiku dengan pandangannya.
__ADS_1
Setelah aku masuk ke ruangan belakang kulihat bibi menyerahkan uang seratus ribuan padaku.
" Ini upah nyucimu ya" Ucap bibi tersenyum padaku.
" Ko banyak kali?" Aku menilai yang diberikan kebanyakan.
" Kan sering bantu bibi jaga adek," Bibi menjelaskan.
" Ahh bibi terlalu berlebihan, tapi makasih banyak ya bi " Jawabku dan menerimanya dengan senyum mengembang.
" Iya,," Ucapnya lagi dan berlalu kembali ke lantai atas.
" Kenapa Ra?" Bang Amri bertanya.
" Mau tau aja urusan orang" Jawabku yang mendapat jitakan kecil lagi di rambutku dari bang Amri.
" Orang nanya baik baik pun" Ucapnya kesal.
Aku memeletkan lidahku ke arahnya, dan kembali berusaha menjitak rambutku yang dengan sigap ku hindari.
Seseorang masuk ke wartel dan langsung di sapa bang Amri.
" Hai nan!"
" Kirain belum nyampe, rupanya udah disini" Mereka terlihat bersalaman.
" Ini kenalin Ara, Ra ini Nando kenalin teman sekampung ku" Bang Amri memperkenalkan kami, kusambut tangan bang Nando yang terlebih dulu terulur padaku.
" Pacarmu ya Ri? Ko gak pernah keliatan? Malah baru ini tau ada gadis cantik yang mau dekat samamu!" Membuatku salah tingkah lagi mendengar ucapan pria yang baru kukenal ini, tampangnya lumayan ganteng tak jauh beda dengan bang Amri.
" Iya pacarku, awas kalo dekat dekat, Ku hajar kau!" Kata bang Amri sambil menunjukkan tinjunya ke arah Nando.
" Sejak kapan pula?" Akupun protes.
" Sejak jaman penjajahan Belanda " Ucap bang Amri enteng membuat Nando tertawa.
" Udahlah geng,, kita pulang, motornya mau dipake bapakku ntar lagi" Nando mengalihkan pembicaraan kami membuat bang Amri beranjak dari duduknya.
" Ohhh,, ya udah,, abang pulang ya Ra" Ucap bang Amri sambil memasukkan handphone nya lagi ke saku celananya.
" Yupp,,, hati hati ya bang" Jawabku dan tersenyum pada mereka.
Saat melihat mereka keluar dari wartel, mataku kembali menangkap sosok bang Rocky yang ternyata belum pulang sejak tadi, dan berada di cafe sebelah yang di kelola oleh anak pamanku abang dari paman Eben.
__ADS_1