
Menjelang pergantian jam, Amri datang memasuki wartel, Ara yang tak menyadarinya sungguh terkejut ketika pria tampan itu sudah duduk di bangku tinggi meja kerja Ara.
"Hei orang sombong,,parah banget.....!"
Ara yang bener terkejut sampai memegang dadanya dengan satu tangannya,
"Kalo datang bilang-bilang," Sedikit suara Ara meninggi menutupi keterkejutan nya dan dengan spontan berdiri langsung mencubit lengan Amri.
"Auuuwww Gitu aja terkejut,, sakit tau" Amri sedikit meringis tapi juga tertawa ringan sambil melihat sekeliling ruangan yang terlihat sepi.
"Tumben sepi Ra?'
" Iya,,barusan juga sepi, dari pagi gak ada istrahatnya malah, sampe makan siang harus digantiin paman jaga tadi," Ara kembali duduk dan menyenderkan tubuhnya di kursi.
"Jam berapa pulangnya?"
"Ntar, masih ada lima belas menit lagi, nunggu Yani datang."
"Langsung pulang ya?"
"Iyalah,,mau ngapain juga disini?"
"Manatau main dulu kemana gitu!"
"Baikan dirumah,, kerjaan banyak, bisa tidur"
"Tidur terus, tapi gak gemuk-gemuk,," Amri tertawa melihat kearah tubuh kurus Ara.
Ara mencebikkan bibirnya kearah Amri.
"Emang ngaruh apa?yang bikin gemuk itu makan tau?.
Amri hanya tertawa melihat Ara yang cemberut padanya,,tapi itu hanya sebentar sesaat Ara memperbaiki duduknya.
" Siapa bilang gak ngaruh,?"Amri menimpali pernyataan Ara, namun Ara terlihat tak berminat membahas persoalan kecil yang sedang mereka perdebatkan.
" Sama siapa kesini?" Tanya Ara balik bertanya.
"Hmmm,,,sama Nando,,tapi beda motor, tadi kakanya minta diantar ke rumah temannya makanya bawa motor masing-masing."
__ADS_1
Ara membereskan mejanya dan menghitung pendapatannya dari pagi tadi, matanya berbinar melihat nominalnya, terlihat dimonitor angka 1.245.500 dan menghitung semua uang yang dilaci, setelah semua dirasa pas segera Ara membawanya ke atas untuk diberikan pada paman.
"Aku naik dulu ya mau antar uang ke paman, abang disini dulu"
"Hhhmm,, ya" Amri hanya mengiyakan dan mengangguk-angguk.
Amri menunggunya dengan bermain handphone, dan tak lama Yani juga sudah memasuki wartel dan memberikan senyum ke arah Amri.
"Ara mana bang?" Yani yang tak melihat keberadaan Ara disana bertanya pada Amri yang baru pertama kali diajak bicara.
"Ohhh,, Ara baru naik ke atas, mungkin sebentar lagi turun!" Jawab Amri dengan tersenyum juga.
"Sendiri aja bang?" Yani duduk di sofa sementara sambil menunggu Ara turun.
"Tadi barengan sama teman sih, tapi nganterin kakanya dulu, mungkin.....itu dia baru sampai, panjang umur," Dengan senyum lebar Amri begitu senang melihat Nando yang membuka helmnya dan asal menggantung di stang motor.
Bersamaan Yani ikut memperhatikan arah pandangan Amri dan perlahan Nando mendorong pintu kaca dan masuk.
"Udah lama geng?" Nando membuka jacket hitamnya dan duduk di sofa ruang tunggu dimana Yani duduk dengan hanya berjarak beberapa senti saja.
"Sekitar setengah jaman,"
"Pacarmu ya Ri?, banyak sekali pacarmu, cukup satu, yang satu kasih ke aku," Nando yang sukanya bicara asal melirik ke arah Yani yang wajahnya memerah mendengar ucapan Nando.
"Yang kuceritain kemaren,,kenalin dulu!" Saat itu juga pipi Yani terasa panas dan memerah merasa jika tujuan kalimat Amri barusan adalah dia.
"Ohh ya?" Dengan cepat di ulurkan tanganya untuk berkenalan dengan Yani. "Nando"
Dengan perasaan yang masih gugup, Yani menerima uluran tangan Nando dengan pipi bersemu merah.
"Suryani,,biasa dipanggil Yani"
Terdengar suara pintu dibuka, dari dalam keluar Ara dengan senyum merekah.
"Dari mana Ra?" Yani terlalu grogi saat bertanya ke Ara yang pastinya tanpa ditanya pun dia tau Ara darimana karna ini adalah waktu pergantian.
Ara yang menyadari Yani yang salah tingkah sedikit tertawa,
"Tadi dipanggil keatas sama paman, ya udah aku pulang ya!"
__ADS_1
Ara hanya mengambil handphone nya dari laci dan keluar dari meja kerjanya.
"Tujuan berdua mau kemana?" Ara memilih duduk di samping Yani dengan berbicara ke arah Amri.
"Mau pulang? Yuk abang antar, sekalian mau main ke rumah, ada oleh-oleh buat wak!"
"Cieeee,,, main juga kau geng ngambil hati ini ceritanya!" Nandopun mulai berkicau.
"Males boncengan, aku jalan aja, parah disini mulutnya ibu-ibu, pulanya rumah deket juga ko,,ayok kerjaanku banyak dirumah, bang Nando disini aja temani temanku ini, manatau cocok." Ara menolak pulang bersama Amri, rasanya masih malu dilihat orang-orang, segera ara beranjak, sementara Yani makin memerah saja pipinya seperti kepiting rebus, dan Ara malah cekikikan melihat Yani yang makin salah tingkah.
"Sukamulah,," Amri mengikuti Ara yang sudah terlebih dahulu berjalan keluar dari wartel, tapi dihentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah Nando.
"Disini aja ya,,,mau ngapel dulu, kalo kau ikut, yang ada kami gak bisa menikmati moment berdua, sukses ya geng semangat!" Amri mngepalkan tangannya dan meletakkan di dadanya seolah menyemangati Nando untuk lebih semangat mendekati Yani.
"Ya udah sana,," Nando pun jadi salah tingkah, apalagi Yani masih duduk di sofa yang sama dengannya.
Ternyata Ara sudah jauh, mau tak mau Amri pun mengikuti kemauan Ara yang tak mau naik motor pulang bersamanya, hanya membunyikan klakson motornya saat melewati Ara, dan Ara membalasnya hanya dengan anggukan.
Saat tiba dirumah, terlihat petugas PLN masih sibuk dengan pekerjaannya, tapi sudah hampir rampung, terlihat Amri juga ikut-ikutan membantu memasang bola lampu.
"Nak Amri minum dulu,,!" Mak keluar membawa satu gelas air teh dan potongan kue di piring, Ara yakin itu Amri yang bawa.
"Iya wak,,mkasih"
Ara yang baru tiba merasa lelah berjalan dan duduk dilantai teras dengan bersandar di tembok rumah dengan kaki selonjoran, sementara Amri memperhatikan nya dengan perasaan aneh, biasanya Ara lincah tak tau lelah tapi kali ini Ara dilihat sangat berbeda dari beberapa bulan lalu dengan tubuh yang sedikit lebih kurusan, tapi terlihat makin cantik.
"Ko repot-repotlah bawain oleh-oleh, mau main kesini aja wak udah senang" Sahut bapak hanya menatap sekilas ke arah kue itu.
"Gak papa wak, jarang-jarang juga main kesini!" Ucap Amri tertawa.
Hari sudah sore saat pekerjaan pemasangan PLN ke rumah Ara selesai, setelah bapak melakukan pelunasan sisa biaya pemasangan, petugas itupun pamit pulang.
Ara tersenyum saat memasuki kamarnya, terlihat begitu terang, semua sudut rumah sederhana milik merekapun sudah terlihat, sejenak Ara duduk di bangku meja belajarnya saat sekolah, disana ada lampu minyak yang mungkin nanti baru akan mereka gunakan saat mati lampu, segera di gantungkan nya di paku yang ada didinding kamarnya.
Sekilas pandangannya tertuju kembali ke Kalender yang ada di mejanya, kembali hatinya kuatir dengan keadaannya, Ara merasa ada yang mulai tumbuh di rahimnya, tanpa sadar tangannya mengelus lembut perutnya.
"Ra,,,Araaaa,," Terdengar mak memanggilnya dari depan.
"Iya mak, sebentar!"
__ADS_1
Ara keluar dari kamar setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan, celana pendek dengan kaus oblong, rambutnya diikat asal keatas membuatnya makin cantik dengan penampilan polosnya.
"Ini,,hadiah ulang tahunmu yang ke 19"