Miscall Yang Terbalas

Miscall Yang Terbalas
Ketemu tante Hana


__ADS_3

"Raa,,, "


Terasa lembut tangan Amri menepuk-nepuk pipi Ara membangunkan Ara yang tidur hampir satu jam, tercium aroma ikan bakar yang mampu membangkitkan nafsu makan Ara yang beberapa saat lalu sempat mengganggu.


"Hmmmm,,," Perlahan Ara membuka matanya, ditemui sosok Amri dengan nasi bungkus beserta teh hangat dalam plastik yang dalamnya sudah dimasukkan sedotan.


Amri membantu Ara duduk dan kembali menaikan sandaran kursi Ara, terlihat Ara sudah semakin membaik, disodorkan teh hangat itu pada Ara, tidak seperti beberapa waktu lalu, Ara langsung meraih dan menyedot nya hingga separuh habis, melihat itu Amri semakin yakin Ara masuk angin.


"Makan ya, mumpung masih hangat, biar perutnya gak kelamaan kosong," Amri membuka separuh pembungkus nasi, Ara hanya mengangguk, dan perlahan mulai meniup dan menyuapkan nasi ke mulut Ara, awalnya Ara begitu canggung disuapi tapi Amri memilih cuek saja sehingga Ara tak punya pilihan.


Mendapat perlakuan manis seperti itu sebenarnya membuat Ara tersanjung, rasa nya sangat beruntung menjadi perempuan yang istimewa dihati pria tampan ini, tapi balik lagi dengan keadaannya saat ini, rasanya tak pantas berada di sisi Amri.


"Masih disini rupanya suap-suapan,," Nando tiba-tiba sudah muncul dipintu mobil kemudi yang sengaja dibuka Amri.


"Rese,, " Amri cuek dan melanjutkan menyuapi Ara, sementara Nando masih senyum-senyum melihat Amri juga Ara secara bergantian, tak lama Yani juga sudah berada bersama mereka.


"Enak kali ya jadi kau Ra,, disuapi Boss...Upss,,disuapi Amri, pingin jugaaa..." Yani menutup mulutnya bersamaan Nando mengedipkan sebelah matanya.


"Nanti aku yang suapin, masa Amri juga yang nyuapin, kirim salamnya sama aku, eh nyuapin makan minta Amri,, gak jelas kau"


Pipi Yani langsung memerah, Amri tertawa kuat dan Ara pun ikut tersenyum lebar, sementara Nando harus meringis mendapat cubitan di perut.


"Rasain lah,,,"


"Ampunnn,, sakit lo sayang..."


Makin menjadi merahnya pipi Yani dengan panggilan sayang Nando, tapi telihat juga Yani yang suka diperlakukan seperti itu oleh Nando.


Habis juga sebungkus nasi itu dilahap Ara, teh nya pun sudah tandas, segera Amri membereskan bungkus makanan dan membuangnya ke tong sampah, dicuci nya tangannya dengan air mineral dan mengeringkan dengan tissu.

__ADS_1


Ara terus memperhatikan apa yang dilakukan Amri, dilihatnya Amri berbicara dengan Paman Johan, Nando dan Yani juga sedikit jauh dari mobil, tanpa sengaja, dengkul Ara yang dilipat di atas kursi menyentuh dasbor mobil, Ara terkejut saat sesuatu terbuka, Ara yang penasaran melihat kedalam laci yang terbuka, menemukan kotak kecil berbentuk hati, dibukanya perlahan, terdapat satu buah cincin berhias permata yang sangat cantik, dan satu buah kalung dengan hiasan ukiran nama, Ara tersenyum dan mengembalikan semua ke kotak, tapi tunggu, Ara melewatkan ukiran nama itu, kembali dibukanya kotak kecil itu, terukir namanya Clara, diambilnya cincin permata itu, didalamnya terdapat ukiran halus juga dengan nama yang sama.


Dikembalikan lagi kotak itu setelah menutupnya seperti semula, sesaat sebelum menutup laci dasbor mobil, terlihat stiker namanya disana "Clara Isabella I love you Forever" Ara mengusap air matanya, kebingungan nya sedikit-sedikit mulai terjawab, Ara yakin ini mobil Amri, mengingat Paman Johan tadi sempat salah bicara, jika bukan mobil miliknya tak mungkin namanya ada disana, sementara paman Johan dan tante Winda belum memiliki anak, dan dia yakin perhiasan yang baru ditemukan nya itu untuknya, namun dia merasa tak pantas untuk Amri, mungkin jika saat ini dirinya tak hamil mungkin dia akan senang dengan ini semua, tapi Tuhan tak mengijinkannya untuk bahagia saat ini.


"Gimana, masih mau jalan-jalan tidak?" Amri sudah duduk di kursi kemudi, Yani dan Nando juga sudah duduk di belakang.


"Pulang aja bang,," Sahut Ara masih duduk menyamping dengan kedua kaki terlipat saling menindih.


"Masih kedinginan?" Amri menyentuh dan menggenggam tangan Ara, namun sudah terasa normal, dan akhirnya diapun setuju pulang.


"Ya udah kita pulang aja Bang,,biar Ara cepat istrahat nanti dirumah, gak kemalaman juga kita" Yani pun menyetujui.


"Oke,,tapi kita singgah dulu ya ke toko roti bibiku, mau beli oleh-oleh buat Gomos," Amri selalu mengingat Gomos, adik Ara yang paling bontot.


Amri begitu paham jalanan yang dikota, hanya beberapa menit saja sudah tiba ditoko roti milik tante Winda, sesaat Ara tak enakan jika tak turun sekedar menyapa tante Winda yang ikut membantu karyawan tokonya melayani pelanggan, karena parkiran penuh terpaksa Amri memarkirkan sedikit jauh dari toko.


"Ikut, nanti tante nanyain, terus dia pula yang datangi ke mobil"


Ara kelihatan lebih bugar setelah makan tadi, masih dengan jaket dan kaus kaki Ara memakai sendalnya dan ikut turun dengan Amri, mereka berjalan bersisian, Ara memegang lengan Amri dan terkadang mereka terlihat tertawa.


Sementara Nando dan Yani ikut turun tapi hanya menunggu di luar mobil.


"Pilih yang ini, hmmm, terus mau yang itu rasa pandan ya, terus lapis legitnya, " Suara itu terasa sangat familiar ditelinga Ara.


"Ohh iya bu itu rasa pandan, cake nya rasanya enak,,masih ada yang lain?" Tante Winda begitu ramah melayani pembeli tadi bersama suaminya.


Ara masih memperhatikan, keluar masuk orang-orang karena toko sangat ramai sore ini,, selesai memberikan kue yang dipilih dan melakukan pembayaran si ibu pun berbalik untuk keluar dari toko Roti.


"Tante Hana...." Sontak yang dipanggil menoleh ke asal suara dan mendapati Ara yang masih memegang lengan Amri, dan yang membuat Ara shock, tante Hana menggandeng laki-laki yang bukan suaminya atau paman Usman, tapi suami dari wak Pinem yang sering Ara panggil Wak Rudi.

__ADS_1


Amri tak menyadari itu, karena sama sekali tak mengenal mereka, Tante Hana segera melepas tangan wak Rudi sesaat menyadari tatapan Ara kearah tangan mereka.


"Dengan siapa Ra kesini,,?" Tante Hana terlihat salah tingkah.


"Ehh, hhmm, siapa, ohhh bang Amri, ponakan tante pemilik toko ini," Jawab Ara tergagap.


Tiba-tiba wak Rudi memberikan dua lembar uang seratus ribuan ke Ara, untung langsung disadari jika itu adalah sogokan agar tutup mulut,,


"Ra ini untuk uang jajanmu,,!"


"Gak usah wak, kami masih mau kedalam, ada perlu,," Ara menolak dan menarik tangan Amri yang kebingungan dengan tingkahnya, namun tetap dituruti karena menyadari Ara yang menghindari kedua orang yang dikenalnya itu.


Setelah beberapa saat bertemu dengan tante Winda, merekapun pamit setelah Amri membeli beberapa jenis kue, jelas banyak ada beberapa kotak yang sengaja dibelinya, oleh-oleh buat keluarga Ara, keluarga Amri, keluarga Yani juga keluarga Nando.


Karyawan tante Winda membantu mengantar kue ke mobil, dan terlihat Nando ikut membantu memasukkan ke mobil.


"Kita langsung pulang aja ya, biar aja motor ditinggal disini" Amri memutuskan menggunakan mobil pulang.


"Cocok tuh, gak capek"


"Gundulmu,,yang iyanya aku yang cape" Nando hanya tertawa mendengar kalimat Amri.


"Nanti kira-kira kau cape aku gantiin"


"Asal iya aja,, kasian Ara dibawa naik motor lagi sakit gini,"


"Hmmmm,,,, terlalu istimewa sekali kau ra" Nando masih aja protes.


"Jangan sampe kuturuni kau ya!" Bukannya takut malah Nando tertawa senang, Yani dan Ara pun akhirnya ikut tertawa.

__ADS_1


__ADS_2