
Aku menepati janjiku pada tante Hana, setelah pulang dari wartel aku langsung ke rumahnya untuk mencuci pakaian mereka, lumayan banyak mungkin tante Hana udah beberapa hari tidak mencuci, tapi untungnya pakaian kotornya tak kotor-kotor amat, karena pakaian kerja dan pakaian rumahan saja, dan banyak juga kutemukan pakaian kotor bang Rocky.
" Berati tiap pulang bawa pakaian kotor terus,,dasar pemalas" Gumamku geleng-geleng kepala.
Aku berjibaku menyelesaikan cucian di ruangan kamar mandi yang cukup luas, mungkin sengaja dibuat luas sekalian buat tempat nyuci pakaian, dan sebelahnya ada juga kamar mandi dengan ukuran lebih kecil dari tempatku mencuci.
" Tan kainnya gimana mau langsung dijemurin atau besok aja?" Tanyaku pada tante Hana yang lagi memasak di dapur lewat jendela.
Rumah tante Hana sudah tersedia ruangan khusus jemuran yang tak ada atap, dan jemurannya juga bisa diangkat dan dipindah-pindahkan, jadi sangat aman menjemur nya.
" Emang gak ngerepotin kamu ra?" Dengan ragu tante Hana balik nanya.
" Ya gak lah tan, tapi gak tau pakai jemurannya," Dengan jujur kusampaikan ketidaktahuanku takut nanti sok pintar akhirnya merusak.
" He he he, kamu itu ra, gampang aja ko masang nya," Ucap tante Hana, segera tante Hana mematikan kompor dan menuju kearahku, ditariknya jemuran dan terlindung di depan kamar mandi tempatku mencuci, dan mulai membuka jemuran yang terlipat, aku memperhatikan nya biar nanti sewaktu-waktu bisa sendiri.
" Biar aja disini, besok papanya Rocky yang menggeser jemurannya," Ujar tante Hana dan kembali ke dapur menyelesaikan masakannya.
Akupun hanya mengangguk, dan mulai menjemur pakaian mereka dengan rapi, takut nanti tante Hana gak puas sama hasil kerjaku, bisa-bisa jadi bahan omongan.
" Tan,, udah kujemurin semua, tapi ada sebaris jemurannya aku lapis, soalnya kainnya kebanyakan, gak tau biasanya tante ngejemur kalo jemuran kurang" Ucapku lagi saat menemui tante Hana di ruang makan mereka, tadi kupikir dia masih di dapur.
" Ya udah gak papa ra,, oh iya, kamu bisa nyetrika tidak?"
" Bisa tan?" Keningku sedikit mengernyit.
" Mau, nyetrika?nanti tante tambah upahnya,"
" Aku pikir-pikir dulu ya tan, takut gak bisa aku kerjakan, soalnya cucian udah berapa rumah," Jawabku lagi.
" Oh gitu,, ya udah kalo mau bilang ya"
" Iya tan, kalo gitu pamit pulang dulu ya tan, masih mau ke rumah wak pinem lagi tan."
__ADS_1
" Hati-hati ya ra!"
Akupun berlalu dari rumah bang Rocky, dengan buru-buru ke rumah wak pinem, ternyata juga udah menungguku untuk cucian pakaian kotornya.
" Ko lama ra?" Kulihat wak pinem lagi melayani pembeli di warungnya yang lumayan besar.
" Iya wak, tadi nyuci di tempat tante Hana dulu!" Jawabku jujur.
" Sejak kapan kau nyuci disana?" Pertanyaan wak pinem sepertinya tak suka jika aku bekerja pada tante Hana.
" Baru hari ini wak," Aku jadi merasa tak enak.
" Emang bisa kamu kerjain,? Jangan serakah kau ra, nanti gak kepegang, kamu yang keteter sendiri." Raut muka wak pinem terlihat tak suka dengan keputusan ku, membuat ku tertunduk, sementara ibu-ibu yang sedang berbelanja ikut memandang ke arahku.
Bicara wak pinem selalu judes pada siapa saja, tapi aku tau tujuannya baik, dan selama ini dia selalu baik padaku, mengupah aku tak penah telat, dan dia selalu memuji pekerjaanku, sering aku diminta membantunya di warung menimbangi gula atau minyak goreng.
aku tau dia tak suka pada tante Hana, entah apa sebabnya aku tak tau, terlihat mereka tak pernah bertegur sapa walau satu gereja dan sering bertemu.
" Ya udah, sanalah,,nanti kemalaman kamu pulang!"
Segera aku menuju belakang dan mulai mencuci, untungnya pakaian kotor tak sebanyak di rumah tante Hana, kupastikan cucian ku bersih seperti biasa, takut wak pinem jadi tak menyukai kerjaanku lagi dan memberhentikan aku.
" Wak, cucian udah siap, besok pagi aku singgah lagi kesini sebelum ke wartel buat jemur nya, eh iya kain lap nya aku cuci semua wak yang didapur."
" Iya tadi mau nyuruh nyuci kain lapnya juga, udah keduluan dicuci," Kulihat senyum tipis di bibir wak pinem.
" Wak, timbangkan sepuluh kilo beras, minyak goreng sekilo, gula sekilo, kopi seperempat, sama bubuk teh sekotak," Aku mengeluarkan uang pecah limapuluh ribu dia lembar sisa gajiku kemaren.
" Itu aja?" Wak pinem mulai menimbang beras, dan mengumpulkan belanja ku.
" Itu aja wak, berapa semua?" Tanyaku lagi.
" Sebentar," Dengan cepat wak pinem menekan kalkulator, " Enam puluh enam ribu ra," Wak pinem menerima uang yang ku sodorkan.
__ADS_1
" Ohhh,, Uang empat ribunya, kasih jajan wak buat adik-adikku," Wak pinem memandangku sekilas, dan memasukkan jajan yang berada didekatnya dan mengambil sebungkus biskuit dan memasukkan lagi ke kantong belanja ku.
" Ini wawak kasih biskuit nya ya,"
" Aduh,, gak usah repot-repot wak," Ujarku merasa tak enak, wak pinem sering memberiku makanan, walau bicaranya suka judes, tapi kalo soal memberi dia pantas di kasih jempol.
Akupun berpamitan pada wak pinem dan segera pulang, sama seperti kemarin aku pulang dan tiba di rumah sudah lewat magrib.
" Lama kali ra pulangnya?" Bapak menyambutku pulang dan langsung mengambil belanjaan di tanganku.
" Pulang dari wartel langsung nyuci pak!"
" Ini apa aja ra, ko berat?" Bapak terlihat heran dengan belanjaan ku.
" Beras pak, itu ada jajanan buat gomos sama luhut," Aku berlalu masuk ke kamarku.
Kubaringkan tubuhku yang cukup lelah, aku merenungi bicara wak pinem dengan kata serakah, aku menarik nafasku dalam dan mengeluarkannya kasar, begitu kulakukan beberapa kali,
" Apa iya aku se serakah itu?" Gumamku dalam hati.
Kudengar mak mengomel di ruang depan dimana kutau gomos dan luhut menikmati jajanan bersam bapak yang kubeli beserta Biskuit yang dikasih wak pinem.
" Jajan terus, apa enaknya jajan dari makan nasi? Kebiasaan klian ini, gada aturan, dari mana jajan klian, dapat duit dari mana?, bapak ini yang ngasih jajanan,!" Mak langsung menuduh bapak, mungkin mak tak tau aku sudah pulang.
" Hus,, mak itu yang kebiasaan mengomel, itu Ara yang beliin,"
" Loh, Ara udah pulang, kok mak gak dengar?"
" Ya gak dengarlah, mak itu tadi di belakang, lihat tuh dia juga belanja dapur itu, biar mak terbantu, kalopun mereka jajan, biarin aja, itu kakanya yang kasih, mak itu harus bisa menghargai pemberian Ara, mak liat ada anak gadis seusianya bekerja sepanjang hari demi membantu kita dan nyenangin adiknya, gak semua bisa pelit kayak mak?" Bapak kayaknya kesal sama mak.
Dan Mak sepertinya terdiam dan tak membantah apa yang dikatakan bapak, dan yang terdengar sekarang adalah celoteh kedua adikku yang menikmati jajan dan biskuit yang kubawa tadi.
Mataku terasa mengantuk, aku segera mengganti pakaianku yang sedikit lembab karena mencuci tadi, tanpa mandi aku langsung membaringkan tubuhku, cukup lelah tubuhku, aku ingin segera beristirahat.
__ADS_1