Miscall Yang Terbalas

Miscall Yang Terbalas
Bapak ijinin


__ADS_3

"Induknya aja perselingkuh, ya wajarlah anaknya playboy"


Yani tersenyum saat mengucapkan apa yang baru saja kudengar.


" Maksudnya?" Rasanya aku belum yakin dengan apa yang di ucapkan Yani.


" Udah sana pulang, ngapain juga bahas in yang gak penting, nanti tau sendiri kok" Yani berlalu menuju meja kerja kami karena bersamaan ada pelanggan yang datang.


Aku cuma mencebikkan bibirku ke arah Yani tanda aku tak puas dengan jawabannya, segera aku beberes dan pulang setelah berpamitan pada Yani.


Tiba di rumah, kulihat adikku Gomos lagi bermain kelereng bersama dua temannya Rido dan Galang.


" Kak,," Gomos menyapaku membuatku tersenyum ke arah mereka bertiga.


Segera aku masuk ke dalam rumah dan mulai beberes, kasian sama Mak kalo nanti pulang dr ladang kerjaan rumah harus Mak juga yang ngerjai lagi.


"Pak, Mak, boleh tidak sabtu besok pergi sama bang Amri, abang Amri ngajakin aku ke kota nemanin dia ke tempat kerja pamannya" Malam ini saat makan malam akupun minta ijin pada kedua orangtuaku, kebetulan mereka juga sudah lama mengenal bang Amri.


" Emang boleh sama pamanmu libur ra?" Bapak bertanya sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.


" Biasanya sih boleh, yang penting udah runding sama Yani gantian liburnya" Ucapku sambil berharap bapak memberi ijin.


"Pulang hari kan ra?" Mak pun menatapku sekilas saat menambah sayur ke piringnya.


"Iyalah mak,,gak mungkin nginap juga,," Ucapku terkekeh.


"Ya udah, bapak ijinkan, tapi jangan macam-macam ya, harus pintar membawa dan menjaga diri, soalnya perginya sama laki-laki" Bapak memperingatiku.


"Iya Pak,,bapak kan tau bang Amri itu temen baikku dari dulu aku sekolah pak,,dia baru beberapa hari ini pulang merantau, anaknya juga baik kan itu bapak tau juga,," Aku mau, bapak selalu mengingat kalo bang Amri itu orang baik.


"Hmmm,,,bilang aja bapak ijinin sama si Amri,,Cerewet" Ucap bapak sedikit tertawa ke arahku.


"Makasih pak, mak udah ijinin pergi" Aku cukup senang, ini untuk pertama kalinya aku bisa pergi berdua saja.


Aku membereskan piring bekas makan kami malam ini dan mengantarnya ke dapur di bantu adekku Gomos, setelahnya aku masuk kamar untuk membaringkan tubuhku yang sedikit lelah.


Kuraih Handphone ku yang terletak di meja samping tempat tidurku, dan segera kukirim SMS ke nomor bang Amri.


"Malam bang, udah tidur belum? Maaf ya ganggu, tadi aku udah ijin ke bapak juga mak, mereka bolehin aku pergi sama abang, tapi jangan sore2 ya pulangnya" SMS yang panjang kukirim ke bang Amri diiringi dengan senyumku yang mrngembang.

__ADS_1


Gak lama SMS balasan masuk ke handphone ku dari bang Amri.


"Iya,,cuma ngantar titipan mama ko dek, kalopun langsung pulang, tengah hari bisa ko nyampe lagi dirumah," Balas bang Amri.


"Ohhh,gitu bang, jam berapa kita perginya?" Kukirim lagi SMSku.


"Jam 8 pagi aja, biar gak kepanasan dijalan, udah gak usah dibalas lagi, abang dipanggil mama ini"


SMS terhenti saat bang Amri menyudahi dengan SMS terakhir agar gak usah kubalas lagi.


Ku periksa lembaran uang yang tersisa didompetku, masih ada delapan puluh lima ribu lagi, aku sedikit tersenyum, kalo pergi nanti bisa lah belik oleh-oleh sama bapak, mak juga,adek-adekku.


Kuambil buku harian ku,


21 Juli 2005


Lagi apa ya bang Rocky??


Lohhh,,lohhh,,,ko aku mikir dia ya,,ampunnn, ko mikirin dia lagi?


Tau gak, aku diijinin mak sama bapak pergi sama bang Amri, hehehehe,,yess,,yess,yess aku senang, baru kali ini dibolehin jalan-jalan, mana perginya sama abang aku yang super jahil tapi selalu buat aku senang,,


Abang Amri tuh ganteng,,hahaha, aku muji dia, bisa-bisa telinganya naik sebelah.


Aku mengakhiri tulisan di buku harian ku dengan tertawa, dan mengembalikan buku itu ke tempatnya semula.


Mata ini perlahan mulai mengantuk, segera kuambil jam beker dan menyetel nya untuk besok pagi, tak lama akupun sudah mengarungi mimpiku.


Kudengar mak sudah sibuk di dapur, kulihat beker yang dimeja belum juga berbunyi, tadi malam aku menyetel nya di angka lima, dan pagi ini saat aku mendengar mak sibuk belum menunjukkan jam di jam lima, ternyata kesibukan mak melebihi suara beker juga, ku tarik lagi selimut ku menutupi hingga kepalaku, dingin.


*****,*****,*****...


Pagi-pagi suara SMS berbunyi di handphone ku bersamaan dengan suara beker yang berisik, segera ku matikan beker dan meraih handphone penasaran siapa yang pagi-pagi sudah kirim pesan.


Bang Amri lagi.


Kali ini aku tersenyum lebar,,ada pesan apa ini orang bikin penasaran aja.


"Bangun,,awas kesiangan, masuk pagi loh"

__ADS_1


Aku pun tersenyum girang, pagi-pagi sudah diingatkan oleh SMS bang Amri.


Segera aku bangkit dan merapikan tempat tidurku, dan beranjak ke dapur menemui mak.


"Cepat kali mak siapan masaknya,piringnya juga udah bersih." Akupun heran lihat mak yang lagi bikin kopi bapak.


"Mau cepat ke ladang ra, cabe rawit nya banyak kali ini ra, soalnya masih panen ke tiga, mana mama dengar harganya udah limabelas ribu, lumayan ra, dapat sepuluh kilo aja udah berapa duitnya?"


"Mahal juga ya mak udah?" Akupun duduk di bangku dekat meja.


"Tapi sayang, aku gak bisa bantu,masuk pagi" Ucapku sedih sambil menopang kan kedua tanganku.


"Bapak sama mak bisa ko ra," Mak tersenyum ke arahku.


Akupun masih mematung, saat kedua adekku pergi mandi.


"Ya udah, nanti sore aku nyusul habis nyuci di tempat tante Hana ya mak" Mak yang mendengar usul ku malah gak setuju dan geleng kepala.


" Gak usah mak bilang, mak mu ini masih kuat ra"


"Hmmm,,ya udah kalo mak gak bolehin,,oh iya mak, ka Riska katanya besok pulang loh" Aku menepuk jidatku karena baru ingat.


"Ko tau?" Mak menatapku lagi dengan bingung.


" Kami SMS an loh mak," Ucapku tertawa melihat expresinya mak.


"Ya udah kalo gitu, besok biar tau nambahin masak" Mak berlalu meninggalkanku yang masih duduk didapur.


Aku sedikit malas masuk ke kamar mandi setelah kedua adekku tadi keluar selesai mandi, pagi ini gak ada yang kukerjakan karena mak sudah memborong nya pagi ini.


Sebelum jam tujuh akupun berpamitan sama mak juga bapak, bersamaan dengan kedua adekku kami berangkat bersama.


Pekerjaankupun sudah menunggu dengan beberapa orang yang sudah terlebih dahulu tiba di wartel sebelum aku, paman pun belum turun, segera ku layani mereka dengan membuka pintu sorong yang masih separuh dibukain sama paman.


Pagi ini cukup ramai, sampai jam sembilan akupun belum sempat membersihkan wartel, orang-orang silih berganti keluar masuk, membuatku sibuk terus melayani pelanggan, bahkan pagi ini aku banjir keringat.


Bahkan aku harus membantu beberapa orang yang belum pernah sama sekali menggunakan telepon, cukup melelahkan pagi ini.


"Capek ra,,?"

__ADS_1


__ADS_2