
" Emang abang gak seperti bapakku ya?" Aku bertanya pada bang Amri, karena dalam pikiran ku semua laki laki yang sudah menikah dan punya anak perempuan pasti sangat baik pada anak perempuannya.
Dan sebelum bang Amri menjawab pertanyaanku, kulihat motor bang Rocky berhenti tak jauh dimana kami duduk, dan bang Rocky turun dan menuju ke arah kami.
" Lampunya mati bang, gak bisa nelpon." Kataku lebih dulu.
" Aku bukan mau nelpon, tapi mau bicara sama kamu," Ujar bang Rocky ketus dan langsung masuk ke wartel yang hanya diterangi oleh lilin.
Sekilas aku memandang bang Amri, dan kulihat anggukannya padaku karena
sinar bulan, membuatku beranjak dan masuk mengikuti ban Rocky, aku paham jika di dalam kedap suara, jadi sangat aman untuk berbicara berdua.
" Itu siapa?" Dengan nada bicara yang tak enak bang Rocky mencecarku dengan pertanyaan nya sambil memandang ke arah bang Amri yang sedang bermain handphone, dan baru duduk di sofa ruang tunggu setelahnya.
" Teman," Ucapku ringan dan ikut duduk sedikit berjarak dari bang Rocky, entah rasanya aku masih sakit hati dengan yang kulihat tadi malam.
" Teman apaan? Rasanya dari semalam mainnya kesini terus!" Masih dengan ketidak sukaannya memandang bang Amri.
" Aku bilang teman ya teman, abang maksa aku bilang bang Amri pacar aku yang nyatanya tidak?" Akupun mulai tak suka dengan sikap bang Rocky, sehingga kujawab ketus pertanyaannya.
" Kalo bukan pacar, ngapain kesini kesini terus?"
" Ya urusannya lah, ngapain pula abang yang repot, pamanku aja gak protes dia ada disini, ko situ bukan siapa-siapa ku juga yang sibuk ngurusin." Ucapku kesal.
" Kau bilang apa? Bukan siapa-siapa?" Tanya bang Rocky marah sambil beranjak mendekatiku, dan sekilas kulihat bang Amri mulai memperhatikan kami dari luar.
" Ya iya,, kan udah ada Hesty!"
Tiba-tiba bang Rocky terdiam, namun segera membantah nya.
" Hesty nunggu temannya tadi malam."
" Ohhh,,, gitu ya,, terus ngapain dipeluk peluk diatas motor tadi malam?"
" Tak ada dipeluk, siapa yang dipeluk?"
" Mataku belum minus bang, belum perlu kaca mata atau kaca pembesar untuk memastikan jika Hesty memeluk abang, didepan mataku dari sana klian berdua lewat dengan abang dipeluk Hesty." Aku benar marah saat bang Rocky tak mengakuinya dan aku menunjuk dengan jariku arah kedatangan mereka.
" Silakan tanya ke bang Amri dia itu siapa?" Lanjut ku karena merasa sakit hati dengan tuduhannya yang kurasa mengada ngada.
" Tapi jangan bilang aku bukan siapa-siapa mu!" Bang Rocky sedikit melembutkan dan kembali duduk tapi lebih dekat ke aku dan meraih salah satu tanganku, namun kutepis kasar hingga tanganku terlepas.
" Terus aku bilang apa? Pacar? Kalo pacar gak gitu bang, sekarang terus terang aja, bukan cuma aku kan perempuan yang abang pacari?" Aku dengan berani menanyakan padanya.
" Cuma kau,,"
__ADS_1
" Iya cuma aku, disini, tak tau di tempat lain, semua simpang ada pacarmu," Jawabku kesal, tapi membuat raut wajahnya sedikit berubah.
" Kau nuduh aku punya pacar banyak?"
" Memang kenyataan kan, aku udah tau semua gadis di kampung ini ingin abang pacari semua, tapi gak semua bodoh kayak aku?"
" Pacarku cuma kau ra!" Bang Rocky masih ngeyel.
" Gak sudi jadi pacarmu lagi, urus aja si Hesty,,,ohh iya Yani mantanmu titip salam." Aku malas berdebat dengan bang Rocky, dan beranjak pergi keluar mendapatkan bang Amri dan duduk kembali disampingya.
Bang Rocky ikut keluar dan menghampiri aku lagi, kali ini bang Rocky tak memperdulikan bang Amri yang ada disamping ku dan duduk di sebelahku sehingga aku berada diantara mereka berdua.
" Besok aku pulang ra ke kost an, sabtu balik lagi kesini."
Aku diam saja, tak mengomentari, sementara bang Amri ikut diam merasa tak enak dengan keberadaanya, mungkin bang Amri sedikit mulai paham tentang hubungan ku dengan bang Rocky.
Sesaat bang Amri berdiri dan berniat meninggalkan aku dan bang Rocky, namun segera ku cegah dengan menarik tanganya.
" Abang mau kemana, disini aja, temani aku tunggu aku pulang," Ucapku memelas, aku tak mau ditemani bang Rocky.
Dengan terpaksa bang Amri duduk lagi dan tanpa melepaskan tangannya, aku takut dia pergi, cukup lama kami bertiga terdiam, akhirnya bang Rocky pergi juga.
" Abang pulang ra!" Bang Rocky memandangku sebelum dia pergi, tapi aku cuma diam, tak menjawab pamitan nya, hingga dia pergi dengan motornya aku masih diam tanpa melepaskan pegangan tanganku di tangan bang Amri.
" Aku pikir cuma aku, ternyata ada yang lain bahkan orangnya aku kenal," Lirih ku, sedikit pelan tapi sangat jelas terdengar.
" Udah lama pacarannya ra?"
Aku menggeleng, ingatanku kembali ke malam tadi, jelas kulihat Hesty memeluknya, jika tidak ada hubungan apa apa takan mungkin bang Rocky mau dipeluk seperti itu, dan selama ini mereka tak pernah dekat atau berteman, ternyata menjadi satu-satunya sangat tak mungkin jika mencintai laki-laki seperti bang Rocky.
" Baru dua bulan terakhir," Jawabku pelan.
" Orang mana ra?"
" Tak jauh dari sini, sama sama pemuda disini."
" Ohhh,," Bang Amri hanya ber oh oh ria aja.
Tiba-tiba paman udah keluar lagi, membuatku sedikit terkejut.
" Pulanglah ra, lampunya gak hidup hidup juga." Kata paman dan mulai menutup pintu sorong dan dibantu bang Amri.
" Belum juga jam sembilan," Jawabku dengan melirik jam tanganku yang menunjukan jam delapan empat lima.
" Ya gak papa, paman juga udah ngantuk," Ujar paman lagi, dan aku bergegas mengambil handphone ku ke dalam, dan kembali keluar setelah merasa tak meninggalkan barang milikku.
__ADS_1
" Jadi gak papa aku pulang?" Tanyaku lagi membuat paman terkekeh.
" Pulanglah, ngapain juga disini lampu mati ko, eh besok kau ya yang jaga pagi?"
" Iya paman,"
" Ohh,, besok bisalah nitip adek sebentar ya?, paman sama bibi mau undangan sehabis izin dari kantor," Tanya paman padaku.
" Bisa," Jawabku pasti.
" Ya udah pulanglah, bisa pulang sendiri?"
Aku mengangguk pada pamanku,,dan kulihat paman masuk dan menutup pintu sorong dan menguncinya dari dalam.
" Mau langsung pulang ra?" Bang Amri bertanya.
" Emang mau kemana, mati lampu gini?" Tanyaku balik.
" Yuk keliling-keliling aja pakai motor, masih jam sembilan juga, kalo gak kita nongkrong sebentar di kafe yang di sana," Bang Amri menunjuk arah kafe yang tak jauh dari tempat kami sekarang.
" Ya udah, ayuk" Aku ngikut aja sama ajakan bang Amri.
Bang Amri menghidupkan motornya, dan aku pun ikut naik di boncengan nya, motor pun dilajukan dengan kecepatan rendah.
Aku merapat kan jacket ku karena merasa dingin karena hembusan angin malam.
" Kedinginan ya ra?" Tanya bang Amri dari depan.
" Hmm,, sedikit" Jawabku karena merasa canggung.
Baru kali ini kami jalan berdua, walau kami dari dulu dekat tapi kami belum pernah berdua seperti ini, kami selalu berada diantara teman teman kami yang lain.
" Sini tangannya," Dengan satu tangannya menarik tanganku dan meletakkan di perutnya.
" Tangannya yang satu sini,," Aku menurut saja dan saling menimpakan tanganku di perutnya, dan ternyata satu tangannya menggenggam kedua tanganku agar tak kedinginan, sementara tangan kanannya memegang stang motor.
Aku merasa nyaman dengan perlakuan manis bang Amri, kuletakkan kepalaku di punggungnya, aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku,
" Apa aku mencintai bang Amri?" Dalam hatiku bertanya, aku begitu nyaman saat bersamanya.
Kami hanya menyusuri jalan diatas motor, tak banyak yang kami bicarakan, dan malah lebih banyak diam, dengan pikiran masing-masing, pikiran ku tak jauh dari bang Rocky, aku merasa kecewa dan pastinya sakit hati dengan apa yang dilakukan nya padaku, ingin rasanya memakinya, namun jauh dalam hatiku masih memiliki rasa cinta padanya, tapi tak bisa dibohongi jika aku tak terima dengan penghianatan nya.
Cukup lama kami berjalan diatas motor, dan tersadar ketika bang Amri menanyaku.
" Ra,, kita pulang ya?"
__ADS_1