
"Tolong dok, jangan kasih tau aku hamil, dia bukan ayah dari bayi ini, dia hanya orang baik, aku mohon!"
Ara tak kuasa menahan air matanya sesaat Dokter yang menanganinya menyampaikan kabar yang beberapa waktu terakhir ini begitu menakuti Ara, dia memanfaatkan waktu saat tiba-tiba Amri harus keluar dari ruang praktek dokter di salah satu klinik terdekat dimana Amri bertemu dengan beberapa relasinya di hotel dekat klinik, cukup waktu buat Ara membujuk dokter tersebut agar tidak memberitahu hal sebenarnya.
"Baiklah, " Dokter Bima yang Ara tau namanya dari tag nama di jas putih milik dokter tersebut menarik nafas panjang.
"Makasih dok!"
"Tapi ingat ya, tolong jaga kesehatan dan pertahankan bayinya, bayi ini tak salah, ingat pola makan yang baik, sehat dan cukup, jangan stress, jangan menanggung beban sendirian, kehamilan sudah memasuki delapan minggu, detak jantungnya sudah ada, dan janin sehat, segera sampaikan pada keluarga, setidaknya jangan sampai stress......." Ara tak begitu fokus dengan apa yang disampaikan dokter Bima padanya, pikirannya sudah seperti benang kusut, air matanya jatuh begitu saja.
Tak lama Amri kembali saat Ara sudah selesai diperiksa, terlihat Ara tak lagi sepucat saat pertama kali tiba di klinik milik teman Pamannya.
"Ara sakit apa Dok?" Ara kembali memucat saat pertanyaan itu di sampaikan Amri, apalagi melihat lelaki itu begitu sangat kuatir akan keadaan Ara.
"Ohh dia cuma kelelahan, tolong vitaminnya diminum ya, istrahat yang cukup" Dokter Bima begitu menghargai privasi Ara dan memberikan beberapa jenis obat untuk dikonsumsi Ara selama seminggu.
Ara begitu lega saat Dokter Bima berpihak padanya, setelah Amri melakukan pembayaran diapun merangkul pundak Ara dan berjalan bersisian, terlihat Amri begitu sangat menyayangi Ara, sementara Ara hanya diam merasa sangat bersalah, bagaimana jika nanti Amri tau jika dia bukan sakit biasa, tapi karna hamil, tak bisa terbayangkan bagaimana reaksi dan tanggapan Amri, bisa saja Amri pergi meninggalkan nya, bahkan pertemanan merekapun bisa saja berakhir begitu saja.
*Flashback*
Pagi sebelum jam sepuluh, mereka sudah berangkat dari rumah Ara, mereka mengendarai dia motor yang berbeda, Nando dengan Yani dan Amri dengan Ara, mereka berkendara dengan jarak yang tak jauh saling beriringan, namun Ara sudah terlihat kurang baik saat berangkat.
Sebelum tengah hari mereka sudah sampai di rumah bibi Winda, namun saat itu bibi Winda sedang ada di toko Roti miliknya sementara Paman Johan sudah menunggu kedatangan mereka.
Sedikit Ara mulai memahami pekerjaan Amri, ternyata Amri memiliki usaha pemerasan Kelapa makan yang baru-baru ini sudah di kemas dan mulai dipasarkan ke berbagai provinsi, dan Nando adalah orang kepercayaannya membantunya mengelola usaha yang setahun terakhir menjadi usahanya.
__ADS_1
Karena Ara sudah pernah ke rumah tante Winda, sehingga dia tak lagi sungkan saat paman Johan menyuruhnya membuat minum, bersama Yani mereka ke dapur dan menyiapkan minuman untuk mereka berlima.
Sesekali Ara menangkap pembicaraan antara Amri, paman Johan dan juga Nando, mereka terlihat serius membahas tentang santan kemasan yang mereka produksi dan baru akan di pasarkan, sehingga Ara tau jika tujuan mereka selanjutnya ke salah satu hotel dimana mereka memperkenalkan santan kemasan itu pada beberapa relasi yang sangat berminat dengan produksi mereka.
"Pakai mobilmu aja Ri,,, ehh pakai mobil paman yang Panter itu aja, gak enak kalo mereka melihatmu bawa motor kesana, kan sample barangnya bisa ditambah dan dibawa" Paman Johan terlihat salah tingkah dengan ucapannya pertama.
"Baiklah paman," Amri pun nampak menyimpan rahasia.
Paman Johan memutuskan mengendari mobilnya yang lain, dan Amri berada di mobil yang sama dengan Ara, Yani dan Nando.
"Depan aja Ra, temani Amri, klo aku yang nemani dia gak fokus nyetir" Nando beralasan.
Ara menurut, dia tau itu cuma alasan saja biar dekat dengan Yani.
Ternyata pertemuan di Hotel dengan relasi paman Johan dan Amri cukup lama, beruntung Yani ikut, jika tidak Ara pasti sudah bosan sendiri, mana pula Amri meninggalkan mereka walau sesekali Amri masih sering kembali melihat mereka, bahkan Nando pun ikut sibuk, untuk mengurangi kebosanan mereka menikmati hidangan makanan dan minuman yang disediakan pihak hotel, terkadang mereka juga bercerita hingga terlihat Amri dengan senyum lebarnya menghampiri mereka kembali.
Ara hanya mengangguk dan ikut tersenyum dengan pencapaian yang membuat Amri begitu senang.
Tapi tiba-tiba Ara merasa pusing mencium wangi parfum dari tubuh Amri, segera Ara ijin ke toilet sebentar sesekali dia berhenti untuk menetralkan pemandangannya berharap pusingnya mereda, saat memasuki toilet dipercepat nya langkahnya menuju wastafel.
"Hoek, hoek, hoek,, hoek," Semua makanan yang baru dimakannya keluar semua, hingga cairan kuning yang terasa pahit ikut dikeluarkannya.
Terasa leher belakangnya ada yang mengurut, Ara tak peduli lagi tubuhnya terasa lemas dan diapun tak sadar jatuh ditahan oleh Yani.
Tak lama Nando dan Amri sudah tiba di toilet, mereka begitu panik, tadi Yani sengaja mengikuti Ara karna curiga ada yang tak beres saat melihat Ara yang sangat memaksakan diri berjalan, benar saja dia menemui Ara yang muntah-muntah dan segera ditelepon nya Nando agar segera datang.
__ADS_1
Amri mengangkat tubuh kurus Ara, dia merasa bersalah karna memaksa Ara ikut, dia hanya ingin memberi kejutan pada Ara bahwa saat ini dia sudah jadi pengusaha walau belum sesukses pengusaha teman Pamannya, tapi dia ingin menyampaikan selama ini adalah semata-mata demi Ara dia berjuang dan berusaha begitu keras bahkan beberapa kali gagal, namun akhirnya kali dia berhasil dan kali ini daya minat relasinya sangat luar biasa dengan produksi santan kemasannya.
Yani begitu sangat kuatir, setelah membersihkan wastafel bekas muntahan Ara, segera Yani menyusul namun hanya Nando yang ditemui di parkiran, Ara sudah dibawa Amri ke klinik tak jauh dari hotel dimana mereka berada.
"Udah, kita tunggu disini aja Yan, tadi Amri pesan begitu, karna Paman Johan masih didalam takut Paman ada perlu kita gada semua disini, ayuk masuk, gak papa, kliniknya dekat ko, pulanya dokternya teman Paman Johan"
Yani sedikit lega dan mengikuti langkah Nando memasuki ruangan dimana Paman Johan berada.
*Flashback berakhir*
"Minum ra,, makan nih ada biskuit, bisa mengganjal perutmu yang sudah kosong," Amri memberikan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya dan sebungkus biskuit. Ternyata tadi Amri sempat singgah di mini market seberang klinik untuk membeli makanan ringan dan air mineral.
Mereka sudah diparkiran hotel, sengaja Amri menurunkan sandaran kursi mobil agar Ara bisa berbaring.
Ara hanya memandangi tanpa berniat menyentuh biskuit itu, diraihnya botol minuman yang disodorkan Amri, hanya beberapa teguk lalu dikembalikan lagi pada Amri.
"Atau lapar, bisa abang belikan,," Amri masih giat menawarkan namun hanya gelengan yang Ara berikan.
Amri mengambil botol minyak kayu putih yang tadi juga dibelinya saat dimini market, dan dengan sabar mengoleskan di leher dan tengkuk Ara, semakin besar rasa bersalah Ara melihat perhatian Amri padanya.
"Aku gak papa bang, cuma capek sama masuk angin saja ko," Ara berusaha kuat dengan kebohongannya.
"Ya udah istrahatlah, ini pakai jaket abang, kaus kaki juga kayanya ada, tapi gak papa ya bekas abang pake, daripada kakimu kedinginan"
Ara hanya diam, rasanya mau bicara saja mual, tak lama kaus kaki yang dicari ketemu didalam sepatu yang masih mengkilap, Ara enggan bertanya, tak mungkin itu milik Paman Johan karena ukuran kaki mereka berbeda, Paman Johan terlihat lebih tinggi dan telapak kakinya lebih lebar dibanding Amri yang telapak kakinya cenderung langsing.
__ADS_1
Tubuh Ara mulai menghangat sejak dipakaikan jaket dan kaus kaki, Arapun terlihat tertidur membuat Amri lega.