
Setibanya dirumah Ara mendapati keluarganya yang akan makan di atas tikar.
"Sini nak makan, ko lama pulangnya?" Ucap bapak sambil menepuk-nepuk tikar yang ada disampingnya.
Arapun langsung duduk di samping bapak,
"Tadi banyak cucian pak," Ucap Ara berbohong, dia juga tak berani bercerita jika tadi dia pingsan, takut bapak juga mak nya kuatir dan melarangnya kerja nyuci lagi.
Mereka menikmati makan malam dengan sedikit obrolan, baru tau jika besok petugas PLN akan datang dan memasukkan aliran listrik kerumah mereka.
"Benaran pak?" Tanya Ara dengan wajah berbinar meyakinkan apa yang didengarnya.
"Iya,,biar bisa kau ngecas handphone dan teleponan terus sama Amri!" Ujar mak tertawa.
"Apaan mak, gak sepenting itu juga!" Jawab Ara sambil memajukan bibirnya.
"Oh iya ra, tadi mama ketemu tante Rahma, terus nitip ini samamu, katanya uang cucinya." Mak mengambil uang seratusan dari saku daster nya dan memberi ke Ara.
"Udah mak, ko dikasih lagi sama Ara, buat mak aja, kan bisa nambah-nambah buat belanja dapur"
"Kebutuhan klian adalah tanggung jawab kami mak, belum waktunya Ara ikut bersusah payah mencari uang untuk membantu mak, simpan saja duitnya, suatu saat pasti Ara butuh,"
Ara hanya mengangguk dan mengambil uang itu dan memasukkan ke saku celananya, selesai makan dibantu nya kedua adiknya membereskan bekas makan dan piring kotor mereka.
"Pak,,potongin ayam dong pak, Ara pengen sekali makan gulai ayam masakan mak" Ucap Ara sambil memeluk lengan bapak yang belum beranjak dari duduknya, dia kepingin sekali makan gulai ayam masakan mak, rasanya air liur nya sampai keluar mengingat makanan itu.
"Lah, ayam bapak tinggal yang kecil-kecil nak, terus beberapa ada yang lagi bertelur dan ngangkram, besok bapak belik ya kalo Ara memang ingin sekali!" Bapak merasa kasian melihat putrinya yang jarang meminta, dan menyesal kemaren ayamnya dijual semua tanpa meninggalkan seekorpun kecuali yang kecil-kecil, besarnya tanggung, bertelur dan mengangkram.
"Ya udah gak papa pak, nanti aja kalo udah ada yang besar."
"Ara gak papa?" Tanya bapak lagi.
"Gak pak, ya udah Ara masuk kamar ya, Ara mau tidur."
"Lah ini anak gadis, habis makan tidur!" Mak memandang ke arah Ara yang baru berdiri di samping bapak.
"Tapi mau SMS an sama bang Amri, mama ikut?" Ara tertawa kearah mak yang akhirnya ikut tertawa.
Benar saja, baru beberapa langkah terdengar bunyi SMS dari handphone nya, segera dikeluarkan benda itu dari saku celananya sambil berjalan menuju kamarnya.
"Panjang umur mak, bang Amri benaran SMS, mau ikut baca tidak?" Ara sengaja berhenti di depan pintu kamarnya dan menyodorkan handphone miliknya kearah mak.
"Dasar, gak ada sopannya sama orangtua" Mak mengomel tapi tak menutupi tawa dari raut wajahnya.
Ara membuka SMS dari Amri dengan masih tersenyum setelah sukses menggoda mak.
Ara memilih duduk di kursi meja belajarnya dulu, sudah lama dia tak duduk disana.
"Ra abang udah sampai dirumah baru siap mandi, besok aja ya abng datang, tadi tante ada titipin oleh2 buat Ara juga Wak"
Segera dibalasnya SMS Amri,
"Iya.."
__ADS_1
Gak lama balasan SMS nya masuk lagi.
"Gak kangen apa ra sama abang, ko cuma bilang iya aja? Nanya ke, apa aku baik2, udah makan ato apa ke?"
"Kalo masih bisa SMS berarti masih baik2, masa kayak anak SD ditanyain udah makan atau tidak, Gomos aja udah tau kalo lapar makan"
"Emang ya, gada perhatian,"
Ara tak membalas lagi, takut nanti terlalu memberikan harapan padanya, yang jelas akan mengecewakan nantinya.
Ditariknya nafasnya dan perlahan dikeluarkan, berulang itu dilakukan untuk menenangkan hatinya, tapi tiba-tiba pandangannya tertuju pada kalender yang tergantung didepannya, dengan hati yang berdebar diturunkan kalender itu terlihat disana tanggal yang dilingkari terakhir di tanggal 3,4,5,6,7 Agustus, sementara hari ini sudah tanggal 30 September ternyata sudah sebulan terlewati tamu bulanannya tidak datang dan bahkan besok udah masuk ke bulan Oktober.
Ara sangat panik, terasa tubuhnya berkeringat, sendi-sendi kakinya pun terasa lemah, Ara begitu takut, pikirannya bertambah kacau, air matanya jatuh lagi, dia bingung apa yang harus dilakukan, jika yang ditakutkan benar bagaimana kehidupannya selanjutnya.
"Apa ini harus kuberi tahu padanya, apa dia mau bertanggung jawab, bagaimana aku memberitahu bapak mak dengan apa yang terjadi, aku sudah mengecewakan mereka?"
Banyak pertanyaan dan kemungkinan yang hadir dikepala Ara, diapun membaringkan tubuhnya di tempat tidur miliknya, dia begitu pusing dengan apa yang dialami, hingga dia tertidur tanpa mendapatkan solusi dari permasalahannya sendiri.
****
Ara terbangun saat jam bekernya menunjukkan pukul lima lewat lima, mak terdengar sudah sibuk di dapur, Ara masih enggan untuk bangun, dia terpikirkan lagi dengan masalahnya, perlahan disentuhnya perutnya, diusap nya dari atas ke bawah, tapi tunggu,,saat tangannya menyentuh perut bawah bagian kiri, terasa ada sesuatu yang mengeras sebesar dan mungkin lebih besar dari kepalan tangannya, kembali rasa takut itu menjalar keseluruh tubuh Ara.
"Tuhan, apa ini?" Tak terasa buliran bening kembali jatuh dari sudut matanya, dia begitu sangat takut.
Ara teringat dengan uang simpanannya, dikumpulkan semua terkumpul sejuta dua ratus empat puluh dua ribu, dia menatap nanar uang itu.
Segera diusap nya air matanya agar mak tak curiga, Ara pun menemui mak didapur mak sudah selesai memasak, bahkan piring pun udah selesai di cuci.
"Kan udah dibilang hari ini pemasangan PLN di rumah!" Jawab mak sambil mengisi termos.
"Ohh lupa,,"
"Mandi sana, habis itu makan"
"Emang mak gak ke pekan?"
"Bapak yang pergi,"
"Belum pulang bapak?"
"Mungkin sebentar lagi, tadi mak suruh mampir belik beras sekarung di tempat wak pinem,"
"Ya udah, Ara juga mau kerja," Ara beranjak mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
****
"Nih ambil" Rocky bingung dengan pemberian seorang laki-laki tua yang tidak dikenali nya.
"Buat siapa, aku gak perlu seekor Ayam jantan yang sangat bagus sama sepasang kerabu ini" Ucap Rocky sambil meletakkan kembali pemberian laki-laki itu.
"Harus kau terima, jangan nanti kau menyesal dan mencarinya, lama baru kau temui lagi apa yang kuberi ini!" Ucap laki-laki tua itu meninggalkannya dengan pemberiannya.
Rocky terbangun, ternyata itu hanya mimpi.
__ADS_1
"Mimpinya aneh, masak dikasih ayam jago, sama kerabu lagi, buat apa, ayam nya di kasih kerabu gitu?" Rocky menertawakan mimpinya.
"Mimpi ketemu Ara ke, ini mimpi ayam pula!"
Diambilnya handphone nya, lalu diputarnya musik kesukaannya milik George Benson, dengan masih tiduran bermalasan dikasur empuknya, tak perduli pagi sudah menunjukkan pukul enam, dan lirik lagu itu mengingatkannya pada sosok Ara.
".......................Hold me now,
Tauch me now
I don't want to
Live without you
Nothing gonna change
My love for you
You ought to know by now
How much I love you
One things you can be sure of
I'll never ask
More than love
Nothing gonna change
My love for you
You ought to know by now
How much I love you
One things you can be sure of
I'll never ask
More than love
To word may change
My whole life through but
Nothing gonna change
My love for you....
****
Author pun jadi terlena dengan lagu itu, 😁😁
__ADS_1