Miscall Yang Terbalas

Miscall Yang Terbalas
Mereka Kuatir


__ADS_3

Dengan beban yang terasa berat, Ara melangkahkan kakinya menuju wartel, sepanjang jalan pikirannya tak lepas dari benjolan di perut bawah kirinya, sesekali digigitnya bibirnya, terasa sakit, ternyata itu nyata.


Tiiiiiiiiitttttttttttttt.......


Suara klakson mobil memekakkan telinga siapapun yang mendengar, tapi tidak berlaku dengan Ara, dia hanya berjalan dan tak menyadari dirinya sudah sedikit merapat ke tengah jalan dan sepertinya seperti tak mendengar apa-apa.


Dia tersadar saat tangannya ditarik spontan oleh seseorang, membuat dirinya tak bisa menjaga keseimbangannya, hampir saja Ara jatuh jika tak ada tubuh yang menahannya.


"Auuuuwwwwww,,,,,," Ara meringis mengusap pergelangan tangannya yang sakit, terlihat bus mengerem di jalur kiri, dan kereneknya memaki dengan kesal kearah Ara, tapi makian itupun seperti tak didengar Ara.


"Apaan sih Ra," Suara itu terdengar membentak dan sedikit bergetar, Ara mengenali suara itu, terlihat raut wajah Rocky terlihat sangat kuatir, sementara beberapa orangpun ada yang mendekat, dan kebanyakan hanya melihat dari jauh.Ara bingung.


Terlihat butiran bening keluar dari sudut netranya.


"Ayok,," Rocky menarik tangan Ara dan mengantarnya ke wartel demi menghindari kerumunan orang-orang, Ara hanya menurut.


Setiba di wartel Rocky mendudukkan Ara di sofa tunggu, dan segera keluar membeli air mineral.


Tak lama Rocky balik lagi, dengan sebotol Aqua kecil ditangannya, segera dibukanya dan diberikan kepada Ara.


"Raaa,, kau kenapa?" Dengan lembut Rocky bertanya, berharap kali ini Ara mau berbicara.


Di teguknya beberapa kali air dalam kemasan itu, hingga terdengar hanya sepotong kata yang nyaris tidak terdengar.


"Maaf"


"Raa,, cerita dong,!"


"Ara gak papa bang, aku baik-baik saja," Ara memberikan senyumnya pada Rocky, senyum yang sudah lama tak dilihat pria tampan ini.


"Tapi kau berbohong Ra, aku tau kau bohong." Rocky yakin Ara tak jujur dengan apa yang dikatakannya.


Segera Ara menggeleng, meyakinkan dengan senyumnya, berharap Rocky segera meninggalkannya.


"Maaf bang, Ara harus kerja, makasih udah nolongin tadi!" Ara beranjak dan kembali tersenyum, kali ini senyumnya tulus.


"Baiklah, abang pulang ya, jika nanti Ara butuh teman cerita telpon abang aja!" Dengan berat hati Rocky pun ikut beranjak dari duduknya.


"Iya,,"

__ADS_1


Rocky sedikit lega, walau masih menelan kekecewaan dengan sikap Ara yang masih dingin, diapun membalas senyum Ara dengan manis, dan segera meninggalkan wartel menuju motornya yang ditinggal dimana dia tadi ingin membeli sarapan.


Terlihat mak dan bapak tergesa mungkin menuju wartel, Rocky menahan mereka untuk bertanya.


"Mau kemana wak?"


Dengan wajah panik mak menatap Rocky dan balik bertanya,


"Lihat Ara nak? Dibawa kemana dia?"


"Wak,, Ara baik-baik aja, aku yang ngantar tadi ke wartel, barusan ini pulang dari sana,"


Rocky sedikit menenangkan hati pasangan suami istri itu.


"Syukurlah, terimakasih Tuhan,,,Iya tadi ada yang bilang kerumah, Ara disenggol bus,,makanya mak panik nak" Mak terlihat menangis, diusap nya air matanya.


"Gak wak, gak sampai disenggol, busnya masih jauh ko, cuma Ara sedikit melamun gak sadar berjalan hampir ketengah jalan, saat itu aku baru turun dari motor mau beli sarapan di situ, aku aja yang berjarak semeter aja gak diperhatikan,, ya aku yang tau dia melamun langsung spontan berlari menariknya," Cerita Rocky menyakinkan jika Ara benar-benar tak apa-apa.


"Ayok wak, aku antar biar Wak percaya Ara baik-baik saja"


Ara yang sedang menyapu terkejut dengan kedatangan mak bapak ke wartel, Ara juga heran baru saja Rocky pamit pulang tapi sekarang udah disini lagi.


Makpun langsung memeluk Ara yang masih bingung, mak terdengar terisak disusul bapak yang menciumi pucuk kepala Ara.


"Makk,,pakk, Ara baik-baik aja, lihat Ara sehat, gak ada yang lecet sedikitpun, Tuhan menjaga Ara, dikirimnya bang Rocky biar Ara selamat,,udah jangan kuatir berlebihan, Ara baik-baik ko," Perlahan mak mengurai pelukannya dan mengusap air matanya.


"Lain kali hati-hati ya nak, jangan melamun, apa coba yang dipikirkan, kamu pasti kuliah, mak janji!"


"Loh,, ko sampe bahas kuliah,,gak mak, bukan itu, Ara percaya sama mak juga bapak, Ara cuma melamun, kepikiran sama calon menantu mak," Ucap Ara bercanda.


Rocky menatap Ara yang berada dalam pelukan bapak, terlihat mereka begitu sangat menyayangi Ara, sangat mengkuatirkannya, dan begitu peduli dengan masa depan Ara, sementara dirinya dengan paksa merebut sesuatu yang sangat berharga dari seorang Ara, ternyata rasa sayang dan cintanya tak ada apa-apa nya dibanding rasa sayang kedua orangtua Ara.


"Bapak sama mak pulang dulu ya, hati-hati ya nak kerjanya, lagian tadi petugas PLN nya udah ada yang sampe dirumah satu orang".


" Iyaa,,, hati-hati dijalan mak, pak,," Terlihat Ara begitu ceria dengan senyum mengembang ketika bapak mak keluar dari wartel.


"Abng pulang ya ra!"


"Ohh iya bang,,mkasih udah jelasin ke mak juga bapak, mereka gak panikan lagi."

__ADS_1


Rocky hanya mengangguk dan tersenyum, sebenarnya dia masing ingin berlama-lama, namun dia takut sikap Ara kembali berubah dan mendiamkannya.


"Seharusnya aku tidak bersikap over protektif dulu, walau sebenarnya aku sangat menghawatirkan nya." Rocky bermolog sendiri sambil mengikuti langkah orangtua Ara.


"Wak, aku sampe disini ya, hati-hati ya wak sampe rumah" Dengan sopan Rocky ijin ke warung setelah tadi melupakan tujuannya membeli sarapan.


"Ohh iya nak Rocky,,sekali lagi makasih ya nak udah nolongin Ara."


"Iya wak, sama-sama,, mari wak"


Merekapun berpisah, bapak juga mak melanjutkan langkahnya pulang kerumah.


Sementara di wartel setelah Ara selesai membersihkan lantai dan ruangan telepon, terlihat satu persatu pelanggan mulai berdatangan membuat Ara mulai sibuk dan melupakan kejadian pagi tadi.


Suara mesin printer tak henti-hentinya melengking mengeluarkan struk, berulang kali Ara meneguk air sisa yang dibelikan Rocky padanya tadi pagi hingga tandas tak bersisa.


Sungguh melelahkan, sesekali di urutnya betis kakinya yang terasa pegal, karna tak jarang orang tua yang menggunakan telepon tidak paham menggunakannya sehingga Ara harus mondar-mandir untuk membantu.


"Udah makan Ra?" Paman udah berdiri saat Ara sedang melayani seorang bapak-bapak yang akan membayar biaya teleponnya.


"Ohh,,paman,,kejut aku," Ara mengelus dadanya demi menenangkan rasa terkejutnya, dan tetap melayani si bapak tadi.


"Dua belas ribu tigaratus wak!"


Ara menerima uang duapuluh an dan segera mengembalikan tujuh ribu tujuh ratus.


"Mkasih ya pak" Ara memberikan senyum terbaiknya.


"Haduh, dari tadi Ara gak ada istrahat nya, itu ruang telepon gada istrahat nya, pegal udah kaki Ara ini" Ara sedikit mengeluh karna terlalu lelah.


"Syukurlah ramai,,kali pendapatan Ara sampe jam tiga dapat satu juta, paman kasih tipsnya dua puluh ribu"


"Beneran?"


"Iya,, ya udah Ara makan dulu sana, bibimu masak enak itu"


"Tapi hasil jaga paman ini masuk hitungan ke aku kan?"


"Iyaaa,,udah sana makan."

__ADS_1


******


Jangan lupa like sama komen ya,,biar Author ini makin semangat,🥰🥰🥰🙏🙏


__ADS_2