
" Ra,, kita pulang ya?"
" Hmmm,,,"
Bang Amri memutar balik arah motor yang kami kendarai dan kembali melaju dengan kecepatan sedang, tanpa melepaskan pelukanku, aku menangis dipunggung bang Amri, entah air mataku tak bisa kutahan untuk tidak keluar, mungkin aku terlalu mencintai bang Rocky, hingga saat ini aku masih memikirkannya, kukira cinta pertamaku akan bertahan lama, dengan sejuta impian kuukir indah dalam khayalan ku, aku terlalu jauh terbang hingga aku begitu sakit saat aku terjatuh dan terhempas kuat.
Aku diantar sampai kedepan rumah sama bang Amri, aku mengusap air mataku setelah melepaskan pelukanku dari tubuh bang Amri, dan segera turun setelah motor diberhentikan.
" Aku langsung pulang ya ra, udah malam, kapan kapan aku main ke sini," Ucap bang Amri setelah aku turun dari motor.
" Hhmm,, Hati-hati ya, makasih udah mau nganterin!" Kataku masih berdiri setelah sedikit menjauh dari motor.
" Jangan nangis, jelek!" Bang Amri meledek ku ketika memutar balik arah motornya.
" Siapa yang nangis?" Aku sedikit salah tingkah ternyata bang Amri tau aku menangis, pantes dia diam aja sepanjang jalan.
" Anak kucing," Ucapnya enteng lalu terkekeh dan melajukan motornya meninggalkanku.
Akupun cemberut tapi percuma saja, mau marah orangnya juga telah pergi, dan akhirnya aku cuma mendengus kesal lalu masuk ke rumah yang ternyata pintunya tak terkunci.
Kulihat adikku Luhut dan Gomos sudah tidur di tilam diatas tikar yang mereka gelar, sementara selimut berada di lantai, segera ku pungut dan ku selimuti mereka berdua, jam masih menunjukkan jam sembilan tiga lima, pantas mak sama bapak belum pulang, segera ku kunci pintu nanti kalo mak sama bapak pulang pasti memanggilku.
Aku menuju kamarku, dan kembali kuambil diaryku.
17 Juli 2005
Bibirku dan hatiku tak sejalan, bibirku berkata tak sudi, tapi kenapa aku sulit melupakannya, bang Rockyyyyyyyy cinta apa yang kau bawa untukku?
Aku menutup diaryku, rasanya malas mau menulis lebih banyak lagi, dan meletakkan diari di atas meja yang dulu kugunakan untuk belajar saat masih duduk di bangku sekolah.
Terdengar suara SMS masuk di handphone ku yang tadi belum ku keluarkan dari saku celanaku, kulihat siapa yang mengirim pesan padaku malam malam begini, setelah kulihat aku sedikit menyunggingkan senyum,
" Uhhh,,, orang rese ternyata," Gumamku melihat nama Abang Tampan dipesan masuk handphone ku, dan segera ku baca.
" Aku udah sampe, barusan lagi, jangan tidur malam-malam ya, nanti kesiangan, ingat besok kerjanya masuk pagi, peluk guling ya, anggap aja itu aku, hehehe, gak usah di balas, nanti jadi gak tidur2" Aku dibuat tersenyum lebar dengan pesan sok perhatian nya, dan benar tak kubalas bukan takut gak jadi tidur, takut pulsaku cepat habis aja, sayang pulsanya dipakai sama yang gak penting.
Kuletakkan handphone ku di atas meja ku, disana masih ada beberapa buku pelajaran saat sekolah yang selalu lupa buat kusimpan, semoga besok aku mengingatnya.
__ADS_1
Malam ini aku terus memikirkan bang Rocky, padahal aku sudah disakiti nya, tapi tetap saja aku memikirkan nya, aku jadi kesal sendiri, sekuat apapun aku tak ingin memikirkan nya, tapi nyatanya aku begitu sulit hanya untuk melupakan nya.
Akhirnya akupun tertidur, dan dibangunkan suara kokok ayam dan tak lama disusul suara jam beker yang yang sangat nyaring dan mematikan dengan segera, agar tak mengganggu seisi rumah yang masih terlelap tidur.
Aku tersentak kaget mengingat mak dan bapak yang tak ku bukakan pintu, segera aku beranjak dan berjalan ke arah kamar mereka.
" Mak,,,"
Tak ada sahutan.
" Mak,," Panggil ku lagi di pintu kamar mereka.
" Apa Ra?" Terdengar suara bapak yang parau seperti baru terbangun menjawab dari dalam.
" Siapa yang bukain pintu tadi malam Pak?" Tanyaku masih berdiri di depan pintu yang tak lama dibuka bapak juga.
" Gomos yang bukain, kau itu tidurnya kayak kerbau, kalo udah tidur mau bom meledak pun gak kedengaran sama kau," Ucap bapak sambil menguap.
Untung adikku Gomos bisa dibanguni tidurnya, kalo tidak bisa tidur diluar mak dan bapak malam tadi.
" Maaf Pak, memang jam berapa pulangnya,?" Tanyaku lagi.
" Wajarlah gak kedengaran, pas enak-enaknya tidur," Ucapku membela diri.
" Udah jam berapa Ra? Ko cepat kali bangunnya?"
" Jam empat lewat, hari ini mulai masuk pagi pak, jadi biar bisa santai ngerjain kerjaan rumah," Ucapku sambil mengikat tinggi rambutku yang panjang se punggung, dan menggulung ya agar tak berserak.
" Ohh masuk pagi, ya udah bapak kawani, sekalian bapak mau nimba air!"
" Masih dingin pak, nanti aja nimba airnya," Aku selalu melarang bapak memegang air terlalu pagi karena bapak punya penyakit rematik.
" Ya gak papalah, biar ada kawanmu,"
Begitulah bapak, tak pernah membiarkan aku sendiri melakukan apa-apa jika dia ada dirumah, pasti selalu membantuku.
Sambil memasak air minum dan menanak nasi di tungku yang berbeda aku sambil menyiapkan sayuran dan ikan untuk sarapan pagi ini sekaligus makan siang nanti, sementara bapak sudah mengangkat piring kotor yang di ember membawanya ke kamar mandi dimana kami selalu melakukan aktivitas mandi mencuci kain bahkan mencuci piring disana.
__ADS_1
" Udah pak, aku aja yang nyuci," Larangku pada bapak sambil mengiris bumbu untuk tumis buncis dan wortel, tapi seperti biasa bapak selalu mengabaikan larangan ku.
" Kenapa kalo bapak bantu mengerjakan nya, kau itu sebelum jam tujuh udah pergi kerja, terus jam berapa mau kau kerjakan lagi?"
" Akhh,,, bapak selalu ada alasan." Ucapku sambil cemberut.
Aku selesai memasak jam lima lima belas, tadi saat air minum mendidih, aku sudah buatkan kopi buat bapak, saat ini bapak sedang mengopi di ruang depan dimana Gomos dan Luhut tidur.
Kain kotor di ember sudah lumayan banyak, segera ku angkat mumpung masih punya waktu buat mencuci nya, mana tadi cucian piring udah dikerjakan bapak, jadi cukup waktu buat mencuci kain pagi ini sebelum berangkat kerja.
Terdengar mak membangunkan kedua adikku, yang pastinya pasti selalu ngomel.
" Besok mak sama bapak aja sekolah, klian yang cari duit, cuma ke sekolah aja tiap hari harus dibanguni, mau jadi apa klian?"
Dasar mak, maunya semua berjalan atas kendalinya, untuk anak-anak nya kuat terus mendapat omelan tiap hari, tapi kalo gak ngomel rindu juga loh.
Ehh dulu bapak pernah cerita, waktu itu katanya adik adikku belum ada, jadi aku ini saat itu anak bungsu mereka, terus karena kebiasaan mak yang ngomel, satu hari katanya aku bangun lebih pagi dari mereka dan mendatangi mereka yang masih tidur, tiba-tiba aku nanya,
" Pak, ini udah pagi belum?"
" Udah,"
" Ko mak gak marah-marah?" Sontak aja mak dan bapak yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak dengan pertanyaan ku di pagi subuh itu.
Ternyata kebiasaan mak yang mengomel di pagi hari itu tak terubah hingga aku besar, jadi aku tak terlalu ambil pusing lagi, kalo bukan ngomel itu bukan mak.
" Kau nyuci Ra?" Mak ternyata sudah ada dipintu kamar mandi.
" Iya mak," Ucapku menyelesaikan cucian celana panjang bapak.
" Cepatlah, adikmu mau sekolah," Mak membantuku membilas kain yang sudah ku cuci hingga selesai.
" Masih ada airnya Ra?" Bapak sudah ada bersama kami sambil mencek ember-ember yang tadi di isinya.
" Tinggal dikit," Ucapku saat mak sudah keluar sambil membawa kain untuk dijemur.
" Udah sana, bapak mau nimba lagi, nanti adikmu terlambat," Bapak mengusir ku dari kamar mandi.
__ADS_1
Kulihat Gomos dan Luhut udah siap mau mandi dengan handuk dileher masing-masing.