Miscall Yang Terbalas

Miscall Yang Terbalas
Diajak jalan lagi


__ADS_3

"Ini,, hadiah ulang tahunmu yang ke 19" Mak memberikan satu kotak yang dibungkus dengan kertas kado dan dihias sederhana dibagian atasnya.


Seumur-umur baru kali ini Ara mendapatkan hadiah ulang tahunnya, biasanya bapak dan Mak hanya memberi sebutir telur rebus setiap kali anak-anak nya berulang tahun, tapi kali ini Ara mendapat kejutan yang sangat membuatnya senang walau sudah sebulan berlalu tapi Ara tetap senang dengan hadiah itu.


"Dari mana?" Ara bertanya pada mak dan langsung mengambilnya dari tangan wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Nak Amri,," Mak sambil berlalu ke dapur.


Sementara Ara masih senyum-senyum dengan kado yang ditangannya sekarang, selanjutnya dihampiri Amri yang sedang mengobrol dengan bapak di teras depan.


"Makasih ya bang kadonya, padahal udah sebulan lalu,," Ara duduk tak jauh dari Amri.


"Kadonya juga udah sebulan yang lalu disiapkan, jadi baru sekarang bisa pulang dan bawakan ke Ara, selamat ulang tahun ya, panjang umur dan sehat selalu,!" Amri mengacak rambut Ara sehingga membuatnya cemberut dengan bibir yang dimajukan.


" Boleh dibuka?"


"Buka aja."


Ara yang tak sabaran langsung merobek kertas kado yang menutup kotak tersebut, perlahan kotak pun dibuka, dibagian atas terdapat syal rajutan berwarna pink, ada jacket berwarna biru tua, baju atasan model babydol, dan celana jins berwarna yang sama dengan jacket, Ara tersenyum lebar mendapatkan hadiah itu, dan disaat bersamaan Nando dan Yani datang menyusul ke rumah Ara dengan mengendarai motor Nando membuat Ara dan Amri bingung kenapa mereka malah menyusul juga.


"Jaringan telepon rusak beberapa sesaat setelah klian tadi pergi, terus paman telpon sama itu teknisinya, katanya baru senin bisa turun memperbaiki, ya udah aku disuruh pulang aja, terus bilang besok gak usah masuk tunggu paman Eben kasih tau lagi." Yani menjelaskan kebingungan Ara sebelum dia bertanya ini itu.


"Ohhh,,," Ara cuma ber oh oh ria aja mendengarkan penjelasan Yani.

__ADS_1


Sementara merekapun asik bercerita dengan beragam topik bahkan sering terdengar candaan dari Amri dan Nando sambil menikmati teh dan kue yang disiapkan mak, bapak pun sesekali terlihat ikut tertawa dengan ceritanya yang lucu.


"Ohh iya,,berarti besok aman ya Ra waktunya sama Yani?"


Tiba-tiba Amri mengalihkan topik pembicaraan, dan menatap Ara dan Yani bergantian, sementara keduanya serempak menggelengkan kepala, melihat itu Amri tertawa lucu.


"Tadi sih udah ijin sama wawak, ya kan wak? Mau ngajakin ke kota ada perlu sedikit, nanti setelah selesai urusannya sekalian mau ajakin jalan-jalan ato makan apa gitu mau kan?" Amri menatap Ara seolah sangat mengharapkan kesediaanya buat pergi, dan Bapak cuma mengangguk saat Ara melihat kearah Bapak, sepertinya tadi mereka sudah terlebih dulu membicarakan nya dan meminta ijin.


"Udah lanjut ya, wawak mau kebelakang dulu ngandangi ayam, udah sore,," Bapak pamit dan meninggalkan mereka berempat yang masih sibuk dengan rencana esok hari.


Bukan tak mau, Ara sebenarnya senang apalagi perginya berempat.


"Ayoklah Ra,, sekali-kali juga," Yani begitu antusias dengan ajakan Amri.


"Tadi mikir cuma ngajak Ara, tapi mumpung klian libur apa salahnya, Yani bisa sama Nando nanti." Lanjut Amri.


"Gimana Ra,, mau ya,," Harap Yani sambil sedikit mengguncang lengan Ara.


"Bisa kan,, soalnya minggu depan abang mau balik lagi sama Nando,,,entah kapan bisa lagi kesini, makanya handphone nya diaktifin, biar bisa dikabari,," Ternyata saat kepulangan Amri kemarin, Nando diajak juga saat balik kerantau dan beberapa hari lalu pulang lagi bersama, dan ini minggu depan balik lagi kerantau sebenarnya mereka kerja apa, Ara benar dibuat bingung.


"Ya udah,,, kita pergi.." Ara merasa kesal saat Amri katakan akan kembali ke rantau.


"Ihhh,, baru lagi ketemu udah mau pergi lagi," Sepertinya Yani juga menyesali ucapan Amri, mengingat dirinya yang mulai merasa dekat dengan Nando.

__ADS_1


"Tenang Yan,,, demi masa depan klian juga ko!" Timpal Amri tertawa, Nando pun jadi salah tingkah, mungkin berdua sudah ada rasa suka dihati masing-masing, membuat pipi Yani ikut bersemu merah.


"Hahaha,, berarti salamnya kemaren salam balik ya bang Ri ?" Ara pun ikut menggoda Yani, sehingga Ara mendapat cubitan dilengan karena Yani merasa malu.


Nandopun tak bisa berbuat banyak, hanya bisa senyum-senyum pasrah.


"Pasti,,katanya salam balik, kapan ya kita main ke wartel, kalo nanti kesana lagi ajakin ya.. Ngomongnya gitu Ra." Amri makin menjadi.


Ara dan Amri kompak mencomblangi Nando dan Yani sementara mereka tak sadar dengan status tak jelasnya mereka berdua, dari dulu seperti itulah mereka berteman, tak jarang orang lain dibuat bingung dengan status pertemanan mereka berdua, dulu sering terlihat bersama saat di perpustakaan membahas pelajaran Akuntansi perbankan yang mereka senangi, membantu Ara saat berada di kepengurusan OSIS yang mereka ikuti, makan atau jajan dikantin, tapi tak ada ikatan pacaran, bahkan Ara begitu senang mencomblangi temannya ke Amri begitu juga Amri sering menyampaikan salam temannya ke Ara, tapi mereka malah sering menertawakan salam-salam itu dengan alasan masih sekolah.


"Besok pagi aja berangkatnya ya, tapi kau ijin dulu sama wawak Yan!"


"Pastilah Ra,, tapi mamak pasti ngijinkan ko!"


"Oke,,, pasti ya, gak usah mikir uang makan,, boss nya udah siapkan semua,," Nando menepuk-nepuk pundak Amri dengan tertawa, dan Amri cuma menanggapinya dengan santai.


Sehabis makan malam barulah mereka diperbolehkan Bapak pulang, Nando disuruh Bapak mengantar Yani, sekalian minta ijin orangtua Yani agar diijinkan pergi esok hari, sebenarnya Nando masih sungkan karena baru pertama kali bertemu Yani tapi langsung mengajak jalan-jalan, namun Bapak memberi pengertian bahwa laki-laki itu harus belajar bertanggung jawab, apalagi urusan anak perempuan, jika nanti terjadi hal yang tak diinginkan tak menyalahkan satu pihak saja.


Arapun hanya diam saat Bapak menasehati Nando, bagaimana tidak, dia merasa nasehat Bapak serasa mencubit hatinya, apalagi dengan masalah yang dihadapinya saat ini, bagaimana dia bisa mempertanggungjawabkan semua yang sudah terjadi? Dan bagaimana jika ketakutannya terbukti, Ara sedih mengingat dirinya, bingung harus seperti apa, mau menangis rasanya tak mungkin bisa menyelesaikan masalahnya, mau bercerita, tapi takut dengan reaksi kedua orangtuanya dan resiko yang harus ditanggung.


Setelah Nando pamit mengantar Yani sekalian pamit pulang terlihat Amri masih duduk di tikar dimana tadi mereka makan malam bersama membuat Ara bingung, namun Amri langsung memahami kebingungan gadis itu.


"Nunggu Nando telpon Ra, biar pulangnya sama gak usah di usir"

__ADS_1


"Hmmm,,, udah bosan soalnya liat muka abang" Ara pura-pura serius tapi akhirnya tertawa juga.


"Sembarangan aja.." Bukannya marah Amri malah melempar Ara dengan Lap dan ikut tertawa.


__ADS_2