
"Clara Isabella" Rocky membaca sebuah nama dilayar handphone monoponik milik Ara.
Sesaat pria tampan ini tertegun seolah memikirkan sesuatu.
"Namanya sesuai dengan orangnya, cantik,,tapi ko panggilannya Ara, ko gak Clara saja kan lebih bagus?" Rocky pun bermonolog sendiri.
Diambilnya handphone dari saku celananya, handphone keluaran baru yang sudah memiliki kamera, dan masih sangat sedikit orang memilikinya, terlihat disana wallpapernya adalah potonya sendiri poto terbaik yang beberapa waktu lalu diabadikan di studio poto dikota.
Segera dibukanya layar kunci handphone Ara yang sangat mudah dibuka mengingat dua tahun lalu dia memiliki handphone serupa dengan yang Ara punya.
Ditekannya sebelas digit nomor teleponnya di handphone Ara agar segera ketahuan nomor handphone Ara dan bisa digunakan buat ngerjai Ara yang akhir-akhir ini sering menghindarinya, tapi eitsss tunggu dulu, sebelum panggilan itu dimulai Rocky bingung kok sudah muncul nomornya sendiri tapi dengan nama Ulat Bulu.
"Hah,,,ko dia udah punya nomorku, kurang asam ini masa namaku di buat Ulat Bulu, gada nama lain apa?, kalo tadi dibuat namanya Pangeranku mungkin masih bisa dimaklumi?" Rocky mengeram kesal.
"Oke, aku nanti pakai nomor baru aja, toh handphone kemarin gak juga dipake, biar aku kerjain pake nomor baru itu saja, biar aku calling nomorku aja dulu pake handphone nya, nanti aku simpan" Gumamnya dalam hati.
Saat melakukan panggilan ke nomornya malah pria tampan ini bertambah shock, gimana tidak shock dilayar handphone nya muncul panggilan dari Bella.
Terlihat merah padam wajahnya menahan amarah, dengan cepat dibukanya semua SMS yang ada di handphone Ara, benar saja sejak mereka pertama kali SMS an belum ada satupun yang dihapus Ara, rasa marah bercampur dengan rasa kesal terdengar dari suara gigi yang mengeretak.
"Berani sekali kau ya Ra, tak kusangka kau menipuku, berpura-pura jadi orang lain."
__ADS_1
Dilemparkannya diatas tempat tidurnya handphone nya dan handphone Ara sembarang di atas kasur empuknya dan segera ingin menemui Ara ke belakang, dibukanya pintu kamarnya, tapi dia melihat Ara seperti kebingungan mencari-cari sesuatu hingga ke ruang tamu tak jauh dari pintu kamarnya dimana dia masih berdiri.
"Ngapain Ra?" Dengan bersidekap dada Rocky bertanya dan memperhatikan Ara yang sibuk mengangkat bantal sofa.
Ara yang tidak menyadari dan mendengar Rocky saat membuka pintu sontak terkejut dan tak bisa menyembunyikan kebingungannya, bahkan tidak menjawab pertanyaan Rocky hanya mampu menggeleng merasa enggan memberi tahu apa yang sedang dicarinya.
Rocky yang tau Ara mencari handphone yang diambilnyapun sedikit tersenyum sinis dengan rencana yang tiba-tiba hadir di otaknya.
"Kau kehilangan sesuatu kan, apa itu yang kau cari?" Dan sengaja membuka lebar pintu kamarnya agar Ara melihat handphone yang ada di tempat tidurnya, dan kembali bersidekap dada dan sedikit memiringkan tubuhnya agar Ara tak terhalang pandangannya dari handphone miliknya.
Ara yang melihat yang dicarinya ada di atas tempat tidur Rocky telihat lega, tapi itu hanya sebentar, pikirannya sudah ke mana-mana, dan hal yang tak terpikirkan selama ini pasti sudah ketahuan, membuat nyalinya memciut mendapat tatapan tajam dari pria cinta pertamanya itu.
"Sana ambil, tadi aku pikir handphone papa yang ketinggalan," Rocky yang kali ini berpura-pura dan sedikit menyingkir dari pintu, tanpa pikir panjang Ara masuk ke kamar itu dan disusul Rocky dan langsung menutup pintu dan menguncinya, kunci pun dimasukkan ke saku celananya.
"Clara Isabella,,Ara yang aku kenal, Ara yang sempat jadi pacarku tapi diputusin karna aku ketahuan punya pacar lagi, terus jadi Bella yang mengganguku setiap waktu bahkan setiap detik, membuat aku jatuh cinta benaran dengannya,,,tapiiiiiiiiii kenapa Araaaaa?" Rocky tiba-tiba berteriak hingga membuat Ara surut beberapa langkah ke belakang karena takut, terlihat Ara yang pucat dan gemetar karna takut ,ada bening yang menetes dari sudut netranya.
"Maaf" Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Ara, selanjutnya dia hanya menunduk dan meremas jarinya sendiri.
"Maaf kamu bilang?, untuk apa Ra?," Rocky mendekati Ara yang semakin mundur hingga kakinya terbentur di tempat tidur milik Rocky, dan terduduk karena merasa nyeri di tulang kering kaki belakangnya.
Rocky tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, didorong nya Ara hingga jatuh di kasur dan segera menindih nya.
__ADS_1
Ara yang semakin ketakutan menghiraukan rasa sakit di kakinya, dan mulai memohon agar Rocky melepaskannya.
"Maafin aku bang, tolong jangan seperti ini, aku salah, sekali lagi maafin aku bang!" Ara mulai terisak dan berharap Rocky mau memaafkannya.
Tapi Rocky sudah kepalang basah, dia ingin memberi pelajaran pada Ara, diapun melucuti pakaian Ara secara paksa hingga tak meninggalkan apapun hingga benar-benar polos, bahkan pakaiannya sendiri entah kapan sudah terbuka dan dilempar ke berbagai arah.
"Tolong bang, jangan,aku bisa teriak jika abang macam-macam" Ara menutup miliknya dengan kedua tangannya, air matanya tak mampu melunakkan hati Rocky, dan mungkin ancaman bisa menolongnya saat ini.
"Teriak aja, bahkan teriakanmu sendiri takan ada yang mendengar, pintu depan juga terkunci, semua di batasi tembok, bahkan rumah ini semua tembok, emang ada yang mendengar?" Rocky malah membuat Ara semakin ciut nyali.
Rocky bukannya kasian, malah semakin menjadi, semakin Ara berontak semakin kuat keinginannya untuk menyatukan tubuh mereka yang sudah sama-sama polos.
"Auuuuuu,,,sakittttt" Ara menjerit tertahan saat sesuatu yang tumpul terasa masuk dengan paksa di area paling sensitif nya, terlihat Rocky memberhentikan sejenak dan segera membungkam bibir Ara dengan dengan bibirnya, sedikit ada penyesalan melihat air mata Ara terus jatuh dari sudut netranya.
Rocky yang tak bisa dikendalikan oleh karna nafsunya sendiri, tak memperdulikan Ara yang terus menangis, bahkan tak ada se incipun bagian tubuh Ara yang dilewatkannya, hingga dirinya yang bermandi peluh pun masih begitu semangat mengaduk-aduk bagian sensitif yang selalu dijaga Ara itu.
Hingga dirinya tak bisa menahan sesuatu yang begitu mendesak ingin keluar, dan akhirnya semuanya dikeluarkan begitu saja di rahim Ara dan Rocky pun ambruk lemah di tubuh Ara, dan menciumi Ara bukti dia begitu puas dengan apa yang barusan di raihnya.
Perlahan Rocky pun turun dari tubuh Ara dan terlentang disamping Ara yang langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Rocky.
Ara sudah kehilangan apa yang dijaga nya selama ini, sesuatu yang benar-benar ingin dia berikan kelak pada suaminya, tapi semuanya sudah hilang, hanya penyesalan kini yang dirasakan, jika dia tak melakukan kecerobohan melupakan handphone nya itu takan mungkin kejadiannya seperti ini, Ara pun hanya bisa menangis, semakin diusap nya air mata itu semakin sesukanya keluar, bahkan dia benar-benar terpukul dengan apa yang barusan terjadi.
__ADS_1
Sesaat pikiran sehat sedikit-sedikit memulihkan pikiran Rocky, dan tersadar Ara masih menangis terisak disampingnya.
"Maafkan abang Ra"