
Aku bangun kesiangan, tumben mak gak bangunin aku, tadi malam juga bisa- bisanya aku lupa memutar jam beker, jam udah menunjukkan jam enam limabelas, mana harus singgah lagi ke rumah wak pinem, membuatku bingung mau mulai darimana.
Buru-buru aku mandi, mak cuma geleng-geleng melihatku yang dikejar waktu,
" Aduhhh,,, ko bisa kesiangan sih?" Rutukku dalam hati.
Berulang kali aku melihat jam, rasanya waktu cepat aja berputar.
" Mak, buatkan bekal ku, gak sempat sarapan nih!" Aku menjerit dari kamar.
Jam enam lewat tiga lima, setelah aku memasukkan handphone ku ke saku celanaku, aku menyambar bekal dari tangan mak sebelum mak memberikan padaku, kulihat mak cuma menarik nafas panjangnya melihat kelakuanku.
" Mak, pamit ya, buru-buru ini," Pamit ku pada mak, dan langsung berlari keluar rumah.
Bisa dibayangkan gimana ngos-ngosan nya aku pagi ini, mana lagi harus menjemur cucian ku semalam di rumah wak pinem.
Aku langsung menuju kesana, kulihat warungnya belum ramai, dan segera kumasuki dan menuju belakang.
" Wak,, aku ke belakang jemur kain ya," Ijin ku pada wak pinem, aku juga harus ada sopan santun gak asal ngeloyor masuk tampa permisi.
" Kesiangan ya?"
" He he he,, iya wak," Jawabku salah tingkah menggaruk tengkuk ku yang tak gatal.
Walau capek, aku tetap harus profesional, karena itu sudah tanggungjawab ku.
Setelah kupastikan semua jemuran ku terjemur sempurna, akupun meninggalkan rumah wak pinem masih terburu-buru menuju wartel, benar saja aku tiba udah lewat lima menit, kulihat paman sudah menungguku diluar, dan terlihat lega saat melihatku tiba.
" Maaf,, aku kesiangan paman," Ucapku menyesal dan menekuk wajahku.
" Hmm,, ya udah gak papa, besok jangan telat lagi, paman mau ngantor juga,"
Paman berlalu tak sedikitpun ada kemarahan darinya, dan segera kulakukan tugasku membersihkan wartel, ternyata tadi udah ada pelanggan yang datang, karena aku menemukan prinan biaya telepon yang masih tertinggal di mesin printer.
__ADS_1
Terdengar suara SMS dari handphone ku saat baru selesai mengepel, segera kusimpan semua alat kebersihan yang kugunakan tadi.
Kuraih handphone ku dan kubuka SMS masuk, kulihat dari bang Amri, ada senyum yang tersungging dari bibirku, beberapa hari ini tak ada kabar setelah SMS terakhirnya beberapa malam lalu.
" Gak rindu ya ra sama abang?, dibilang gak usah dibalas ih benaran gak dibalas sampe sekarang, oh iya ra, sabtu besok temanin ya ke kota, abang mau ke tempat kerja paman nganter titipan mamak abang, mau ya!"
Seumur-umur belum pernah ke kota, dan sekarang diajakin sama bang Amri, pingin sih, tapi apa diijinin sama bapak dan mak ya?
" Kalo dikasih izin bapak sama mak ya bang, tapi gak nginap kan?"
Kukirim SMS balasan sama bang Amri.
Tak selang beberapa menit SMS bang Amri masuk lagi.
" Gak lah, malas aja sendiri di motor, teman abang sibuk semua, gada yang bisa nemanin, tapi bisakan kamunya izin kerja?, nanti aku bantu ijinin sama bapak"
Akupun tersenyum dengan rasa bertanggungjawab nya bang Amri.
"Berarti Jumat aku nyuci di rumah tante Hana, tapi syukurlah, gak ketemu bang Rocky," Aku bergumam dalam hati.
Terkadang aku merutuki diriku sendiri, tak tau diri, dengan beraninya memiliki perasaan pada seorang bang Rocky, yang kutau banyak yang ingin dekat dan bahkan sudah dekat dengannya, yang kehidupan mereka lebih beruntung dibandingkan aku, tapi aku tak bisa membohongi perasaan ku sendiri walau aku sadar aku seperti pungguk yang merindukan bulan.
Tiba tiba aku merindukan bang Rocky, setelah kejadian kemarin malam untuk kesekian kalinya aku kembali merindukannya, mungkinkah dia merindukan aku? Padahal aku tau bukan hanya aku yang ada di hatinya.
Ku gigit bibirku sendiri, hingga terasa sakit, dan berulang ulang ku usap wajahku dengan kedua tanganku, kenapa hingga saat ini, pikiran ku tak bisa lepas dari sosok bang Rocky?
Hari ini tak terlalu ramai hingga jam pergantian tiba, terlihat Yani udah datang sebelum jam tiga teng.
" Lagi santai ra?" Yani menghampiriku yang menikmati musik yang kustel dengan volume kecil, tapi mampu mendampingi perasaanku saat ini.
"Dan mungkin bila nanti, kita kan bertemu lagi satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali rasa yang kutinggal pergi....."
Aku tersenyum ke arah Yani, dan mengubah bentuk duduk ku di kursi,
__ADS_1
" Hehehe,, iya, dari tadi lumayan sepi, jadi aku cuma menikmati lagu penghantar mimpi," Jawabku terkekeh.
" Oh iya,, gantian yok libur, bang Amri ajakin aku pergi sabtu, gimana kalo sabtu kamu seharian, terserah hari apa mau gantinya," Ucapku pada Yani dan meminta persetujuannya.
" Hayooo,, mau kemana?, tapi kamu gak setia kawan, disampein tidak salamku sama itu temannya?"
" Gak akh, mau nemanin aja ke tempat pamannya kekota, sorenya pulang ko,, hmm masalah nya belum ketemu tau,,"
Aku tau Yani benar serius titip salam sama bang Nando teman bang Amri, cuma kan masalahnya aku sendiri belum kenal baik sama itu orang takut nanti malah kecewa, karna aku tau Yani tipe orang yang tulus dan setia.
" Ya udah gak papa, aku minta hari minggu aja ya gantinya, gimana?" Yani bertanya balik padaku.
" Oke, bisa."
" Gimana kamu sama bang Rocky ra?"
Aku menoleh ke arah Yani seperti memastikan jika pertanyaan itu benar dari dia, aku terdiam sejenak tak langsung menjawabnya.
" Dia gak mengaku kalo dia pacaran sama Hesti, tapi maaf ya, kemarin waktu aku marah ke dia melibatkan namamu, aku bilang kamu titip salam!"
" Aduuuhhh ra,,, ngapain juga kamu bilang aku titip salam? Gila kau ra,,, tapi gak papa biar dia sadar semua perempuan yang dikasih harapan palsunya sakit hati, dulu dia juga gitu ra gak mau ngaku kalo dia pacaran sama siapa yang kita tuduhkan, termasuk sama kamu ra."
Deggg
Kembali ku gigit bibirku, sampai kurasakan sakit, tapi tak sebanding dengan apa yang kudengar, bahkan hubungan kamipun tak diakuinya agar Yani mau tetap jadi pacarnya.
"Ko ada ya laki laki macam itu?" Ucapku kesal, rasanya pingin meremas mulut bang Rocky biar gak seenaknya bicara, demi menjaga harga dirinya sanggup menyakiti hatiku.
" Udah akh, kita lihat aja gimana besok-besok, perempuan seperti apa yang akhirnya jadi istrinya, intinya kita harus bisa menjaga jarak dengannya, gak jauh loh buah jatuh dari pohonnya, ihh amit-amit, miskin-miskin gini gak minat jadi pacar apalagi jadi istrinya." Yani mengedikkan bahunya sementara aku merasa heran dengan ucapan Yani.
" Apaan sih?,,, asal nyeplak aja!"
" Ehh kamu gak tau ra?, syukur aku tau setelah putus kemaren, makanya gak minat mau balikan." Yani terlihat benar tak menyukai bang Rocky, dari cara bicaranya kelihatan dia kecewa dan sakit hati, dan sepertinya di benar tak niat kembali mencintai bang Rocky.
__ADS_1
Aku cuma geleng-geleng kepala, antara penasaran dan tak mengerti akan ucapan Yani,,
" Induknya aja perselingkuh, ya wajarlah anaknya playboy."