Miscall Yang Terbalas

Miscall Yang Terbalas
POV ROCKY


__ADS_3

Aku Rocky Wijaya, papaku Usman Wijaya dan mamaku Hana, aku memiliki seorang abang bernama Rain Hard dan kami memiliki satu orang adik perempuan bernama Leonora.


Abangku Rain Hard sejak lulus SMP sudah tinggal di Ibukota hingga kini sudah bekerja di sebuah bank terbesar milik swasta. Sementara adik ku Leonora yang hanya selisih setahun denganku baru saja menyelesaikan kuliahnya bahkan beberapa bulan kedepan akan diwisuda dan dia juga tinggal di ibukota bersama abangku sehingga empat tahun terakhir aku yang paling dekat tinggal dengan kedua orangtuaku.


Sebenarnya terlalu banyak organisasi yang kuikuti, ,baik di kampus juga dikampung tempat tinggalku, terlalu aktif di organisasi mahasiswa pencinta alam, bahkan pencinta gadis-gadis cantik juga, sehingga seharusnya aku sudah selesai kuliah satu tahun lalu, dan mahasiswa abadi mulai tersemat pada diri ini dari teman-teman satu anggkatanku yang kebanyakan sudah wisuda.


Usiaku saat ini udah melewati angka dua puluh empat, dengan beberapa anugrah yang harus kusyukuri dengan wajah tampan mirip aktor India kata kebanyak orang sih, mirip seperti Hirtik Roshan entah siapa pun itu aku tak tau dan tak terlalu hobby dengan tontonan Bollywood itu, memiliki rahang tegas, hidung mancung, kulit putih tinggi hampir 180 cm dan memiliki tatapan lembut yang mampu menghipnotis gadis-gadis cantik, sehingga sangat mudah bagiku mendapatkan gadis mana saja yang kusuka, bahkan itu membuatku terlena dengan sering melupakan tujuanku menyelesaikan kuliahku.


Kehidupanku yang seperti itu juga ditunjang dengan perekonomian kedua orangtuaku yang mencukupi, bahkan tidak kekurangan, yang mana papaku bekerja di kantor pemerintahan juga memiliki jabatan yang lumayan disegani juga di tempat dimana kami tinggal.


Ara aku kenal sudah lama, sejak dia SD aku sudah tau dan mengenalnya, anaknya cantik dan ceria, namun sayang tak ditunjang dengan perekonomian orangtuanya, sehingga jika dilihat sangat jauh berbeda dengan anak-anak yang lain juga dengan hidupku, dulu saat dia kelas 1 SD dan aku kelas 6 SD aku sempat tertawa melihat dia pertama masuk sekolah memakai pakaian bekas yang kebesaran di tubuhnya yang mungil, mungkin milik kakanya Riska yang saat itu kelas 4 SD, hanya sepatunya yang baru saat itu, bahkan kaus kakinya terlihat kusam warnanya, kalah dengan anak-anak yang lain terlebih aku pastinya, tapi yang membuat aku heran anaknya ceria bahkan percaya diri saja pembawaannya, beda sama kakanya Riska yang pendiam.

__ADS_1


Aku berhenti bertemu Ara sejak tamat SD bahkan di Gereja juga jarang bertemu, dia yang Anak sekolah Minggu dan aku sudah beranjak remaja kegiatannya pun pasti berbeda-beda, hingga suatu waktu dia mulai ikut masuk sebagai anggota dalam Organisasi kepemudaan di Gereja dan kepemudaan Kampung dimana kami tinggal, saat itu dia sudah di kelas 2 Smk begitu dulu saat dia memperkenalkan diri, makin kesininya Ara semakin manis saja, makin dewasa tak jarang anak-anak kumpulan menggodanya namun dasar Ara yang tidak terlalu suka tebar pesona malah tidak menanggapi.


Aku yang dipilih sebagai ketua dalam organisasi itupun punya tanggung jawab penuh pada setiap anggota telebih yang cewek, jadi setiap kumpulan sekali seminggu itu usai, aku harus pastikan mereka pulang kerumah dengan selamat, dan pastinya aku mengatur beberapa pemuda buat bertanggungjawab mengantar pulang.


Sama dengan Ara, entahlah aku begitu senang tiap kali mengantarnya, hingga beberapa bulan lalu mungkin saat itu dia baru selesai ujian akhir, akupun menembaknya, sebenarnya sih gak pingin serius-serius amat, jika ditolak pun gak papa, diterima yah syukur, gak taunya malah langsung diterima hingga sempat mikir, cewek apaan ini, ato dia sudah lama naksir aku?


Ahhh bodo amat lah, sejak itu aku mulai punya kerjaan mengantarnya setiap pulang kumpulan.


Sebenarnya Ara pintar aku tau dari mama, sewaktu SD selalu mendapat beasiswa, bahkan sering di bawa dalam perlombaan cerdas cermat antar kecamatan hingga kabupaten, dari ceritanya juga padaku dia memutuskan mengalah untuk sementara tidak langsung melanjut karna mengingat kakanya Riska baru selesai kuliah dan rencananya Ara baru melanjutkan kuliah di tahun depan.


Hal yang aku kagumi dari seorang Ara dia tuh berjiwa besar sekali, pekerja keras, bahkan tak ada kata minder, anaknya percaya diri dan pastinya seorang pemimpi, demi membantu orang tuanya gak malu jadi tukang cuci dibeberapa rumah orang yang masih dikenalnya termasuk rumahku, bahkan membantu dikebun dan membawa hasil kebun dengan beban berat yang mungkin aku sendiri tak kuat membawanya, namun ada hal yang paling dirasa malu, takut orang-orang tau dia pacaran denganku.

__ADS_1


Saat aku pacaran dengannya tak banyak yang kami lakukan bersama, hanya sekali menciumnya itupun saat mengantarnya pulang dari wartel, lain dengan pacar-pacarku, jika yang lain sudah separuh tubuhnya dari ujung kepala hingga perut sudah aku sentuh, namun Ara yang ini benar-benar terjaga.


Sebenarnya saat aku pacaran sama Ara, aku juga dalam hubungan pacaran dengan seseorang, teman kuliahku, kami sama-sama disebut mahasiswa abadi walau berbeda jurusan, dia Dila.


Dila sudah dua tahun jadi pacarku, anak seorang pejabat yang kaya raya, orangnya fashionable, sedikit angkuh dan sombong, sering juga minta ikut kerumah, sebenarnya dilarang papa, cuma mama selalu bilang gak papa.


Ohh iya, aku tak suka dengan Amri, dia menyukai Araku, pernah aku memergokinya mengunjungi Ara di wartel, aku benar marah saat itu, dan kembali Araku dikunjungi saat malam, rasanya darahku mendidih kamipun ribut dengan Ara, tapi malah tuduhannya berbalik padaku, aku dituduhnya pacaran sama Hesty, tapi itu semua salah paham, Hesty memintaku mengantarkan sesuatu ke rumah saudaranya malam itu selepas kumpulan, Hesty memang memegang pinggangku, kurasa itu wajar mungkin dia kedinginan,dan di persimpangan kami menunggu adik Hesty yang meminta menunggu agar pulangnya sama dan berjalan saja, tapi malah Ara salah paham, bahkan aku tak tau Ara pulang larut malam itu bersama bapaknya.


Sejak itu Ara marah, aku minta maaf pun dia hanya diam dan menangis, tapi aku terkejut saat tau dia jadi tukang cuci dirumah, mama bilang dia membujuk Ara karna rematik nya sering kambuh, tapi kutau dia semakin marah saat Dila ikut pulang bersamaku, mama yang gak tau menahu hubungan kami malah mengatakan jika Dila itu pacarku, ahh semakin kacau saja, jika disuruh memilih saat itu aku memilih Ara, tapi sepertinya dia tak ingin dipilih.


Tiba-tiba suatu malam ada SMS salah sambung ke nomor telepon ku, niat hati ingin menjelaskan jika itu salah nomor sehingga ku telepon balik, bodohnya aku tak mengenali suara itu, terdengar sangat manja dengan nama Bella, nama yang cantik dan aku yakin juga pasti cantik, membuatku semakin penasaran dan jatuh cinta, bahkan memanggilku dengan panggilan kaka, semakin yakin itu benar salah sambung karena mengaku tinggal beda Provinsi denganku.

__ADS_1


Dia memang Bella,,Clara Isabella, Ara, dia Ara, Araku, sebulan juga dia membohongiku, jadi pacarku di udara, bahkan aku rela mengisi pulsanya hanya untuk bisa tau kabarnya, agar dia mau membalas SMS ku, namun aku benar kecewa saat kutau Bella itu adalah Araku, itu semua sandiwara nya, hingga pikiran kotorku berhasil membalaskan sakit hatiku dengan menodainya.


__ADS_2