
Pagi ini aku sangat malas buat bangun pagi, aku melanjutkan tidurku hingga jam delapan pagi, bukan hal yang biasa aku lakukan mau secapek apa dan selarut apa pulang dari wartel aku tetap bangun pagi membantu mak, tapi pagi ini aku begitu malas, untuk keluar saja dari kamarku aku seperti berfikir seribu kali, ternyata patah hati benar bisa membuat orang kacau dan hilang semangat seperti aku.
" Ra,,," Kudengar mak memanggil dan mengetok pintu kamarku.
" Iya mak,," Jawabku malas dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuhku.
" Kamu sakit ya Ra?" Tanya mak lagi.
" Gak, mak lagi malas bangun aja, capek." Ucapku lagi.
" Biar aja dulu, tadi malam jam dua belas juga keluar dari wartel." Terdengar suara bapak, sepertinya bapak ingin membiarkanku sendiri.
" Ohh,, waktu mak nganterin makan malam Ara di wartel emang ramai,," Mak mengurungkan niatnya membangunkanku lagi dan suaranya pun terdengar menjauh.
Aku mulai teringat dengan handphone yang kubeli semalam, dan mengambilnya dan mulai mengutak-atik nya, kuambil buku kecil yang selalu kugunakan menyimpan nomor telepon dan mulai menyimpan satu persatu nomor telepon termasuk nomor telepon kakaku ka Riska.
Setelah menyimpan semua nomer telepon dengan malas kuambil handuk ku dan segera pergi ke kamar mandi, kulihat dapur sudah rapi dan bersih, sedikit merasa bersalah dan kasian sama mak yang sendiri mengerjakannya.
Sebelum mandi, aku bercermin di cermin yang ada di kamar mandi, mataku terlihat sembab mungkin karena terlalu lama tadi malam menangis, kembali aku teringat betapa sakitnya hatiku saat melihat bang Rocky bersama hesty, ternyata selama ini aku bukan satu-satunya wanita yang dipacari nya, aku begitu sakit aku yang begitu tulus tega-teganya membuatku patah hati seperti ini.
Aku berlama-lama dikamar mandi, membuat mak yang juga ingin mandi mengomel padaku.
__ADS_1
" Ra, kau mandi apa lagi semedi, dari tadi mak rasa kau didalam, ngapain aja?" Terdengar suara mak yang kesal dari luar.
" Iya, dah siapan mak!" Ucapku buru-buru menyelesaikan mandi ku pagi ini, takut mak makin kesal lagi.
" Entah ngapain aja, kayak kau aja yang punya kamar mandi gak mikir orang lain mau make juga." Mak masih mengomel saat aku keluar dari kamar mandi.
Aku diam aja, wajar mak marah, akunya yang salah, hampir satu jam juga aku di dalam, sementara yang lain juga lagi kejar waktu mau kebaktian jam sepuluh, masih terdengar omelan mak dari kamar mandi membuat bapak memandangku seolah bertanya kenapa dengan aku.
" Matamu ko bengkak ra? Nangis ya?" Tanya bapak juga akhirnya, ternyata dengan mandi gak mengurangi mata sembab ku.
" Masa sih?" Ucapku pura-pura sambil menekan nekan telapak tanganku diwajahku.
" Emang gak kacaan apa?" Tanya bapak lagi, membuatku segera menuju cermin yang digantung di dinding dekat pintu depan.
" Ya udah, buruan sana siapan nanti terlambat, hari ini di gereja ada acara lelang." Membuatku menghentikan kegiatan ku mengingat ingat dalam rangka apa.
" Dalam rangka apa pak?" Karena aku benar tak ingat padahal aku termasuk aktif di organisasi kepemudaan di Gereja.
" Ohh, itu untuk sumbangan ke panti asuhan Yayasan Asih Asuh ra," Jawab bapak yang sedang menyemir sepatunya.
" Berarti pemuda yang bertugas ya pak?"
__ADS_1
" Biasanya kan iya, ini kan kegiatan Gereja!"
" Ya udah, bener gak tau aku,, mau siapan takut terlambat," Ucapku dan masuk kekamar.
Pagi ini semua sibuk dengan diri masing-masing demi mengejar waktu agar tidak terlambat.
Mak dan bapak akhirnya berangkat lebih dahulu, sementara aku masih sarapan takut nanti tubuhku tak kuat menahan lapar hingga kebaktian selesai, berulang-ulang kulitik jam yang ada di pergelangan tanganku, rasanya waktu begitu cepat berputar, jam sudah menunjukkan pukul sembilan limapuluh saat ku letakkan piring bekas makanku, dan dengan ter buru-buru kembali memakai sepatuku yang bertumit rendahdan kembali memandang penampilan ku di cermin sebelum berangkat, aku memoleskan lipstik berwarna pink lembut ke bibirku dan segera meninggalkan adikku Gomos yang bermain kelereng setelah kembali dari kebaktian sekolah minggu sejam yang lalu.
Akhirnya aku tiba sebelum kebaktian dimulai, namun bangku sudah hampir terisi semua dan aku memilih duduk di bangku yang cukup untuk dua orang di tempat khusus pemuda dan remaja, saat ibadah dimulai tiba-tiba seseorang meminta ku bergeser dan memberikan tempat duduk untuknya, seketika jantungku berdegup sangat kencang saat mengetahui yang akan duduk itu adalah bang Rocky.
Ku geser duduk ku untuk memberikan tempat buatnya, dan segera bang Rocky duduk dan sedikit tersenyum padaku dengan gaya santainya, seolah diantara kami tidak pernah ada masalah.
Tak sedikitpun ku tanggapi senyuman nya, aku memfokuskan diriku untuk mengikuti kebaktian, walau sebenarnya aku tak bisa fokus, coba bayangin hatiku saat ini seperti sedang dipermainkan waktu, baru beberapa jam lalu aku menangisi diriku sendiri yang patah hati, dihianati oleh lelaki yang kau anggap benar-benar mencintai dan sayang padaku, eh malah saat ini dia duduk disampingku dan tersenyum manis padaku, dan aku yakin dia melihat mataku yang masih sembab karena menangisinya sepanjang malam tadi.
Sesekali dari ekor mataku kulihat bang Rocky mencuri pandang padaku, tapi kucoba tak ambil pusing, karena saat ini aku masih belum bisa menerima penghianatannya.
Aku merasa waktu begitu lambat berputar, tidak seperti saat aku buru buru tadi dirumah, berulangkali ku lihat jam tanganku, kebaktian kali ini serasa lama sekali, duduk ku pun seperti cacing kepanasan, sementara bang Rocky hanya tersenyum melihat kegelisahanku, saat tanganku bertumpu di bangku tiba-tiba tangan bang Rocky menggenggam nya, membuat mataku langsung tertuju ke arah tangannya yang sedang menggenggam seolah menyuruhku tenang.
Aku berusaha melepaskan tanganku, tapi percuma, tangan dan tenaga nya lebih kuat dariku, membuat ku mengalah dan mencoba lebih tenang dengan tangan kananku yang digenggam, ingin rasanya aku teriak memakinya, namun aku tak kuasa, hanya lelehan bening yang akhirnya lolos keluar dari sudut mataku, segera ku usap lembut dengan tissue agar bedak di wajahku tak ikut luntur karena air mataku.
Yang mengikuti kebaktian sangat ramai, membuatku merasa malu jika mereka tau aku menangis, berulang ku seka air mataku sebelum benar jatuh, ternyata bang Rocky memperhatikan ku yang menangis, semakin di kecanangkan genggaman nya semakin deras aja air mataku ingin keluar, hatiku sakit dengan perlakuannya yang kuanggap manis seperti ini, tak bisa ku bohongi jika aku cemburu, aku marah, aku tak terima, dan aku ingin hanya aku satu-satunya yang dia cintai.
__ADS_1
Air mata ini tak juga bisa aku hentikan, beruntung kami duduk di bangku terakhir sehingga tak ada yang memperhatikan kami, kuseka lagi air mataku untuk kesekian kalinya.
" Maaf kan aku ra!" Dengan berbisik bang Rocky mengucapkan kata maaf padaku.