Miscall Yang Terbalas

Miscall Yang Terbalas
Ara Pingsan


__ADS_3

Aku kembali membuatnya menangis, Araku menangis setelah sesuatu miliknya yang sangat berharga ku rebut paksa, bukan nya membaik, hubungan kami semakin berjarak, Ara mendiamkan ku, menjauh dan menghindari ku, aku dibuat tak berdaya karna kemarahannya.


"Keluar..." dia mengusir ku ketika aku memohon maaf untuk kesekian kalinya saat mengembalikan handphonenya yang tertinggal dirumah, kulihat matanya kembali berembun seakan kehadiranku memang tak diinginkannya.


Putus asa, itu yang kurasa saat melangkahkan kakiku keluar menjauhinya, tapi tidak dengan hatiku, hatiku semakin ingin memeluknya, aku ingin meredakan tangisannya dalam pelukanku, kuputuskan kembali ke kota, mungkin ini lebih baik, aku ingin dia tenang tanpa aku, walau kusadari rasa cinta itu ada untuknya, bahkan baru kali ini aku memohon-mohon maaf pada seorang gadis, dan baru kali ini aku menerima pengusiran bahkan terang-terangan menunjukkan tak menginginkanku, dan baru kali ini aku merasakan sakit hati paling dalam.


Akupun kembali ke kota, aku fokuskan semua pada skripsiku yang tak kelar-kelar, dan setiap sabtu tetap pulang tapi kuatur waktuku tiba sesudah gelap, agar tak bertemu Ara yang selalu punya jadwal mencuci dirumah dihari itu.


Sebenarnya aku berharap Ara datang ke kumpulan, setidaknya aku bisa melihatnya dan memastikannya baik-baik saja, namun Ara tak pernah sekalipun datang sejak kejadian itu, pernah melihatnya sekali saat ibadah minggu,dia datang tepat saat ibadah dimulai, dan duduk dibangku paling belakang, dan setelah ibadah usai diapun pulang tanpa ada basa-basi dengan orang-orang yang ikut beribadah.


Aku hanya bisa menatapnya, kulihat tubuhnya sedikit kurusan dalam balutan atasan kebaya warna hijau muda dan rok panjang berwarna senada, terlihat sempurna dengan riasan minimalis,rambutnya yang se punggung dibiarkan tergerai dengan poni yang manis diatas alis, tapi sedikit heran dengan dadanya yang kurasa terlihat lebih berisi dari biasanya.


"Ada apa dengan Ara, apa dia sakit?"


****


Ara mengambil handphone nya yang sudah sebulan tak dipakainya, sambil mengisi daya batrenya terlihat satu pesan pemberitahuan masa tenggang pemakaian nomor teleponnya dan harus segera dilakukan pengisian ulang jika tidak ingin terblokir, Ara sedikit menyesali dirinya yang mengabaikan handphone nya sendiri.


Setelah jam kerjanya usai, Ara beranjak meninggalkan wartel, tujuannya selanjutnya ke konter mengisi ulang pulsa, sebenarnya pulsanya masih banyak namun tak bisa digunakan karna masa tenggangnya, dan lanjut ke rumah tante Hana karna tadi pagi tante Hana sempat singgah ke wartel dan memintanya mencuci hari ini karena besok sabtu tante Hana ada keperluan dan tidak dirumah.


Tiba di rumah tante Hana terlihat ibu tiga anak dan terlihat masih muda itu sedang membersihkan rumput di beberapa bunganya yang tumbuh subur dan berbunga cantik.


"Udah datang ra,,tante kirain gak jadi datang, kain kotornya belum tante rendam" Tante Hana terlihat senang saat t Ara membuka gerbang dan masuk, ditutupnya kembali gerbang besi itu.


"Iya tan, tadi ngisi pulsa dulu baru kesini, jadi sedikit lama" Ara membuka sendal jepitnya dan naik ke teras duduk ber selonjoran kaki untuk menghilangkan rasa lelahnya yang berjalan, entahlah akhir-akhir ini sering merasa cepat lelah, serasa malas untuk mengerakkan bagian tubuhnya, tapi selalu dipaksakan mengingat dirinya punya tanggung jawab, merasa tak enak jika harus mengecewakan orang.


Tiba-tiba suara panggilan masuk terdengar dari handphone nya, dengan malas diambilnya handphone dari saku celananya dan segera melihatnya, terlihat ada senyum yang tersungging dari sudut bibir Ara.


"Bang Amri" Gumamnya pelan dan menekan tombol hijau menerima telepon dari seberang.


"Ha....." Baru lagi mau bilang halo, dari seberang sudah lebih dulu dengan pertanyaan yang tak cukup satu.


"Kemana aja Ra? Parah kau ya, baru sekarang aktif, SMS puluhan kali gagal terus, ditelpon-telpon gak aktif, ya Tuhan ngapain aja?campakin aja itu handphone kalo gak dipakai!"


"Bisa gak nanyanya satu-satu, santai gitu, napa sih? Iya aku kehabisan pulsa, handphone kelupaan di cas terus kutinggal dirumah, tau kan klo dirumah gak masuk PLN?"


"Alasan aja, oh iya aku baru nyampe di tempat bibi Winda, mungkin baru malam sampai di kampung, Ara mau dibawakan apa?"

__ADS_1


"Ahh,,masa?,ko tiba-tiba?" Dengan mata berbinar Ara terlihat sangat senang.


" Iya, masaknya didapur,,bukan tiba-tiba emang lagi ada urusan yang sangat penting, dari seminggu lalu asik telpon nomormu mau ngasih tau malah gak aktif-aktif, terlaluuuuu,"


"Hehe,," Ara hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Jadi mau dibawain apa nih, keburu sore?"


"Gak usah akh,,,lagi gak pingin apa-apan"


"Benaran?"


"Iyaaaaaaaaaaaaa peyangggggggg"


"Awas ya kalo merajuk gak dibawain apa-apa!"


"Iyaaaaaaaaaa joleeeeekkkkkkkk"


"Ya udah, sampai ketemu besok ya!


" Yup,,,"


"Tan, Ara nyuci dulu ya," Ara kembali memasukkan handphone nya kesaku celananya.


"sabunnya kalo habis ambil di tempat biasa ya!"


"Iya tan."


Ara meninggalkan tante Hana dengan bunga-bunga kesayangannya.


Ara mencuci dengan sedikit lambat, rasanya lelah sekali, sering kali dia berhenti seakan mengumpulkan tenaga dulu setelah itu kembali mencuci lagi, itu berulang-ulang dilakukan hingga cucian itu selesai.


"Padahal siang tadi aku makan, tapi ko rasanya lelah sekali, apa karna pengaruh cuaca ya?" Ara bergumam dalam hati seakan bingung dengan dirinya sendiri, memang sejak pergantian cuaca dua minggu lalu banyak yang terserang flu bahkan anak-anak banyak yang demam termasuk adiknya Gomos, tapi rasanya berbeda saat dirinya dulu demam dan flu, tubuhnya tak selemah saat ini.


Sementara dari arah depan terdengar suara tante Hana yang berbicara dengan seseorang, Ara tak mengetahui kepulangan Rocky, dan Rocky pun tak tau jika Ara hari ini mencuci di rumahnya, diapun langsung pamit sama mamanya masuk kamar ingin beristirahat.


Karena Rocky yang pulang, Tante Hana pun terlihat sibuk menyiapkan makan malam didapur saat Ara menjemur pakaian yang dicuci nya di jemuran yang sengaja diletak di samping kamar mandi, agar terlindung jika nanti hujan, sebelum besok dikeluarkan di bawah sinar matahari.

__ADS_1


Tapi Ara mulai merasa dingin dan sesekali terdengar giginya yang saling beradu menimbulkan suara gemeretak, dengan tubuh yang semakin terasa lemah dan lelah, dan masih memaksakan diri ingin menyelesaikan jemuran nya, namun tubuhnya tiba-tiba tak berdaya.


Brakkk!!


"Araaaa" Tante Hana pun berteriak dan berlari melihat Ara yang jatuh dan menimpa ember yang berisi beberapa cucian yang belum sempat dijemur.


"Kiiiiiyyyy,,,Rocky,,,tolongin, cepatan kiiiiii"


Rocky yang mendengar teriakan mamanya buru-buru berlari kearah suara panggilan itu, dan mendapati Ara yang tergeletak dengan kepala sudah dipangkuan mamanya.


"Kenapa sama Ara ma?"


"Mama gak tau,,tolongin angkat dulu!"


Segera Rocky menuruti perintah mamanya, dengan hati-hati diangkatnya tubuh lemah Ara dan dibawanya ke ruang tengah dan meletakkannya di sofa, tante Hana meletakkan bantal di bawah kepala Ara.


"Ara kenapa ma?" Rocky sedikit menjauh membiarkan mamanya yang sedang meletakkan bantal.


"Mama juga gak tau, mama juga heran melihat dia, kelihatan lesu banget, tadi mama lihat sebelum mencuci dia istrahat dulu selonjoran kaki di teras, terlihat sedikit pucat juga"


"Jadi ko masih mama biarin nyuci sih ma? Gak kasian liat Ara pingsan gini?"


"mama pikir ya gak papa ki!" Ucap tante Hana menyesal.


"Tolong ambilin minyak kayu putih sama selimut ya ki!"


Tanpa menjawab diambilkan apa yang diperintahkan mamanya.


Diberikan minyak kayu putih ke mamanya, dan selimut yang diambil dari kamarnya itu di selimutan ke Ara dengan hati-hati, terlihat mamanya yang berusaha menyadarkan sibuk mengusapkan minyak kayu putih ke hidung dan tengkuknya.


Tak lama Ara pun mulai sedikit tersadar namun masih sering memejamkan matanya,dan Ara pun mulai menggigil kedinginan lagi, suara giginya pun yang beradu terdengar jelas, membuat wanita empat puluh tujuh tahun itu panik dan bingung harus berbuat apa, dan sempat terpikir sesuatu karna sedikit merasa aneh.


"Jagain Ara ki, mama buat teh hangat dulu," Tante Hana meninggalkan Rocky yang juga bingung.


Didekati nya Ara dan merendahkan tubuhnya dengan bertumpu dikedua lututnya, di peluknya kepala Ara dan diletakkan didadanya, tiba-tiba salah satu tangan Ara memeluk tangan Roky.


"Ada apa denganmu Ra?" Rocky bertanya lirih, dia begitu kuatir, sementara suhu tubuh Ara terasa normal dirasa, tak ada panas sedikitpun.

__ADS_1


Perlahan tubuh Ara yang menggigil berangsur membaik, Rocky kembali meletakkan kepala Ara di bantal dan perlahan menarik tangannya saat terdengar suara langkah kaki mamanya mendekat.


__ADS_2