
Setelah kepergian bang Amri, aku hanya duduk di ruang tunggu pelanggan sambil termenung, bertanya dalam hati,
" Kenapa dengan bang Rocky ya, padahal tadi malam dia begitu romantis?"
Tiba-tiba aku teringat sesuatu saat melihat pamanku muncul dari ruangan belakang.
" Paman, sibuk tidak?" Tanyaku pada paman yang ikut duduk di kursi tunggu.
" Gak, kenapa Ra?" Tanyanya balik.
" Boleh ijin sebentar mau beli sesuatu " Ucapku berharap.
" Ya udah, pergilah, nanti keburu gelap" Titah pamanku agar aku segera pergi.
" Paling lama satu jam," Ucapku lagi.
" Iya,, pergilah, paman yang jagain"
Aku bergegas mengambil dompetku dan melihat jumlah uang yang kupunya,
" Semoga cukup" Gumam ku lagi.
" Paman pergi dulu ya" Pamit ku pada psman yang dijawab dengan anggukan dan senyuman.
Aku berjalan menuju conter handphone satu satunya di kampungku, karena sudah sore pengunjung pun mulai berkurang membuatku lebih leluasa memilih dan bertanya handphone yang ku suka.
Kupilih handphone Noki* tipe 3310 yang kurasa masih terjangkau dan masih dalam keadaan bagus, dengan membeli nomor perdana untuk handphone ku, bang Joki yang punya Conter mulai mengajariku setelah mengaktifkan nomorku terlebih dahulu, aku mulai paham menggunakannya dan kuputuskan membayar handphone dan kartu perdananya dengan nominal empat ratus dekapan puluh delapan ribu.
Aku keluar dari Conter menjelang magrib, dan segera buru buru kembali ke wartel dengan wajah berseri, akhirnya aku memiliki handphone juga.
Saat yang bersamaan mak juga baru sampai di wartel dan menungguku dengan rantang makan malamku.
__ADS_1
" Darimana Ra?" Mak heran melihatku baru sampai dengan membawa bag kecil sementara paman ada di meja kerjaku menatap layar monitor.
" Beli ini" Ucapku sambil mengangkat bag handphone yang baru kubeli.
" Oh,, udah jadi di beli, uangmu cukup?" Tanya mak kuatir.
" Cukup mak," Ucapku sambil meraih rantang yang masih di pegang mak.
" Ya udah mak pulang ya, nanti dijemput bapakmu lagi, kaka pulang ya ben!" Pamit mak pada paman.
" Iya ka,, hati hati" Ucap paman sambil tersenyum.
" Ra, ruang nomor tiga udah ke lima ini ya, itu udah terprint empat, jangan sampe keliru" Paman menjelaskan dan melihat bag yang kubawa.
" Iya paman" Jawabku lagi.
" Kau beli handphone ya Ra?" Tanya paman.
" Hehe iya,, " Ucapku malu.
Akupun mengisi baterai handphone sesuai yang dianjurkan bang Joki pemilik Conter tadi, dan melanjutkan pekerjaanku dengan pelanggan yang datang silih berganti, di sela sela kesibukan ku ku sempatkan membuka rantang makananku, kulihat sambal ikan teri dan sayur bayam adalah lauk makanku malam ini, dengan semangat aku mengisi perutku dengan makanan yang dimasak mak dan kunikmati sekali hingga habis tak bersisa.
Segera ku susun kembali rantang makanan setelah kosong habis kumakan, dan orang-orang pun seperti tak habisnya silih berganti datang malam ini, membuatku sangat kerepotan.
Hingga jam sepuluh, belum lagi berkurang, masih saja ada yang antri, dan tak kuduga tiba tiba seperti mendengar suara motor bang Rocky membuatku mengalihkan pandangan ku ke luar melalui pintu kaca wartel, dan benar saja bang Rocky lewat dengan seseorang yang aku yakini perempuan melewati wartel, aku mencoba berfikir jika itu bukan bang Rocky.
Tapi sungguh ini tak membuatku nyaman, dan kepikiran, antara yakin dan tidak.
Bapak sudah menunggu ku di luar wartel, kulihat ke arah jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat duapuluh menit, sementara di dalam kamar telepon masih ada tiga orang lagi yang masih menelepon, aku mulai gelisah dan sedikit mengantuk, terkadang bapak pindah tempat dari luar ke dalam, dan dari dalam pindah keluar lagi untuk mengurangi rasa bosannya.
Akhirnya wartel benar sepi menjelang jam dua belas, paman pun sudah turun dan mulai mematikan lampu di wartel dan menyisakan lampu luar yang tidak begitu terang hidup dan segera menarik pintu dorong, setelah selesai berkemas aku membawa bag handphone ku beserta rantang makananku yang sudah kosong, akupun keluar dari wartel dan mendapati bapak yang mengobrol dengan paman.
__ADS_1
Tak lama, terdengar lagi suara motor bang Rocky dari kejauhan, membuat jantung ku berdegup lebih kencang dari biasanya, dengan kecepatan sedang motor itu melewati wartel yang sudah gelap, namun aku bisa begitu jelas melihat motor yang di kendarai bang Rocky melintas, yang membuatku terkejut dan tercekat, seorang wanita ada diboncengannya, memeluk dengan tubuh yang menempel dipunggungnya, mereka tak melihatku karena penerangan yang minim di luar wartel.
Terasa ada yang sakit didadaku, tak tau menceritakan rasanya seperti apa seperti ada sesak, ada yang menusuk nusuk sampe jantungku, apakah ini yang disebut sakit hati akupun tak paham.
Bapak mengulurkan tangannya untuk kupegang setelah berpamitan pada paman tadi, aku selalu senang menggandeng Bapak saat berjalan, kali ini bapak yang lebih dulu memberikan tangannya, mungkin aku terbawa suasana hatiku yang sedang tidak baik.
Aku memegang tangan bapak dan merapatkan jacket tebal ku mengurangi dinginnya malam ini, tak banyak cerita antara kami berdua dengan bapak, kami berjalan sejajar dengan pikiran masing-masing.
Saat memasuki simpang menuju komplek rumahku, lagi tak sengaja kami melewati dua orang yang sangat ku kenal sedang duduk di motor yang diparkirkan di pinggir jalan, ya itu adalah bang Rocky dan perempuan itu adalah Hesty.
Glek,,,
Ingin rasanya aku menangis saat ini, ku eratkan pegangan tanganku ke bapak saat melewati mereka.
" Ihhh,, buruan yok pak, dingin kalipun" Ucapku setelah melewati mereka dan mempercepat langkahku membuat bapak sedikit heran dengan tingkahku.
Aku tau bang Rocky juga tak menduga jika kepergok denganku, tapi sedikit lega, aku bisa membuktikan kebenaran omongan negatif orang tentang bang Rocky, walau sesungguhnya sulit dan sangat sulit aku menerimanya.
Tiba di rumah aku langsung menuju kamarku, bapak mengambil rantang kosong dari tanganku dan mengantarnya ke dapur, aku mengunci kamarku, dengan ditemani lampu minyak yang tidak begitu terang aku menangis tertahan mengingat kebodohanku sendiri telah mencintai laki-laki playboy.
Air mataku ya sudah menganak sungai sangat sulit ku hentikan, kutahan isakanku agar tidak terdengar kekamar mak, takut jadi bahan pikiran mereka.
Dan akupun mengambil kesimpulan, jika bang Rocky tak pernah benar-benar sayang dan cinta padaku, dan ingatanku kembali ke tadi malam saat dia menggunakan telepon di wartel dia begitu lama menggunakannya, ekspresi nya saja berbicara seperti tidak sedang berbicara pada keluarga atau teman, tapi dengan yang istimewa, dan ketika dia sibuk dengan SMS nya, aku yakin itu seseorang yang istimewa buatnya, aku memejamkan mataku memaksanya untuk melupakan ban Rocky, tapi sangat sulit karena bang Rocky sempat memberi warna di hari hariku.
Kuambil diaryku yang hampir ku lupakan malam ini.
16 Juli 2005
Sakit hatiku,, kamu tau tidak baru lagi ku lihat dengan mata kepalaku sendiri, orang yang kusayang dan ku cinta mojok dengan orang yang aku kenal,
Pingin marah, tapi sadar diri aku bukan siapa siapa.
__ADS_1
Tapi gak apa apa, selalu Tuhan tunjukkan orang yang tidak tepat terlebih dulu, biar mataku bisa terbuka lebar dan menilai siapa yang benar sayang.
Makasih buatmu, aku patah hati.