
Aku membantu tante Winda memasak, katanya kalo akhir pekan biasanya tante Winda gak memasak, karena suaminya paman Johan yang ku ketahui namanya karna sering disebut tante Winda sering mengajak makan diluar, bahkan tante Winda bercerita katanya di sepuluh tahun pernikahan mereka belum dikaruniai anak, dulu tante pernah hamil tapi keguguran, hingga saat ini belum hamil lagi.
Bang Amri cuma mendengar tante Winda bercerita sambil membantu memotong sayur atau mengiris bawang, sementara aku membantu tante menggiling sambal dan menggoreng udang katanya sih ingin buat udang sambal merah aja tak lupa juga buat sop kepiting.
"Temenan ko kayak pacaran klian?" Tanya tante Winda tiba-tiba membuat spatula yang kupakai menggoreng udang terjatuh.
"Gitu aja udah grogi Ra,,gimana kalo benaran?" Bang Amri malah tambah menggodaku.
"Ih apaan, gak mau aku" Balas ku lantang.
"Gak mau nolak ya ra?" Tante Winda pun ikut-ikutan dan tertawa cekikikan.
"Heeiii,,ada tamu ternyata,," Tiba-tiba masuk ke dapur seorang pria dewasa, yang aku yakin itu suami dari tante Winda, dia duduk di bangku meja makan dimana kami mengobrol sambil memasak.
"Loh, anak gadis siapa yang kau bawa Ri,," Segera kutinggalkan pengorengan dan menyalim pria itu.
"Maaf paman, kenalin saya Ara teman bang Amri," Aku memperkenalkan diriku, agar tidak mendengar ocehan bang Amri terlebih dahulu.
"Hmmm,,, cantik juga pacarmu Ri,,,ohh iya temanmu,," Sengaja paman Johan meralatnya lagi sambil tertawa.
"Mana mau dia jadi pacar aku, katanya gak level paman,," Bang Amri bercandanya makin menjadi, padahal gak pernah nanya akupun mau apa gak jadi pacarnya.
Aku diam aja, mending aku diam, kalo aku ikut malah makin aku yang terpojok, hingga selesai masak kami memutuskan langsung makan siang.
Keluarga ini sangat hangat, hanya saja bahagia mereka kurang lengkap karna tak adanya kehadiran anak, bahkan ke aku perlakuan mereka sangat baik, sama seperti ke bang Amri.
Kami menikmati makan siang dengan sambil bercerita, apa aja bisa menjadi topik cerita mereka, terkadang aku ikut tertawa ketika mendengar paman Johan bercerita, beruntung sekali bertemu dengan mereka.
"Oh iya paman, bi, aku kesini ngantar titipan mama itu di kardus, mama pesan juga disuruh kesana aja kalo yang ini udah habis, soalnya kalo aku balik merantau gada yang bisa antar kesini" Sambil berdiri bang Amri beranjak mengambil kardus yang kami bawa tadi.
Deg
Rasanya mau nangis mendengar kalimat terakhir bang Amri, ternyata dia balik lagi ke tempatnya kemaren, terlalu kau bang, aku sudah terlalu senang beberapa minggu ini, tapi ternyata itu akan segera berakhir.
Ku lanjutkan mencuci piring ku, sesekali kuusap air mataku, gak bisa kubayangkan aku kembali berpisah dengannya.
Ku bereskan dapur tante Winda sebelum aku kembali menemui mereka di ruang keluarga.
__ADS_1
Saat melihatku datang, tante Winda tersenyum padaku.
"Menantu idaman ya begini,,sini duduk dekat tante!" Sambil menepuk-nepuk karpet dimana tante Winda duduk.
"Kami pulang loh bi, paman tadi wawak bapak adek Ara udah pesan jangan kemalaman pulangnya." Takut jika tante Winda menahan kami agar menginap.
"Hmm kirain nginap,," Tante Winda terlihat sedikit kecewa.
"Nanti lain kali ya tante,," Ucapku sambil mengelus-elus punggung tangannya.
"Kalo Amri jahat ke Ara, bilang tante ya biar tante yang urus!" Jelas membuat bang Amri tertawa keras.
"Ya ampun bi,,,sekarang bisa ya dalam hitung jam berpihak ke Ara,,,hebat kau dek" Bang Amri geleng-geleng kepala, malah makin membuat tante Winda memelukku.
Paman Johan ikut tertawa melihat tingkah kami.
Kamipun pamit pulang, sebenarnya tante Winda masih berat melepas kami, tapi aku beralasan jika besok aku harus membayar jam kerjaku hari ini menjadi seharian, tante menyelipkan di tanganku uang, katanya buat uang jajan aku merasa sungkan, namun tante memaksaku untuk menerimanya.
"Tante kami pulang ya, kapan-kapan lagi kita ketemu, makasih sama jamuan makan siangnya tan, sehat-sehat selalu ya sama paman," Aku memeluk tante Winda dan dibalas dengan pelukan yang erat, aku memaklumi nya.
Sebelum kami pulang, seseorang datang dengan membawa dua bungkusan plastik dan memberi ke tante Winda.
"Aduuh merepotkan tante ini,,mkasih banyak ya tante" Ucapku lagi dan lagi, tante Winda baik banget, segera plastik itu digantungkan bang Amri didepan dibawah stang motor.
Bang Amri kembali memasangkan helm ke kepalaku, jelas jantung ini berdetak lagi, rasanya pipi ini kembali memerah, perlakuan manisnya membuatku tersipu, dan kami mendapatkan tatapan dan senyum bahagia dari tante Winda juga paman Johan.
"Kami jalan ya bi, paman,," Bang Amri pamitan, dan aku melambaikan tanganku dan tersenyum ke arah mereka.
Setelah menjauh dari rumah tante Winda bang Amri memberhentikan motornya membuatku bingung.
"Ada yang tinggal bang?"
"Ada,,,ini tangan ditaruh disini, nanti kau jatuh!" Kembali ditariknya tanganku untuk melingkar di perutnya, akupun hanya menurut dan gak protes biar perjalanan aman aja.
Aku merasa lelah, sehingga tak jarang aku mengantuk dan menimbulkan suara beradu helm ku dengan helm bang Amri, untung bang Amri memegang kedua tanganku dengan tangan kirinya, kalo tidak bisa saja, kami terjatuh.
"Mau istrahat ra?" Bang Amri mengurangi kecepatan motornya.
__ADS_1
"Gak usah, lanjut aja, takut kemalaman bang,," Iya aku kuatir kalo nanti kami malah tiba saat malam menjelang.
"Ya udah, Ara bisa nyender aja di punggung abang," Kembali laju motor ditambah, namun kedua tanganku masih dalam genggaman nya, akupun menurutinya bahkan benar aku bisa tertidur.
"Ra bangun,," Terasa tanganku digoyang-goyang bang Amri,
"Udah hampir nyampe nih"
Sambil mengumpulkan kesadaranku, kulepas tanganku dari genggamannya, benar saja sebentar lagi akan melewati wartel dimana aku bekerja.
Hari sudah hampir jam lima sore saat motor kami parkirkan di depan rumah, ternyata ka Riska udah sampai juga.
Bang Amri mengambil plastik yang berisi kue titipan tante Winda, dan membawanya mengikutiku kerumah.
"Udah lama datangnya ka?" Aku memeluk ka Riska, udah enam bulan dia gak pulang, katanya setelah wisuda kemaren dia sibuk dengan kerjaannya sebagai guru honor dan guru les privat.
"Hampir dua jam, siapa ra?" Ka Riska mengacak rambutku, kebiasaan nya kalo ketemu aku.
"Teman ka, kenalin ini bang Amri!"
"Kenalin saya Amri ka"
"Ohh,, Riska, kakanya Ara"
"Wak,,ini ada oleh-oleh, tadi dititip bibi, bibi titip salam sama wawak," Bang Amri memberikan oleh-oleh itu pada mak.
"Ya ampun, jadi merepotkan ini, makasih ya nak Amri, salam kembali nak sama bibinya" Ucap mak sedikit sungkan.
"Iya wak sama-sama, langsung pulang ya wak," Bang Amri sekalian pamit.
"Loh, ko langsung pulang?, makan malam dulu, tadi wawak potong ayam loh, kan Riska juga baru datang, " Bapak sudah ada di pintu entah kapan datangnya.
"Makan malamnya kan masih lama wak, gimana kalo aku pulang dulu, nanti kesini lagi?"
Wah makin menjadi nih anak, kesempatan terus, aku mencebikkan bibirku ke arah bang Amri, yang dibalas dengan senyum kemenangan.
Bang Amri pulang setelah berjanji akan datang buat makan malam nanti.
__ADS_1
"Teman apa ini? Teman tapi mesra kali ya"