
Pagi ini aku bangun seperti biasa, tapi tidak terlalu sibuk seperti biasa, karna hari ini aku off dan sudah ada janji dengan bang Amri.
Pukul tujuh aku keluar dari kamar mandi dan mulai siapan sambil menunggu bang Amri datang, mak juga udah pulang dari pajak sejak sejam lalu bersama Bapak, mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing, sementara kedua adikku sudah berangkat sekolah sekitar lima belas menit lalu.
Terdengar suara motor dihalaman rumah, ternyata bang Amri sudah sampai, Aku yang baru akan memoles pipiku dengan bedak mengintip dari horden memastikan yang datang itu adalah bang Amri.
"Pagi wak,,pagi-pagi udah nukang aja wak,," Amri memarkirkan motornya dibawah pohon jambu di halaman depan.
"Ohhh,,nak Amri jadi perginya?" Bapak dengan ramah menyambut Amri yang duduk di bangku kayu dekat Bapak menukang meja.
" Iya wak, terlalu siang nanti malah kepanasan, Ara ada wak?"bang Amri dengan sopan menyalim bapak.
" Sepertinya dia juga lagi siapan di dalam," Jawab bapak yang masih asik menokok paku dengan palu.
" Oh iya,,ternyata nak Amri itu anak pak Markus ya?" Bapak menyudahi kerjaannya dan ikut duduk bersama Amri.
"Ko wawak tau?"
"Hahaha, taulah, kemaren waktu ada pesta keluarga wawak ketemu sama bapakmu, lah kami berdua itu temanan waktu jaman SMP, pisah mulai SMA tapi terkadang masih jumpa, terus pisah lagi memang se kabupaten tapi udah hampir dua puluh tahun gak ketemu, mngkn karna punya kesibukan masing-masing, ya itu ketemunya di pesta kemaren, kata bapakmu dia punya anak laki-laki dan anak laki-laki sekolah di sekolah SMK Perbaharuan, tapi udah tamat tahun lalu, tapi wawak langsung ingat nak Amri ko mirip sekali sama si Markus, akhirnya wawak tanya, ciri-cira anaknya seperti apa, bapakmu kasih tau, benar gak salah lagi kalo anaknya itu nak Amri yang dulu sering main ke rumah teman Ara, memang bapakmu gak cerita?"
"Jarang ketemunya wak, bapak sibuk aja tiap hari, padahal dia yang nyuruh pulang katanya rindu, tapi malah sering gak ketemu,,lucu gak wak" Sambil cengesngesan bang Amri pun tak menyangka ternyata orangtua Ara mengenal orangtuanya, bahkan berteman di puluhan tahun silam.
" Kapan datangnya nak Amri?" Tiba-tiba mak sudah berdiri di pintu.
" Oh, sekitar limabelas menit lalu wak,," Amri menyalim mak dengan sopan.
"Raaaaa,,,nak Amri udah datang," Mak memanggil aku yang masih dikamar.
"Iya,,," Aku segera keluar dan mendapati Bapak dan bang Amri sedang mengobrol.
"Katanya jam delapan, jam tujuh udah nongol, sarapan aja belum, emang udah sarapan apa?" Aku langsung protes, tapi cuma ditanggapi dengan cengiran aja.
"Klo belum sarapan, ajak sarapan sana, nak Amri itu tamu," Bapak menegurku menganggap aku gak sopan.
"Gak papa wak,,macam gak tau Ara aja wak,,udah sana sarapan, abang tadi udah sarapan abis nganterin kakanya abang kerja." Ucap bang Amri dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Mak muncul dari dapur membawa dua gelas teh untuk Amri dan Bapak, dan beberapa potong kue yang dibelinya di pekan tadi pagi, ternyata mak perginya kedapur, saat memanggilku tadi.
" Minum dulu nak Amri, bapak ngeteh aja ya," Mak menyuguhkan teh yang masih panas dan meletakkan di meja yang belum sempurna itu.
"Jadi merepotkan wak, makasih banyak wak"
Akupun kembali masuk ke dalam buat sarapan, terdengar sekali-kali mereka tertawa lepas entah apa yang mereka ceritakan bertiga.
Bang Amri memang sudah lama dikenal bapak juga mak, dulu sering ikut main ke rumah setiap hari sabtu, mana bapak juga mak juga senang, karna pembawaan bang Amri sopan dan baik, apalagi si bapak yang suka bercerita, jadilah bang Amri si pendengar yang baik apain cerita cerita bapak.
Sejak kepulangan bang Amri baru hari ini mereka bertemu, kemaren waktu di wartel mungkin bapak gak mengira kalo itu bang Amri, trus bang Ampripun entah mikir apa sampai gak ingat menyapa bapak.
"Udah hampir jam delapan loh, katanya takut kepanasan kalo siang!" Aku dengan wajah cemberut sudah dengan jaket rajut ku, tas ransel dan sepatu ketsku menghampiri mereka yang sepertinya sudah lupa waktu dan diriku.
Mereka bertiga langsung memandangku, kulihat bang Amri melihat jam yang melingkar ditangannya,
"Oh iya wak, nanti lagi kita lanjut ceritanya, udah mendekati pukul delapan juga, aku bawa Ara dulu ya wak," Ijinnya sama bapak juga mak dan segera beranjak dari duduknya.
"Iya nak Amri, titip Ara ya, hati-hati di jalan" Jawab bapak berharap aku baik-baik selama bersama bang Amri.
"Sini pakai helm dulu,," Bang Amri dengan lembut manatik tanganku dan memasangkan helm ke kepalaku,sungguh manis perlakuannya sampai membuat pipiku terasa panas.
"Okee,,,selesai,,ayuk naik!" Ternyata proses pemakaian helm saja bisa membuatku panas dingin seperti ini, segera aku duduk di boncengan bang Amri, dan untuk kesekian kalinya pamit lagi sama mak bapak.
"Ya udah hati-hati" Masih terdengar suara bapak saat motor yang kami tumpangi keluar dari halaman dan meninggalkan rumah.
Untuk beberapa waktu kami terdiam dalam pikiran kami masing-masing, entahlah apa karna baru kali ini kau berpergian, apa karna bersama bang Amri, atau karna aku bisa menikmati libur ku, aku begitu senang, membuatku sering senyum-senyum sendiri.
"Kenapa senyum-senyum?"
"Hah?" Aku mendekatkan telingaku ke arah bang Amri, sebenarnya aku mendengar, tapi memastikan bener yang ditanyakan.
"Ko senyum-senyum?" Volume suara bang Amri sedikit dikencangin.
"Loh, ko tau?" Balik nanya karna heran.
__ADS_1
"Aku punya mata satu di helm belakang, jadi lihat kau tu senyum-senyum!" Sontak aku benar melihat ke arah helmnya tapi malah membuat bang Amri tertawa sampai dia mengurangi kecepatan motornya dan berhenti.
"Malah ketawa," Akupu mulai jengkel.
"Ya taulah ra, ini kan spion,tuh lihat, aku bisa lihatmu dari sini,," Membuatku terdiam dan sedikit malu.
"Udah ah,,,yuk lanjut lagi jalannya,," Bang Amri menarik kedua tanganku dan meletakkannya melingkar di perutnya,,
"Pegangan yang kuat, kecepatan seratus kilometee per jam ini" Aku yang masih merasa malu mengikut aja, tapi langsung mencubit perutnya kuat.
"Awas,,bapak bisa menghajar abang kalo aku kenapa-napa ya" Ucapku dengan pura-pura mengancam dan terdengar dia mengaduh sakit.
"Hahaha,,iya juga ya,,ya udah pelan-pelan aja, udah cubit nya,sakit tau,, tpi lumayanlah ada yang melukin dari belakang, jadi lajunya dikurangi aja"
"Mau dicubit lagi,?" Dengan tangan kirinya kedua tanganku yang mungil sudah di genggamannya membuatku terdiam dan hanya memandangi punggungnya.
Semua sulit ku artikan, perlakuan pria yang kupeluk saat ini sungguh manis, terkadang dia adalah teman terbaikku, terkadang dia seperti saudaraku, terkadang dia juga jadi orang yang sangat menyebalkan,,
Hampir dua jam kami diperjalanan, hingga kami tiba di kota tujuan kami, tapi motor belum juga berhenti dan baru mengurangi kecepatan saat memasuki lokasi perumahan kelas menengah, kebanyakan rumah disini lumayan besar, luasnya sekitar sepuluh kali luas rumah mak bapak, dan kami berhenti di salah satu rumah yang kunilai cukup bagus, mungkin kalo di sekitar rumah bapak ada rumah seperti ini bakal ini yang terbagus dan paling bagus.
Terlihat wanita muda keluar tersenyum, terlihat sangat elegan walau dengan pakaian rumahnya, datang menghampiri kami dan membuka gerbang.
"Loh, udah nyampe aja, ko gak nelp dulu, bibi belum lagi masak, pasti klian udah lapar? Ayo masuk" Wanita itu sangat ramah, ternyata ini bibi nya bang Amri.
Aku yang sudah turun dari motor mengikuti wanita tersebut dari belakang, sementara bang Amri memarkirkan motor di depan Garasi. Aku tau garasi karna garasinya terbuka dan disana terlihat tiga unit mobil terparkir disana.
"Ini si cantik siapa, pacar kamu Ri?"
" Kenalin tante, saya Ara teman bang Amri, tepatnya teman sekolah dulu"ujarku buru-buru sambil menyalim wanita itu, takut nanti mikir yang tidak-tidak.
"Ohh teman,,teman apa teman?, saya bibinya Amri panggil aja tante Winda" Dengan ramah tante Winda menyambut tanganku.
"Emang cocok ya bi Ara jadi pacar ponakan bibi?" Bang Amri makin menjadi aja membuat pipiku kembali memerah.
"Cocoklah, ponakan bibi tampan paripurna, ini Ara cantik, manis juga, ayo langsung kedalam aja, pamanmu sebentar lagi pulang" Ucap tante Winda tertawa.
__ADS_1