
Rocky pulang kerumah dengan lesu, Ara benar tak datang ke kumpulan malam ini, membuatnya semakin bersalah, bahkan Hesty yang mengajaknya nongkrong selepas kumpulan tak digubris nya, jelas membuat Hesty kesal dan marah, tapi Rocky hanya diam tak peduli dengan kekesalan Hesty.
Sebenarnya tak ada rasa apapun buat Hesty, hanya saja Hesty yang overthinking dengan perlakuan Rocky, hal yang wajar ketika Rocky mengantar Hesty pulang setiap selesai kumpulan karena Rocky selaku ketua kumpulan Organisasi bertanggung jawab pada anggotanya, bahkan Hesty sengaja menunggu agar Rocky yang mengantarnya pulang.
Setelah mengunci gerbang, Rocky memarkirkan motornya di garasi, terlihat mobil papanya sudah terlebih dahulu masuk garasi, berarti Usman dan Hana papa mamanya Rocky sudah pulang.
Jam sudah menunjuk di angka sepuluh lewat tigapuluh lima menit, terlihat rumah sudah sepi, anak kunci yang selalu dibawanya pun digunakan membuka pintu yang terkunci.
Dibukanya kamarnya dengan anak kunci yang lain, saat terbuka terlintas lagi bayangan Ara yang menangis dan memohon padanya, Rocky hanya bisa menarik nafas panjang menyadari kebodohannya sendiri, kasur itu masih sama seperti saat Ara meninggalkan kamarnya.
"Apa kau sengaja menghukumku Ra seperti ini dengan rasa bersalahku?"
Rocky berniat mengganti sprei kasurnya saat melihat noda merah bukti keperawanan Ara yang direnggut nya paksa, semakin besar rasa bersalahnya, segera ditariknya sprei biru muda itu namun saat yang bersamaan terdengar sesuatu terjatuh.
"Loh,,ini kan handphone Ara, berarti dia kelupaan dengan handphone nya!" Rocky bicara sendiri sambil memungut handphone yang terjatuh.
Terlihat ada SMS masuk dan enam kali panggilan masuk, Rocky yang penasaran mengabaikan privasi Ara, terlihat disana nama B'Amri, nama yang sudah di ganti Ara beberapa waktu lalu.
Ada rasa cemburu saat membaca nama itu, dengan sedikit emosi dibukanya SMS masuk yang diyakini juga pasti dari Amri.
__ADS_1
Benar saja, SMS itu dari Amri, tapi isi pesannya sukses membuat Rocky meriang.
"Hei cantik, apa kabar?lagi malam mingguan sama siapa, atau sibuk di wartel?tau gak tadi sore tiba2 pingin pulang kampung kepikiran sama seseorang,.hehe,,abang rindu Ra,,"
Rocky melemparkan handphone Ara di kasur yang belum terpasang sprei, berulang kali Rocky menyisir dan menarik rambutnya sendiri dengan kedua tangannya, dia cemburu ternyata ada yang mengagumi Ara selain dirinya, buktinya dari semua SMS Amri yang tak dihapus Ara jelas Amri sangat menyayangi Ara, tapi cenderung Ara menanggapi dengan candaan, bahkan Rocky tak menduga jika Ara dan Amri pernah pergi ke kota atas ijin dari bapak Ara jelas ini membuat hatinya semakin panas dan cemburu.
"Aku harus bertemu Ara besok dan mengembalikan handphone nya ini, tidak Ara tak boleh dimiliki siapapun kecuali aku" Dan segera dihapusnya SMS terakhir Amri agar Ara tak curiga jika SMS nya dibaca orang lain.
Sprei biru langit itupun di lipatnya dan dimasukkan tas ransel miliknya, berniat membawanya ke kostan dan samasekali tidak ingin mencucinya, ada moment yang tak bisa dilupakan di sana, dan digantikan dengan sprei baru motif bola kesukaannya.
Sepanjang malam Rocky gelisah dan sulit untuk tidur, hingga menjelang subuh dan terdengar kokok ayam barulah kantuk itu menyerang dan membuatnya tertidur pulas.
Hari minggu wartel buka jam dua belas biasanya selepas ibadah minggu, Ara yang sudah merasa sedikit baikan pagi ini bangun lebih awal menyiapkan sarapan pagi.
Setelah memastikan pakaian dan perlengkapan sekolah kedua adiknya tercuci bersih, Ara pun langsung mandi, tadi malam dia tak mandi hanya mencuci bagian tubuh bawahnya saja dirumah tante Hana.
Kembali netranya berembun saat menatap dirinya sendiri di cermin kamar mandi, Ara begitu terpuruk hingga air mata itu lolos begitu saja, terlalu berat masalah yang dihadapi, bahkan untuk bercerita saja dia begitu takut, dengan hati pasrah segera diselesaikan acara mandinya, takut orang rumah terburu-buru nantinya ibadah.
Ara sebenarnya enggan untuk pergi, bukan enggan beribadah hanya saja enggan bertemu Rocky, tapi mak dan bapak sengaja menunggunya untuk berangkat sama-sama, hingga tiba di gedung gereja Ara pun buru-buru memilih tempat duduknya dimana tempat duduk pemuda dan remaja hampir penuh, dan Ara sedikit lega bangku yang dipilih sudah penuh saat dirinya duduk, jadi tak ada peluang buat Rocky duduk bersamanya seperti beberapa minggu yang lalu.
__ADS_1
Tapi kelegaan itu hanya sebentar, saat dari belakang terdengar suara yang dikenalnya.
"Bisa geser sedikit!" Rockypun duduk persis dibelakang Ara.
Fokus Ara terbagi, dan benar-benar terbagi orang yang sangat dibencinya berada duduk tepat di belakang bangkunya, rasanya Ara ingin kabur dan pulang, kenapa setiap dia ingin menghindar malah yang dihindari selalu menampakkan batang hidungnya, padahal Ara ingin Rocky menghilang dari kehidupannya.
Waktu satu setengah jam terasa lama bagi Ara, berulang kali dipandangnya jam yang melingkar ditangan kirinya, Rocky menyadari itu, ingin rasanya menenangkan kegelisahan Ara yang terlihat cantik dengan gaun berwarna maron serta rambutnya yang hitam se punggung dibiarkan tergerai, tapi apa daya pria tampan ini kehadirannya pun begitu sangat dihindari Ara.
Disaat acara penyelesaian ibadah, terlihat Ara yang benar tidak sabar beranjak dari duduknya dan buru-buru meninggalkan gedung gereja, menyadari itu, Rockypun mengikutinya, namun setelah diluar gedung dia begitu bingung secepat itu Ara menghilang, ada rasa kecewa dihatinya, karena ibadah hampir selesai Rocky pun berpura-pura ke toilet belakang gedung, untuk menghindari beberapa pasang mata yang menatapnya dengan berbagai pertanyaan.
Setelah merasa aman, Ara keluar dari tempat persembunyiannya disamping gedung perumahan dinas Pendeta yang melayani di Gereja itu,dan segera pulang demi menenangkan dirinya.
Sebisa mungkin Ara berusaha menghindari pertemuan dengan Rocky, biarlah untuk saat ini hanya mereka berdua yang tau apa yang terjadi, dan sebisa mungkin merahasiakan semua dari siapapun, dan jikapun nanti harus terluka lagi, biarlah hanya dia yang terluka bahkan menanggung sakit itu sendiri.
Diusap nya air matanya, lagi dan lagi air mata itu sesuka nya keluar, bahkan terus serasa stok nya banyak dan melimpah, melengkapi rasa hancur hati Ara.
"Aku ingin kembali ke masa, aku hanya bisa mengagumimu, menatapmu dari kejauhan, menghayalkan sedang apa dan lagi apa, menunggu waktu dimana kita bertemu diantara pemuda-pemudi, bahkan jauh sebelum kau mengungkapkan perasaanmu, aku tak inginkan hari-hari menjadi pacarmu, aku juga tak inginkan jadi Bella yang begitu kau sayang,aku hanya ingin itu kembali,"
Ara menangis sepanjang jalan hingga tiba dirumah, segitu terpukulnya kah seorang Ara?tak henti-hentinya dia menangisi dirinya yang dirasa tak berharga.
__ADS_1