Miscall Yang Terbalas

Miscall Yang Terbalas
Dilema seorang Mak


__ADS_3

"Ra, ini handphone mu, sekali lagi maaf," Rocky meletakkan handphone milik Ara di meja kerjanya.


Ara sedikit terkejut dengan kehadiran Rocky yang tiba-tiba, bahkan sejak kejadian itu Ara tak sedikitpun memikirkan handphone itu lagi.


Diambilnya handphone itu dan dipindahkannya ke laci dimana biasa menyimpan buku dan penanya, hingga saat ini tak ada niat untuk berbicara, dia biarkan Rocky dengan rasa bersalahnya.


"Ra,,,bicaralah, katakan apa yang harus aku lakukan, jangan biarkan aku dengan rasa bersalah ini ra!" Akhirnya kalimat itu keluar juga, dan memberhentikan aktifitas Ara yang membolak balik lembaran majalah edisi tahun tak enak.


Kali ini Ara mengangkat kepalanya, terlihat matanya kembali berkaca-kaca tapi tak sanggup menatap Rocky.


"Keluar....." Telunjuknya mengarah ke pintu dengan suara yang ditekan dan tedengar mengeram, habis sudah kesabarannya dengan Rocky yang tak puas-puas mengganggunya.


Rocky tak menduga Ara tega mengusirnya, bahkan untuk menatapnya saja Ara enggan, baru kali ini dia diperlakukan seorang wanita seperti ini, bahkan dia rela mengemis maaf.


"Baiklah Ra, jika kesalahanku tak bisa termaafkan lagi aku rela menjauhimu, dan tak sekalipun menemuimu lagi, sekali lagi aku minta maaf, jika kau ingin melupakan tentang aku, silakan,,aku pergi Ra,!" Kali ini Rocky yang terluka parah, tak kuasa,menahan air mata itu jatuh.


Sementara Ara membenamkan wajahnya di kedua tanganya, menangisi sikapnya sendiri, begitu sulit baginya berdamai dengan sepotong maafnya Rocky, bahkan berdamai dengan dirinya sendiri, rasanya hingga saat ini masih belum bisa menerima itu semua.


Rocky berlalu pergi meninggalkan Ara, mereka saat ini sama-sama terluka, tapi tak ada ruang bagi mereka untuk bisa menerima perlakuan satu sama lain, mungkin saja butuh waktu sendiri, tapi sampai kapan? Ara yang tak ingin berbicara dan Rocky yang ingin memperbaiki hubungan dengannya malah tak mampu berbuat banyak karena kekerasan hati Ara yang tak bisa diluluhkannya, makin membuat Rocky bertambah stress.

__ADS_1


Dengan langkah tak bersemangat Rocky pun memutuskan kembali ke kota hari ini juga, mungkin lebih baik seperti itu, skripsinya yang tak kelar-kelar hingga saat ini dijadikan prioritas nya, waktunya fokus untuk diselesaikan.


****


Sudah tiga hari Ara setiap sore menggigil kedinginan, sejak perubahan musim kemarau ke musim penghujan tiga hari belakangan, setiap hari tak ada hari tanpa hujan, suasana kota kabupaten dimana Ara tinggal sangat dingin ditambah lagi musim penghujan seperti sekarang ini jelas semakin dingin.


Beruntungnya Ara jaga pagi, sehingga setiap sore bisa selimutan dikamar saat rasa dingin dan menggigil itu datang, tak tanggung-tanggung jika menggigil akan terdengar bunyi gemeretak giginya yang kuat, sementara suhu badannya sangat normal, dan Ara juga bingung baru kali ini merasa seperti ini.


Sudah tiga minggu setelah kejadian itu, tiga minggu juga Ara tak bertemu Rocky atau sekedar melihatnya, bahkan ketika jadwal mencucinya di tempat tante Hana pun tak pernah sekalipun bertemu lagi dengan Rocky, mungkin Rocky tak pulang-pulang sebab saat ibadah gereja saja tak pernah bertemu atau melihat, tapi mungkin juga karna Ara sering duduk di bagian belakang (tapi itu hanya dugaan Ara saja), dan sudah tiga minggu juga Ara tak pernah mendatangi kumpulan pemuda-pemudi, dan hebatnya sudah tiga minggu juga handphone nya dibiarkan di laci meja kerjanya hingga handphone itu benar-benar sudah mati tak ada baterai, dan Arapun sudah sedikit demi sedikit melupakan kejadian itu, dan semua aktifitas nya kembali seperti biasa.


Tapi Ara sedikit merasa aneh dengan dirinya sendiri, sejak Ara mulai merasa sering menggigil di sore hari, dia juga mengalami pilek, tapi itu akan terjadi setiap malam, nafsu makannya juga berkurang, bahkan pagi ini saat mak masak mie instan karna bahan dapur yang kosong akibat dari hujan sejak sore semalam membuat mak gak bisa belanja ikan, Ara seperti tak suka mencium wangi bumbunya, akhirnya Ara hanya memaksakan diri makan nasi saja, takut lambungnya bermasalah jika sering tak diisi.


"Pilek nya sering malam loh mak, kalo udah siangan malah gak pilek" Ucap Ara sedikit tertawa.


"Loh, gak makan mie nya ra?" Mak sedikit heran dengan anak perempuannya yang sangat suka mie malah kali ini tak menyentuh mie rebus miliknya.


"Ara takut maag Ara sakit mak, beberapa hari ini telat makan, jadi biar aja Ara makan nasi aja!" Gak enak rasanya sama mak jika dia bilang mual mencium aroma bumbu mie instan itu.


"Emang bisa makan tanpa lauk apa-apa Ra?"

__ADS_1


"Bisa aja mak," Dengan tersenyum Ara meyakinkan mak.


Ara menyelesaikan makannya, tapi dengan memaksakan diri, hampir saja dikeluarkan lagi, tapi Ara berusaha menahannya takut mak jadi kuatir.


"Oh iya mak, bulan lalu ko mak gak mau terima duit dari Ara?" Gadis itu melihat ke arah mak yang sedang mengisi termos air.


"Ra,,duitnya Ara simpan sendiri ya nak,,buat nanti Ara manatau bisa kuliah di tahun depan, pasti Ara bangga Ara bisa masuk perguruan tinggi dengan tabungan sendiri, toh ka Riska juga udah bisa nyisihin gajinya buat di kirim ke mak, Ara tau kan ka Riska udah dapat kerjaan bagus di perusahan tambang di kota M, makanya Ara harus kuliah ya nak, setidaknya pendidikanmu nanti bisa berguna buat dirimu sendiri atau buat anak-anakmu kelak, jangan kayak mak mu ini, dulu oppung mu tak begitu perduli apa itu pendidikan, mak mu ini cuma lulusan SD ya lihatlah seperti apa kehidupan kita."


"Iya mak, Ara pasti kuliah mak, janji, biar bisa bawak mak liburan ke Belanda lihat kincir angin."


Mak tersenyum melihat semangat dan kemauan anak perempuannya untuk sekolah lagi, mak sedikit menyesali dirinya yang hidup pas-pasan, hingga Ara harus rela mengalah tidak langsung melanjut, hal yang ditakutkan mak adalah saat Ara begitu menikmati memiliki penghasilan akan melupakan niatnya melanjut ke Perguruan tinggi, sungguh dilema bagi mak, dia juga takut kehidupan Ara nanti tak jauh seperti apa yang dialaminya hingga saat ini.


"Ya udah mak, udah hampir jam tujuh, Ara berangkat dulu ya!"


Pamitan dari Ara membuyarkan lamunan mak, sedikit memberikan senyuman untuk putrinya sipekerja keras itu, bahkan kakanya Riska tidak pernah mengalami apa yang di alami dan dijalani Ara saat ini, walau harus mengirit dan benar-benar harus irit, tapi Riska telah menyelesaikan Stara 1 nya, jikapun Riska mengajar privat,itu hanya untuk uang jajan saja, biaya kuliah tetap mak yang menanggung.


"Udah,,gak usah segitunya mak liatin Ara, semua anak punya rejeki sendiri-sendiri, Ara itu anak yang rajin, anak hebat, anak yang kuat, anak baik, anak sabar mak, anaknya juga pintar, jangan terlalu menunjukkan rasa kasianmu sama Ara mak, dia itu gak suka,!"


Bapak ternyata sedari tadi mendengar dan memperhatikan obrolan istrinya dan anak gadisnya, terlihat mak mengusap air matanya dengan lengan bajunya, bapakpun mengusap-usap punggung mak agar sedikit menenangkan hati mak.

__ADS_1


Mak hanya mengangguk dan tersenyum ke arah suami yang hampir dua puluh tujuh tahun hidup bersamanya dengan lima anak yang cantik dan ganteng-ganteng, mak pun melanjutkan pekerjaannya setelah memberikan kopi bapak yang sempat terlupakan.


__ADS_2