
"Ayah nona harus dirawat di rumah sakit kota, disini alat medis tidak memadai. Jadi kita harus kasih rujukan agar ayah nona dibawa ke rumah sakit yang ada di kota." ucap dokter setelah memeriksa kondisi ayahnya Ara.
"Kalau itu emang harus dilakukan, maka lakukan segera, dok!" jawab Ara dengan yakin. Baginya, kesehatan orang tuanya lebih penting dari apapun. Mengenai biaya, nanti dia akan usahakan.
"Baiklah. Nanti tolong tanda tangani prosedurnya!"
"Baik." kata Ara. Ia menatap ayahnya yang masih berbaring dengan nafas tersengal-sengal.
Ara mendekat saat melihat ayahnya menangis. Saat itu dokter sedang mengurus prosedurnya. "Ayah kenapa nangis?" tanya Ara.
"Maafin ayah yang selalu nyusahin kamu." katanya sembari terisak.
"Kamu tidak melanjutkan kuliah dan menjadi tulang punggung keluarga, maafin ayah." katanya lagi.
Ara tersenyum, ia meraih tangan ayahnya. "Aku kan anak ayah, sudah sewajarnya aku bantuin ayah mengurus keluarga kita. Ayah tenang aja, aku nggak apa-apa kok." jawab Ara sembari tersenyum.
"Kalau ayah di bawa ke kota, apa kamu siap kembali?" tanya Wijaya.
"Kenapa nggak? Mungkin disana akan banyak brand yang memakai aku sebagai modelnya. Ayah tahu kan anak ini cantik.." ucap Ara yang membuat ayahnya tersenyum geli.
Wijaya juga tersenyum. Namun, perubahan postur Ara tersebut justru membuatnya sedih. Ia selalu mengira jika perubahan itu akibat hidup susah yang Ara jalani. Meskipun ia memuji kecantikan anaknya, tapi dia tetap merasa bersalah sebagai orang tua.
"Raisa gimana?"
"Kalau dia mau ikut ke kota, biarin saja yah, dia bisa berangkat dari sana. Kalau nggak, biarin dia disini sampai kuliahnya selesai. Dia pasti bisa jaga diri kok." jawab Ara. Dia merasa kasihan jika adiknya harus pindah sekolah lagi.
Wijaya menganggukan kepalanya. Ia hanya bisa nurut apa kata anak pertamanya. Setelah selesai mengurus prosedur. Ayah Ara segera dibawa ke kota.
"Ayah sendiri dulu nggak apa?" tanya Ara.
"Iya." Wijaya menganggukan kepalanya.
"Nanti ada perawat yang nemenin ayah. Aku selesaiin pekerjaan aku disini dulu, nanti aku kesana sama ibu." kata Ara.
"Iya nak. Tenang saja, ayah nggak apa." jawab Wijaya kembali tersenyum.
****
Ara menjalankan pemotretan dengan profesional. Masalah pribadi tak pernah ia sangkut pautkan ke masalah pekerjaan. Mungkin itu sebabnya Ara selalu kebanjiran job.
__ADS_1
Di kota kecil itulah Ara benar-benar dibentuk menjadi pribadi yang kuat. Mentalnya benar-benar diuji. Mulai dari usaha ayahnya yang bangkrut, kemudian ia dan keluarga terpaksa pindah ke kota kecil itu. Kemudian setelah bangkrut, ayahnya mulai sakit-sakitan, ibunya harus bekerja serabutan demi mencukupi kehidupan keluaraga. Dirinya yang tak meneruskan kuliah dan mulai bekerja menjadi cleaning servis. Sampai usaha dia untuk menguruskan badan dan akhirnya kini ia menjadi seorang model terkenal di kota kecil itu.
"Oke sekali lagi!"
Lampu flash kamera menyala berkali-kali mengambil gambar terbaik untuk produk yang akan dipasarkan. Tubuh indah dan ramping Ara meliuk-liuk di tengah kikatan cahaya tersebut.
"Oke. Bagus."
Selesai dengan sempurna. Ara berulang kali mendapat pujian dari fotografer. Karena ekspresi dan pose-nya yang sangat baik.
"De, aku mau ke kota, ayahku dirawat disana." kata Ara kepada managernya sembari beberes.
"Kalau bisa, kamu carikan aku rumah kontrakan deket rumah sakit, sekalian job disana!" kata Ara lagi.
"Apa separah itu?" tanya Dea dengan khawatir.
Ara menganggukan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. "Jadwalku kapan lagi?" tanya Ara.
"Besok jam 12 siang ada meeting dengan klien baru."
"Oke. Besok aku langsung ke lokasi. Aku duluan ya, aku mau jemput ibu dan Raisa." Ara berpamitan.
"Hah.. Semoga kamu selalu bahagia, Ra.." gumam Dea sembari melihat Ara yang pergi dengan buru-buru.
Sesampainya di rumah, ibu Ara sudah bersiap. Sebelumnya, Ara sudah menghubungi ibunya mengenai kondisi ayahnya. Wajah tua itu nampak sedih.
"Buk, kita pergi jemput Raisa dulu lalu langsung ke rumah sakit kota!" kata Ara sembari menuntun ibunya menuju mobil.
"Untuk sementara kita akan tinggal disana sampai ayah sembuh." katanya lagi.
"Tapi pekerjaan kamu?"
Ara tersenyum sembari menatap ibunya. "Aku bisa pulang pergi, atau kalau nggak aku cari pekerjaan disana. Ibu tenang aja!" jawab Ara dengan santai. Ia tak mau menunjukan kegelisahan hatinya kepada ibunya. Takut ibunya akan semakin kepikiran.
"Nanti Raisa biar tinggal di rumah kalau pulang pergi terlalu jauh." imbuhnya.
Siska menganggukan kepalanya. Ia tak mau protes atau apa, karena Ara telah berusaha keras demi keluarga. Jadi, apa yang menurut Ara baik. Siska dan Wijaya akan menurut.
Melihat wajah ibunya yang cemas. Ara segera meraih dan menggenggam tangan ibunya. "Ibu nggak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja. Ayah akan segera sehat kembali." katanya dengan lembut.
__ADS_1
Siska tersenyum kecil. Ia menganggukan kepalanya pelan. "Gomawo.." ucapnya.
Ara pun segera menoleh dan tertawa mendengar ucapan ibunya. Ia ingat betul, dulu waktu ia selalu bilang seperti itu. Ibunya akan mengolok-oloknya. Kini ibunya mengatakan kata itu membuat Ara menjadi geli.
"Ra, kemungkin kita akan bertemu dengan orang di masa lalu kita. Apakah kamu siap?" pertanyaan itu sama seperti pertanyaan ayahnya.
"Aku selalu siap kapanpun kita akan kembali buk." jawab Ara dengan yakin.
Kenapa dia harus ragu saat kembali?
Ia tidak meninggalkan citra buruk di kota lamanya. Ia tidak melakukan kesalahan sebelum ia pergi. Jika dia harus kembali, kenapa tidak?
"Kamu tidak malu karena ayah dulu bangkrut?"
"Nggak. Namanya usaha itu resikonya emang itu buk. Ayah bukan pencuri, bukan pembunuh, kenapa aku harus malu? Aku justru bangga karena ayah telah berkorban banyak demi keluarga." jawaban Ara tersebut membuat Siska terharu.
"Ibu jaga kesehatan ya! Kita sama-sama berusaha demi kesehatan ayah!" kata Ara lagi.
"Hmm.. Pasti." Siska menganggukan kepalanya. Namun, air mata telah membasahi pipinya. Sejauh ini, ia dan suaminya merasa sangat bersalah kepada anak-anak mereka. Terutama kepada Ara yang telah berusaha sejauh ini demi keluarga.
Ara menunggu Raisa di depan kampusnya. Tak lama, Raisa terlihat berlari menuju mobilnya. "Ayah kenapa kak?" tanyanya dengan panik.
"Masuk dulu!" Raisa segera masuk ke mobil. Kemudian Ara melajukan mobilnya pelan.
"Ayah kenapa?" tanya Raisa tak sabar.
"Ayah harus dirawat di rumah sakit kota karena alat medis disini tidak memadai. Jadi kita akan ke kota dan tinggal disana sampai ayah sembuh. Kamu mau gimana?" tanya Ara.
"Kamu mau pulang pergi dari kota atau kamu tetap tinggal di rumah sementara kakak dan ibu di kota." tutur Ara.
"Nanti kak Dea akan nemenin kamu sesekali." imbuhnya.
"Aku di rumah nggak apa kak. Capek kalau harus pulang pergi tiap hari. Terus kerjaan kakak?"
"Kakak pulang pergi kalau ada jadwal disini. Tapi kakak udah bilang ke kak Dea supaya carikan pekerjaan di kota. Kamu harus jaga diri kamu saat kita nggak ada!"
"Iya kakakku yang bawel.." Raisa mencubit pipi Ara yang duduk dibelakang kemudi.
"Eh, eh, Raisa, kakak kamu lagi nyetir, bahaya itu!" ucap Siska.
__ADS_1
"Abisnya gemes banget sama kak Ara. Eh, nona Kim Ara." kata Raisa yang membuat Ara dan ibunya tersenyum.