
Kresna termenung di meja kerjanya. Ia teringat akan masa kecilnya. Dulu, ada seorang teman yang berjanji akan meminta keluarganya untuk mengapdosinya. Tapi sayang, teman itu tak pernah kembali. Hingga akhirnya dia ditemukan oleh papa kandungnya. Namun, setelah papanya membawanya pulang. Hidupnya jauh lebih tersiksa dibanding hidup di panti asuhan.
Selama tinggal bersama papa dan mama tiri serta kakak tirinya. Setiap hari Kresna harus menerima hinaan demi hinaan. Setiap kali ia ingin kembali ke panti asuhan. Papanya selalu memohon agar dia sabar. Karena Kresna nanti juga akan mendapat warisan dari papanya.
Selama bertahun-tahun Kresna bersabar. Ia menerima penghinaan terhadap dirinya dan juga mendiang mamanya. Semua demi papanya dan juga warisannya.
"Suatu saat aku pasti akan balas semua penghinaan kalian." gumam Kresna seorang diri.
Bahkan di kantor pun Erik selalu memarahi serta menghinanya di depan para karyawannya. Tentu saja itu membuat Kresna semakin membenci kakak tirinya tersebut.
****
Kabar menggembirakan yang membuat Ara bahagia. Ayahnya dinyatakan pulih dan boleh pulang. Namun, Ara masih waswas dengan kesehatan ayahnya. Ia memutuskan ayahnya tinggal di rumah kontrakan dekat dengan rumah sakit. Lagipula Ara juga sudah membayar biaya kontraknya selama setahun ke depan.
"Ayah sama ibu nggak apa kan kalau tinggal di rumah kontrakan ini dulu?" tanya Ara.
"Nggak nak. Cuman gimana dengan Raisa?" tanya Siska juga mengkhawatirkan anak bungsunya.
"Raisa tiga bulan lagi lulus, nanti dia akan kesini juga." jawab Ara.
"Sekalian aku menyelesaikan pekerjaanku di kota A, aku akan pulang pergi." imbuhnya.
"Tapi kamu kan akan menikah dengan Shaka. Apa suami kamu akan mengijinkan kamu kerja?" tanya Siska.
"Dia harus! Karena aku nggak mau ngandelin dia. Aku masih mau kerja." jawab Ara. Alasannya karena dia masih harus mencukupi kebutuhan keluarga. Ara tidak akan bergantung kepada Shaka meskipun mereka menikah nanti.
"Tapi namanya rumah tangga, harus dapat kesepakatan bersama." imbuh Siska menasehati anaknya.
"Iya, ibu tenang aja!"
"Nanti Dea yang akan urus semua kebutuhan ayah dan ibu. Kalian tenang aja, jangan berpikiran yang berlebih!" pinta Ara kepada orang tua. Karena kesehatan merekalah yang paling utama bagi Ara.
Kebetulan Dea juga seorang yatim piatu. Keluarganya hanyalah Ara, sahabat yang melebihi dari saudara. Dea menjadi manager sekaligus assisten pribadi Ara. Ia yang mengurus semua kebutuhan Ara sekaligus kebutuhan keluarga Ara.
"De, lusa aku nikah, dan aku mulai tinggal bersama dengan Shaka. Kamu tolong jagain ayah sama ibu y! Nanti kalau butuh apa-apa kamu hubungi aku!" kata Ara kepada Dea.
"Iya Ra, kamu tenang aja! Pokoknya beres." jawab Dea.
__ADS_1
"Makasih ya De, aku nggak tahu lagi kalau kamu nggak ada aku bakal kayak apa." tutur Ara.
"Jangan buru-buru menikah! Nanti siapa yang akan urus aku?" Ara memeluk Dea dengan sangat erat.
"Suami kamu dong. Kan kamu akan segera menikah." Dea menjawab sembari tersenyum.
Ara malah mempererat pelukannya. Selama ini, pelukan Dea-lah yang membuatnya kuat. Saat dia terpuruk, Dea selalu ada untuknya.
Tak lama kemudian, Hendra datang bersama dengan Shaka dan juga Rani. Sembari menjenguk Wijaya, Hendra juga mengatakan jika dia akan melamar Ara, besok. "Nggak perlu sediain apa-apa! Nanti biar aku yang urus semuanya." kata Hendra.
"Sebagai orang tua dari pihak lelaki, aku akan melakukan prosesi yang sewajarnya terjadi." imbuh Hendra.
"Aku nurut aja Hen.." ucap Wijaya.
"Aku cuma mau pesen, nitip Ara! Kalau dia salah tegur dia, tapi jangan dihina!" kata Wijaya.
"Nggak akan. Ara udah seperti anak kandung bagi aku dan mas Hendra. Kita janji akan memperlakukan Ara dengan baik. Aku juga ingin jadi mertua yang baik dong." sahut Rani.
Wijaya dan Siska tertawa kecil. Momen seperti itu sudah sangat lama tidak mereka rasakan. Sejak mereka melarikan diri karena keadaan yang memaksa mereka.
"Wi, ini hadiah kesembuhan kamu!" Hendra memberikan sebuah amplop coklat besar.
"Buka aja!" pinta Hendra.
Dengan tangan gemetar Wijaya mulai membuka amplop besar tersebut. Ia merasa penasaran dengan isinya. Dan ternyata, itu sertifikat rumahnya yang dulu.
"I..i..ini?" tangan Wijaya semakin gemetaran.
"Iya, itu rumah kamu." jawab Hendra sembari tersenyum.
"Aku beli rumah itu saat akan dilelang." imbub Hendra semakin membuat Wijaya berkaca-kaca.
"Ini hadiah aku untuk kamu." kata Hendra lagi.
"Ta..ta..tapi aku nggak bisa menerimanya, Hen. Ini terlalu mahal. Aku nggak bisa." Wijaya mengembalikan sertifikat itu kepada Hendra lagi.
"Terima Wi! Aku tahu rumah itu sangat berarti untuk kamu. Rumah itu peninggalan orang tua kamu, dan banyak kenangan indah di rumah itu." kata Hendra.
__ADS_1
"Tapi aku nggak bisa." Wijaya tetap menolak.
"Wi, anggap aja ini mahar dari kami untuk Ara. Jadi rumah ini menjadi milik Ara." sahut Rani.
"Ra, rumah ini sekarang jadi milik kamu. Jadi silahkan digunakan, tidak perlu ngontrak! Lagipula jarak rumah dengan rumah sakit juga tidak terlalu jauh." Rani menatap Ara dengan penuh harap. Ia tahu jika Wijaya dan Siska tidak akan berani membantah Ara.
Ara menatap Rani yang sangat berharap kepadanya. "Kalau emang rumah ini untuk mahar pernikahan aku dan Shaka, aku terima tante, om. Jadi rumah ini sekarang menjadi milik aku." ucap Ara sembari menerima sertifikat tersebut.
"Kalau gitu buk, yah, mulai sekarang kita akan tinggal di rumah kita yang lama. Rumah itu sekarang milikku!" pinta Ara.
"Tapi gimana dengan rumah kontrakan ini? Katanya kamu udah bayar sewa selama setahun?" tanya Siska. Ia juga masih bingung mengambil keputusan.
"Pemilik rumah ini temen aku, buk. Nanti aku bisa minta uangnya kembali." sahut Dea.
"Apa bisa begitu?" Dea menganggukan kepalanya.
"Hmm. Tapi mungkin hanya kembali separo saja." jawab Dea.
Akhirnya, karena desakan dari banyak pihak. Mau tak mau Wijaya dan Siska hanya nurut apa kata Ara. "Baiklah kalau gitu. Tapi, kita akan pindah setelah Ara menikah. Karena itu mahar jadi untuk sekarang masih belum milik kita." ucap Wijaya.
Hendra dan Rani, begitu juga Ara dan Dea tersenyum mendengar perkataan Wijaya. Setidaknya Wijaya setuju untuk pindah ke rumah lamanya.
Setelah Hendra dan keluarganya pulang. Dea dan Ara mencuci piring dan gelas bekas mereka. "Ra, tadi itu calon suami kamu?" tanya Dea.
"Hmm.." Ara menjawab singkat dan menganggukan kepalanya.
"Ganteng sih, tapi cuek dan dingin ya?" kata Dea.
"Biasalah, sok jual mahal." jawab Ara sembari tersenyum.
"Dia sahabat kamu kan dulu?" Ara menganggukan kepalanya.
"Gimana ya rasanya menikah sama sahabat? Pasti nanti waktu malam pertama kalian pada ngakak.." Dea bahkan membayangkan yang tidak-tidak.
"Malam pertama apaan?" wajah Ara memerah mendengar perkataan Dea.
"Ah aku penasaran. Nanti cerita ya!" kata Dea dengan konyol.
__ADS_1
Sedangkan Ara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya tersebut.
(Selamat menunaikan ibadah puasa bagi readers yang menjalankan☺ Salam toleransi🙏)