Miss Gendut

Miss Gendut
Part 25


__ADS_3

Shaka menatap wanita yang duduk di depannya. Ia masih belum percaya jika wanita itu adalah Ara, teman masa kecilnya dulu. Perubahan tubuh Ara yang membuat Shaka masih ragu.


"Kamu beneran Ara?" tanya Shaka.


"Hmm.." Ara menganggukan kepalanya.


"Miss Gendut?"


"Hmm.." Ara hanya menjawab singkat.


"Denger ya, aku mau nikah sama kamu demi papa. Dan harus kamu tahu kalau aku seorang gay." kata Shaka. Ia berniat membuat Ara ilfeel padanya.


"Nggak masalah. Aku nikah sama kamu juga karena om Hendra baik sama aku. Kamu pikir karena aku suka sama kamu? Huh, ngarep." jawab Ara. Ia tak kalah jutek dari Shaka.


"Ish.." Shaka melotot menatap Ara. Dia berbeda dengan Ara yang ia kenal dulu. Ya harus diakui, jika Ara yang sekarang sangatlah cantik. Tubuhnya yang molek, kulitnya yang putih mulus. Benar-benar perfect.


"Sejak kapan jadi gay? Sejak putus dari Elsa?" tanya Ara. Ia penasaran apa yang terjadi setelah ia pergi dulu.


"Sejak tinggal diluar negeri. Aku juga tinggal bareng sama dia disini." jawab Shaka.


"Kalau gitu aku juga mau tinggal sama kalian."


Mata Shaka melebar. "Nggak, nggak boleh!" seru Shaka menolak ide Ara.


"Bodo amat. Pokoknya setelah menikah, aku mau tinggal sama kalian. Atau kalian putus!" ucap Ara yang membuat Shaka menjadi bingung.


"Tapi mana ada wanita tinggal sama dua lelaki?"


"Dia kan nggak suka cewek, jadi nggak masalah." Ara tetep ngeyel ingin tinggal sama Shaka dan juga pacar lelakinya. Sebenarnya Ara meragukan pengakuan Shaka yang katanya dia seorang gay.


"Terserah." Shaka mulai frustasi.


"Oke, nanti aku bilang ke om Hendra kalau kamu setuju menikah. Aku mau balik ke rumah sakit." pamit Ara. Dia beranjak dari kursinya.


"Kamu yang bayar!" pinta Ara.


"Hmm.."


"Gimana keadaan om Wijaya?" tanya Shaka menahan kaki Ara untuk melangkah.


"Berkat kebaikan papa kamu, ayahku mulai membaik." jawab Ara sembari tersenyum.


"Boleh aku jenguk om Wijaya?"


Ara mengernyitkan dahinya. "Mau jadi menantu yang baik?" tanyanya sembari tersenyum kecil.


"Nj*r, om Wijaya dan tante Siska dulu baik banget sama aku. Wajar dong kalau aku ingin jengukin dia?" jawab Shaka.

__ADS_1


"Nggak usah banyak cingcong. Yuk!" Shaka menarik tangan Ara. Namun sebelumnya dia membayar makanan mereka terlebih dulu.


"Tapi aku bawa mobil?"


"Tinggal aja! Nanti biar orangku yang bawa ke rumah sakit!" kata Shaka.


Kini mereka berada di dalam mobil yang sama. Ara melirik Shaka yang sedang mengemudi. Tak ada yang berubah. Shaka masih terlihat begitu tampan dengan wajah dinginnya.


"Kenapa putus dari Elsa? Bukannya kamu cinta banget sama dia?" tanya Ara membuka kembali kenangan lama.


"Huh.. Cinta yang bodoh." gumam Shaka.


"Kenapa pergi tanpa kabar? Katanya ke rumah saudara, kenapa nggak kembali?" giliran Shaka yang bertanya.


"Ini kembali." jawab Ara singkat.


Sesampainya di rumah sakit. Ara dan Shaka segera menuju ruang rawat Wijaya. Ia sangat senang melihat Shaka menjenguknya. "Shaka, gimana kabar kamu?" tanya Wijaya.


"Baik om. Gimana keadaan om?"


"Uhuk.. Masih seperti Ka." jawab Wijaya dengan wajah sedih.


"Jika bukan karena papa kamu, mungkin om udah-"


"Ayah! Ayah jangan bilang kayak gitu!" sahut Ara. Dia selalu marah setiap kali ayahnya mengatakan sesuatu yang pesimis.


"Iya, maafin om ya. Kamu udah semakin dewasa sekarang. Om tenang kalau kalian menikah, karena om yakin kamu bisa jagain Ara." ucap Wijaya lagi.


Shaka hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum kecil. "Raisa mana kok nggak kelihatan?" tanya Shaka mencari adik perempuan Ara.


"Dia kuliah di kota A, dia hanya akan kesini setiap akhir pekan." jawab Siska.


Tak lama kemudian Shaka berpamitan. Namun, dia mengajak Ara untuk ikut dengannya. "Kamu jadi pindah ke tempat pacarku?" tanya Shaka.


Ara menganggukan kepalanya dengan cepat. "Kalau gitu kamu mulai beberes barang-barang kamu! Minggu depan kita udah jadi suami istri. Tapi kamu harus tahu batasan kamu, jangan ganggu aku sama pacarku!" ucap Shaka lagi.


"Bawel.." gumam Ara.


Shaka mengajak Ara ke tempat Rey. Dia akan memperkenalkan Ara kepada Rey. Tentu saja Rey terkejut ketika melihat Ara datang bersama dengan Shaka.


"Kim Ara?" gumamnya membulatkan matanya.


Ara memicingkan matanya. Ia tidak ingat siapa Rey. "Rey, yang waktu itu tidak sengaja menabrak kamu.." kata Rey mencoba mengingatkan Ara akan dirinya.


"Oh yang di rumah sakit waktu itu?"


"Iya bener. Kamu masih ingat?" Ara tersenyum sembari menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Kalian kenal?" tanya Shaka yang bingung dengan situasinya.


"Dia yang aku ceritain kemarin." bisik Rey membuat mata Shaka terbelalak.


"Dia yang akan menikah dengan aku." Shaka juga berbisik. Sama seperti Shaka, mata Rey terbelalak mendengar perkataan Shaka.


"Jadi kamu pacarnya Shaka? Kenalin aku Kim Ara, oh kamu udah tahu kan ya." ucap Ara.


"... Iya.." jawab Rey dengan gugup.


"Mulai hari ini, aku akan tinggal dengan kalian disini!" tutur Ara.


Rey kembali terkejut. Antara senang dan bingung.


"Boleh kan Rey?" Ara mendekati Rey. Ia menatap Rey dengan tatapan manja. Matanya berkedip perlahan membuat jantung Rey berdetak tak karuan.


"Bo,,bo,,boleh. Tentu saja boleh." jawab Rey dengan gugup.


"Tenang saja, aku nggak akan cemburu sama kamu kok." ucap Ara lagi.


"Nanti kita tidur bertiga." kata Ara.


"Nggak.." sahut Shaka.


"Terus? Kamu mau hanya sekamar sama aku?" tanya Ara dengan genit.


"... Aku tidur sama Rey. Kamu sendiri!" jawab Shaka mulai gugup.


"Nggak bisa. Aku istri kamu, jadi harus tidur sama kamu. Lagipula Rey kan nggak suka cewek, jadi nggak masalah kalau kita tidur bertiga." ujar Ara.


"Aku lelaki nor- akh.." Rey menatap Shaka dengan kesal karena Shaka menginjak kakinya dengan cukup keras.


Ara berjalan mengelilingi rumah milik Rey tersebut. Kemudian dia melemparkan tubuhnya di sofa besar depan televisi. "Ah.."


Ia mulai melepas jaketnya. Sekarang, Ara hanya memakai pakaian tanpa lengan. Namun, dengan cepat Shaka mengambil jaket itu kembali. Ia meminta Ara untuk kembali memakai jaketnya.


"Jangan bikin malu!" lirih Shaka.


"Apa yang salah? Aku gerah, sudah sewajarnya aku lepas jaket kan?" Ara menolak memakai jaketnya kembali.


"Aku nggak mau tubuh kamu dilihat pria lain!" gumam Shaka terus memaksa Ara agar memakai jaketnya kembali.


"Kenapa panik? Rey nggak akan mau sama aku meskipun aku telanjang, kan dia nggak suka cewek. Iya kan Rey?" Ara menatap Rey dengan tatapan menggoda.


Rey kembali gugup. Namun, ia hanya menganggukan kepalanya sembari mengalihkan pandangannya.


Ara pun tersenyum kecil. Sebenarnya, ia hanya menguji apakah Rey beneran seorang gay. Ternyata, Rey memang lelaki normal. Ara bisa melihatnya dari cara Rey memandang Ara.

__ADS_1


__ADS_2