
Rey datang ke rumah sakit sesuai perintah Shaka. Dia berjalan terburu-buru sembari mengomel. "Dasar orang gila. Bisa-bisanya dia bilang kalau aku pacarnya." gumamnya dengan kesal.
Beberapa saat yang lalu.
"Mama tunggu papa dulu ya! Aku mau telepon Rey dulu!" pamit Shaka saat papanya sudah ditangani oleh dokter.
Shaka menelepon Rey, sahabatnya. "Datang ke rumah sakit sekarang! Papa aku sakit." kata Shaka.
"Tapi, kalau mamaku tanya, kamu jawab kita udah pacaran selama setahun ya!" imbuhnya.
Tentu saja apa yang Shaka katakan itu membuat Rey terkejut. "Heh kamu gila. Mana ada kita pacaran. Aku lelaki normal." omel Rey dari balik telepon.
"Udah nurut aja! Tolongin aku sekali ini aja!" kata Shaka lagi. Ia kemudian mematikan teleponnya.
Namun, meskipun mengomel, Rey tetap datang ke rumah sakit juga. "Kalau bukan karena kamu sahabat aku, aku nggak sudi ngaku jadi pacar kamu. Dasar gila." gumam Rey masih sangat kesal.
Namun tanpa sadar ia menabrak seorang wanita karena berjalan terburu-buru. Wanita itu sampai terpental dan jatuh.
"Ah..." seru wanita itu.
"Maaf. Kamu nggak apa?" tanya Rey.
Rey menatap wanita itu dengan dalam. Bibirnya tersungging, matanya berkedip pelan. Ia terpukau dengan kecantikan wanita itu. "Hai.." Rey tanpa sadar mengangkat tangannya.
"Hai. Kamu nggak kenapa-napa?" tanya wanita bernama Ara tersebut.
Rey menggelengkan kepalanya. "Nggak. Nama kamu siapa?" Rey masih setengah sadar. Ia terus menatap Ara dengan lekat. Keindahan yang ada di depan matanya.
"Aku Kim Ara." jawab Ara sembari tersenyum.
"Aku Rey.."
"Hallo Rey.. Kamu pasti sedang ditunggu seseorang kan? Makanya kamu tadi terburu-buru." tanya Ara.
Seketika Rey tersadar saat ponselnya kembali berbunyi. "****.. Iya, aku duluan ya!" pamit Rey.
"Hmm.." Ara tersenyum sembari menganggukan kepalanya.
Ia melihat Rey yang berlari kecil sambil sesekali menoleh ke arahnya. Ara melambaikan tangannya membuat Rey kegirangan. Begitu Rey tak terlihat, Ara menggelengkan kepala pelan. Ia geli melihat tingkah pemuda yang baru saja ia temui. Ara kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Sementara disisi lain.
Shaka menunggu Rey di depan ruang rawat papanya. Shaka mondar mandir tak tenang. Akan tetapi, begitu melihat Rey datang. Ia pun bernafas lega.
"Lama banget.." gerutu Shaka.
"Anak sial*n, kamu udah bikin kotor namaku, sekarang malah mengomel." Rey merasa tak puas.
"Tadi aku ketemu cewek cantik. Ah, beg* banget aku, kenapa nggak minta nomernya tadi?" Rey baru sadar dan mulai menyesal. Ia lupa meminta nomer wanita yang baru saja ia temui.
__ADS_1
"Udah nggak usah bahas cewek! Mulai sekarang kamu pacarku!" ucap Shaka menarik Rey masuk ke ruangan papanya.
Rey risih dengan tangan Shaka yang ada dipundaknya. Berulang kali ia menyingkirkan tangan itu. Tapi Shaka tetap melakukannya. "Nggak usah rangkul-rangkul segala!" bisiknya sembari tersenyum menyapa mamanya Shaka.
"Totalitas." jawab Shaka.
Rani berdiri mendekati Shaka yang merangkul Rey. Ia masih belum percaya jika anaknya menyimpang. "Udah berapa lama kalian pacaran?" tanya Rani.
"Berapa sayank? Kayaknya udah setahun ya?" Shaka mendorong kepala Rey dengan bahunya.
"I..iya udah setahun tante." jawab Rey dibawah tekanan.
"Kamu kan ganteng ya Rey.. Kenapa nggak cari wanita saja?" tanya Rani.
"Aku juga suka- aku sukanya sama Shaka tan, kita kan udah kenal lama dan saling mengerti." Rey benar-benar dibawah tekanan Shaka.
"Shaka akan menikah."
"Itu bagus dong-" Shaka segera menginjak kaki Rey.
"Maksud aku, itu bagus untuk tante, tapi nggak untuk kita. Tan, kita saling mencintai, kita juga udah tinggal bareng." ucap Rey.
"Tapi om nggak setuju anak om jadi hom*.." seru Hendra yang mulai kesal.
"Ka, kalau kamu tidak mau berbakti kepada papa, mending papa mat* aja." Hendra dengan sengaja mencabut infus ditangannya.
Shaka pun berusaha menahan papanya yang hendak mencabut infus dengan paksa. "Oke.. Oke.. Aku akan nikahi Ara. Tapi apa Ara mau punya suami seorang hom*?" akhirnya Shaka menyerah.
Dia akan nuruti apa mau orang tuanya untuk menikah dengan Ara.
"Itu masalah nanti. Lusa, kita ketemu dengan Ara untuk membahas pernikahan kalian." kata Hendra dengan senang.
"Ya udah, aku anter Rey pulang dulu! Aku juga mau tenangin Rey, dia pasti shock dengan semua ini." kata Shaka.
Shaka menarik Rey keluar dari ruangan papanya. Sementara Rey masih mengerutkan keningnya. Kenapa nama calon istri Shaka sama dengan nama wanita yang baru saja ia temui.
"Calon kamu namanya Ara? Gimana orangnya?" tanya Rey penasaran.
Shaka melepaskan tangannya kemudian menghela nafas. "Dia gendut, dulu waktu sekolah dia dipanggil Miss Gendut." jawab Shaka dengan kesal.
Mendengar jawaban Shaka. Rey pun bernafas lega. Ternyata bukan wanita yang tadi ia temui.
****
Sama seperti Shaka. Ara juga mendapat tekanan dari ayahnya agar mau menikah dengan Shaka. "Umur ayah nggak lama lagi, ayah akan tenang kalau ada seseorang yang menjaga kamu." kata Wijaya.
"Ayah nggak boleh ngomong gitu!" Ara mendekati dan memarahi ayahnya yang berkata sembarangan.
"Ini cara kita membalas kebaikan om Hendra." imbuh Wijaya.
__ADS_1
"Iya yah. Demi ayah, apapun yang membuat ayah bahagia, Ara pasti akan lakuin. Yang terpenting untuk saat ini, ayah sembuh." kata Ara sembari memeluk ayahnya.
Wijaya pun menangis. Ia merasa menjadi ayah yang buruk. Ia memaksa anaknya putus sekolah, meskipun ia sebenarnya ia tak memaksa tapi karena keadaan. Ia memaksa anaknya menjadi tulang punggung, dan itu karena keadaan. Sekarang ia meminta anaknya untuk menikahi pemuda yang tidak ia sukai. Tapi, kalau itu orang lain, Wijaya tidak akan merasa tenang.
Wijaya mengenal Shaka dan juga keluarga sejak lama. Ia yakin anaknya akan diperlakukan baik oleh keluarga Shaka.
"Maafin ayah.." lirihnya dalam pelukan Ara.
Ara hanya menganggukan kepalanya saja.
"Kamu masih suka sama Shaka kan?" goda ayahnya.
"Ayah mah.." Ara tersenyum sembari menyenggol ayahnya pelan.
Wijaya melambaikan tangannya memanggil Siska agar mendekat. Kemudian mereka bertiga saling berpelukan. Cukup lama mereka berpelukan.
"Andai ada Raisa juga, pasti kebahagiaan ini akan terasa komplit." ucap Wijaya juga kangen dengan putri bungsunya.
"Besok adek kesini, kan weekend." jawab Ara.
"Ibu juga kangen sama Raisa, si bawel itu.." ucap Siska.
"Harap ditahan sebentar rasa kangennya!" kata Ara yang membuat Wijaya dan Siska tersenyum.
"Oh ya Ra, om Hendra di rawat di rumah sakit ini juga." Siska mendapat kabar dari Rani.
"Oh ya? Sakit apa?"
"Katanya tiba-tiba pingsan."
"Oh, nanti aku jengukin." jawab Ara.
Tak lama kemudian. Ada tamu yang membesuk Wijaya. Dia adalah Kresna. Setelah beberapa hari, Kresna baru bisa menjenguk ayahnya Ara. Dia sangat sibuk di kantor.
"Ini nak Kresna?" tanya Siska.
"Iya buk. Apa kabar?" tanya Kresna dengan sopan.
"Baik. Ya ampun, kamu makin ganteng aja ya." kata Siska memuji kegantengan Kresna.
"Udah punya anak berapa sekarang?" imbuh Siska.
Kresna tersenyum kecil. "Masih betah sendiri buk." jawabnya.
Kresna langsung akrab dengan Siska dan Wijaya seperti ketika ia masih remaja dulu. Mereka mengobrol, bercanda dan tertawa sampai lupa waktu.
Karena sudah terlalu malam, Kresna pun pamit pulang. Reuni yang menyenangkan. Sudah sangat lama Kresna tidak sebahagia itu. Selama ini ia tertekan oleh kakak tiri dan ibu tirinya yang memperlakukannya secara tidak adil.
Bertemu kembali dengan Ara setidaknya membuat perasaan Kresna menjadi lebih baik.
__ADS_1