
"Kamu berangkat bareng Dea?" tanya Shaka.
"Hmm.."
"Aku anter aja!"
"Nggak usah."
"Kenapa? Takut aku ganggu kamu sama Kresna?" tanya Shaka dengan sewot. Dia masih saja cemburu dengan Kresna. Padahal dialah pemenangnya. Dia yang bisa menikahi Ara dan mendapatkan semuanya dari Ara.
"Ish, apaan sih. Nggak usah cemburuan deh!" kata Ara dengan kesal.
"Nanti setelah pemotretan, aku main ke kantor." ucap Ara yang membuat Shaka tersenyum.
"Beneran?" Ara menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Kita coba di kantor ya!" bisik Shaka dengan genit.
"Ish, apaan sih.."
Rey merasa jadi nyamuk. Dia hanya diam saja saat Shaka dan Ara saling bercanda. Tapi, tiba-tiba matanya melihat tanda merah di leher Shaka. Ia pun tersenyum kecil. Kemudian muncul ide untuk menggoda Shaka.
"Semalam nyamuknya ganas-ganas banget yak?" katanya.
"Emang kamu nggak nyalain AC?" tanya Shaka. Ia masih belum paham jika Rey sedang menggodanya.
"Nyalain sih. Kamu nyalain nggak?"
"Nyalain dong, kamu tahu aku nggak bisa tidur kalau panas." sahut Shaka masih belum sadar dengan godaan Rey.
"Oh iya, aku lupa. Terus nyamuk yang mana ya yang gigit leher kamu?" Rey menunjuk leher Shaka yang merah.
Seketika Shaka menjadi sadar. Ia kemudian memeganggi lehernya. Begitu juga Ara yang kaget dan melihat ke leher Shaka yang merah karena gigitannya semalam.
Wajah Ara dan Shaka langsung berubah memerah. Mereka teringat permainan mereka semalam yang sangat liar. Shaka yang genit mulai meraba paha Ara yang duduk di sebelahnya. Tangannya mulai aktif masuk ke rok pendek Ara. Dengan nakal ia mencubit daging itu.
"Huh.." Ara mengeluh pelan. Ia menatap Shaka dengan tajam.
Sedangkan Rey hanya tersenyum melihat reaksi Shaka dan Ara. Ia pura-pura tak tahu apa yang terjadi semalam antara Shaka dan Ara.
Padahal, semalam ia mendengar erangan Ara dan Shaka saat dia hendak meminjam charger ke kamar Shaka. Tapi Rey mengurungkan niatnya karena tak ingin mengganggu mereka berdua.
__ADS_1
"Aku anter ke rumah ayah!" kata Shaka.
Shaka dan Ara segera beberes. Shaka mengantar Ara ke rumah mertuanya terlebih dulu. Namun, Shaka berhenti di tengah perjalanan. "Kenapa?" tanya Ara yang tak tahu kenapa Shaka menghentikan mobilnya.
Shaka hanya menatap Ara. Ia kemudian menarik Ara ke dalam pangkuannya. Shaka menciumi istrinya dengan penuh gairah. Sementara Ara merasa tak nyaman dengan perlakuan itu. Ia tidak terbiasa melakukan itu di mobil.
"Ka hentikan! Kita lanjut nanti di kantor aja!" pinta Ara.
Shaka langsung menghentikan tindakannya. Dia menghargai istrinya yang merasa tak nyaman melakukan itu di mobil. Kemudian ia melanjutkannya perjalanan menuju rumah mertuanya.
"Aku langsung ya? Salam buat ayah dan ibu!" kata Shaka buru-buru berangkat ke kantor. Kebetulan hari ini dia ada meeting pagi.
"Iya.. Kamu hati-hati!" Ara melambaikan tangannya.
****
Di kantor, Shaka merasa kesal karena pendapatan perusahaan menurun. Sudah pasti dia akan dicaci oleh kakaknya. Karena setelah ia menjabat, perusahaan mengalami penurunan pendapatan.
"Orang nggak becus kerja aja dikasih perusahaan. Ya gini jadinya." ucap Tika yang begitu menusuk dihati Shaka.
"Mending kamu mikirin gimana caranya perusahaan kita bisa bangkit lagi! Nggak usah mencela!" ucap Shaka merasa kesal dengan cacian kakaknya tersebut.
"Enak banget. Kamu datang tiba-tiba dan mendapatkan semua. Sekarang kamu minta aku buat bantuin cari cara supaya perusahaan kembali bangkit? Terus tugas kamu sebagai pemimpin perusahaan apa?" Tika bertanya dengan sinis.
Dia tak tahan dengan penghinaan kakak perempuan. Jadi dia terpaksa ngomong kasar seperti itu.
"Kamu?" Tika menggertakan giginya. Ia merasa kesal dengan perkataan adiknya.
Tika menghentakan kakinya kemudian keluar dari ruangan meeting. Tersisa Shaka yang merasa pusing dengan semua yang terjadi. Dia memijit pelipisnya sendiri. "Hah, aku memang nggak bakat di dunia bisnis." gumamnya merasa kesal pada dirinya sendiri. Kebetulan masalah itu ada juga setelah dia memimpin perusahaan.
Tiba-tiba Elsa muncul dan memijat pundak Shaka. "Kamu pasti capek dan pusing kan?" tanyanya.
Shaka kaget dengan apa yang Elsa lakukan. Tapi karena pijatan Elsa terasa enak. Ia enggan menolak. "Hmm.. Kenapa masalah ini ada setelah aku memimpin perusahaan? Aku jadi merasa bersalah kepada papa." gumamnya sembari masih menikmati pijatan Elsa.
"Nggak usah khawatir! Kamu pasti bisa lewati semuanya kok. Aku percaya kamu bisa." ucap Elsa.
Jujur pada saat itu perasaan Shaka yang awalnya kacau mulai membaik. Dia merasa tenang kembali. "Makasih ya?" ucap Shaka.
"Sama-sama. Biar bagaimana pun kita kan teman. Juga pernah memiliki perasaan yang sama. Jadi tenang aja, aku akan selalu dukung kamu." ucap Elsa masih memijat pundak dan kepala Shaka.
Namun tiba-tiba Shaka teringat istrinya. Ia segera bangkit. "Mau kemana Ka?" tanya Elsa.
__ADS_1
"Balik ke ruangan aku. Aku perlu istirahat bentar." jawabnya dengan terus melangkah.
Kata-kata Shaka sudah jelas jika dia ingin istirahat dan tidak ingin diganggu. Maka dari itu Elsa tidak mengikuti Shaka. Dia paham maksud dari perkataan Shaka.
Di tempat lain.
Ara dengan cepat menyelesaikan pemotretannya. Dia model yang pintar dan cekatan. Jadi hanya sekali arahan, Ara sudah tahu apa yang harus dia lakukan.
Kresna melihat dari kejauhan. Ia juga memuji Ara yang cukup berbakat. Senyuman terus mengembang di wajahnya. Ia tak salah memilih model untuk produk terbaru perusahaan itu. Visual Ara yang mahal dan elegan sangat cocok dengan produk terbaru tersebut.
Setelah Ara selesai. Kresna segera mendekati Ara. Dia memberi pujian untuk Ara. "Benar-benar model elegan dan cerdas." puji Kresna.
"Ah bisa aja."
"Mau langsung pulang?" tanya Kresna.
Ara melihat jam. Ternyata pemotretannya lebih cepat dari yang dia kira. "Hmm.. Mau ke kantor Shaka." jawab Ara.
"Gimana kalau kita ngopi dulu?" ajak Kresna.
"Emm.. Boleh." setelah berpikir lama. Ara akhirnya setuju untuk ngopi bareng Kresna.
Kemudian Kresna mengajak Ara ke kafe yang tak jauh dari kantornya. Tempat itu juga tempat favoritnya. Kresna memesan minuman kesukaan Ara.
"Masih ingat aja?" Ara tertawa kecil.
"Aku nggak pernah lupain apapun di masa lalu aku." jawab Kresna ambigu.
"Kamu mau pesan apa?" Kresna bertanya kepada Dea.
"Samain aja."
Kresna kemudian memesan tiga minuman cappucino. Mereka bertiga ngobrol sampai lupa waktu.
"Ra, lihat ini!" tiba-tiba Kresna menunjukan sesuatu kepada Ara.
Ara mata terbelalak melihat apa yang Kresna tunjukan. Wajahnya berubah marah. "Kamu tahu itu darimana?"
"Story wa Elsa."
"Kirim ke aku!" pinta Ara dengan wajah marah.
__ADS_1
Kemudian dia segera bangkit dan bergegas ke kantor Shaka. Dengan kesal Ara mengemudi dengan cukup kencang membuat Dea ketakutan. "Pelan-pelan Ara! Aku belum nikah, aku nggak mau mati muda." seru Dea ketakutan.
Namun, Ara tidak mempedulikan teriakam Dea. Dia tetap melajukan mobilnya dengan kencang.