
Ara pergi ke kota A dengan agak kesal. Ia teringat Elsa yang bersikap genit kepada Shaka. Melihat wajah Ara yang manyun, Dea pun bertanya. "Kenapa mukanya ditekuk gitu? Udah kangen sama suami kamu?" tanya Dea sembari fokus mengemudi.
"Aku kesel banget sama sekretaris-nya Shaka." ucap Ara dengan nada kesal.
"Emang kenapa?"
"Dia genit banget. Dia dulu mantan pacar Shaka. Dia godain Shaka lagi tadi." jawab Ara masih dengan sangat kesal.
"Wah nggak bener tuh. Kenapa nggak kamu jambak aja rambutnya?"
"Udah tadi." Dea membulatkan matanya. Dia hanya ingin memprovokasi tapi ternyata Ara telah melakukannya terlebih dulu.
"Hebat." kata Dea memberi jempol untuk Ara.
Namun, meskipun Shaka telah menjelas jika dia tidak akan tergoda oleh Elsa. Ara tetap saja tidak percaya. Dia masih kesal sepanjang saat.
Untungnya dia sangat profesional. Ara menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat baik. Ia kembali mendapat pujian dari berbagai kalangan. Selesai melakukan pemotretan. Ara pulang ke rumahnya yang ada di kota A. Ia ingin menjenguk adiknya.
Akan tetapi, begitu ia sampai di rumah. Ara tidak mendapati dimana adiknya berada. Ia segera menghubungi Raisa karena khawatir.
"Kamu dimana dek? Udah malam kenapa nggak pulang? Ini kakak sama kak Dea pulang jenguk kamu." tanya Ara melalui panggilan suara.
"Eh, aku, aku nginep di rumah temen kak. Kita lagi kerjain tugas. Kakak kok nggak bilang dulu kalau mau ke rumah?"
"Iya, kakak ada pekerjaan disini. Ya udah kalau gitu. Tapi temen cewek atau cowok?" tanya Ara lagi.
"Cewek kak, si Tessa."
"Oh ya udah." Ara memang tahu jika temen Raisa ada yang bernama Tessa. Ia percaya adiknya tidak akan berbuat macam-macam.
Ara menutup telepon.
Di tempat lain. Raisa merasa bersalah karena telah berbohong kepada kakaknya. Sebenarnya, selama beberapa hari ini, Raisa tinggal di mess perusahaan. Ia tidak pulang selama bekerja.
"Maafin aku kak." gumam Raisa dengan perasaan bersalah.
Namun, Raisa tidak terlarut dengan kesedihan. Ia melakukan itu juga demi meringankan beban kakak perempuannya. Selama ini kakaknya yang telah berjuang demi keluarga. Setidaknya, sekarang Raisa bisa beli apa-apa dengan hasil keringatnya sendiri. Tidak lagi minta kepada kakaknya.
__ADS_1
Di kota A pada malam hari. Sudah beberapa lama Ara tidak menikmati malam di kota tersebut. Ia dan Dea pergi ke sebuah kafe hanya untuk nongkrong dan mencari hiburan semata.
"Lama nggak sesantai ini ya, Ra?" gumam Dea.
"Em.." Ara mengesap kopi di tangannya.
Cappucino minuman favoritnya. Lalu menyomot kentang goreng yang juga ia pesan bersama dengan nugget ayam favoritnya.
"Ra, nikmati hidup kamu! Jangan terlalu berfokus pada masalah kamu. Sekali-kali nikmati hidup ini!" ucap Dea.
Dea saksi mata bagaimana terjal dan berlikunya perjalanan hidup Ara sampai saat ini. Rasa iba itu selalu hinggap di dalam hatinya. Hidupnya juga tak lebih baik dari Ara. Tapi Dea merasa kasihan dengan perjuangan Ara demi keluarganya.
Dea ingin Ara sesekali menikmati apa yang telah ia capai saat ini.
Ara hanya tersenyum sembari menganggukan kepalanya. Ia tahu kekhawatiran Dea.
Ara kembali mengesap kopi-nya. Tiba-tiba seorang lelaki duduk di sebelahnya. Dea membulatkan matanya melihat lelaki itu. Namun, sesaat kemudian ia tersenyum.
"Boleh gabung?" tanya lelaki itu yang ternyata adalah Shaka. Ia sengaja pergi ke kota A untuk menemui Ara. Setelah Ara dari kantornya. Shaka merasa tidak tenang.
Seketika Ara menoleh. Ia melihat suaminya duduk di sebelahnya. Matanya membesar. Dia terkejut melihat suaminya ada di tempat itu. "Shaka? Ngapain kamu kesini?" tanya Ara.
"Kamu sendiri?" Ara celingukan.
"Hmm.." Shaka menganggukan kepalanya.
"Nggak sama Rey?"
"Dia sibuk."
"Kamu nggak sibuk?" Shaka menggelengkan kepalanya.
"Nggak."
"Oh kirain sibuk sama sang mantan." sindir Ara.
"Bos kamu sedang cemburu." kata Shaka kepada Dea. Sedangkan Dea hanya tersenyum kecil sembari menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Siapa juga yang cemburu." Ara menyangkal jika ia cemburu. Namun, meskipun begitu, raut wajah Ara mulai berubah. Yang tadinya ia terus merasa kesal. Kini, ia mulai berseri saat Shaka menyusulnya ke kota A.
****
Kresna secara tidak sengaja bertemu dengan Elsa di sebuah apartemen. Kresna memiliki satu unit disana. Namun, Kresna masih saja bersikap dingin kepada Elsa.
"Kres? Apa kabar?" tanya Elsa. Mereka cukup lama tidak bertemu.
"Baik." jawab Kresna dingin.
"Kamu tinggal disini juga?" Kresna hanya mengangguk pelan.
Elsa terdiam. Setelah penolakan Kresna berkali-kali. Elsa memutuskan untuk move on. Ia tidak lagi mengharapkan Kresna kembali kepadanya. Kini, Elsa telah memiliki kehidupannya sendiri.
Mereka kemudian berpisah karena tempat tinggal mereka berada di lantai yang berbeda. Alasan kenapa Kresna ke apartemen itu karena ia ingin menenangkan diri. Ketika ia merasa taj nyaman tinggal dirumah. Ia akan pergi ke apartemen tersebut.
Malam ini, dia sedang merasa kesal karena lagi dan lagi kakak dan ibu tirinya menghinanya. Bukan hanya menghinanya, tapi juga menghina ibu kandungnya.
Kresna mulai berani melawan. Sampai akhirnya dia sempat beradu mulut dengan ibu tirinya. Ia pun memutuskan pergi dari rumah tersebut.
"Tunggu saja pembalasanku." gumamnya dengan marah.
Kresna kemudian mulai mabuk-mabukan di apartemen tersebut. Ia minum alkohol seorang diri. Biasanya, dengan cara itu ia bisa mendapat ketenangannya kembali.
Ketenangannya selama ini ternyata hanyalah sebuah topeng yang ia kenakan. Jika dia sendiri, Kresna akan menjadi dirinya yang asli. Ia sering mabuk-mabukan sendiri seperti itu.
"Brengs*k.." ia meletakan botol minumannya dengan kasar.
Pikirannya kembali tertuju pada sebuah peristiwa di masa lampau. "Seandainya kamu nggak berbohong, mungkin sekarang aku tidak akan merasakan penghinaan ini sepanjang hidupku." gumamnya lagi dengan marah.
"Aku janji akan membawa orang tuaku untuk mengadopsi kamu!" kata seseorang di masa kecil Kresna.
Pada saat itu, dia juga hanyalah seorang anak kecil. Hari demi hari Kresna menunggu seseorang itu datang menjemputnya. Namun ternyata temannya itu tidak datang.
Sampai akhirnya papanya menemukan dia kemudian membawanya pulang ke rumah. Mulai sejak saat itu, kehidupan seperti di neraka mulai Kresna rasakan. Dia harus menanggung penghinaan demi penghinaan dari ibu tirinya dan juga saudara tirinya.
Kresna terbangun dari mimpi buruknya. Ia tertidur di sofa dengan banyak botol minuman berserakan. Kresna kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia menatap kaca dan terlihat senyuman dari seseorang itu. "Dasar pembohong.." katanya dengan marah.
__ADS_1
Padahal tidak ada orang lain di tempat tersebut. Itu hanyalah ilusi Kresna semata.