Miss Gendut

Miss Gendut
Part 29


__ADS_3

Tika ribut dengan suaminya, karena ia tak muncul di pernikahan adiknya. Meskipun hanya dirayakan keluarga, seharusnya Boby datang, karena dia juga sudah termasuk dalam keluarga.


"Kamu emang gila, mas. Papa nanyain kamu, Shaka nanyain kamu. Kamu kemana aja semalam?" tanya Tika dengan marah.


"Maafin aku sayank, aku bener ada urusan." jawab Boby sembari mendekati Tika yang sedang marah.


"Sepenting apa urusan itu sampai-sampai kamu nggak datang ke pernikahan adik aku?" Tika masih belum bisa menerima apapun alasan suaminya.


"Ini adik aku loh, adik kandung aku!" seru Tika dengan kesal.


Mendengar teriakan istrinya. Boby mulai naik pitam. "Dia emang adik kamu, tapi apa kamu dianggap anak oleh keluarga kamu?" tanya Boby.


"Maksud kamu apa mas?" tanya Tika sembari melotot.


"Maksud aku, seharusnya kamu tahu. Kamu sudah bantu papa kamu diperusahaan ini, tapi apa yang kamu dapat? Hanya jadi Direktur, sedangkan adik kamu itu, dia yang akan memiliki ini semua." kata Boby mulai memprovokasi Tika untuk membenci keluarganya.


"Sedangkan aku? Aku suami kamu, tapi menantu pemilik perusahaan ini, tapi aku hanya jadi manager. Apakah ini adil?" imbuh Boby.


Tika terdiam. Apa yang dikatakan suaminya memanglah benar. Bertahun-tahun dia membantu papanya di perusahaan tersebut. Tapi pada akhirnya, Shaka-lah yang menjadi pemiliknya.


"Yank, kamu harus berani memberontak! Kamu berhak atas perusahaan itu juga. Lagipula Shaka juga nggak mau jalanin perusahaan kan? Kamu harus bujuk papa kamu supaya kamu bisa menjadi pemilik perusahaan! Shaka tak memiliki pengalaman apapun, apa kamu nggak takut dia hanya akan merugikan perusahaan?"


"Ya, kamu bener, mas. Aku juga merasa tak adil dengan semua ini. Besok aku harus ngomong sama papa." setelah lama terdiam. Tika akhirnya membenarkan perkataan suaminya.


"Iya kamu harus ngomong sama papa kamu! Jangan mentang-mentang kamu anak perempuan, jadi hak kamu berbeda dengan Shaka. Kamu juga anak papa kamu, anak pertama." kata Boby terus memprovokasi istrinya.


Sudah sangat lama Boby menyimpan perasaan tersebut. Sebagai menantu pemilik perusahaan. Ia merasa tak adil karena dia bahkan tak memiliki kekuasaan apapun di perusahaan tersebut. Posisinya juga lebih rendah dari istrinya.


"Jadi maafin aku ya karena nggak datang ke nikahan Shaka. Aku hanya kesal saja, karena setelah ini, papa kamu pasti akan berikan perusahaan ini ke Shaka. Apa papa kamu nggak lihat seberapa besar perjuangan kamu selama ini?" setiap kata yang Boby ucapkan mengandung provokasi.


"Iya mas, nggak apa-apa. Aku paham kok perasaan kamu." kini Tika mulai luluh kembali dengan suaminya.


Boby memeluk istrinya sembari tersenyum penuh arti. Kini, saatnya dia menuntut keadilan bagi dirinya sendiri.


****


Shaka pulang dari kantor sekitar pukul 7 malam. Tubuhnya terasa sangat lelah. Berulang kali ia memijat pundaknya sendiri. Ketika masuk ke rumah, ia melihat Ara dan Rey yang asyik main game.


"Kamu udah pulang?" Ara yang melihat Shaka segera bangkit dan membawakan tas kerja Shaka.


"Mau kopi atau teh?" tanya Ara. Dia telah belajar banyak dari ibunya untuk menjadi istri yang baik.

__ADS_1


"Teh hangat aja!" jawab Shaka. Ia kemudian duduk disebelah Rey.


"Kamu nggak mau layani aku?" tanya Shaka menggoda Rey.


"Nj*r, males banget. Nih." Rey mengeluarkan kartu kredit milik Shaka. Ia mengembalikan kartu tersebut. Karena sejujurnya dia tidak tega melakukan hal tersebut kepada Shaka.


"Aku nggak pakai uang kamu sepeser pun. Aku kasihan sama kamu." ucap Rey lagi.


"Ah, pengertian banget sih pacar aku.." Shaka dengan genit menoel pipi Rey.


"Ish, aku bunuh kamu!" omel Rey yang merasa jijik dengan perilaku Shaka.


Ara kembali dengan membawa dua minuman di tangannya. "Kamu udah makan?" tanya Ara.


Shaka menggelengkan kepalanya. Lalu ia mengesap teh ditangannya. "Srupp.. Ah.." Shaka menikmati teh tersebut.


"Kamu masak apa?" tanya Shaka.


"Balado telor sama capcay.. Yuk makan, kita kan nunggu kamu!" ajak Ara.


"Kenapa harus nunggu?"


"Kan kita pasangan yang baik. Aku istri yang baik, Rey pacar yang pengertian. Kita kan mau makan bareng sama kesayangan kita." kata Ara yang membuat Shaka tersedak.


"Uhuk.."


"Rasain tuh.." bisiknya sembari berpura-pura tersenyum di depan Ara.


"Brengs*k, bisa pelan-pelan nggak?" omel Shaka juga berbisik.


Karena Rey tidak mengindahkan perintah Shaka. Ia pun menggigit tangan Rey. "Aw..." erang Rey.


"Bangk* emang, kenapa kamu gigit tangan aku?" Rey seketika marah.


"Habisnya kamu gemesin." jawab Shaka sembari tersenyum tanpa dosa.


"Mau digigit dibagian mana lagi?" tanya Shaka yang membuat Rey bergidik.


Bahkan Shaka maju hendak menggigit Rey lagi. Tapi secara refleks Rey mendorong Shaka menjauh. "Shaka, aku bunuh kamu ya!" omel Rey pelan sembari melotot.


Sedangkan Ara juga bergidik melihat perilaku Shaka. Ia segera memisahkan keduanya. "Kalau kalian mau bermesraan, setidaknya tunggu sampai aku tidur!" omel Ara. Ia segera menarik tangan suaminya menjauh dari Rey.

__ADS_1


Rey pun akhirnya bernafas lega. Namun, ia kembali bergidik teringat apa yang baru saja Shaka lakukan. "Ish, aku bunuh beneran dia." gumamnya marah.


Di meja makan. Raut wajah Rey terlihat muram. Dia menatap Shaka dengan tajam. Dia merasa kesal sekali dengan Shaka. Ingin rasanya dia menghajar Shaka.


"Kenapa pada diam? Kamu marah karena aku tarik Shaka tadi? Maaf, tapi aku istri sah-nya. Kalau kalian ingin bermesraan, tunggu sampai aku tidur!" kata Shaka sembari melayani Rey mengambilkan makanan.


"Makasih." ucap Rey sembari tersenyum.


"Aku nggak marah kok. Cuma kesel aja sama Shaka. Nggak tahu malu banget." imbuh Rey kembali dengan wajah masam.


"Kenapa? Kamu pacar aku, aku berhak dong." sahut Shaka tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Tapi tidak di depan Kim Ara juga." seru Rey semakin kesal.


"Jadi kalau tidak ada Ara, boleh dong?" Shaka kembali menggoda Rey.


"Ehem..." Ara berdehem. Kemudian keduanya terdiam dan makan dengan tenang.


Namun, Rey yang masih kesal tetap melirik tajam ke arah Shaka. Saking kesalnya, Rey sampai tidak menghabiskan makanannya. "Aku mau tidur, capek." pamitnya.


"Aku ikut!" sahut Shaka.


"NGGAK!!!" bentak Rey.


Melihat Rey berlari, Shaka pun tetap makan sembari tersenyum kecil.


"Ra.."


"Hmm.."


"Di kantor ada karyawan baru." kata Shaka.


"Terus kenapa?" tanya Ara. Ia tidak mau ikut campur urusan pekerjaan Shaka.


"Dia Elsa."


"Uhuk.." seketika Ara tersedak. Namun ia segera minum air.


"Jadi kenapa? Kamu belum bisa move on? Kamu seneng dong, tiap hari bisa ketemu dia?" Ara bertanya dengan sinis. Sepertinya dia sedang cemburu.


"Nggak, aku sama dia udah masa lalu." jawab Shaka.

__ADS_1


"Jadi masa depan kamu, aku?" tanya Ara sembari menatap Shaka dengan lembut.


Mata Ara berkedip pelan. Senyuman yang indah membuat Ara semakin terlihat cantik. Hati Shaka berdebar tak karuan. Namun, ia segera menghindari kontak mata dengan Ara. "Makan!" katanya menutupi rasa gugupnya.


__ADS_2