Miss Gendut

Miss Gendut
Part 48


__ADS_3

Jam 12 malam, di taman kota. Seperti permintaan Bobby. Hendra membawa uang yang ia janjikan kepada Bobby. Dia tidak mengajak siapapun kecuali istrinya. Namun, Hendra tetap percaya dengan rencana yang Shaka atur.


"Humm... uhm..." Tika meronta saat Bobby membawanya. Mulutnya di sumpal, tangannya ditali. Tika dipaksa untuk mengikuti kemana Bobby membawanya.


"Diam!" ucap Bobby.


Sebenarnya Bobby juga tidak tega memperlakukan Tika seperti itu. Karena biar bagaimanapun, ia tetaplah suami Tika. Tapi, Bobby harus melakukannya demi bisa hidup bersama dengan Elsa.


"Maafin aku Tik. Aku terpaksa." ucapnya pelan. Tapi mampu di dengar oleh Tika yang memang begitu sangat dekat dengannya.


Namun, Tika menatap Bobby dengan marah. Dia menyesal menikahi lelaki itu. Lebih menyesal lagi dia sampai melawan papa dan adiknya demi lelaki tak tahu diri itu. Kebenciaan di hati Tika semakin menjadi.


"Bob, papa udah bawa uangnya. Sekarang kamu lepasin Tika!" suara Hendra terdengar dari tempat persembunyian Bobby.


Bobby sempat memantau, ternyata Hendra beneran tidak bawa orang lain kecuali mama mertuanya yang terus-terusan menangis.


Bobby muncul, mendekati tempat sampah dimana uang itu di letakan. Ia tetap menyekap Tika. Perlahan-lahan berjalan mundur. Begitu sampai di dekat mobil. Bobby langsung mendorong Tika ke samping. Kemudian ia masuk ke mobil lalu pergi begitu saja.


Sementara Hendra dan Siska menolong Tika. Siska terus-terusan menangis. Ia tidak tega melihat anaknya diperlakukan seperti itu. "Tika.." ia langsung memeluk anaknya.


"Ma.." Tika juga langsung memeluk papa dan mamanya. Ia menangis menyesali semua yang telah terjadi.


"Udah jangan nangis lagi! Kita tunggu kabar dari Shaka selanjutnya." kata Hendra.


"Shaka?" Tika tidak mengerti.


"Ya. Adik kamu sedang menyusun rencana untuk menangkap Bobby. Kita tunggu kabar selanjutnya dari dia." Tika membulatkan matanya. Ia tak menyangka jika adiknya akan menolongnya. Padahal dia udah begitu jahat kepada adiknya tersebut.


"Shaka.." gumam Tika sembari menangis.


Di tempat lain.

__ADS_1


Elsa menunggu Bobby di taman dekat bandara seperti yang Bobby perintahkan. Disisi lain, Kresna, Shaka, Rey, Nathan dan juga Ara, sedang memantau dari kejauhan. Mereka menunggu Bobby tiba menjemput Elsa.


"Jangan khawatir, Elsa nggak akan dibawa Bobby kok." kata Shaka sembari menoleh ke arah Kresna.


"Nj*r, apaan sih.." gumam Kresna.


"Kamu jadian sama Elsa?" tanya Ara.


"Nggak." jawab Kresna dengan cepat.


"Nggak mungkin kalau nggak jadian, Elsa mau kamu atur. Kalian pasti jadian kan?" tanya Ara lagi.


"Enggak. Dia lakuin itu supaya aku maafin." Kresna masih saja mengelak. Faktanya dia memang tidak jadian dengan Elsa. Hanya menjanjikan untuk kembali seperti dulu.


"Itu Bobby datang." sahut Nathan ketika melihat mobil Bobby.


Bobby keluar dari mobil dan langsung menghampiri Elsa. Dia memeluk Elsa dengan begitu erat. Sementara Elsa terlihat tidak nyaman dengan pelukan itu. Mungkin karena Kresna memantau secara langsung.


"Aku nggak mau." jawab Elsa yang membuat Bobby membulatkan matanya.


"Kenapa? Kamu kenapa?" tanya Bobby masih menahan rasa sabarnya.


"Aku ingin kita putus." ucap Elsa yang membuat Bobby menjadi kaget. Ia tak menyangka jika Elsa akan meminta putus darinya. Padahal ia telah mengorbankan semuanya termasuk rumah tangganya.


"Aku nggak mau putus!" seru Bobby marah.


"Terserah. Tapi aku nggak pernah cinta sama kamu." perkataan Elsa tersebut membuat Bobby jadi gelap mata. Dia mencekik Elsa karena marah.


"Kamu mau putus? Oke aku kabulin, tapi kamu harus mati." kata Bobby sembari mencekik Elsa.


Elsa berusaha melawan. Namun, ia tak bisa mengalahkan kekuatan Bobby. Untung saja, polisi dan yang lainnya keluar tepat waktu. Bobby disergap dan tak bisa kabur lagi.

__ADS_1


Shaka berjalan mendekat dan merebut koper berisi uang tebusan dari papanya. Bobby tak bisa melawan karena ada banyak polisi disana.


Sementara Elsa segera berlari mendekati Kresna yang muncul secara bersamaan dengan munculnya polisi dan teman-temannya yang lain. Elsa langsung memeluk Kresna dan tentu saja itu membuat Bobby semakin geram. Ia merasa dipermainkan oleh Elsa.


"Jadi karena dia kamu mau ninggalin aku?" tanya Bobby dengan marah.


Bobby hendak menyerang Kresna. Tapu, polisi dengan cepat menangkapnya. Mereka menjatuhkan Bobby dengan mudah. Bobby berusaha meronta, tiba-tiba jaketnya sedikit terbuka. Terlihatlah tangan Bobby.


Mata Ara terbelalak. Ia melihat bekas luka di tangan Bobby yang seperti gigitan dan juga bekas tusukan. Ia kemudian teringat akan sosok misterius yang hampir memperk*s*nya.


Ara mendekat dan ingin melihat secara jelas. Matanya kembali terbelalak saat melihat tanda hitam pudar di tangannya. Ara ingat orang misterius itu juga memiliki tanda seperti itu di tempat yang sama. Flashback ke belakang, Ara teringat akan tatapan genit dan nakal Bobby saat melihatnya. Dia menghubungkan dengan apa yang ia lihat. Dan itu nyambung.


Tiba-tiba tangan Ara mengepal. Dia lalu menarik baju Bobby dan menamparnya. Tentu saja semua orang kaget melihat apa yang dilakukan oleh Ara. "Dia. Dia orangnya." gumam Ara dengan tubuh gemetar.


"Kamu kenapa Ra?" tanya Shaka memegangi Ara yang gemetaran.


"Dia orangnya. Dia orang misterius itu." kata Ara membuat semua orang kaget.


"Kamu yakin?" tanya Shaka.


"Ya."


Shaka kemudian menatap Bobby dengan tajam. Pada saat itu, Bobby yang ketahuan bukannya takut tapi malah tertawa. "Ah, sayangnya aku nggak bisa menikmati tubuh indah istri kamu." katanya yang memancing amarah Shaka.


Shaka pun ngamuk dan menghajar Bobby. Bahkan beberapa polisi tidak bisa menahannya. Bukan hanya Shaka, tapi Kresna dan Rey juga maju untuk menghajar Bobby. Mereka sangat marah karena tindakan yang Bobby lakukan ke Ara.


"Hentikan tuan-tuan sekalian! Kita bisa proses di kantor!" polisi menghentikan ketiga lelaki yang gelap mata itu.


Bobby kemudian dibawa ke mobil polisi. Sementara Shaka langsung memeluk Ara yang masih gemetaran. "Maaf, aku nggak bisa lindungi kamu." ucap Shaka merasa bersalah dan masih sangat kesal.


Ara membalas pelukan Shaka sembari menggelengkan kepalanya. Antara lega dan kasihan karena Shaka merasa bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2