Miss Gendut

Miss Gendut
Part 28


__ADS_3

Ara dan Shaka sah menjadi suami istri. Pernikahan itu hanya dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak. Itu semua permintaan Ara. Dia tidak ingin orang-orang tahu mengenai hidupnya. Dia harus menyembunyikan privasinya dari publik.


"Hah, akhirnya anak-anak kita udah nikah semua." gumam Hendra sembari merangkul istrinya.


"Iya pa. Mama juga lega banget, Shaka menikah dengan wanita yang bisa membawa keselamatan bagi dirinya." ucap Rani merasa lega.


"Semoga aja apa kata peramal itu beneran ya ma. Aku takut banget waktu Shaka hendak dicelakai orang di luar negeri waktu itu." tutur Hendra.


"Semua pertolongan dan perlindungan dari Tuhan pa, tapi semoga melalui perantara yaitu Ara." sahut Rani lagi.


Hendra tersenyum sembari menganggukan kepalanya. "Semoga." ucapnya.


Dea memeluk Ara dengan bahagia. Ia mengucapkan selamat kepada sahabatnya itu. "Chukkae Kim Ara, jangan lupa berbagi cerita!" ucap Dea.


"Nj*r, jangan gila deh!" Ara tersenyum kecil dengan kekonyolan Dea. Mereka berdua tahu apa maksud dari perkataan Dea tersebut.


Disisi lain, Dea berharap semoga Shaka bisa membahagiakan Ara. Selama ini Ara menekan kebahagiaannya demi keluarganya. Dan semoga pernikahan ini setidaknya membuat Ara bisa merasakan apa itu bahagia.


"Selamat kakakku.. Semoga langgeng dan bahagia!" ucap Raisa juga.


"Selamat kak Shaka, sekarang resmi jadi kakak ipar aku." kata Raisa kepada Shaka.


"Makasih Raisa." jawab Shaka. Dengan Raisa, Shaka selalu bisa akur. Tapi jika dengan Ara, mereka akan seperti tom dan jerry.


"Selamat ya dek!" ucap Tika, kakak perempuan Shaka.


"Thanks kak.. Kak Boby kemana?" tanya Shaka yang tidak melihat kakak iparnya.


"Kakak kamu ada urusan penting, dia nitip salam untuk kamu dan Ara." kata Tika.


"Oh, ya.." Shaka hanya tersenyum. Meskipun dia tak percaya jika kakak iparnya itu ada urusan penting. Sepenting apa sampai melewatkan pernikahan adiknya?


Namun Shaka hanya memendam perasaan curiga itu sendirian. Ia tidak mau bertengkar dengan kakaknya hanya karena masalah sepele.


....


Keesokan harinya, Ara pindah ke rumah Rey bersama dengan Shaka. Karena Shaka tetap menolak meninggalkan Rey. Sementara orang tua Ara kembali ke rumah lama mereka.


"Hai Rey, kenapa kemarin nggak datang dipernikahanku?" tanya Ara.


"Aku cemburu kalau datang. Mending dirumah aja." jawab Rey.


"Tapi kita bisakan jadi madu yang akur?"

__ADS_1


"Hmm.. Tenang aja, aku bisa kerja sama kok."


"Ah, kamu baik banget sih Rey.." kata Ara sembari membuka tangannya dan memeluk Rey.


Tentu saja Rey dengan senang hati membalas pelukan Ara. "Makasih ya Rey!" kata Ara.


"Sama-sama.." Rey masih memeluk Ara dan tak mau melepaskannya. Ia bahkan menatap Shaka dengan tatapan meledek.


"Kamu nggak ke kantor?" tanya Shaka memisahkan Ara dan Rey yang sedang berpelukan.


"Aku libur, aku mau temenin Ara ngobrol. Kalau kamu mau kerja, berangkat aja! Kamu harus berusaha mencukupi kebutuhan kita berdua." kata Rey sembari tersenyum.


"Bener." sahut Ara.


"Rey!" Shaka membulatkan matanya. Ia menatap Rey dengan tajam.


"Mau kamu melotot atau apa, terserah. Orang hari ini aku mau libur, capek kerja mulu." Rey bukannya takut tapi malah terus menggoda Shaka.


"Gimana kalau kita belanja? Kita belanja kebutuhan bulanan untuk kita?" tanya Ara memberi ide.


"Boleh." jawab Rey dengan cepat.


"Sayank, minta uang!" Rey dengan gaya genit mengatungkan tangannya di depan Shaka.


Karena Shaka memulai permainan ini. Jadi Rey mengikuti permainan Shaka. Ia bertingkah seolah ia seorang istri yang dimanja suami.


"Cuma Rey doang? Aku nggak?" Ara juga tak mau kalah. Ia menggunakan status sebagai istri sah.


Shaka menghela nafas menahan kesabarannya. Ia mengeluarkan lagi sebuah kartu untuk Ara. "Kamu juga jangan boros-boros!" katanya kepada Ara.


"Oke siap. Yuk kita siap-siap!" Ara menarik tangan Rey. Mereka berdua meninggalkan Shaka yang berusaha menahan amarahnya.


Permainan itu dia sendiri yang memulai. Jadi, dia harus terima apapun konsekuensinya. Tapi, ia tak pernah nyangka jika Rey berani mempermainkannya.


Shaka pun segera berangkat ke kantor. Meninggalkan Rey dan Ara dengan kekonyolan mereka masing-masing.


Sementara Ara dan Rey pergi ke mall untuk berbelanja kebutuhan mereka. Selain itu, mereka juga jalan-jalan dan membeli beberapa pakaian.


Saat Ara dan Rey asyik memilih. Tanpa sengaja ia bertemu dengan Kresna. Kresna sedang melakukan kunjungan di mall tersebut. Ternyata, mall itu milik papanya Kresna.


"Ra?" sapa Kresna.


"Loh Kres? Kamu ngapain kesini?" tanya Ara. Ia belum tahu jika mall tersebut milik papanya Kresna.

__ADS_1


"Cuma jalan-jalan. Kamu sama siapa?" tanya Kresna.


"Temen. Tuh." Ara menunjuk Rey yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.


Kresna menoleh, ia memicingkan matanya melihat jika ternyata teman Ara adalah seorang pria. "Pacar?"


"Bukan. Temen kok." jawab Ara sembari tersenyum.


"Oh.." Kresna masih meragukan.


Namun tak lama, Kresna di dekati oleh seseorang. "Pak, ditunggu pak Erik." bisiknya.


"Oh ya, aku segera kesana." jawab Kresna.


"Kamu ada janji sama orang?" Kresna menganggukan kepalanya.


"Kalau gitu aku duluan." pamit Ara. Dia tidak mau mengganggu pekerjaan Kresna.


"Nanti aku telepon!" Ara menganggukan kepalanya. Ia berjalan mendekati Rey yang baru saja selesai menelepon.


"Mau kemana?"


"Pulang aja yuk!" jawab Ara. Ia sudah membeli semua kebutuhan yang ia perlukan.


****


Di kantor, ternyata Shaka memiliki sekretaris baru. Dan yang membuatnya kaget ternyata sekretaris tersebut adalah Elsa, mantan pacarnya waktu masih duduk dibangku SMA.


"Ka, aku nggak nyangka kalau kamu sekarang akan jadi bos aku." kata Elsa saat sekretaris yang lain tak ada.


"Kamu kaget? Orang yang dulu kamu perbudak sekarang jadi bos kamu?" Shaka hanya tersenyum sinis. Ia masih sakit ketika teringat masa itu. Betapa bodohnya dia sebagai seorang lelaki.


"Ka, aku minta maaf!" katanya sembari menyentuh tangan Shaka.


Namun, dengan cepat Shaka menarik tangannya. "Jangan kurang ajar! Aku sekarang bos kamu. Jadi jangan bertingkah berlebihan!" ucap Shaka dengan melotot.


"Ma..maaf.."


"Kerjakan tugas kamu dengan bener kalau nggak mau dipecat!" kata Shaka lagi dengan marah.


"Baik." Elsa segera keluar dari ruangan Shaka. Namun di depan pintu, ia sempat melirik Shaka kembali.


"Kamu pasti akan aku dapatkan kembali!" gumam Elsa sembari tersenyum kecil. Sepertinya, ia telah menyiapkan rencana untuk mendekati Shaka lagi. Tentu saja itu menggunakan kecantikannya.

__ADS_1


Setelah Elsa pergi. Shaka mulai mengendorkan dasinya. "Kamu pikir hati aku apa? Akan tidak akan kasih kesempatan untuk kamu masuk dalam hidupku lagi." gumam Shaka.


Rasa sakit yang Elsa berikan memang begitu sangat mendalam. Setelah bertahun-tahun lamanya, Shaka masih merasakan sakitnya.


__ADS_2