
Shaka fokus dengan pekerjaan di depannya. Ia bahkan sampai tak sadar jika sudah waktunya pulang. Jika bukan Elsa yang masuk ke ruangannya untuk mengingatkan. "Pak Shaka nggak pulang?" tanya Elsa.
Shaka hanya melirik sekilas. Ia kemudian melihat jam tangannya. Oh benar, sudah waktunya pulang. Shaka segera membereskan meja kerjanya. Namun, ia sama sekali tidak membuka suaranya. Entah itu berterima kasih atau apa.
Shaka berdiri dan melewati Elsa begitu saja. Elsa pun menyusul Shaka keluar dari ruangan tersebut.
"Makan malam dulu yuk, Ka!" ajak Elsa yang mensejajarkan langkahnya dengan langkah Shaka.
Lagi dan lagi Shaka hanya diam. Dia tidak menjawab ajakan Elsa sama sekali. Terus melangkah dengan pasti ke parkiran. Shaka melihat jika kantor telah sepi. Semua karyawan telah pulang. Hanya ada Shaka dan Elsa juga satpam yang berjaga shif malam.
Shaka membuka pintu mobilnya. Tapi tiba-tiba ia mendengar Elsa berteriak. "AWAS KA!!" teriak Elsa.
Pada saat itu seketika Shaka menoleh. Ia melihat seseorang memakai penutup kepala hendak menusuknya dari belakang. Beruntung Elsa berteriak tepat waktu. Shaka pun bisa menghindar hanya saja tangannya tergores oleh belati sosok misterius tersebut.
"****.." erang Shaka merasakan agak perih di tangannya.
Shaka kemudian melawan sosok misterius tersebut. Namun, sosok itu dengan cepat melarikan diri. Shaka berusaha mengejar sosok misterius tersebut. Ia meminta Elsa untuk memanggil security untuk ikut mengejar sosok tersebut.
"Panggil security untuk mengejar sosok misterius itu!" perinta Shaka.
"Oh, oke.." Elsa segera berlari ke pos penjagaan. Ia mengatakan apa yang baru saja terjadi. Security dengan segera berlari menuju dimana Shaka berada.
"Brengs*k.." Shaka marah karena kehilangan jejak. Ia bahkan tak lagi merasakan perih di tangannya.
"Gimana pak Shaka?" tanya security tersebut.
"Dia lari lewat tembok samping, aku rasa dia tahu detail kantor ini." jawab Shaka mulai berpikiran liar. Ia sangat yakin jika orang tersebut sangat tahu tentang letak strategis kantor tersebut.
"Cek cctv!" perintah Shaka.
Mereka segera menuju ruang pemantauan. Shaka melihat sosok misterius tersebut keluar dari salah satu ruangan karyawan. Namun, Shaka tidak mau langsung menuduh. Karena dia tidak memiliki bukti yang akurat.
"Jangan sampai ada yang tahu mengenai masalah ini! Aku nggak mau semua jadi panik!" ucap Shaka.
"Siap pak Shaka." jawab security tersebut.
"Ka, aku obati dulu luka kamu!" ucap Elsa nampak khawatir.
__ADS_1
Melihat tangannya yang berlumuran darah. Shaka pun nurut apa kata Elsa. Ia membiarkan Elsa membalut lukanya. Untung di pos satpam ada beberapa obat luka dan juga perban.
"Makasih." kata Shaka setelah Elsa selesai membalut luka di tangan Shaka.
"Sebagai ucapan terima kasih, ayo aku traktir makan malam!" ucap Shaka lagi.
Tentu saja Elsa merasa sangat senang. Ia segera mengiyakan ajakan Shaka. Mereka kemudian makan malam di kafe yang tak jauh dari perusahaan Shaka.
Elsa dan Shaka ngobrol masa-masa sekolah dulu. Setelah sekian lama tak saling sapa. Kini mereka bisa kembali ngobrol dan bersendau gurau seperti dulu lagi.
Mungkin emang seharusnya Shaka melupakan kejadian waktu itu. "Kamu beneran nikah sama Ara?" tanya Elsa di tengah obrolannya.
Teringat nama istrinya. Shaka segera beranjak dari tempat duduknya. "Makasih karena udah selametin aku tadi. Aku pamit pulang dulu!" kata Shaka bergegas meninggalkan Elsa.
Ia dengan cepat melajukan mobilnya ke rumah Rey. Karena sampai saat ini dia dan Ara masih tinggal satu atap dengan Rey. Sesekali Shaka melirik ke arah jam di tangan kanannya. Kemudian ia melihat ponselnya. Tidak ada pesan atau panggilan dari Ara. Tapi, jam menunjukan pukul 9 malam.
Sesampainya di rumah Rey. Shaka juga belum melihat mobil Rey. Mungkin Rey lembur. Shaka segera berlari mencari istrinya. Ternyata, Ara tertidur di sofa ruang tamu.
Shaka mendekat, ditatapnya-lah wajah istrinya. Ia tersenyum melihat kecantikan Ara yang memukau. Tanpa sadar tangan Shaka maju dan menyentuh pipi Ara pelan.
"Uh.." sentuhan lembut itu membangunkan Ara.
"Kamu pasti capek habis lembur kan? Aku siapin makan malam dulu, kamu mandi aja dulu!" ucap Ara berjalan menuju dapur.
Shaka sengaja menyembunyikan tangannya yang terluka di balik jas yang ia bawa. Sedikit tersenyum kemudian ia menuju kamar dan segera mandi.
Tak lama, ia keluar dari kamar. Shaka sudah melihat Rey yang duduk di meja makan bersama dengan Ara. Shaka berjalan mendekat. "Udah pulang?" tanyanya sembari menarik kursi.
"Hmm..." entah kenapa Rey seperti marah kepada Shaka. Ia bersikap dingin terhadap Shaka.
"Em.. Makanan Kim Ara emang paling the best." namun, ia masih lembut terhadap Ara.
"Kalau gitu makan yang banyak!" pinta Ara.
Ara menyiapkan makan untuk suaminya. "Nggak usah banyak-banyak, perutku lagi nggak enak!" pinta Shaka.
"Oh, oke.." Ara tidak curiga sama sekali. Ia tetap melayani Shaka dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Namun ada yang berbeda dengan Rey. Dia nampak kesal dan marah kepada Shaka. "Setelah makan, ke kamarku! Ada yang ingin aku omongin!" kata Rey dengan ketus.
"Hmm.." Shaka yang tak tahu apa-apa hanya menjawab singkat sembari menggigit sendok.
"Ra, aku mandi dulu ya! Makasih makan malamnya, masakan kamu emang paling the best." Rey kembali memuji masakan Ara.
Rey bersikap dingin dan acuh terhadap Shaka. Namun ia masih begitu lembut terhadap Ara.
Sedangkan Ara hanya menganggukan kepalanya saja. Selesai makan, Shaka segera ke kamar Rey. Sementara Ara membereskan semuanya. Ia tahu jika itu adalah tugasnya.
Shaka masuk ke kamar Rey begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia segera berbaring di kasur empuk Rey. "Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Shaka.
"Ka, kamu suka nggak sama Kim Ara? Kalau kamu emang nggak suka, kamu lepasin dia! Biar aku yang bahagiain dia." kata Rey dengan kesal.
"Ceraiin Kim Ara!" pinta Rey.
"Kamu kenapa tiba-tiba kayak gitu? Kamu nggak betah menahan rasa cemburu?" tanya Shaka masih dengan santai.
"Heh brengs*k, aku bisa menahan rasa cemburuku sampai kapanpun. Tapi nggak bisa lihat Kim Ara sedih." Rey marah dan mencengkeram baju Shaka.
"Kalau kamu nggak suka sama dia, kamu ikhlasin dia buat aku. Jangan kamu sakiti dia!" Rey semakin marah, namun ia juga tak tega memukul Shaka.
"Siapa wanita yang makan sama kamu tadi?" tanya Rey dengan mata melotot.
Shaka mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Rey. Namun sesaat kemudian ia ingat. "Dia karyawan aku." jawab Shaka.
"Ara tahu kamu peegi makan malam sama dia?" Shaka menggelengkan kepalanya.
"Tadi nggak sengaja. Aku hampir ditusuk orang, untung dia teriak, jadi tadi aku cuma berterima kasih aja." jawab Shaka dengan santai.
Rey membulatkan matanya mendengar perkataan Shaka. Yang tadinya ia marah, kini ia jadi khawatir. "Kamu terluka? Siapa itu?" tanya Rey khawatir.
"Belum tahu pasti. Tapi tenang aja, aku bisa urus kok." kata Shaka sembari menepuk lengan Rey.
"Bagaimana aku bisa tenang? Dulu di luar negeri dua kali kamu hampir dicelakai. Sekarang disini juga." kata Rey.
"Tenang aja, aku bisa urus kok." kata Shaka dengan santai.
__ADS_1
"Tapi jangan bilang Ara! Nanti dia khawatir!" imbuh Shaka.