Miss Gendut

Miss Gendut
Part 33


__ADS_3

Shaka belum mau pulang. Ia sengaja menunggu Ara melakukan pemotretan. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Ara bekerja dengan gugup. Entah kenapa dia merasa sangat canggung. Bahkan sampai ia ditegur oleh fotografer. "Kim Ara why?"


"Maaf agak nggak fokus. Yuk kita ulang!" pinta Ara.


Ia kembali bekerja. Sementara Shaka terus memperhatikannya. Namun, sesaat kemudian dia mengacungkan kedua jempol tangannya. Ya, Shaka tak pernah menyangka jika wanita yang dulu berbadan gemuk. Sekarang menjadi foto model yang menawan.


Ara tersenyum melihat Shaka. Ia kembali gugup, namun kemudian ia fokus kembali. Tiga jam lamanya Ara menyelesaikan pemotretan tersebut. Selama itu pula, Shaka tidak berpindah dari tempatnya.


Akan tetapi, seseorang datang mendekati Ara. "Kim Ara, kamu hebat." katanya.


"Thank you." jawab Ara dengan wajah datar. Ada yang aneh. Biasanya Ara seseorang yang sangat ramah. Tapi, pada lelaki itu ia terlihat biasa aja. Wajahnya datar tanpa ekspresi.


"Gimana tawar aku?" kata lelaki itu lagi.


"Maaf, cari yang lain saja!" jawab Ara dengan nada yang agak kesal. Sepertinya lelaki itu terus mengganggu Ara sehingga membuat Ara menjadi kesal. Itu sebabnya wajah Ara terlihat biasa saja terhadap lelaki itu.


"Why? Kamu cocok loh jadi model majalah itu. Body kamu, wuihh.." kata lelaki itu lagi.


"Saya nggak tertarik." kata Ara dengan tegas.


Ara segera mengajak Dea untuk menjauh dari lelaki itu. Namun lelaki itu justru semakin menjadi. Dia menahan tangan Ara. "Kalau kamu mau, kamu akan mendapat bayaran yang fantastis." bisiknya.


"Cari yang lain saja!" Ara menarik tangannya dengan kasar.


"Halah jangan sok jual mahal!" seru lelaki itu dengan kesal. Ia terus merayu Ara namun Ara selalu menolak.


"Kamu hanya model biasa belum terkenal banget, kalau kamu menerima tawaran aku, kamu langsung akan melejit. Lagipula nanti tidak telanjang, hanya memakai pakaian seksi. Sayang tubuh indah kamu." lelaki itu hampir menyentuh lekuk tubuh Ara.


"Heh, jangan kurang ajar!" Dea yang justru marah. Dia menepis tangan lelaki yang hendak menyentuh Ara tersebut.


"Jangan bikin keributan disini!" salah datu crew sudah memperingati lelaki itu. Namun lelaki itu nampak ngeyel.


"Nggak usah ikut campur!" seru lelaki itu memarahi Dea.


"Harus, karena aku manager Kim Ara. Semua pekerjaannya harus melalui persetujuan aku." ucap Dea melawan lelaki itu.


"Oh, jadi tolong setujui kontrak dengan majalah Hottie! Dia akan jadi model terkenal langsung."


"Kim Ara sudah terkenal." jawaban itu berarti Dea menolak ajakan lelaki itu.

__ADS_1


"Cari model yang lain saja! Jadwal Kim Ara padat." kata Dea lagi.


"Ah, orang-orang yang bodoh. Dia akan mendapat bayaran yang fantastis hanya dengan memperlihatkan sedikit bagian tubuhnya." ucap lelaki itu mulai frustasi.


"Lagipula Kim Ara memenuhi syarat untuk itu. Dia memiliki tubuh yang bagus, yang bisa membangkit hasrat lelaki." lelaki itu menatap Ara dengan penuh gairah.


"Cukup ya!" Dea mulai tak sabar.


Bukk!


Namun, begitu Dea berbalik. Ia melihat Shaka memukul lelaki itu. "Sepertinya mulut kamu tidak pernah disekolahkan!" ucap Shaka dengan marah.


Dia sudah panas ketika lelaki itu hampir menyentuh tubuh Ara. Menjadi semakin kesal saat mendengar perkataan lelaki itu.


"Kamu siapa?" lelaki itu memegangi wajahnya yang lebam.


"Kalau kamu mau cari model untuk majalah dewasa itu! Cari model lain. Aku bisa memberi istriku gaji yang lebih dari siapapun!" ucap Shaka dengan marah.


Tentu saja apa yang Shaka katakan itu membuat kegaduhan di tempat tersebut. Mereka yang bekerja sama dengan Ara menjadi terkejut.


"Kamu suaminya Kim Ara?" tanya lelaki itu juga terkejut.


"Sekali lagi aku denger atau lihat kamu ganggu istriku, aku nggak akan segan-segan." ancam Shaka.


Lalu, ia segera menarik tangan Ara disusul oleh Dea. Tetapi, Shaka membawa Ara masuk ke mobilnya. Sementara Dea ke mobil Ara.


Shaka melajukan mobil itu dengan kencang. Dia merasa sangat kesal. "Mulai sekarang nggak perlu kerja lagi! Aku akan cukupi semua kebutuhan kamu!" kata Shaka dengan marah.


Ara tahu apa yang membuat Shaka marah seperti itu. Namun, Ara masih memikirkan kehidupan keluarganya. Tidak mungkin dia akan meminta Shaka mencukupi kebutuhan keluarganya juga kan.


Ara meraih tangan Shaka. "Ka, aku tahu kamu khawatir. Tapi, kamu tenang aja, aku bisa jaga diri kok." ucapnya lembut.


"Kamu lihat lelaki tadi kan? Aku yakin nanti akan ada orang seperti itu lagi yang mengganggu kamu." ucap Shaka masih dengan kesal.


"Kehidupan model seperti ini sangat berbahaya." imbuh Shaka.


"Ya aku tahu. Tapi aku nggak bisa berhenti begitu saja. Aku masih memiliki beberapa kontrak dengan klien aku." Ara tetap menolak berhenti bekerja.


"Lagipula, keluargaku masih membutuhkan aku." imbuh Ara dengan sedih.

__ADS_1


"Aku yang akan mencukupi semuanya, termasuk biaya keluarga kamu. Ra, aku khawatir." ucap Shaka.


Ara menatap Shaka sembari tersenyum senang mendengar apa yang Shaka katakan. Hatinya berdebar dan terasa seperti melayang. Pertama kalinya ia mendengar Shaka mengkhawatirkan dirinya.


"Makasih karena kamu udah khawatirin aku. Tapi aku nggak bisa berhenti untuk bekerja. Setidaknya sampai kontrakku habis. Dan sampai Raisa lulus kuliah lalu memiliki pekerjaan yang layak. Aku baru bisa mempertimbangkan untuk berhenti bekerja." ucap Ara.


Shaka menoleh sejenak. Ia memandang wajah Ara yang nampak sedih. Beban seperti apa yang harus Ara tanggung. Shaka pun mulai merasa iba.


"Baiklah. Kamu masih bisa bekerja, tapi tolong hindari lelaki seperti tadi!" pinta Shaka. Ia masih sangat kesal melihat perilaku lelaki tadi.


"Itu pasti. Kamu tenang aja!" jawab Ara.


Faktanya, bukan hanya sekali Ara bertemu dengan lelaki seperti itu. Sudah beberapa kali ia dirayu untuk menjadi model di majalah dewasa. Namun ia selalu menolak. Ara ingin menghargai tubuhnya. Tidak mudah untuk mendapat bentuk tubuh seperti itu mengingat dulu dirinya berbadan gemuk.


Bahkan, tak sekali dua kali Ara diajak kencan oleh klien-nya. Sampai ada yang ingin menjadikan Ara sebagai istri simpanan. Tetap saja, Ara menolak tawaran tersebut. Ia ingin mencukupi kebutuhan keluarganya dengan cara yang bersih dan halal.


"Aku ingin sekali menghabisi lelaki tadi." Shaka masih saja geram.


"Kamu cemburu kan? Iya kan? Hayo jujur!" tanya Ara sembari tersenyum menggoda.


"Nggak usah ke-pede-an! Aku suami kamu, sudah sewajarnya aku lindungi kamu dari orang-orang seperti itu!" tentu saja Shaka berdalih. Ia tidak mau mengakui bahwa sebenarnya ia cemburu kepada lelaki tersebut.


"Halah, ngaku aja!" kata Ara lagi.


"Ngapain juga aku cemburu." Shaka tetap tak mau mengakui.


"Karena kamu suka sama aku. Udah ngaku aja!" Ara masih semangat menggoda Shaka.


"Jangan ge-er. Aku hanya suka sama Rey. Kamu tahu kan kalau aku gay." Shaka kembali berdalih.


"Percaya nggak kalau aku bisa buktikan jika sebenarnya kamu suka sama aku!" kata Ara.


"Nj*r, nggak usah ke-pede-an."


Cup.


Ara tiba-tiba mengecup pipi Shaka dengan lembut. Ia juga dengan nakal menjilat daun telinga Shaka. Seketika wajah Shaka menjadi memerah.


"Aku sedang nyetir, bahaya." katanya.

__ADS_1


__ADS_2