Miss Gendut

Miss Gendut
Part 37


__ADS_3

Ara masih ngambek karena Shaka tidak jujur kepadanya. Meskipun begitu, ia tetap khawatir setelah mendengar jika ternyata Shaka berulang kali ingin dicelakai.


Brakk..


Ara membanting pintu mobil dengan cukup keras. Bahkan sepanjang perjalanan, Ara sama sekali tidak bicara. Lalu ia masuk ke rumah begitu saja.


Saat bertemu dengan Rey pun, Ara tidak bereaksi apa-apa, ia juga tak menyapa Rey. Tapi langsung nyelonong ke kamar begitu saja.


Saat Rey menyapanya pun, Ara hanya diam dengan wajah masam. "Kim Ara.." sapa Rey. Namun Ara tidak merespon.


"Dia kenapa?" tanya Rey kepada Shaka yang mengikuti Ara dari belakang.


"Marah." jawab Shaka singkat.


"Dia tahu tentang ini." Shaka mengangkat tangannya. Dan Rey pun paham apa maksudnya.


"Lagian kamu sih, kenapa nggak jujur sama dia? Sekarang Kim Ara itu istri kamu. Kamu harusnya jujur mengenai apapun ke dia!" protes Rey.


"Udahlah. Aku lagi males bahas itu."


Shaka hendak menuju kamar. Tapi, ternyata Ara lebih dulu keluar dari kamarnya. Ara memakai pakaian seksi seperti biasa dia tidur. Tentu saja itu membuat Shaka menjadi kaget. Ia tak mau tubuh istrinya dilihat oleh lelaki lain.


"Rey, aku tidur sama kamu ya!" kata Ara sembari meraih tangan Rey.


Rey masih tercengang, ia bahkan menelan ludah melihat bentuk tubuh Ara yang seksi. "I..iya boleh." jawab Rey dengan gugup.


"Nggak boleh!" sahut Shaka melarang.


"Bodo amat." namun Ara sama sekali tidak takut. Ia menggandeng Rey masuk ke kamar Rey.


Tentu saja Shaka tidak membiarkan itu. Ia menyusul Ara dan Rey ke kamar Rey. Shaka kemudian menarik tangan Ara. Tapi dengan cepat Ara menghempaskan tangan Shaka.


"Tidur di kamar kamu!" kata Shaka dengan kesal.


"Nggak. Aku mau tidur sama Rey. Aku nggak mau tidur sama kamu!" jawab Ara.


"Kalau gitu aku yang tidur sama Rey, kamu sendiri!"


"Nggak ya nggak. Aku nggak biasa tidur sendiri." Ara tetap ngeyel.


Shaka yang kehilangan kesabaran pun mulai mengatur pernafasannya. Ia berusaha agar tidak marah menghadapi tingkah Ara yang seperti itu. Kemudian Shaka mengangkat Ara ke pundaknya. Lalu membawa Ara kembali ke kamar mereka.


"Lepasin aku Shaka!" Ara meronta tapi dia tidak mampu melawan tenaga seorang pria.

__ADS_1


"Rey tolong!!" seru Ara meminta bantuan Rey.


Akan tetapi, Rey tak bisa berbuat apa-apa. Shaka suami sah Ara, ia tak bisa melarang Shaka melakukan hal tersebut. Rey juga tahu bahwa Shaka tidak akan pernah kasar terhadap perempuan.


"Rey tolong!" Ara terus berseru.


"Shaka turunin aku!" ia juga terus meronta.


Shaka mengunci kamar supaya Ara tidak lagi keluar. "Biarin aku keluar! Aku nggak mau tidur sama kamu!" ucap Ara terus memaksa keluar dari kamar.


"Aku nggak jujur karena aku nggak mau kamu khawatir!" ucap Shaka yang membuat Ara seketika terdiam.


"Aku nggak mau kamu khawatir." Shaka mengulangi perkataannya.


Ia maju dan menyentuh wajah Ara dengan lembut. "Aku tahu kamu memikirkan banyak hal. Aku nggak mau menambah itu semua." imbuh Shaka.


Ara menatap Shaka dari jarak yang sangat dekat. Ia tak menyangka jika Shaka ternyata juga memikirkan dirinya. "Tapi aku akan menjadi istri yang buruk jika sesuatu terjadi sama kamu, sedangkan aku tak tahu apa-apa." kata Ara.


Shaka tersenyum mendengar perkataan Ara. "Kamu jatuh cinta sama aku?" tanyanya.


Seketika wajah Ara menjadi memerah. Ia menjadi gelagapan. "Nggak, bukan itu, tapi biar bagaimanapun kamu suami aku. Aku nggak mau kamu kenapa-napa saat menjadi suamiku." jawab Ara dengan gugup.


Shaka malah justru terbahak. "Akui aja kalau kamu suka sama aku!" ucapnya.


"Ge-Er.." ucapnya.


Ara bukannya kasihan malah langsung bergegas ke ranjang tanpa mempedulikan Shaka yang mengerang kesakitan.


....


Malam itu Ara tidur dengan tidak tenang. "Uh.."


"Jangan.. jangan sakiti.. Jangan!" Ara mengingau sepertinya dia sedang bermimpi buruk.


"Jangan! Shaka!!!" teriak Ara yang membuat Shaka kaget. Ia dengan segera membuka matanya.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Shaka sembari berusaha membangunkan Ara.


"Shaka!!!"


"Iya aku disini. Ada apa?"


"Bangun Ra!"

__ADS_1


Ara pun membuka matanya. Ia melihat Shaka berada di sebelahnya. Nafasnya memburu kemudian ia segera memeluk Shaka dengan erat.


Shaka terdiam sejenak dan membalas pelukan istrinya. Ia mengelus rambut Ara dengan lembut. Membiarkan istrinya merasakan kenyamanan dan ketenangan.


Setelah dirasa Ara mulai tenang. Shaka mulai bertanya. "Ada apa?" tanyanya lembut.


Ara menggelengkan kepalanya. Nafasnya masih terdengar cepat. Ia kemudian melepas pelukannya. Dan kembali berbaring.


"Mimpi buruk?" tanya Shaka yang juga ikut berbaring.


Ara menganggukan kepalanya. Kemudian Shaka menariknya ke dalam pelukannya. Kini, Ara berada dalam dekapan Shaka. Dikecup-lah kening Ara dengan lembut.


"Ka, aku mimpi kamu di tembak orang tak di kenal. Aku takut banget." lirih Ara.


Ara mempererat pelukannya. "Nggak apa-apa, itu hanya mimpi. Bobok lagi yuk!" ucap Shaka sembari kembali mengecup kening Ara dengan lembut.


Semalaman, Ara tidur dalam pelukan Shaka. Dan dia sudah tidak mimpi buruk lagi.


****


Keesokan harinya, Shaka mengajak Ara untuk berlibur. Kebetulan weekend dan Ara tidak ada pekerjaan. Namun, mereka tidak hanya berdua melainkan berempat. Rey dan Dea juga ikut berlibur.


Shaka mengajak Ara ke pantai. Dan mereka juga berencana untuk camping di pantai sekalian.


"Kenalin ini manager aku, Dea." kata Ara memperkenalkan Dea dengan Rey. Pasalnya, meski bukan pertama kali bertemu, tapi mereka baru pertama kali ngobrol.


"Ini Rey, pacarnya Shaka."


"Bukan." seru Rey lupa kalau dia masih harus bersandiwara menjadi pacar Shaka.


Ara membulatkan matanya mendengar jawaban Rey. "Eh, maksudnya, aku dan Shaka udah putus." kata Rey gelagapan.


"Putus?" Ara semakin penasaran.


"Hmm.. Aku nggak kuat lihat kamu dan Shaka tiap malam. Mending kita putus aja daripada aku terus tersakiti." Rey menemukan alasan yang cocok agar Ara tidak mencurigainya.


Awalnya Shaka kesal karena Rey membongkar rencananya begitu saja. Namun setelah mendengar alibi Rey yang masuk akal. Shaka tidak lagi kesal. "Pinter juga dia." gumam Shaka memuji sahabatnya itu.


"Jadi? Aku minta maaf.." Ara merasa bersalah. Meskipun sejak awal ia sebenarnya tahu tentang permainan tersebut.


"Nggak apa kok. Aku ingin mencoba menjadi lelaki normal." jawab Rey.


"Serius? Ah aku seneng dengernya. Semoga kamu menemukan wanita yang cocok ya Rey. Semoga kamu selali bahagia." ucap Ara penuh kegembiraan.

__ADS_1


Rey tersenyum. Ia juga lega karena bisa lepas dari permainan konyol tersebut. Setidaknya, kini ia bisa mengembalikan harga dirinya sebagai seorang lelaki sejati. Karena dia memang seorang lelaki normal yang menyukai lawan jenisnya.


__ADS_2